Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Kurcaci


__ADS_3

Pagi tiba walaupun masih petang dan surya yang belum muncul tiba, angin pagi yang dingin menyelimuti tubuh mereka, bahkan bulan sabit pun masih muncul dengan tubuh mungilnya, pepohonan yang ringan menari terbawa oleh angin, suasana dingin yang begitu mencengkam.


Sesekali agil membenarkan kain yang menjadi selimutnya, karena tipis ia bahkan tidak bisa sama sekali merasakan kehangatan, aneh? argus, jay, dan tea tertidur dengan lelap, tidak bergerak sama sekali, sedangkan agil? Dia harus bolak-balik membenarkan posisi tidurnya, hawa dingin yang begitu extrem membuat tubuh agil mengigil tak karuan, ia memutuskan untuk membuat api unggun di pagi hari, bahkan matahari pun juga enggan muncul, padahal cahayanya bisa membuat makhluk hidup kehangatan.


"Sial!!" Beberapa kali agil menghidupkan api, api itu selalu tidak bisa menyala, ia mengulanginya beberapa kali hingga akhirnya menyerah.


"Kenapa dingin sekali disini?" Agil mencoba beranjak dan sedikit mengerakan tubuhnya dengan pelan.


"Kenapa kota lander jauh sekali? Kenapa tidak ada kendaraan disini, tidak-tidak setidaknya ada elang seperti malucia disini" gerutunya.


Tiba-tiba tubuhnya dipukul oleh sesuatu dari belakang, agil yang masih bisa bangkit lalu mencari siapa yang memukulnya, disaat sedang mencari siapa keberadaanya, dari atas sebuah batu cukup besar menghantamnya hingga ia tak sadarkan diri.


Matahari akhirnya muncul, membuat tempat yang dingin seperti es bisa mencair dan menjadi hangat seketika, suasana yang begitu menakjupkan karena ketika membuka mata pemandangan yang ada didepan sebuah tebing menjulang tinggi, dan perbukitan yang hijau segar sampai diujung langit.


Argus membuka tas dan menyiapkan makanan, tapi ada yang aneh, matanya menelusuri sekitar, dan benar agil tidak ada disini, ia lalu membangunkan jay dan tea.


"Kemana agil?" Tanya argus.


"Tadi malam apa pagi ya, aku dengar suara orang teriak tapi aku tidur lagi karena masih ngantuk" suara serak tea seraya dengan posisi masih mengantuk.


"Tea bangun!!!! Yang benar dimana agil" jay menampar pipi tea, tea terbangun dengan kaget.


"Aku pikir itu agil?"


"Kemas barang-barang kita cari agil sekarang!!!" Argus mengemasi barang-barang diikuti tea dan jay, lalu mereka beranjak mencari keberadaan agil.


Mereka menelusuri hutan, hutan ini lumayan lebih enak dipandang dibanding dengan hutan sesat itu, sejuk dan segar ya mungkin karena sudah pagi entahlah kalau malam mungkin lebih menyeramkan dibanding dengan hutan sesat itu? Entahlah yang lebih penting hutan ini terlihat lelih kekar.


Argus menemukan jejak kaki, namun aneh jejak kaki ini terlalu kecil untuk ukuran manusia biasa, mereka bertiga lalu mengikuti jejak kaki itu, butuh waktu yang lama menemukan siapa sebenarnya jejak kaki kecil itu, hingga argus, jay, dan tea menemukan sebuah tempat yang serba kecil, termasuk beberapa susunan rumah yang kecil, argus sudah mengira ini adalah tempat para kurcaci.


Mereka beranjak mendekat dengan pelan, mereka siap sedia menggunakan pedang dan busur panah, dengan pelan mereka menelusuri tempat itu, tiba-tiba seseorang yang berukuran kecil menghadang mereka.


"Berhenti!!!" Dengan suara kecil mungil, orang itu dengan berani menghadang.


Argus, jay, dan tea kaget, segera mereka menyembunyikan pedang dan busur panahnya, karena mereka menganggap ini adalah salah paham, dan argus yakin pasti agil disembunyikan oleh manusia kerdil ini disini.


"Maaf, apakah teman saya disini?" Argus bertanya.


"Kenapa? Mau apa?" Suara ketus orang kerdil itu.


"Kami hanya ingin menyelamatkan teman kami" jay melanjutkan.


"Wauuuu cantik" ucap manusia kerdil yang satunya tiba-tiba menampakan diri, karena perkataan nya ia ditampar oleh teman-temannya yang mengikutinya dibelakang.


"Masih saja tak kenal lelah dengan wanita cantik, huekk"


"Siapa kalian kenapa kalian disini?"


