Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Peninggalan raja Jasper


__ADS_3

Aleris melotot saat melihat raja Gevarnest mendekat seraya membawa tubuh Randi dipunggungnya, Randi yang tidak sadarkan diri. Aleris mencoba untuk mendekat namun ditahan oleh Leon, Aleris menoleh.


"Mau kemana?" tanya Leon.


"Kau tidak lihat itu?"


Leon hanya menundukan kepalanya, ia tidak punya hal untuk memerintahkan semuanya dengan Aleris lagi.


"Akhirnya kau sudah memusnahkan iblis Auvamor itu..." pekik Aleris seraya mendekat kearah sang raja.


Raja Gevarnest mendongakan kepalanya, melihat siapa yang berbicara didepannya, lalu ia tersenyum saat yang datang adalah Aleris.


"Kau bahagia akhirnya aku datang kesini, dan memusnahkan iblis ini?"


"Kenapa tidak sejak awal saja kau menyerang dia..." sahut Aleris.


"Aku juga tidak bisa begitu, jika sejak awal aku sudah membunuh iblis kalian tidak akan merasakan juga bagaimana menyerang dengan iblis itu..."


Tiba-tiba Aleris mendekat, dan mengangkat tangannya, lalu ia memukul wajah sang raja tanpa takut sedikit pun.


"Kau gila? ada banyak korban berjatuhan, bahkan aku kehilangan paman Mahagaskar, aku kehilangan semua orang!" teriak Aleris.


Leon yang hanya duduk dari kejauhan juga mendengar teriakan Aleris. Raja Gevarnest justru tersenyum.


"Apa kau pikir selama kota ini hancur, aku diam saja? tidur bermimpi indah? tidak bodoh!" ucap sang raja.


"Kau berani melawan sang raja ya sekarang?" gumam Randi tiba-tiba


Dengan suara masih lemas dan matanya masih terlelap, Aleris terbelalak, ia menghelan nafasnya.


"Ran, ayo ikut aku sekarang...." ucap Aleris.


"Ada apa denganmu?" sahut sang raja.


"Kau menjadi seperti ini karena Mahagaskar mati?" sambung sang raja.


Aleris yang awalnya menunduk, ia mendongak melotot kearah sang raja, penuh emosi.


"Apakah benar kau seorang raja? bagaimana bisa kau mengatakan itu kepadaku? kau senang ada banyak korban berjatuhan disini? ini karena ulahmu!"


"Bukan ulahku! ulah Varegar! aku membuat pesawar yang luar biasa cangkih namun dengan mudahnya saling hancur hanya karena iblis ingusan itu!" pekik sang raja.


"Aku tidak perduli!" teriak Aleris.

__ADS_1


***


(Karena ada banyak nama zero, saya harap para pembaca tidak bingung xixixi, saya sudah membuat istilah nama yang mudah dipahami)


Salah satu zero lima belas bangkit setelah pingsan terlalu lama, ia tersadar jika kakinya tidak bisa digerakan karena hancur, ia memanggil teman-teman zeronya namun tidak ada sahutan.


Ia mencoba menggeret kakinya sampai ketempat yang leluasa, ia membuka saku celananya, dimana ia menyimpan sebuah botol air. Ia menyeruputnya.


Ia melhat kedua kakinya yang hancur. Ia menghelan nafasnya.


"Kelelawar itu memang benar-benar kuat, tapi aku bersyukur aku membawa botol segel banyak yang berisi monster itu...." sahutnya.


"Zero lima belas!" teriak seseorang yang datang dari balik perumahan.


Wajahnya penuh luka, ia mendekat.


"Zero dua tujuh? kau tidak apa-apa? wajahmu penuh luka..." sahut zero lima belas.


Zero dua tujuh mengangguk, "Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri, lihat kedua kakimu yang hancur?"


"Percuma mau diobati bagaimanapun, tetap akan seperti ini..." ucap zero lima belas.


"Untung saja kita tidak melawab sang iblis itu, aku akui anak buah iblis itu para monster sangat mengerikan..."ucap zero dua tujuh.


Zero lima belas menghelan nafasnya, rasanya sudah tidak ada harapan lagi untuk melihat semua teman-teman mereka datang kesini, mereka pasti sudah mati entah karena monster kelelawar, atau terkubur ditanah.


"Tidak!" sahut zero dua tujuh.


