Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Mimpi buruk dan perasaan yang aneh


__ADS_3

Aleris meletakan kudanya sembarangan, dengan penuh emosi ia masuk kedalam kamarnya, membuka pintu dan menutupnya kembali dengan kasar, ia menjatuhkan tubuhnya kekasur, ia memejamkan matanya, rasanya ia tidak ingin kembali lagi ke suasana itu, membuatnya semakin terlihat terluka, luka lama yang kembali ia rasakan.


Namun ia tersenyum, kenapa ia harus memikirkannya, sekarang sudah jelas bukan, semuanya telah sirna dan untuk saat ini fokus pada tujuanmu, memang aleris mudah membolak-balikan hatinya, karena rasanya ia telah mati rasa.


Aleris memejamkan matanya, rasa kantuk tiba-tiba datang, tubuhnya lemas seperti kekurangan energi.


Tiba-tiba saja aleris terbelalak dan ia sudah ada disebuah hamparan luas padang pasir, rasanya sangat gerah dan panas, ia menatap sekitar dan ia melihat beberapa banyak orang-orang yang berperang, namun kenapa ia hanya duduk disini.


Ia mencari-cari siapa yang perang dihadapanya, namun ia tidak mengenali dua suku yang saling berperang didepan wajahnya, dan ia merasa bingung kenapa orang-orang tidak melihatnya, ia berjalan berusaha menyapa orang-orang disekitarnya, namun tetap saja aleris tidak terlihat dimata mereka.


Aleris berlari namun rasanya sangat berat, jelas saja karena dipadang pasir, rasanya untuk mengangkat kaki saja pasir itu juga ikut terangkat, aleris melihat banyak darah berceceran disana, tapi kenapa yang selalu menjadi pertanyaan aleris kenapa ia tidak terlihat?


Seseorang tiba-tiba memanggil aleris, diujung hamparan luas padang pasir, ia bisa melihat dua orang walaupun sangat kecil, suara itu terdengar keras dan bergema, rasanya aleris mengenali suara itu, ia berusaha berlari menuju dua orang yang memanggil aleris.


Namun rasanya waktu berjalan sangat lama, dan gerakan aleris seperti tidak bergerak, ia hanya berada ditempat itu, dan dua orang jauh disana semakin menjauh.


Aleris berteriak untuk menunggunya sampai kepada dua orang itu, namun tiba-tiba aleris terbelalak ketika, dua orang itu mengakui diri mereka, jika mereka adalah orang tua aleris.


Aleris membenduk air matanya, seraya dengan cepat ia berusaha berlari, walaupu kesusahan ia akan tetap mencoba untuk sampai ditempat itu.


Namun semakin aleris mendekat dua orang itu semakin menjauh, aleris berlari sekuat tenaga, ia tidak bisa membendung air matanya lagi, ia menangis.


"Tidak jangan!!!!!!!!!!" teriak aleris.


Aleris terbangun seraya jantungnya berdetak dengan kencang, tubuhnya basah kuyup karena keringat, dan beberapa air matanya menetes dipipi.


Ia menghela nafas lega, ternyata ini hanya mimpi, ia beranjak dan membasu wajahnya dengan air, ia hanya memejamkan matanya tidak sampai setengah jam namun ia sudah bermimpi buruk.


Mungkin karena banyak pikiran hari ini, jadi ia tidak tenang ketika terlelap tidur, aleris keluar, membuka pintu, ternyata malucia sudah berdiri diambang pintu membawa nampan berisi makanan, aleris mempersilahkan malucia duduk.


"Aku penasaran kenapa kau pergi begitu saja tadi?" ucap malucia seraya meletakan nampan dimeja.


Aleris menghelan nafas, "Ini tentang makhluk itu..."


"Oh ya randi dan gilang terus bertanya tentang ini"


"Kau jelaskan saja padanya kalau ini tidak ada hubunganmya dengan kita"


Malucia terlihat bingung, aleris lalu menjelaskan.


"Ini sepertinya ada hubungannya dengan masa lalu kerajaan majestic"


Malucia menatap wajah lesu aleris, lalu ia menyodorkan secangkir minuman, aleris menerimanya.


"Aku baru saja bermimpi buruk" ucap aleris.


"Kenapa?"


"Aku bertemu dengan kedua orang tuaku tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas"


Malucia mendengarkan dengan saksama.


