Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Lepas


__ADS_3

Setelah hilangnya randi dan gilang dari lara prajurit itu, mereka lebih ketat dalam pengawasan, membuat para peri dan aleris merasa tidak nyaman, banyak pertanyaan yang harus aleris tanyakan dengan para prajurit itu, sudah beberapa kali aleris bertanya namun selalu sama mereka menjawab, "Saya hanya menjalankan tugas."


Tentu anak-anak buah aleris merasa tidak nyaman karena pengawasan itu, terlebih beberapa hari yang lalu tanpa seizin aleris prajurit itu mengumpulkan semua para anak buahnya, hanya karena randi dan gilang hilang dari genggaman mereka.


Karena hal itu aleris membuka justu yang sudah lama ia tidak gunakan, ia memunculkan dua orang yang tidak begitu mirip dengan randi dan gilang, aleris bahkan belum sempat melihat siapa dua orang hilang itu, para anak buah aleris lalu melemuri darah di dua orang lalu ia gantung disebuah pohon, memalsukan identitasnya, siapa lagi kalau bukan perintah malucia, batin aleris.


Dengan bodohnya, para prajurit itu mempercayainya, lalu dengan mudahnya mereka langsung membakar mayat yang tergantung dan tidak memperdulikanya lagi, karena kebodohan itu membuat aleris ingin membunuh mereka satu persatu, namun aleris tidak bisa melakukanya karena hal ini perintah leon, namun aleris tidak tahan, ia membunuh salah satu prajurit itu karena sempat menyiksa salah satu anak buahnya.


Sebenarnya aleris tidak begitu memperdulikanya, siapa prajurit itu dan ia menerima saja jika tempatnya dikerumuni prajurit yang dikirim kakaknya leon, namun semakin hari perbuatan prajurit itu semakin tidak bisa dibendung, hingga malucia muak dan menyuruh aleris menbunuh mereka semua.


Ada sedikit rasa mengerikan saat itu, karena harus membunuh mereka, kita adalah para peri suci, tapi malucia mengalami masa sulit kala itu, ia bercerita tentang semuanya, memang benar teman baru malucia menjadi buronan prajurit itu, membuat malucia terpuruk karena itu.


"Keras kepala...." setiap kali aleris memikirkan hal ini, dan selalu terselip di setiap perkataannya.


Entah yang dipikiran malucia seperti apa, tapi sepertinya ini adalah hal yang baik untuknya, dan bukankah ini adalah hal yang diinginkan aleris selama ini msmbunuh para prajurit.


Disuatu malam, dibantu dengan para anak buahnya, aleris mengendap-endap dan membunuh para prajurit itu satu persatu, tidak sulit memang, aleris sudah menduga bahwa para prajurit itu adalah orang-orang yang tersesat dinegeri ini, tidak memiliki bekal bela diri seperti prajurit pada umunnya, yang prajurit lakukan hanyalah untuk menjaga istana, dan yang paling penting kekuasaan, seberapa kekuasaanmu, dengan seberapa mahalnya seragammu, semuanya akan menghormatinya, begitu cara mainnya, batin aleris


Malam yang penuh darah, banyak mayat yang berceceran dimana-mana.


"Ini yang kau mau kan?" batin aleris.


Aleris memperintahkan anak buahnya untuk membakar semua mayat prajurit palsu ini, lalu ia membersihkan diri lalu beranjak ke kamarnya.


"Tempat suci ini menjadi ternodai karena dua orang manusia itu"


"Maafkan aku..." ucap lirih malucia diambang pintu masuk.


Aleris membalikan badan, "Ini untuk terakhir kalinya..."


"Aku menghianati leon" lanjutnya.


"Kau tidak tahu apa tujuan dikirimnya para prajurit itu kesini"


"Ya memang benar sudah lama aku ingin membunuh mereka, tapi rasanya aku telah berkhianat"


"Hanya karena kecerobohanku, tempat ini menjadi mengerikan"


Aleris memejamkan mata, "Cia para prajurit itu palsu, semuanya bodoh mereka bahkan mempekerjakan anak buahku, dan menyiksanya aku sudah mencari tahu semuanya tapi leon diam dan tidak ada sama sekali hal yang janggal dikerajaan"


Aleris lalu mendekat dan memeggang kedua pundak malucia, "Dengar lakukanlah apa yang kau mau sekarang....."


