
Mata arvand terbuka, kepalanya terasa sangat berat, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, namun ekor matanya melihat seseorang yang duduk disampingnya, lalu arvand membuka mata lebar ia tersentak kaget karena dia terbangun diruangan yang berbeda, arvand melirik siapa pria itu, dan ternyata aleris yang duduk disamping arvand.
Aleris menundukan kepalanya, namun arvand masih terlihat lemas tak berdaya kepalanya pusing dan matanya masih terlihat kabur, ia membenarkan posisi duduknya dibantu oleh aleris.
"Bagaimana kau tahu?" ucap lirih arvand.
"Ceritanya panjang pangeran" sahut aleris.
Lalu seorang wanita paruh baya datang seraya membawa nampan berisi gelas.
"Tuan kau sudah sadar?" ucapnya seraya menundukan kepala.
Arvand sedikit tidak nyaman karena wanita tua itu menundukan kepala kepadanya, disebuah gubuk tua arvand dirawat oleh seorang wanita paruh baya, dan ternyata ia adalah ibu dari anak yang terluka dilengan kirinya.
"Nama anak saya tifa" ucap wanita tua itu.
Wanita tua itu menyodorkan gelas berisi air untuk arvand minum, arvand menerimanya lalu meminum gelas air berisi seperti ramuan karena rasanya sangat pahit, arvand harus berusaha menelan air itu walaupun air itu terasa sangat pahit.
"Dimana tifa nek?" sahut aleris.
Tiba-tiba tifa datang, kali ini ia hanya sendiri tidak ditemani empat temannya, ia menundukan kepalanya.
"Hei" ucap arvand.
"Ah, maafkan saya nek, karena saya anak nenek terluka dilengan kirinya" sahut arvand.
Nenek itu hanya menggeleng, ia berkata, "Tidak ada yang salah....sudah sepantasnya tifa mendapatkan hukuman seperti ini"
Aleris terbelalak, "Maksud anda?"
"Karena kenapa tifa berani bermain dengan pangeran, padahal pangeran dijaga ketat oleh raja" ucapnya lirih.
"Tidak, maaf anda salah, ini kesalahan saya karena saya bermain dengan mereka, seharusnya saya menjaga jarak, jika saya tidak keluar kerajaan tifa tidak akan terluka"
Nenek itu tersenyum, arvand menyuruh tifa duduk disampingnya.
"Tuan maafkan saya" ucap tifa menunduk.
Arvand mengelus kepala tifa, "Tidak kau tidak salah aku yang salah, maafkan aku dan ayahku ya?"
Lalu arvand memeggang tangan nenek itu.
"Nek maafkan saya karena kesalahan saya dan ayah saya" ucapnya mencium tangan nenek itu.
"Tidak usah begitu pangeran.....saya sangat bersalah jika anda seperti ini, saya sudah terbiasa seperti ini, saya sudah melupakanya"
Lalu arvand memeluk tifa dan nenek itu bersamaan, aleris bisa melihat sifat asli arvand yang berbanding terbalik dengan ayahnya, kenapa bisa selama ini ia patuh dengan ayahnya bahkan sama sekali tidak memberontak.
Malam itu, digubuk tua dipinggir hutan, ibu tifa, tifa, dan empat temannya mengadakan makan besar disana, dimana mereka sangat terhormat pangeran arvand dan aleria datang mengunjungi rumahnya, tifa rayakan dengan makan besar, dimana ia menangkap kijang besar untuk makan, ia menyiapkan api unggun lalu membakarnya.
Rumah tifa memang sedikit jauh dari perkampuan, karena disampingnya terdapat hutan-hutan, dimana ia bisa dengan mudah mendapatkan makanan.
"Kau tidak pulang?" ucap arvand seraya duduk disebuah batang pohon dekat api unggun.
Awalnya aleris ingin menghiraukannya, ia masih sibuk menghangatkan kedua tanganya yang ia dekatkan ke api unggun, namun sepertinya ia harus menjawab.
"Sepertinya aku tidak bisa meninggalkan kau sendirian disini" ucapnya tanpa menoleh kearah arvand.
"Aku bukan anak kecil lagi" sahut arvand.
"Ini bukan soal kau masih bayi atau kau sudah besar"
Arvand terdiam.