"Aku berada di padang pasir yang luas, aku melihat banyak suku yang sedang perang disana anehnya tubuhku tidak bisa terlihat disana, aku berjalan dan bertemu kedua orang tuaku yang terus memanggilku, aku mendekat namun mereka semakin menjauh"


"Kau tidak bisa bertemu dengan mereka lebih dekat?"


Aleris menggeleng, ia rasanya butuh pelukan saat ini karena banyak pikiran, namun siapa yang akan melakukannya, aleris berdiri ia tiba-tiba melepaskan pakaiannya begitu saja membuat malucia beranjak memejamkan matanya.


"Hei!!"


Aleris membelakangi malucia, ia tersenyum, "Ajak aku kesuatu tempat"


"Kemana memangnya aku tidak tahu tempat-tempat yang bagus" ucap malucia seraya menutup wajahnya dengan tangan.


Aleris menoleh dan mendekat kearah malucia, dadanya telanjang dipenuhi keringat, tangan aleris memeggang kedua tangan malucia, berharap malucia bisa melihatnya, namun matanya masih terpejam.


"Hei buka matamu"


Malucia membuka matanya, ia benar-benar kaget karena melihat sebegitu dekatnya wajah aleris didepan wajahnya, tubuh malucia tiba-tiba mundur kebelakang namun ditahan oleh tangan kekar aleris.


Jantung malucia berdebar hebat, ia tidak bisa menatap terlalu dekat seperti ini, namun aleris menyentuh dagu malucia membuat malucia yang semula menunduk menjadi menatap wajah aleris dengan dekat.


Wajah aleris semakin mendekat, bibir aleris menyentuh bibir malucia, malucia sempat menolaknya namun ditahan oleh tubuh besar aleris ia seperti terperangkap.


Malucia menutup matanya, membalas ciuman aleris akhirnya, tanganya meraba pundak aleris dengan lembut, kedua tangan aleris menyentuh wajah kecil malucia, mereka masih menikmati ciuman itu.


Tanpa disadari, aleris menjatuhkan tubuh malucia dengan lembut di kasur, tanpa melepaskan ciumannya, mereka menikmatinya, tangan aleris menyentuh barang-barangnya hingga berjatuhan, mereka tidak peduli mereka tetap melanjutkan kenikmatan mereka.

__ADS_1


Malucia menghentikan ciuman itu, ia membenarkan duduknya.


"Kenapa?" tanya aleris.


Malucia tidak bisa menatap wajah aleris ia menunduk ia tidak bisa menjawab, lalu aleris mendekat kembali mencium bibir malucia, aleris melepaskan baju malucia, malucia ingin menolaknya namun rasanya ia tidak bisa.


Tangan malucia melingkar kepundak aleris, ia lalu memeluk aleris dan berbisik, "Aku takut ada yang melihat" ucap malucia.


Aleris tersenyum, lalu ia mencium pundak malucia, "Tidak akan ada yang melihat"


Semua barang-barang yang tadinya tersimpan rapi berjatuhan dilantai, sangat berantakan, bahkan baju dan kain-kain berantakan dilantai, mereka masih tertidur pulas, menutup tubuh mereka dengan selimut putih, mereka berpelukan, tubuh kecil malucia dipeluk oleh tubuh besar aleris dengan erat.


Aleris berbisik ketelinga malucia, "Aku mencintaimu" upanya dengan suara serak.


Akhirnya aleris bisa mengatakan cintanya setelah ia pendam lama, malucia mengangkat kepalanya, ia menatap mata sayu aleris, malucia tahu aleria sedang menunggu jawabanya, tapi agil.......


"Kau tidak mencintaiku?" ucap aleris, malucia beranjak mengambil bajunya lalu ia pakai, aleris menatap malucia.


"Kau tidak menjawab?" sahut aleris.


Malucia tersenyum, "Aku akan pergi" lalu malucia beranjak pergi.


Aleris membenarkan posisi duduknya, ia terdiam menetralisir ucapan malucia.


"Ada apa dengannya?"


Randi mengeringkan pakaiannya dibelakang istana bersama gilang, sudah beberapa hari mereka tidak melakukak kegiatan seperti mencuci baju mereka, karena baju selalu disediakan diistana, sedikit malas memang karena mereka harus bangun pagi-pagi untuk mencuci pakaiannya.