"Perkenalkan saya argus, dan ini jay dan yang ini tea, kebetulan kami tersesat dan sedang istirahat sebentar, disana ketika bangun teman kami menghilang, apakah teman kami berada ditempat kalian?" Ucap sopan argus.


"Memang benar ia ada di tempat kami"


"Emm kalau boleh kenalan kalian siapa?" Tanya tea.


"Aku emon, dan ini yang gila wanita cantik taka dan di belakang taka, si kembar tiga, lilo, lila, lili" manusia kerdil yang bernama emon itu menjelaskan.


"Ah senang bertemu dengan kalian"ucap argus, batin argus sepertinya mereka baik hati.


"Tunggu sebelum bertemu dengan temanmu, aku punya syarat" ucap emon.


Argus hanya mengangguk tanda menginginkan jawaban dari emon apa itu syaratnya, jay dan tea malah kurang setuju.


"Paman kalau syaratnya aneh-aneh gimana?" Ucap tea.


"Paman plis kali ini saja kita menolaknya, karena dilihat dari wajah mereka mereka seperti memanipulasi keberadaan kita" ucap jay.


Argus tertawa.


"Tenang, aku yakin mereka baik, sudah kalian percaya dengan ku ya?" Ucap argus.


"Huhhhhh" ucap tea mendengus.


"Apa syaratnya?" Tanya argus.


"Lihat tempat kami, buruk bukan sebelum pergi dari sini aku ingin kalian membuat rumah yang lebih besar dari ini untuk kami" ucap ketus emon.

__ADS_1


Argus memutar bola matanya.


"Paman lihatlah kita tidak ada waktu untuk hal yang tidak penting" gerutu tea.


"Hahahahahahahah" argus tertawa.


Jay dan tea terlihat kebingungan.


"Baiklah akan kami bantu" ucap argus melewati para kurcaci begitu saja, sedangkan jay dan tea masih terlihat kebingungan.


"Santai saja para wanita cantik, kami tidak akan melakukan yang berbahaya, jika dia teman mu tidak macam-macam pada kami" ucap taka.


Dengan menggetak kepalanya taka, emon berkata, "tidak pernah merasa cukup sudah punya istri ya" emon beranjak pergi.


"Hehehehehe"


Agil teringat disebuah batang pohon, posisi terlentang dan sepertinya ia pingsan karena tidak sama sekali bergerak, argus tertawa, ia tidak bisa menahannya baginya ini terlalu lucu, jay dan tea terlihat syok karena tubuh agil yang terlentang seperti itu.


Ditengah hutan, ada sebuah tempat sedikit luas dan itu tempat tinggal para kurcaci, tidak banyak yang menempati itu hanya ada beberapa, dan ketuanya emon, rumah mereka memang seperti gubuk dan sudah rusak beberapa memang, argus duduk di sebuah kayu didepan agil yang masih terikat kedua tangan dan kakinya, dan menatap agil .


"Kalau kayak gini, lemah juga" argus berbicara.


"Apakah dia mempunyai kekuatan?" tanya emon.


"Ah tidak hanya saja dia lebih kuat dariku sebenarnya"


Karena emon kurang yakin, karena melihat tubuh agil yang tidak terlalu kekar, emon menantang untuk melakukan junjung pohon nanti ketika ia siuman, argus hanya mengamgguk dan tersenyum manahan tawa.


Tidak lama, agil sadar dan berteriak dengan keras, ia kaget ternyata argus, jay, dan tea juga sudah berada di hadapannya, emon lalu melepaskan ikatan itu, tubuh agil terjatuh dan terlihat sangat dehidrasi.


Argus menyodorkan botol minuman.


"Paman ini siapa paman!!! kenapa kalian disini? apa yang terjadi?" agil berdiri dan duduk disamping argus.


"Tenang, kita hanya berada ditempat para manusia kerdil"


Tiba-tiba agil mengingat sesuatu, buku itu asal mula buku itu ada di manusia kerdil, dengan spontan agil berdiri.


"Maaf menggangu, tapi ijinkan saya bertanya, apakah kalian semua tahu buku?"


"Apaan?" ucap tea merasa sangat bingung.


"Sumpah apanya yang lucu?" ucap jay.


Agil merasa sangat bingung, tapi sepertinya memang mereka tahu apa yang di maksud agil, karena emon berdiri tepat di samping agil, emon menghantam kaki agil menggunakan tangannya, seketika agil terjatuh kesakitan.


"Buset anak kecil tapi kekuatanya ngerii" ucap agil.


"Apa anak kecil?" emon yang tidak terima langsung melingkarkan tangannya ke kepala agil dan meremas dengan kuat, hingga agil tidak bisa bernapas.


