Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Kematian Timandra


__ADS_3

Malucia dan Vin berlari dibarisan belakang, sedangkan yang lain sudah berada didepan, namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dibelakang mereka berdua, awalnya Malucia tidak mendengar apapun, hanya Vin yang tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu ia menoleh kebelakang, karena Vin yang tiba-tiba berhenti, Malucia tersadar ia menoleh dan mendekat kearah Vin.


"Ada apa? kau mendengar sesuatu?" tanya Malucia.


Vin memejamkan matanya, memastikan jika pendengarannya tidak salah, tapi kemudian Malucia mendengar suara kaki mendekat, hingga seseorang tiba-tiba menampakan dirinya dari balik asap-asap.


"Agil?" gumam Malucia.


Malucia dan Vin kaget, saat yang datang adalah Agil.


"Lhoh kau kenapa ikut kita? bukannya kau bergabung dengan Aleris?"


Agil hanya terdiam, seraya mengatur nafasnya, Malucia hanya menatap Agil dengan tatapan penasaran.


"Tidak, aku memutuskan ikut kalian..." jawab Agil seraya mengatur nafasnya.


"Bagaimana bisa hei?" tanya Vin.


"Sudahlah, aku memang sudah izin kepada mereka untuk menyusul kalian.." sahut Agil.


Malucia dan Vin tiba-tiba terdiam, lalu Agil menyahut.


"Tidak ada waktu banyak, ayo pergi!" pekik Agil.


Ia melangkah mendekat kearah Malucia, lalu menyentuh kepala Malucia.


"Bagaimana kabarmu?" ucap Agil.


Tentu hal itu, membuat Malucia melotot kaget, jantungnya bergetar.


"Kenapa tiba-tiba? ada apa ini? astaga jatungku...


"Ayo!" sahut Vin yang sudah melangkah maju.


Saat Malucia dan Vin datang seraya membawa Agil disampingnnya, membuat semua orang yang berada tempat itu kaget, begitu pun Argus ia dengan cepat mendekat kearah Agil.


"Hei apa yang kau lakukan? ini tidak sesuai rencana!" bisik Argus.


Ned menyahut, "Kenapa rencana ini melenceng jauh? bagaimana bisa kau datang kesini, dimana Gilang?"


Agil hanya melipat kedua tangannya didada seraya mendekat kearah Ned.


"Aku sudah berdiskusi kepada Aleris, toh juga aku akan membantu kalian bukan disini?" sahut Agil.


Timandra berbisik kepada Argus dan Tea disampingnya, "Dia seperti bukan Agil.."


"Husss, lalu siapa yang menyamar memangnnya ada ya? sihir seperti itu? menyamar menjadi orang lain." ucap Tea.

__ADS_1


Argus hanya menghelan nafasnya, "Sungguh ini bukan rencana yang kita buat.." ucap Argus seraya melangkah kearah Agil.


"Lalu apa yang dikatakan Aleris?" tanya Argus.


Agil menoleh, "Dia hanya mengatakan aku hanya perlu membantu kalian..."


"Kau sungguh tidak akan menyelamatkan Randi?" sahut Silas tiba-tiba.


Agil tiba-tiba Menoleh, "Apa yang kau katakan? aku akan menyelamatkan temanku itu tujuanku, tapi kenapa? kenapa kalian tiba-tiba seperti ini saat aku datang? toh ini perintah Aleris..." sahut Agil.


Argus menghelan nafasnya, seraya menatap Kai. Kai mendekat kearah Agil.


"Baiklah jika akhirnya kau kemari Gil, sekarang apa rencanamu..." ucap Kai.


Malucia berjalan mendekat kearah Lidra, seraya tatapannya tak bisa lepas dari Agil.


"Dra, coba kau baca jejaknya, kenapa aku ragu jika itu Agil.." ucap Malucia.


Lidra justru tertawa, "Sungguh kau meragukan Agil? aku yakin dia Agil, dia kan keras kepala!" jawab Lidra.


"Rencanaku kalian tetap menyerang raksasa itu, dan tentu aku akan mengabari ini kepada orang-orang kerajaan yang tersesat ditempat lain..."


"Itu saja?" sahut Silas.


Agil melirik Silas, "Memangnya ada rencana lain? coba bisa kau jelaskan?"


"Aku ikut kau Gil!" sahut Tea.


"Kau ikut aku? sungguh?" sahut Agil.


Tea mengangguk, Malucia hanya menatap Tea, sebenarnya ia ingin ikut juga, namun rasanya lebih banyak tidaknya.