"Tumben" ucap lidra tiba-tiba datang.


Randi menoleh, "Karena kalau tidak akan dimarahi oleh nyonya" ucap randi seraya menyindir lidra.


Gilang menoleh ia terlihat bingung, "Siapa nyonya?"


"Aku membawakan buah segar di nampan" lidra menunjukan sebuah nampan yang ia letaakan di meja taman.


"Kau tidak ada kegiatan?" ucap randi seraya mengeringkan baju.


"Tidak karena katanya tuan aleris sudah tidak akan ikut masalah tentang makhluk aneh itu"


Gilang yang sedari tadi sibuk mengeringkan baju, menoleh dan mendekat ke arah lidra.


"Jadi ini ada hubungannya dengan kerajaan majestic"


Randu menutar bola matanya, "Kerajaan itukah yang membuat kita tersesat disini?"


Lidra hanya mengangkat kedua pundaknya tanda tidak mengerti.


"Apa hubungannya?" sahut gilang.


"Aku tidak tahu..."


Randi membanting baju miliknya ketanah, "Aslinya apa yang tahu..." rintih randi.


"Tugasku hanya menjaga istana saja aku tidak ada hubungannya dengan mereka"


Gilang menepuk pundak randi untuk menghentikan pembicaraan ini, lalu randi mengingat sesuatu.


"Tadi malam ketika aku menaruh piring kedapur... aku sengaja melewati kamar aleris, kenapa aku mendengar suara ******* seorang perempuan" ucapnya polos.


Gilang dan lidra membelalak kaget secara bersamaan menatap randi.


"Emmm....aku tidak tahu siapa itu" ucapnya berusaha terlihat tenang.


"Apa yang kau dengar?" tanya lidra.


"Hanya suara *******, dan......."


Gilang dan lidra semakin penasaraan ia mendekat ke wajah agil.


"Sepertinyaaaa malucia...."


Secara bersamaan gilang dan lidra tersentak kaget.


"Buset!!!!!" tangan gilang menampar randi.


Randi menjelaskan jika ******* itu sangat terdengar jelas, randi pikir itu suara aleris sedang olahraga dikamarnya, namun suara itu sangat merdu seperti suara wanita, dan suara itu persis dengan suara malucia.

__ADS_1


Tiba-tiba seperti tahu pembicaraan mereka bertiga, malucia datang seraya menyapa mereka, mereka menyapa balik dengan canggung.


"Ada apa ini kalian sedang diskusi apa?"


Seperti batuk yang dibuat-buat gilang berucap, "Mengeringkan baju"


"Tadi malam kau dimana?" ucap randi tiba-tiba, membuat gilang dan lidra membelalak.


Malucia menyipitkan matanya, "Kenapa?"


"Aku hanya tanya"


"Aku dikamarku...." ucapnya.


"Tadi malam.....ak...." ucap randi dipotong oleh gilang yang tiba-tiba batuk dan mengalihkan permbicaraan.


"Ahh kau disini mau bantu kami kan"


Malucia yang terlihat bingung lalu menjawab, "iya"


Namun yang membuat mereka salah fokus adalah cara jalan malucia yang terlihat tidak seperti biasanya, mereka bertiga menatap aneh, gilang menahan tawanya, namun ia tidak bisa ia mengeluarkan suaranya lalu dengan cepat ia tabrak dengan suara batuk yang dibuat-buat.


Randi duduk dan memakan buah itu, diikuti gilang, mereka masih menatap dua wanita itu yang sedang sibuk mengeringkan baju milik mereka.


"Kau lihat itu?" tanya gilang.


Randi hanya mengangguk, "Aku yakin tadi malam itu pasti dia"


Gilang tertawa, "Jadi hubungan ini diam-diam mereka jalani ya"


Randi, "Tidak agil tidak aleris disosor aja"


Gilang tertawa terbahak-bahak membuat malucia dan lidra menoleh.


Sebenarnya randi tahu perasaan malucia kepada agil, karena malucia sangat terlihat menyukai agil, tapi ketika ia tahu apa yang dilakukanyya tadi malam, seakan ia melupakan agil secepat itu.


"Sebenarnya tadi malam aku kekamar aleris" ucap malucia tiba-tiba membuat lidra terbatuk.


"Dia mengatakan kalau dia menyukai ku"


"Dia menyukaimu?" malucia mengangguk.