"Ahh ahhh lepaskan" ucapnya seraya menampar pipi manusia kerdil itu.


"Jangan menyepelekan kita, karena kita sangatlah kuat" emon melepaskannya, hingga agil terjatuh.


"Ah gil duduk sini" jay mempersilahkan agil duduk.


Agil bertanya-tanya siapakah mereka dan bagaimana bisa mereka melakukan hal semacam ini, argus menjelaskan.


"Mereka baik kok kalau kita baik gil, yang penting bantu mereka buat rumah dulu baru bisa lanjut jalan lagi kita" ucap argus, sepertinya argus menyukai permainan ini.


"Lhoh paman waktu kita tidak banyak!!" teriak agil.


"Ya begitu lah, kalau menolak kau akan tetap tinggal disini" saut tea.


"Apa??"


Mereka duduk melingkar disebuah kayu ditengah tempat tinggal mereka, seperti mengadakan rapat besar, agil masih merasakan keanehan mereka kenapa bisa mereka sekuat itu, ada banyak manusia kerdil disini, wanita dan laki-laki tentunya, mereka seperti manusia kerdil pada umumnya, tapi bagi agil emon yang terlalu berbahaya menurutnya.


"Nama mu siapa?" dengan senyum yang melebar taka mendekat ke arah jay, jay menggelidik geli.


"Namaku jay" ucap lirih jay.


"Jangan merasa geli, walaupun aku seperti ini aku tidak bermaksud apa-apa aku sudah memiliki istri dan aku sangat mencintainya" ucapnya membuat jay sedikit merasa biasa saja, karena sempat ia merasa terintimindasi.


"Yang ini?" taka menunjuk tea disamping jay.

__ADS_1


"Aku tea" tea bahkan tidak merasa risi sekali pun, ia menjambat tangan taka dan taka membalasnya.


"Kalian asli sini ya?" tanya tea.


"Ya benar, karena sudah lama tidak di bangun ulang tempat tinggal kita jadi seperti ini" ucap taka.


Argus masih mendengarkan penjelasan emon, emon menjelaskan detail bagaimana tempat tinggal mereka akan dibuat, sempat ada berdebatan emon dengan manusia kerdil lainnya, tapi setelah argus menengahi berdebatan itu, akhirnya semua setuju dengan pendapat argus bahkan tempat tinggal mereka akan dibuat dengan kayu.


"Masak iya tadi emon bilang akan buat rumah dengan batu paman?" ucap agil berbisik.


"Suttttt namanya saja emon" ucap argus.


"Memang tidak bisa jika ingin menggunakan batu dan disusun seperti itu" ucap salah satu manusia kerdil itu.


"Bahkan kita tidak akan menyusahkan mereka mon, kita dibantu pun sudah bersyukur" saut taka.


"Ya betul!!!" ucap lilo, lila, dan lili bersamaan, mereka memang kembar bahkan sampai ucapan mereka terkadang bisa keluar secara bersamaan.


"Motiv kita disini adalah istirahat karena teman saya yang bernama agil mengalami luka-luka karena jatuh, dan karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk melajutkan perjalanan, jadi kita membuat tempat istirahat disana, mohon maaf jika tidak ijin karena tidak tahu dan maaf juga jika teman saya agil ini tidak sopan" ucap argus.


Sebenarnya saat agil dibawa oleh para kurcaci, ada banyak kurcaci yang kaget karena membawa manusia ini di tempat mereka, banyak mereka yang menyuruh manusia ini untuk dikembalikan, namun karena kesombongan emon yang tidak mau kalah, ia mengikat agil, dan ingin memberikan tantangan untuk membangun tempat tinggal mereka, sampai argus, jay dan tea datang, dan ini adalah kesempatan emas emon.


Setelah diskusi dan berdebatan yang runyam, akhirnya emon membagi tugas, dimana untuk agil dan argus menebang pohon dan mengumpulkannya dibantu benerapa manusia kerdil lainnya, jay dan tea yang menghaluskan kayu, tapi tetap saja walaupun mereka dibagi tugas yang membangun tempat tinggal mereka argus, agil, jay, dan tea tetap dibantu dengan manusia kerdil yang lainnya.


Sudah lima jam argus dan agil mengumpulkan kayu, agil duduk dibawah pohon, dan udara kala itu sangat sejuk membuat keringat menghilang begitu saja, disaat ia menikmati kesegaran angin, pundak agil ditepuk oleh emon, batin agil sepertinya ia mendapatkan masalah.


