Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Mimpi buatan


__ADS_3

Entah sudah berapa banyak kekuatan angin yang Aleris keluarkan, yang ia terpenting yang harus ia lakukan adalah membunuh para monster mengerikan ini hingga habis tak tersisa.


Aleris melirik kearah kanannya, Arvand dan Fay yang masih sibuk menyrlamatkam beberapa prajurit yang tergeletak sekarat karena serangan dari monster. Aleris memejamkan matanya sebentar rasanya ia ingin mengeluarkan emosinya disini.


Ia menangis seraya menyerang para monster yang berusaha menyerbu Aleris, pada akhirnya titik lelah yang ia rasakan terjawab dan pecah disini. Sudah sangat lama Aleris memendam semuanya, pada akhirnya raganya tidak kuat, ia menangis seraya berteriak, hingga para monster itu kalah karena kekuatan Aleris yang semakin kuat.


Air matanya jatuh ke pipi beberapa kali, di dalam hatinya ia berkata.


*Saat aku tahu pembunuh kedua orang tuaku, rasanya aku ingin balas dendam dan membunuh mereka, tapi.....aku tidak bisa egois.


Saat aku tahu Bravogar mati, karena dibunuh oleh saudara + sahabatku sendiri, rasanya aku ingin membunuhnya, lagi-lagi rasa sakit itu datang, membuatku ingin menjadi jahat, tapi lagi-lagi aku tidak bisa egois.


Saat aku diperintah oleh para atasan, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi aku telah membuat semua orang yang tersesat dinegeri ini mengalami sesuatu yang menyedihkan, benar ini adalah kesalahanku.


Dan, saat ini aku kehilangan tempat ternyaman hanya gara-gara aku bungkam, bukankah lebih baik diam saja ketimbang memberitahu orang yang salah?


Aku sudah kehilangan semuanya, Malucia.


Malucia, jangan diam saja, ketika aku tidak bisa apa-apa tolong bangkit, walaupun kita tahu mereka lebih kuat dari kita, tapi tolong ini adalah kesempatan.


Iblis sialan! aku telah membuat hal yang sia-sia untuk ini! jangan datang lagi dan lagi! aku berharap ini yang terakhir! entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi jujur aku diam, karena aku tidak ingin memberitahu kepada sang raja dan Varegar tentang ini, mereka akan melakukan rencana gila, seperti sekarang ini, bahkan sampai sekarang aku tidak tahu rencana apa yang sebenarnya mereka lakukan*.


Aleris tersadar, saat seseorang memanggilnya dari balik reruntuhan perumahan, seraya masih menyerang dengan kekuataanya, Aleris menoleh.


"Agil?" gumam Aleris.


Tak lama beberapa teman-teman Agil juga datang, dan ikut membantu Aleris dengan busur panah mereka dan senjata lainnya. Aleris menyipitkan matanya saat melihat seseorang yang bergabung dengan Agil, seperti tidak asing. Rasanya Aleris pernah melihat pria itu.


Karena tidak fokus, monster itu berhasil mendekat dan menyemburkan api didekat Aleris, namun Aleris dengan cepat tersadar dan berhasil membalas menyemburkan angin, seraya ia terjatuh ketanah.


Api itu berbalik menyembur ke tubuh monster itu karena angin milik Aleris, Aleris tersungkur, Agil mendekat dan menyodorkan tanganya untuk membantu Aleris berdiri, Aleris menerimanya.


Ditempat mereka berdiri, para monster yang berterbangannya diudara sudah habis tak tersisa, mereka terbunuh dengan jasad tubuh mereka tak sadarkan diri tergeletak ditanah.


Agil menggeleng-geleng karena ada banyak para monster yang sudah mati ditanah, tapi ia kembali mendongak menatap langit, dibagian utara masih ada banyak para monster.


"Kau tidak meraskan aneh?" ucap Agil.


Aleris menatap Agil, dan ia menatap langit, dan menatap kerajaan.


"Kenapa mereka tidak menyerang kerajaan?" ucap Agil.


"Bisa saja kan? tanpa menghancurkan perumahan dikota, mereka bisa saja menghancurkan kerajaan jika tujuan utama mereka disana, jika tidak apakah tujuan mereka hanya menghancurkan perumahan warga?"


Aleris mengangguk, "Benar juga...."


Argus, Timandra, dan Vin datang bergabung.

__ADS_1


"Tuan Aleris...." sahut Argus menundukan kepalanya.


"Kau? Argus yang dikota Lander?"


"Jadi? kalian datang? kau datang dengan Agil saat itu?" pekik Aleris.


Argus mengangguk, Aleris lalu meremas rambut kepalanya, dengan emosi.


"Kenapa?" tanya Agil.


Aleris hanya menggeleng, "Tidak apa-apa.." jawabnya.