"Lalu dirimu?"


Malucia menundukan kepalanya, lalu ia menggeleng.


"Kenapa hei, ya tuhan kau tidak menyukai tuan aleris? yaampun kau gila? dia sesempurna itu kau tidak menyukainya?"


Rasanya ia bingung dengan perasaanya, ia juga menyukai aleris tapi ia juga sedang menunggu agil, rasanya ia tidak memilih, dan mendapatkan solusi yang baik, ia takut semakin kesini dia akan menaruh hati kepada aleris, karena ia berpisah dengan agil tidak bisa membuatnya melihat wajah agil lagi.


Ia sudah tahu jika aleris menyukai dirinya sejak lama, tapi perasaan malucia tidak bisa dibohongi, apakah ia akan jujur dengan perasaanya, ia tidak bisa menjelaskan tentang agil padanya.


"Kenapa kau tidak menyukainya?" ucap lidra.


"Ya karena memang aku tidak menyukai aleris"


"Harus ada alasanya cia"


"Aku tidak memiliki alasan yang tepat"


Rasanya baru kali ini malucia memiliki perasaan yang aneh, dimana ia sangat menyukai dua pria yang sangat berbeda, rasanya saat ini ia sangat merindukan agil ditambah rasa bersalahnya, bagaimana menjelaskannya ketika kita bertemu dengan seorang pria yang baru saja dikenal, namun ada sesuatu yang membuatnya berpisah, lalu setelah beberapa hari kau sangat merindukan sosoknya.


Bahkan kau hampir lupa dengan wajah tampannya, setiap hari bertanya dengan benaknya sendiri, apakah dia selamat, apa yang sedang ia lakukan hari ini? semuanya rasanya ingin ia tanyakan ketika sudah bertemu dengannya.


Yang membuat aneh adalah ketika ia kembali mencari agil ditempat itu, tidak ada jejak sama sekali, bahkan ia tidak bisa untuk terus mencari disekitar hutan itu, karena bukan hanya gelap dan menjijikan namun kekuataan lidra mengatakan tidak sesuatu yang hidup dihutan ini.


Rasanya ia merasa bersalah dengan randi dan gilang, tidak henti-hentinya ia mengatakan itu, karena dirinya mereka berpisah.


Randi sering memakinya tapi memang benar, semuanya seolah hilang ketika malucia datang, gilang yang selalu menerima keadaan dan membuat randi terlihat tenang.


Bayangkan saja kehilangan sahabat ditempat yang mengerikan seperti ini, ia bahkan manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan seperti malucia.


Aleris menatap tajam malucia dan lidra yang asik berbincang, ia berdiri dibalkon istana, menatap kebawah sosok malucia seraya dengan posisi tangan sedekap, ia tidak ber ekpresi, namun masih terlihat tampan, entah apa yang dipikirkan aleris kenapa ia bisa menyukai malucia, bahkan ia tahu malucia tidak menyukainya.


Aleris bukan seorang pecundang jikala memang dia tidak menyukainya, ia bisa terima itu, karena hati seseorang tidak bisa dipaksakan, tapi untuk melakukanya ia harus menahan diri, dan menjaga jarak, dimana ia harus fokus pada satu titik dimana ia tidak akan memikirkannya.


Namun setelah dipikir apakah ia akan menyibukan diri dengan ikut campur urusan itu? ia sudah berjanji untuk tidak menggores luka lama, apakah ia akan ikut membantu mahagaskar dan leon mencari kebenaran dari makhluk itu? apakah ia akan membantu raja gila itu?

__ADS_1


Apakah ia akan mencari tahu tentang kematian orang tuanya? tapi yang jelas aleris sudah tahu jika mereka bunuh diri tapi? selalu saja ada yang janggal yang aleris pikirkan, apakah sebenarnya kematian orang tua aleris dipalsukan, saat itu aleris masih kecil ia tidak bisa membedakannya.


Akhir-akhir ini ia selalu fokus pada pekerjaan barunya, ia sudah menutup lama luka ini, ia tidak ingin mengingat kembali, apalagi tentang kematian bravogar, kematiannya karena penghianatannya kepada raja, tapi apa isi penghianatanya itu apakah kejahatan raja sangat mengerikan sampai bravogar harus mati seperti itu.


__ADS_2