Teman-teman tifa dan tifa menyiapkan peralatannya, aleris membantu mereka, nenek tua itu mendekat dan duduk disamping arvand.
"Apakah pangeran pernah melakukan pesta sederhana ini?"
Arvand menoleh, lalu nenek itu melanjutkan.
"Karena saya hanya bisa melakukan ini, jadi pangeran bisa menikmatinya"
"Ah saya sangat menikmatinya",
"Apakah pangeran tidak dicari raja?"
"Tidak nek, saya sudah besar sudah sewajarnya saya pergi sesuka hati saya"
"Saya takut jika kali ini saya yang terluka....."
Tiba-tiba arvand terdiam, kelakuan ayahnya membuatnya malu dan merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Kali ini tidak akan terjadi..." ucap arvand.
Malam ini mereka merayakan makan besar, sedikit canggung karena seorang pangeran ikut gabung kemari, tapi membuat tifa semakin bisa berteman baik dengan pangeran.
"Kau belum makan kan?" tanya aleris canggung seraya menyodorkan piring berisi daging kijang.
Arvand tertawa, "Kenapa kau? hahahaha" jawabnya.
"Karena aku pikir saat kau dipenjara kau tidak makan"
"Sudah terbiasa"
Karena tubuh arvand semakin membaik, dan sudah siuman, ia bermain dengan anak-anak itu, memutari api unggun seraya bernyanyi, bercerita, dan sebagainya, aleris hanya menatap mereka dan duduk bersama nenek itu.
"Saya senang dan terhormat dua pangeran tampan dan berjasa datang kesini ikut makanan yang bukan seberapa" ucap nenek itu.
"Ah nek itu berlebihan, saya juga sering makan makanan seperti ini"
Nenek itu tersenyum, "Tifa anak yang baik pangeran, ia ditinggal oleh kedua orang tuanya, ibunya bunuh diri karena ia sangat stres memikirkan suaminumya yang kunjung pulang dalam perjalanan bisnis, namun tifa tidak pernah menangis karena itu, saya baru bisa melihat ia menangis karena ia merasa bersalah dengan pangeran arvand"
Aleris mendengarkan cerita dari nenek dengan seksama, dimana ia bisa merasakan hawa kesepian dari tifa.
"Saya menangis karena saya takut tifa akan dihukum oleh raja, setiap malam saya berdoa, saya ingin menemui raja tapi tifa menyuruh saya untuk diam saja dirumah"
Aleris memeggang tangan nenek itu, "Sekarang tidak ada yang salah, saat itu banyak masalah yang menimpa raja, dan untuk saat ini saya dan arvand sangat bahagia bisa bergabung makan malam disini"
Nenek itu meneteskan air matanya, ia menunduk.
"Saya sangat bersalah dengan tifa....." Aleris memeluk nenek itu.
Ia bisa merasakannya, dimana saat kehilangan kedua orang tuanya, rasa kesepian, berusaha untuk tetap tersenyum, aleris yakin tifa sudah melupakan semuanya ia hanya ingin hidup tenang, ia tidak ingin menggores luka lama lagi.
Malam itu pesta kecil-kecilan akhirnya selesai, nenek, tifa, dan teman-temannya kembali tertidur, saat itu sudah sangat malam, namun aleris tahu pasti waktu sudah menunjukan sepertiga malam, namun tetap ia tidak bisa memejamkan matanya.
Ia beranjak mencari keberadaan arvand namun ia tidak ada ditempatnya, aleris lalu keluar ia lega melihat arvand masih duduk didepan api unggun, aleris mendekat.
"Kenapa kau tidak tidur pangeran?" ucap aleris duduk disamping arvand.
Arvand tidak menjawabnya, "Aku sudah tahu semua ceritanya...." sahut aleris.
Arvand hanya mengangkat alis, "Aku masih tidak percaya dengan apa yang ia lakukan"
"Aku melihat anak-anak itu berusaha mengintip jendela kecil, aku tanya ada apa, ternyata kau memang memanggil mereka, kau jatuh pingsan?"
"Ya karena aku tidak makan selama dua hari"
"Aku beranjak untuk masuk kedalam melewati gerbang belakang, gerbang masuk penjara memang digembok aku dobrak dan menemukanmu"
"Kau selama ini dimana? baru tahu kelakuan ayahmu?" lanjut aleris.
