
Aleris tiba-tiba merasakan hawa panas disekitar, kamar milik ratu Carlota yang sudah berantakan dan hancur karena perkelahian Aleris dan Randi tersebut. Randi masih berwujud seperti monster drakula, bahkan ia belum sama sekali berubah wujud aslinya, walaupun ia terus mengamuk kesakitan.
Aleris masih melihat Randi dengan wujud monster tersebut yang merintih kesakitan karena angin tajam yang menusuk tubuhnya. Ia melirik sebentar kearah Agil yang tergeletak tak sadarkan diri, dengan luka cukup serius diwajahnya, bahkan ada banyak darah yangkeluar dari hidungnya.
Tiba-tiba ahwa panas itu menghilang bersamaan dengan luluhnya kulit drakula yangmenempel diwujud Randi, Aleris bisa melihat tubuh Randi yang lemas tak berdaya itu. Monster drakula yang awalnya mengerikan mendadak hilang dan mencari lepas dari tubuh Randi, seraya ia jatuh kelantai, secara bersamaan juga angin tajam dari kekuataan Aleris itu hilang seketika.
Aleris terbelalak, dan mencoba mendekat, ia menyetuh tubuh Randi namun suhu tubuhnya sangat panas, ia mencoba menyadarkan Randi, namun Randi masih tak sadarkan diri dilantai.
"Fay?" sahut Aleris, saat ia baru saja tersadar jika Fay dan Gilang masih dibawah dan tak kunjung menyusulnya.
Aleris membuat benteng bertahanan dari elemen kekuatan tanahnya, benteng itu mengelilingi tubuh Randi, Aleris terus waspada jika tiba-tiba Randi berubah.
***
Fay terjatuh kelantai dengan tubuhnya yang basah kuyup, Gilang mendekat dan mencoba menyadarkan Fay yang seperti tenggelam. Raja Gevarnest hanya melipat kedua tangannya seraya tersenyum.
"Kau Gilang-Gilang itu kan? teman dekat Randi?" ucap sang Raja mendekat kearah Gilang.
Gilang yang awalnya mencoba menyadarkan Fay, berdiri.
"Kenapa?" tanyannya sok memberanikan diri.
"Randi, dia tidak akan selamat, tubuhnya sudah bersatu dengan iblis, dia tidak akan bisa diselamatkan..." ucap ,raja Gevarnest.
Gilang menundukan kepalanya, namun tiba-tiba Aleris datang seraya menyahut.
"Itu tidak benar Lang!" pekik Aleris seraya turun dari tangga.
Raja Gevarnest menoleh, ia langsung mengeluarkan eleman airnya dan mencoba menyerang Aleris, namun Aleris yang lincah dan tangkas dan berhasil menghindar dengan mudah, ia berlari menuju kearah raja, dimana sang raja terus menyerang dengan elemen airnya. Hingga Aleris berdiri didepan wajah sang raja tiba-tiba, membuat kaget. Ia segera menonjok wajahnya dengan keras menggunakan kekuatan dalamnnya, hingga tubuh raja Gevarnest terlempar dan menabrak bangunan pondasi kerajaan.
Aleris mendekat kearah Gilang, "Lang kau bisa membawa Fay pergi? sepertinya kau harus pergi, bawa Fay naik keatas..."
__ADS_1
Tanpa basa-basi dan banyak omong, Gilang mengending tubuh Fay walaupun Gilang sedikit lemas untuk membawanya. Raja Gevarnest masih sadarkan diri walaupun mulutnya keluar darah, ia lalu melempar reruntuhan tembok itu kearah Aleris.
Aleris berhasil menepis, namun tiba-tiba sang raja menghilang dari pandangan Aleris, Aleris mencoba mencari keberadaanya, dan ternyata sang raja sudah mencekik leher Gilang hingga Gilang melayang diudara, Fay yang sudah tergeletak dilantai dan masih tak sadarkan diri.
Spontan Aleris berlari untuk segera menyelamatkan Gilang, namun raja Gevarnest mengeluarkan kekuatan airnya dari tangannya kearah Aleris, Aleris terperangkap oleh pengendalian air milik sang raja, dimana ia terlilit elemen air tersebut.
***
Silas terjatuh darii atap genting perumahan warga, saat mencoba menyerang para kelelawar itu, kulit lengannya sobek sangat lebar hingga mengeluarkan darah yang banyak, luka itu diperoleh dari cakaran monster kelelawar.