"Aku ingin menatang kau untuk mengangkat pohon ini?" emon menunjuk batang pohon besar yang tertidur disampingnya, agil melotot.


"Apa?" tanya agil, ia tidak paham kenapa bisa tiba-tiba ia menyuruhnya seperti ini?


"Ini adalah tantangan" emon lalu mengangkat batang itu dan benar batin agil bawa manusia kerdil itu pasti kuat, tapi bagaimana dengan agil?


"Baiklah-baiklah akan ku coba"


Agil berusaha mengangkat batang pohon itu, tapi tetap saja batang itu tidak bergerak sama sekali, agil mencoba beberapa kali tetap saja, ia berteriak dan terus mencoba hingga batang pohon itu terangkat sedikit dan dengan cepat agil menjatuhkannya.


"Maaf aku tidak bisa"


"Jangan meremehkan diriku ya lain kali hehehehe" lalu emon beranjak pergi.


Agil dengan napas yang terengah-engah duduk dibawah pohon, bahkan untuk meremehkan mereka saja dia tidak punya nyali, pikir agil mereka saja bisa mengangkat tubuh agil dan mengikatkannya dibatang pohon.


Argus memotong beberapa balok kayu, mencoba menyusunnya satu persatu, mereka saling berkerja sama, sampai satu rumah sudah dibangun dengan semestinya satu rumah sudah berdiri kokoh, mereka harus membuat sepuluh rumah, berat memang bagi agil, jay dan tea, satu saja mereka membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan mereka tidak yakin rumah itu berdiri dengan kuat atau tidak.


"Tenang gil, aku membangun rumah ini dibantu dengan mereka, mereka mesti hafal cara membangun rumah mereka dengan aman bukan? kan intinya kita hanya membantu menyusunya saja" argus menjelaskan seraya masih menyusun kayu itu, sedangkan agil duduk lemas.


Agil memperhatiakn jay, yang dengan lesu membersihkan beberapa kayu, entahlah kenapa matanya tidak berkedil ketika menatap jay, apakah ada sesuatu, dipikiran agil kenapa mereka mau melakukan ini, bahkan ada yang lebih penting sebenarnya yang harus mereka lakukan, mata agil menelusuri sekitar orang-orang sibuk dengan pekerjaan mereka, tapi lihat emon dia menyantap makanannya dengan lahap tanpa merasa bersalah sedikit pun, agil masih menelusuri tempat itu hingga ia tidak melihat gerak-gerik tea sama sekali.


Agil mendekat ke arah jay, dan bertanya dimana tea berada.


"Kemana tea jay?" sponta jay kaget dan berdiri menelusuri tempat itu dan benar tea tidak ada disini.


"Kenapa mencari aku?" tiba-tiba sosoknya keluar dari semak-semak.


"Ngapain te?" tanya jay.


"Aku hanya bercerita dengan lilo, lila, dan lili mereka sangat lucu, mereka usianya dua puluh tahun seperti kau dan agil" ucap tea seraya mengikuti lilo, lila, dan lili mendekat ke arah agil dan jay.


"Apa tunggu?" tanya agil.


"Ya kalian tahu sendirilah" tea beranjak meninggalkan mereka dan melanjutkan pekerjaanya.


Agil menatap dengan tatapan kebingungan.


"Udah gil, kenapa bingung kan mereka memang manusia kurcaci kan?" ucap jay.


"Ya memang" agil tersenyum.


"Aku lanjut ya jay" agil beranjak.


Sudah hampir malam mereka masih saja melanjutkan pekerjaan mereka, sempat beristirahat lalu melajutkan kembali pekerjaan itu, sebenarnya memang harus pelan-pelan tapi sepertinya argus tidak ada waktu untuk beristirahat lama-lama karena ada tempat yang harus ditujunya, beberapa kali agil melentangkan tubuhnya untuk istirahat agil pikir ini adalah kesalahan agil membuat kekacauan hingga mereka juga mendapatkan masalah dan menunda perjalanan mereka.


Jay dan tea bahkan melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki, beberapa kali agil membantu jay dan tea dan ia kembali lagi membantu argus, tenaganya terkuras habis-habisan, agil sempat menduga bahkan ini ada hubungannya dengan buku itu tapi ternyata tidak ada hubungan sama sekali.


Agil terdiam sejenak, ia rela melakukan hal semacam ini demi randi dan gilang, agil selalu menyuruh kata hatinya untuk tetap tegar melewati semua rintangan demi rintangan.

__ADS_1


"Aku begini demi siapa lagi kalau bukan demi kalian woy ran.....lang....... tetaplah hidup walaupun nantinya aku yang mati duluan" agil tertidur di bawah pohon.


__ADS_2