Arvand tersenyum kecut, "Aku bersembunyi ditopeng ayahku"
"Maafkan aku, aku membunuh bravogar" ucapnya tiba-tiba, entahlah setelah sekian lama ia tidak bertemu aleris, ia lalu mengingatnya.
Aleris tertawa, "Aku tahu itu bukan kemauanmu jadi itu bukan salahmu..."
"Disaat seperti ini kau masih bisa tertawa?"
"Karena aku terlihat jelek jika menangis" ucap aleris.
"Sudah lama tidak bertemu denganmu tapi kau masih sama seperti dulu..."
Aleris ingin bercerita tentang dirinya kepada arvand namun rasanya ia tidak punya keberanian, rasanya ia ingin langsung kembali saat itu, dimana ia tidak ingin menolong arvand, namun raja gevar keterlaluan, ia tidak bisa meninggalkan arvand dalam posisi yang seperti itu.
"Aku sangat menyesal karena aku selalu mengikuti perintah ayahku"
Aleris menatap arvand dengan melas.
"Kau datang kemari dengan keperluan makhluk aneh itu?"
Aleris langsung menyahut, "Tidak! aku datang kesini karena mengunjungi makam bravogar"
Pagi itu mereka saling bercerita tanpa mereka sadari hari sudah sangat pagi, sebenarnya ada rasa berat hati untuk meninggalkan mereka, bagi arvand rasanya sangat menyenangkan bisa hidup bebas dialam, dimana rasanya ia tidak memikirkan hal-hal yang ia kawatirkan.
"Saya sangat berterima kasih karena pangeran bersedia ikut makan malam tadi malam disini dan menginap dirumah saya, saya minta maaf karena rumah saya tidak nyaman"
Arvand duduk dan menyentuh kaki nenek itu, ia lalu mencium tangannya, arvand memeluk nenek itu, tifa dan teman-temanya, ia sangat berterima kasih bisa bertemu dengan orang-orang yang baik.
Arvand dan aleris lalu pamit pulang, berat hati bagi arvand harus meninggalkan mereka rasanya arvand ingin tinggal disana untuk waktu yang lama, namun ada urusan yang harus ia selesaikan.
"Kau harus menyelesaikannya" ucap aleris.
__ADS_1
"Karena aku tidak bisa membantumu" lanjut aleris.
"Kau tahu kan?"
Arvand mengangguk, "Terima kasih karena kau menyelamatkanku"
Aleris tidak menjawab, ia hanya merangkul pundak arvand.
"Kembalilah ke kerajaan, kau tidak seharusnya disini, perbaiki urusanmu dan cari tahu kebenaranya"
"Sebenarnya kau seumuran denganku, tapi karena kau anak raja aku harus menghormatimu" lanjut aleris.
Arvand melepaskannya, "Kau tidak usah sungkan melakukan apapun denganku, jika kau butuh juga aku siap-siap saja"
Aleris lalu naik kepunggung kuda ia beranjak pergi dari kota majestic kembali ketempatnya, arvand masih menatap aleris, sudah sangat lama ia tidak melihatnya, namun sikapnya masih sama seperti dulu.
Arvand melangkah membuka gerbang, sudah ada banyak prajurit disana, ia terus melangkah membuka pintu kerajaan, ia langsung dihadapi dengan ayahnya, raja gevarnest duduk dikursinya dan varegar yang berdiri disampingnya, varegar menundukan kepala, namun arvand menghiraukannya.
Arvand berdiri didepan ayahnya dengan raut wajah yang geram.
"Kau kembali?"
"Kenapa? kau ingin membunuhku?"
"Sudah aku duga kau akan keluar dengan sendirinya dari penjara itu....siapa yang melepaskanmu"
"Bukan urusanmu"
"Kau kenapa? kau berani dengan ayah? ayah memang ingin melepaskanmu hari ini tapi......kau sudah ada dihadapan ayah"
"Percuma aku menjelaskan kepadamu saat ini, tapi aku mohon kepadamu untuk tidak melakukan hal itu lagi"
"Kau bisa lihat varegar? arvand bukan arvand yang aku kenal lagi sekarang"
Raja gevarnest berdiri ia turun dari tangga kursinya, ia mengisyaratkan para prajurit itu untuk memeggang kedua tangan arvand, arvand berusaha memberontak namun lagi-lagi ia tidak punya kekuatan yang kuat.