Malucia melepaskanya, "Maafkan aku" lalu ia memeluk aleris seraya menangis dipundaknya.


Aleris tidak begitu memikirkan masalah ini, toh sebelumnya ia lunya rencana untuk membunuhnya, namun hal ini yang membuatnya musnah, memata-matai prajurit bodoh itu, tapi ia bisa melakukannya tanpa mereka, leon kakaknya adalah salah satu solusinya walaupun aleris sering mendengarkan kata tidak dari leon.


Aleris mengajak malucia duduk disebuah kayu pohon yang tumbang, disore hari pada hari itu, ditemani dengan cahaya senja jingga yang memantul seperti kristal, merasakan hawa hangat, yang dioancarkan oleh tubuh surya itu, malucia melihat begitu banyak silut pohon-pohon.


Aleris menatap malucia, ia bisa melihat wajah malucia tersenyum jelas, wajah cantiknya itu terlihat jelas karena pantulan cahaya matahari sore, malucia tersadar aleris menatap lama wajahnya.


"Ada apa?"


"Kau terlihat cantik" ucapnya.


Laku aleris beranjak, berdiri didepan malucia membuatnya terlihat gelap karena membelakangi matahari yang masih sibuk menyinari wajahnya.


"Aku sempat marah karena keegoisanmu, aku sempat kecewa karena kau begitu peduli dengan teman barumu itu, bahkan aku tidak pernah melihat mereka kan? aku marah, secepat itu pikiranmu untjk menyelesaikan masalah" aleris duduk didepan malucia.


"Aku juga sempat berpikir apakah ini jalan yang baik untuk menyelesaikan masalahnya, aku tidak bisa melihat mereka tersiksa diruangan itu"

__ADS_1


Malucia menghelan nafas, "Salah satu temannya hilang mereka harus mencarinya dan aku pikir setelah ini mereka bisa mencarinya"


Aleris menyentuh tangan malucia, "Dengarkan aku, disituasi seperti ini aku tidak mengizinkan kau dan teman-temanmu untuk mencarinya"


"Kau tahu alasanya kan? sebegitu bahayanya negeri ini..." lanjut aleris.


Sempat ingin menolak, namun malucia kembali memikirkannya, ia akhirnya menyetujuinya, sepertinya ada waktunya untuk menyelematkan agil, yang malucia harapkan sdmoga agil selamat, walaupun ia harus terluka terlebih dahulu.


Aleris memeluknya.


"Boleh aku gabung?" lidra tiba-tiba datang.


"Lidra..." ucap malucia seraya melepaskan pelukannya.


"Akhirnya aku bisa hidup tenang tanpa gangguan para prajurit gila itu" ucap lidra seraya duduk disamping malucia.


"Kau ikut membunuh mereka?" tanya aleris.


"Tuan.... aku membunuh dua prajurit, walaupun awalnya tidak yakin"


"Kau memang yang terbaik....."


Lidra menceritakan detail awal ia membunuh para prajurit itu, menurut malucia lidra adalah orang yang asik, ia tidak peenah berhenti berbicara ketika bermain denganya, ia selalu tertawa dan bebannya yang hilang begitu saja saat bersamanya, lidra adalah salah satu orang dari banyaknya peri yang dekat dengannya.


"Kau kenapa kesini?" tanya malucia.


"Merayakan hari lepasnya perasaan lega"


"Kau menganggu" sahut aleris.


"Maaf tuan" lidra tertawa.


"Apa?" malucia bertanya ia benar-benar tidak tahu, karena saat ini untuk bertemu saja dengan mereka malucia merasa bersalah.


"Iya!!!! aku mengajak randi dan gilang untuk jalan-jalan ke hutan dan mereka sangat bahagia, tuan kau melihatnya?" aleris hanya mengangguk.


"Percuma aku jalan diam-diam"


"Kau kan diam-diam karena prajurit gila itu" tepis aleris.


Lidra menceritakan tentang bahagianya ia berteman dengan randi dan gilang, memang lidra terlihat sadis namun sebenarnya hatinya lembut, tiba-tiba malucia teringat tentang mereka berdua, rasanya ingin bertemu mereka dan menanyankan kabar, namun rasa bersalah yang begitu menggerogoti hatinya.