"Aku!" Sahut Timandra, tiba-tiba mengangkat jarinya.


"Apa?" tanya Agil.


"Aku ikut dengan kalian berdua!" ucap Timandra.


***


Tea masih menangis, diperjalanan seraya membantu Arvand yang menggendong tubuh Timandra pergi dari tempat itu menuju ketempat yang aman, darah yang terus mengucur deras membuat tanah yang diijak penuh dengan darah.


Mahagaskar, Leon, dan Jangsal ikut berlari dibelakang seraya menaati sekitar jika tiba-tiba sesuatu muncul. Mereka berhenti disebuah gubuk didekat hutan yang menurut Arvand tempat ini sangat aman.


Arvand meletakan tubuh Timandra ditanah, Tea langsung memeluk tubuh Timandra yang baru saja tergeletak ditanah, Tea tidak peduli jika tubuhnya akan penuh dengan darah.


Mahagaskar memejamkan matanya setelah melihat Tea yang menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Semua prajurit masih melindungi kerajaan hingga saat ini, setelah perintah paman, benar-benar prajurit itu tidak menyerang para monster kelapangan, atau mungkin ini juga perintah Levaron untuk tidak melanjutkan penyerangan dilapangan, Levaron tentu mendapatkan perintah Gevarnest.." sahut Leon.


Jangsal meremas rambut kepalanya, "Pangeran! kau anaknya bagaimana bisa kau malah ada disini, seharusnya kau menemui ayahmu dan menghentikan semuanya.."


Arvand membuang muka seraya berdiri mendekat kearah Jangsal.


"Kau bukankah selama ini membuka mata lebar-lebar, melihat hubunganku dengan ayahku bagaimana?" ucap Arvand.


Memang benar hubungan mereka sangat tidak dekat dan seprrti bukan ayah dan anak, walaupun raja Gevarnest terus mengekang Arvand tapi hal itu tidak membuat mereka terlihat seperti anak dan ayah.


Tea masih tersendu-sendu, hingga Arvand menyentuh kedua pundak Tea untuk menenangkannya, Tea terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Sudahlah, jangan salahkan dirimu, kau menyadari itu kan? kau tidak sadar dia Agil..." ucap Arvand.


"Pangeran cepat hentikan perang ini, aku sudah muak.." jawab Tea.


Arvand hanya diam, ia tidak tahu harus berkata apa.


"Kau mungkin tidak tahu bagaimana menjadi aku.."


Tea menoleh kearah Arvand.


"Setiap hari aku berusaha menghentikannya, hingga aku ternyata juga baru tahu rencana gila ini, aku berharap ini segera berakhir, kau juga bisa kembali ketempat asalmu.." ucap Arvand menatap Tea.


Tea menghentikan tangisannya, saat menatap Arvand dan mendengar perkataanya, entahlah rasanya perkataanya langsung masuk kedalam hati.


"Kau pernah kehilangan seseorang?" tanya Tea.


Arvand menundukan kepalanya, saat ini ia juga masih diselimuti rasa bersalah, dengan kehilangannya Bravogar membuat Arvand sangat trauma dan depresi.


"Aku pernah membunuh seseorang, dan itu orang terdekatku..." ucap Arvand.


Mahagaskar yang mendengar, langsung menatap Arvand.


"Itu terjadi karena aku diperintah oleh ayahku sendiri, kesalahannya yang aku anggap benar sekarang, karena aku baru tahu yang sebenarnya saat ini..." ucap Arvand.


"Bagaimana perasaanmu?" ucap Tea masih menatap Arvand.


Entahlah, rasanya Arvand tidak bisa terlalu lama menatap Tea.


"Aku masih merasakan rasa bersalah sampai detik ini, bagaimana tidak? dia salah satu orang yang dekat denganku, kau tahu? aku, Aleris, dan Fay adalah ketiga remaja yang nakal pada saat itu, tapi Bravogar adalah orang yang sering membimbing kami, hingga kita tidak kenal kata nakal lagi..." ucap Arvand.


"Kenapa? kenapa kau mau saja diperintah sepert itu?"


Arvand menyengir, "Sudah aku katakan kan? coba kau tahu perasaanku kau pasti juga akan melakukan ini sama seperti ku.." ucap Arvand.


Mahagaskar menundukan kepalanya, saat mendengar curahan Arvand, selama ini ia tidak pernah mendengarkan curahan dari pangeran, dimana ia selalu menganggap pangeran tidak pernah merasakan rasa itu.

__ADS_1


__ADS_2