Raja gevarnest mendekat seraya melipat bajunya yang menghalangi tangannya, ia singkirkan, lalu ia menonjok wajah arvand berkali-kali dengan tangannya.
"Kau pikir kau bisa menghalangiku, kau pikir kau bisa melawanku? kau pikir aku bisa menuruti perkataanmu? jika kau ingin teman-teman kotormu tidak mati ditanganku, jangan bersikap sok berkuasa, jangan berteman dengan para kotoran itu, aku ayahmu aku yang berkuasa!!!!!!!!!!" teriak raja gevarnest seraya memukul wajah arvand.
Wajah arvand penuh darah, dan luka yang biru ada diseluruh wajahnya, mulut dan hidungnya mengeluarkan darah, ia terjatuh begitu saja setelah para prajurit itu melepaskanya.
Raja gevarnest duduk dan berbisik, "Kau ingin menandingi ayahmu?"
"Kau bisa kembali kerumahmu arvand, tapi dengarkan ayah!"
Arvand tidak menjawab, tidak ada energi sama sekali yang harus arvand keluarkan.
"Karena pada kenyataanya kau akan lemah setelah berhadapan denganku, jadi jangan sok ingin membunuh atau melawanku"
Ratu carlota datang, ia menjatuhkan isi nampannya, ketika melihat tubuh arvand terjatuh tak berdaya dan wajahnya yang berantakan, ia berlari menuju arvand dan raja gevarnest, ia lalu memeggang kepala arvand.
"Ada apa ini!!!! kenapa kau melakukan hal semacam ini kepada anakmu sendiri!!"
Raja gevarnest terdiam kebingungan, "Lhoh? sudah berubah pikiran kah kau sayang? kemarin kau senang arvand dipenjara disana kau malah membiarkan aku melakukan ini tapi kali ini? apa yang kau lakukan? bukankah kau tahu dia bukan arvand yang kita kenal?" ucap raja gevarnest.
Arvand mendengar ucapan itu, ia menyingkirkan tangan ratu carlota yang memeggang kepalanya, ia lalu beranjak berdiri dan pergi masuk kedalam walaupun rasanya ia sudah tidak berdaya, telinganya sangat panas dimana ia tidak ingin mendengarkan orang-orang gila itu.
Raja gevarnest menyusul arvand namun dihalangi leh ratu carlota, "Biarlah.....biarlah dia pergi....."
Raja gevarnest memutar bola matanya, "Kau masih mendukungnya?"
"Aku akan mencoba berbicara padanya, dan setelah ini berhenti dan selesaikan dengan baik-baik" ucap ratu carlota beranjak pergi.
Raja gevarnest menghela nafasnya, "Entah siapa yang menghasutnya"
"Tuan sebaiknya kau selesaikan denngan baik-baik disana, oh ya tentang pangeran arvand dipenjara menurut saya kau keterlaluan..." ucap varegar.
"Apa katamu?"
"Aku hanya mendengar ucapan kau tadi tuan...."
"Jika kau tidak tahu apa-apa diam"
Arvand duduk didepan kaca kamarnya, akhirnya ia kembali juga ke kamarnya, dimana sebenarnya ia sangat malas untuk kembali, ia sudah sering berpikir untuk pergi, namun ia tidak punya nyali seperti aleris yang nekat melakukan apapun.
Ia memang tidak memiliki harga diri, dimana ia harus kembali dan menjalani hari-hari biasa lagi didalam kerajaan, seaakan semuanya lenyap, rasanya ia tidak bisa diam namun ketika mengangkat suara, suaranya seperti lirih tidak didengar oleh siapa pun.
Arvand memang ingin kembali kekerajaan, namun yang ia inginkan adalah ayahnyabmeminta maaf kepada anak itu, tapi untuk mengeluarkan suara itu, lagi dan lagi tidak didengarkan, apakah selama ini benar? bahwa arvand bodoh?
Apakah arvand bodoh melakukan ini? ia harus kembali ke rumah yang membuatnya sangat muak apakah bodoh? tapi seperti perkataan aleris, sepertinya ia harus sabar menjalani masalah ini, dan cari kebenaranya, walaupun ia tahu konsekuensinya.
__ADS_1