Ia akan memberitahu Agil setelah perang ini selesai, Agil melangkah kedepan dan duduk disebuah kursi kayu, lalu ia memejamkan matanya.


Jay, jangan tinggalkan aku kenapa sih? kau tega banget. Aku tidak bisa terus diam sendiri seperti ini aku butuh kau.


"Iya aku datang..." ucap seseorang datang.


Agil dengan cepat mendongak, dan ia kaget saat Jay datang menemuinya. Agil berdiri.


"Jay?"


Jay mengangguk, ia mendekat kearah Agil, tanpa aba-aba Agil memeluk tubuh Jay, ia menangis didekapan Jay, ia memeluk dengan erat.


"Aku berharap ini tidak mimpi, aku ingin kau terus bersamamu, aku sangat mencintaimu Jay, jangan tinggalkan aku..."


Jay melepaskan pelukan Agil, seraya memeggang kedua pundak Agil.


Agil memeggang tangan Jay yang nenyentuh pipinya, lalu ia mencium tangan Jay. Air matanya terus berjatuhan hingga Jay menyeka air mata Agil.


"Gil aku bisa berjalan lagi Gil, kakiku tidak sakit lagi...."


Agil menatap Jay, "Bisa kan terus bersamaku? sampai kita bisa pulang?"


Jay hanya tersenyum, "Kau harus kuat Gil, tanpa siapa pun, jangan tergantung dengan siapa pun, kau yang menjalankan hidupku bukan orang lain, janji kepadaku kau akan pulang dengan selamat! kau harus memecahkan teori ini, aku juga ini melihat Randi san Gilang..."


Agil memalingkan wajahnya, "Aku hanya ingin denganmu, tidak yang lain...."


Jay menunduk seraya tersenyum, "Jika pada akhirnya takdir berkata lain? kau bagaimana?"


Agil tidak bisa menjawab, ia hanya bisa menangis saja dihadapan Jay, tiba-tiba Jay mencium bibir Agil, Agil tersentak dan menerima ciuman itu dengan memejamkan matanya.


"Gil!" tiba-tiba Agil tersentak saat ia mendengar suara yang memanggil nya.


Dan seketika Jay hilang dari hadapannya, Agil masih terdiam mematung hingga seseorang menyentuh pundaknya.


"Kau kemana saja? aku cari-cari..." ucap seseorang tersebut.

__ADS_1


Agil masih terdiam, tapi ia kemudian terkejut saat ia mendengar suara yang tak asing dari telinganya, ia segera menoleh.


Matanya terbelalak saat ia tahu siapa orang yang ada dihadapanya.


"Randi?" bisiknya.


Segera Agil memeluk tubuh Randi, tapi Randi hanya terlihat kebingungan. Maka ia segera melepaskan pelukan Agil.


"Kau kenapa? kau gila? jijik kali aku...." gumam Randi.


"Ini sungguh kau?" ucap Agil.


Randi memutar bola matanya, "Kau pikir aku siapa he? iblis?"


Tiba-tiba dari arah belakang seseorang datang seraya merangkul mereka.


"Kalian kok ninggal sih?" sahut Gilang.


Agil terbelalak terdiam menatap dua insan dihadapanya, apakah mereka benar-benar ada dihadapanya? bagaimana bisa? jika ini mimpi tapi kenapa ini terlihat sangat nyata.


Agil melepaskan rangkulan Gilang, membuat Gilang dan Randi kebingungan dengan sikap Agil.


"Kau tahu ini hanya mimpi aku tahu....." ucapnya.


"Mimpi?" tanya Gilang.


Randi mendekat kearah Agil, dan segera ia menampar pipi Agil, yang Agil rasakan memang sakit tapi apakah ia harus percaya dengan ini?


"Bagaimana bisa?" ucap Agil.


"Maksudnya bagaimana sih?" tanya Gilang kepada Randi.


Randi hanya menggeleng-geleng tidak mengerti.


"Kau kenapa sih? ini kita woy, kau kira kita apa?" ucap Randi.


Agil kembali menangis, membuat Randi dan Gilang khawatir.


"Jangan mendekat...." ucap Agil.


"Kau kenapa sialan!" ucap Randi.


"Aku tahu ini hanya mimpiku saja, aku tahu.... jadi jangan mendekat kalian bukanlah diri kalian yang sebenarnya..." ucap Agil.


Gilang berlari mendekat kearah Agil lalu ia memeluk Agil.


"Mau mimpi atau bukan, tapi boleh kan aku peluk, mungkin ini sedikit canggung tapi sebentar saja, boleh kan aku peluk...." sahut Gilang.

__ADS_1


Kemudian Randi menyusul memeluk Agil dan Gilang.


"Lakukanlah dengan lapang dada!" ujar Randi.


__ADS_2