Rasanya ia tidak ada gunanya waktu itu, mengendarai elang dan membuat agil terjatuh bahkan malucia tidak bisa menyelamatkannya, rasannya apakah dia tidak pantas menjadi peri.


Malucia berdiri dengan tatapan kosong.


"Ada apa?" ucap aleris.


Mata malucia mengeluarkan air, ia tidak bisa membendungnya, dengan sigap aleris memeluknya.


"Ada apa?" aleris berbisik.


Malucia hanya mengatakan bahwa dirinya hanya sedang ingin bersedih, aleris membawanya kembal keistana, membiarkan malucia menangis dikamarnya.


Aleris lalu kembali kemarnya, seharusnya hari ini ia akan menemui leon, dan mengatakan yang sebenarnya namun karena malucia ia harus membatalkan acaranya itu.


Aleris lalu beranjak dan pergi menuju atap istana, hari sudah malam tidak membuatnya kembali ke kamar untuk tidur, ia menatap langit malam yang dihiasi galaxy dan bintang-bintang yang saling berpindah tempat.


Ia memandangi langit dan pemandangan didepannya secara bergantian, aleris memikirkan tentang para manusia yang tersesat dinegeri ini, siapa yang melakukan hal ini? dan mengapa menjadi tugasnya, mengantarkan semua orang yang tersesat.

__ADS_1


Bahkan orang berkekuasaan seperti aleris saja tidak tahu tentang hal ini, ia lalu meditasi menyempurnakan kekuataanya, ia bisa mengendalikan angin, merubah seseorang atau membuat orang tanpa nyawa, dan pengendalian tanah, kekuatan itu yang ia miliki dari nenek moyang keluarganya.


Sebelum ia lahir, kekuatan tanah itu adalah milik kakaknya, leon. Tapi karena leon adalah anak yang buruk dimasa kecilnya, sebuah priest mengatakan bahkan leon tidak bisa menggunakan kekuatan tanah itu karena ketika besar nanti ia akan menggunakannya dengan salah, dan memanfaatkan kekuatan itu untuk kejahatan.


Ia tidak kaget karena untuk saat ini saja, ia juga sering melakukan hal yang buruk, leon memiliki kekuatan angin dan air, ia bisa mengendalikannya, walaupun sering ia menyalahgunakan kekuatannya itu, namun tidak seburuk yang dibayangkan aleris karena kekuatan tanah yang sekarang ia miliki ini, tidak pernah aleris gunakan, aleris tidak bisa membayangkan jika kekuatan tanah ini dikendalikan oleh leon.


Malucia sudah beberapa kali memejamkan matanya namun selalu saja ia terbangun, ia berusaha menutup matanya namun tetap saja ia tidak bisa tertidur, ia laku beranjak dan menghadap kekaca besar miliknya.


Perasaanya campur aduk, bisa-bisanya ia berpikir egois, melakukan hal ceroboh, malucia mengeluarkan air matanya, kenapa hari ini ia terlihat sangat lelah? kenapa perasaan dan otaknya tidak bisa bersatu.


Malucia berteriak, lalu memecahkan kaca besar itu, ia menangis menyalahkan diri sendiri, aleris yang mendengarnya berlari diikuti lidra dibelakangnya, mereka terkejut, banyak barang-barang yang berserakan dilantai kamar malucia, aleris menenangkanya, ia memeluknya namun aleris tidak sadar malucia membawa serpihan kaca dibelakangnya, ia menusuk pundak aleris berkali-kali, hingga aleris mendorong malucia dan ia tersungkur, lidra mengambil kaca itu dengan kekuatan anginnya, ia lalu mengangkat serpihan kaca itu dengan kekuatannya untuk ia buang, namun kaca itu dikendalikan tiba-tiba oleh malucia.


"Biarlah aku mati, ini semua salahku!!!!"


"Hentikan!!!!" Sahut aleris seraya merintih kesakitan.


Malucia mengendalikan kekuatanya lalu ia menjatuhkan kaca itu ke dirinya sendiri, hingga banyak luka yang ia dapatkan, malucia terjatuh dengan cepat lidra membuang kaca itu dengan kekuatanya, dan menghampiri malucia.


"Tuannn..."