"Jika hanya kita berdua saja yang tersisa? pedang itu?" sambungnya.


Zero lima belas terbelalak.


"Tidak, tidak mungkin kan.."


"Hei kalian!!!!" teriak seseorang tak jauh dari tempat mereka duduk.


Ada lima zero yang berjalan seraya membawa tubuh zero yang sudah lemas tak berdaya, dan luka yang banyak, dengan tenaga yang sudah habis mereka berusaha membawa tubuh zero yang sudah terluka parah tersebut. Dengan cepat zero dua tujuh menyusul untuk membantu mereka.


"Dia tidak apa-apa? hanya lemas saja?" ucap zero dua tujuh.


Zero uang baru datang, bernama zero dua menyahut.


"Dia sudah mati...."

__ADS_1


Zero dua tujuh terbelalak, "Sungguh?"


"Ada banyak para zero yang mati disini bro, kau tidak lihat? banyak yang mati karena para raksasa, para monster kelelawar, karena insiden gravitasi, dan pesawat mengerikan itu yang jatuh, banyak zero yang tertimpa... untung saja kita tidak melawan iblis itu..." ucap zero dua.


"Apakah kalian melihat pedangnya?" ucap tiba-tiba zero delapan.


Semua orang yang menyaksikan terbelalak karena baru saja mengingat.


"Jangan bilang, pedang itu ikut tertimbun didalam tanah..." sahut zero la belas.


Zero dua, meletakan tubuh zero yang sudah tak bernyawa ditanah dikuti yang lain, lalu ia melangkah mendekat kearah timur, melihat tempat yang baru saja terjadi peperangan besar antara sang raja dan iblis itu.


"Pedang kesatria peninggalan raja Jasper, sebuah pedang yang mampu membelah tanah dengan mudah, dan mampu menarik chakra dengan cepat, bahkan pedang itu tidak bisa dipakai oleh sembarang orang, hanya tuan Aleris yang mampu menggunakannya... tapi sejak dari tadi aku tidak melihat tuan Aleris dan pedang itu..." sahutnya.


Semua orang pasrah, mereka menghelan nafasnya lelah.


"Apakah kita benar-benar para zero? yang mengabdi kepada negeri? bagaimana bisa kita seperti ini..."


"Karena kematian raja Jasper, kekuatanku menurun begitu saja..."


"Bagaimana ini? pedang itu?"


"Aku tidak tahu, apakah kita harus mencari tuan Aleris terlebih dahulu?"


Zero lima belas seraya menyeret kakinya, ia mendekat namun teman-temannya menahannya agar tetap duduk ditempatnya semula karena kakinya yang sudah hancur.


"Aku ingin mati saja..." sahut zero lima belas.


"Apa yang kau katakan!"


"Percuma aku tidak bisa membantu apa-apa, lihatlah kedua kakiku..."


Tiba-tiba zero dua menyahut, "Maafkan aku menyela..." ucapnya seraya menundukam kepalanya memberi hormat.


"Apakah pedang itu telah dipegang oleh tuan Aleris? hingga iblis itu musnah?"


Semua orang terbelalak saat mendengarkannya, "Karena memang kekuatan pedang itu luar biasa..."


"Kita pulang saja ke kota Lander!" sahut tiba-tiba zero lima.


Ia meneteskan air matanya seraya duduk didekat mayat temannya. Teman-temanya terbelalak kaget tentunya.


"Memang raja Jasper memerintahkan kita untuk menjaga setiap kota, dan yang perlu kita utamakan adalah kota Majestic, tapi kita kehilangan semuanya sekarang, aku pikir aku memamg sudah sejak lama kehilangan teman-temanku saat pelatihan dan temtu saat menjalankan misi, tapi rasanya hatiku langsung sakit saat melihat kengerian kota ini...." sahutnya.

__ADS_1


Semua orang menundukan kepalanya, mendengarkan kisah haru zero lima, bahkan mereka juga sudah pasrah tentang bagaimana nantinya mereka hidup, apalagi mereka kehilangan pedang kesatria peninggalan raja Jasper. Jika mereka kembali, mereka tidak panas, karena mereka panglima, zero yang mengabdi kepada negeri dan menjaganya. Tapi jika semuanya telah habis, apa yang harus mereka lalukan untuk sekarang ini.


__ADS_2