Kai yang saat itu masih mencoba menyerang namun konsentrasinya berkurang karena Silas yang tiba-tiba terjatuh, membuat Kai gelagapan untuk menyerang.
Ace yang melihat Kau gelapan, mencoba mendekat dan menyerang dengan kekuatan angin yang ia punya.
"Selamatkan Silas, aku memiliki cukup energi untuk ini.." sahut Ace.
Sedangkan Argus dan Ned masih menyerang kawanan monster yang sangar banyak menyerang mereka, begitupun Malucia dan Lidra. Kai turun dari atap dan mencari keberadaan Silas.
"Hei, hei..." ucap Kai seraya mendekat.
Silas sadar Kai datang memanggilnya, tapi ia masih menahan rasa sakit. Kai mencoba mencari obat diseluruh ruangan rumah tersebut.
"Bukankah musuh kita yang sebenarnya sang raja? kenapa harus menyerang para monster ini? sama saja kita dipihak sang raja bukan?" sahut Silas.
Membuat Kai berhenti mencari dilaci, lalu ia menoleh menatap Silas.
"Kau masih tidak paham.juga ternyata.." gumam Kai.
"Apanya yang tidak paham?" tanya Silas.
"Bukankah kita harus serentak menyerang kerajaan? kenapa kita harus menyerang para mobster ini? secara tak langsung mereka juga ada dipihak kita!" sambung Silas.
__ADS_1
Kai menghelan nafasnya, rasanya percuma menjelaskan kepada orang yang secara tak langsung tutup telinga rapat-rapat.
"Jika kau paham bahasa tubuh seorang kesatria, maka kau tidak akan pernah mengatakan ini. Boleh saja kita menyerang langsung kekerajaan, tapi apakah cara cepat ini membuat banyak orang selamat? apakah kau tau konsenkuensinya? oke baiklah, jika para monster ini hanya fokus menyerang raja, tapi kau tidak lihat? mereka menghancurkan semua yang berada dikota, bahkan semua warga, tujuan kita adalah menyelamatkan semuanya, bukannya egois. Kau anak buah Aleris bukan? kenapa aku tidak diajarkan seprrti itu?" sahut Kai ia kembali mencari obat.
Silas hanya memutar bola matanya, ia sangat lelah dengan strategi yang dibuat seperti ini.
"Aku sangat patuh dengan Tuan Aleris, ia yang mengajarkanku tentang berbagai elemen, namun yang ia ajarkan kepada anak buahnya adalah elemen angin, dia memang tangkas dan cepat, bahkan sangat cerdas, aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Hingga suatu ketika aku mendengar suatu cerita jika ia harus mendirikan istana sendiri ditengah hutan karena masalah tentang pemilihan seorang raja."
Kai terdiam, ia berusaha mendengarkan cerita dari Silas walaupun suaranya sedikit samar karena kawanan monster dan raksasa yang terus berteriak.
"Tapi jika aku seorang warga Majestic aku tidak akan memilih anak kecil yang mencoba di calon kan menjadi raja, kau tahu? diumurnya yang masih muda, dia sudah di calonkan menjadi raja, tapi pada akhirnya raja Gevarnestl ah yang terpilih, karena ada banyak perseturuan tentang bagaimana silsilah keluargannya yang sejak dulu menjadi raja.." sahut Silas.
Kai menemukan sebuah alat jahit, benang, dan alkohol disebuah kotak. Sepertinya memang ini adalah alat untuk pengobatan, ia mengambil kotak itu lalu mendekat kearah Silas.
"Ini mungkin akan sakit, tapi kau bisa mengigit kain ini..." Kai menyodorkan kain.
Silas menerimannya lalu ia gigit. Kai kemudian menumpahkan alkohol itu kearah luka Silas, Silas berteriak kesakitan. Kai melanjutkan untuk menjahit lukanya.
"Lalu apa hubungan antara Malucia dan Aleris?" ucap Kai.
Silas yang mendengar terbelalak, "Apa?"
"Tidak, aku hanya bertanya karena aku selalu salah fokus dengan gerak-gerik keduanya.."
"Mereka memiliki hubungan, dan mereka ya itu, mereka berkencan..." sahut Silas.
"Sungguh?" ucap Kai.
"Kau tidak percaya denganku?" ucap Silas seraya masih kesakitan.
"Bagaimana ya? kau tahu Agil kan? dia pernah bercerita denganku dia menyukai wanita bernama Malucia, aku tidak salah kan? Malucia berarti wanita itu kan?"
__ADS_1
Silas tersentak, spontan berdiri. Ia terbelalak kaget.