"Obati dia" ucap aleris seraya merintih kesakitan lalu ia beranjak pergi.


Ada banyak luka kecil karena serpihan kaca itu sebagian mengenai tubuhnya, malucia masih menangis namun kali ini ia pasrah, lidra membersihkan luka itu dengan air, lalu ia membuat ramuan untuk luka itu.


"Tidak kau tidak salah, tolong percaya aku" ucap lidra.


"Ini semua adalah takdir, yang kau lakukan hari ini juga takdir bukan salahmu" lanjut lidra, lalu ia memeluknya.


Aleris membersihkan lukanya sendiri, lalu ia pasang dengan perban, ia merintih kesakitan, "Seharusnya aku keluarkan dulu kaca itu...." ucapnya.


Aleris lalu beranjak dan pergi ke kamar malucia, ia hanya bisa mengintip karena untuk saat ini malucia sedang ditenangkan oleh lidra, aleris memikirkan malucia sepanjang malam itu, apa yang dipikirkan malucia hingga ia menyalahkan diri sendiri, mungkin aleris tahu tentang masalahnya namum bukan kah hal semacam itu bisa ia lupakan kan? sejujurnya aleris pernah kehilangan orang tua aleris, tapi aleris tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri, aleris tahu ini semua adalah takdir.


Bahkan menjadi orang yang berkuasa tidak ada waktu untuk seperti itu, karena hal semacam itu bukanlah hal yang pertama kali mereka rasakan, aleris tahu malucia adalah orang yang lembut, hatinya mudah tersentuh, ini adalah awal malucia mengalami hal semacam ini.


Selama masa kejayaan aleris, aleris pernah sesekali mendapatkan kabar bahwa ada banyak anak buahnya yang berkhianat, ada rasa sakit namun yang dipikirkan aleris adalah satu, ia bisa lebih kejam dari mereka yang berkhianat, masih ada banyak anak buahnya yang setia kepadanya.


Aleris merintih kesakitan ketika tiba-tiba luka itu mengeluarkan rasa sakit, padahal sudah lama luka ini tidak macam-macam.


"Butuh bantuan tuan?..." ucap lidra yang tiba-tiba datang tak diundang.


Aleris mengangguk, lidra masih sibuk mengobatinya, "Tuan ada serpihan kaca yang masih menempel dikukit tuan, tahan sebentar akan saya ambil" tanpa basa-basi aleris berteriak namun masih terlihat anggun.


Tiba-tiba keheningan datang, hanha ada suara lidra yang mengobati, lalu aleris membuka suara, "Sudah kau tenangkan si malucia?"


"Sudah tuan.... dia sepertinya sakit, dia sangat panas tubuhnya"


"Aku percaya jika kau ada disampingnya..."


Lidra lalu beranjak pergi, "Malam ini sepertinya aku tidak tidur"


Aleris beranjak dan berdiri dibalkon istana, entahlah ia menatap gelapnya malam, seorang sepertinya apakah pantas menjadi orang yang berkekuasaan tinggi? ada banyak masalah akhir-akhir ini diistana, dan semua itu berawal dari para prajurit dan orang-orang yang masuk dan tersesat dinegeri ini.


Entah akan jadi apa dunia ini, tidak ada sama sekali jawaban tentang pertanyaan yang selama ini aleris tayangkan, semuanya seperti bungkam, dan seperti tidak memperdulikanya, aleris memejamkan matanya, berharap semuanya mimpi, namun lagi dan lagi ia membuka mata, masih sama seperti ini.


Sudah semaksimal mungkin sampai ia mengorbankan kekuatanya, namun sama sekali ia tidak mendapatkan info yang jelas, kerajaan itu seperti bungkam, bahkan leon ia malah seolah-olah adalah orang yang tersakiti dikerjaan itu, padahal ia selalu buruk, hal itu yang membuat orang-orang kerajaan membencinya.


Aleris berjalan menuju kamar malucia, ia melihat bahwa malucia tertidur terlelap, karena sepi ia bisa mendengar suara nafasnya, "Apakah aku salah memperlakukan dia selama ini?" batinnya.


"Tapi tidak, selama ini aku melakukannya dengan baik dan benar, aku melakukannya sesuai dengan tugasku, jadi semuanya akan baik-baik saja" ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2