
Panas terik yang membakar tubuh, langit yang begitu cerah berwarna biru dan dihiasi kapas-kapas putih sebagian, tanah-tanah terlihat membuka karena terik matahari yang begitu menyengat, terlihat silau ketika menatap tebing dijauh sana yang berdiri kokoh, sungai dibawah yang terlihat seperti berlian karena terik surya.
Sudah hampir satu minggu agil latihan, sedikit ada perubahan memang, namun ia masih terlihat ragu, beberapa kali agil diberi semangat oleh orang-orang disana, hari demi hari agil akhirnya bisa beradaptasi dengan baik, bisa berkomunikasi dengan mereka walaupun agil adalah seorang pria yang pemalu.
Ditengah hari yang panas, seharusnya hari itu adalah hari dimana semua orang beristirahat artinya tidak ada satu pun yang berlatih, namun karena keraguan agil, agil berlatih sendiri menggunakan panah sendiri ditempat itu, ada beberapa kali dimana agil merasa lelah, namun agil hiraukan.
Sejujurnya agil tidak pernah mengikuti kegiatan olahraga ketika di sekolah, hanya mengikuti semestinya saja, bahkan di rumah pun ia hanya berolahraga sedikit ketika ia bosan saja, tapi ketika ia disini seperti ingin ikut perlombaan ia harus berlatih dengan maksimal.
"Sudah hentikan" tiba-tiba seseorang datang dari belakang.
"Tea?" Agil menghentikan latihannya.
"Kau dari pagi-pagi sekali pergi ternyata ingin latihan ya?" Tea duduk dibatu dekat pohon, diikuti agil.
"Terima kasih" agil menerima pemberian minuman dari tea.
"Kau pintar juga"
Wajah agil terlihat bingung.
"Katanya tidak pernah olahraga"
Agil mengangguk, tea mengode.
"Ah, ya karena aku dilatih disini" ucap malas agil.
"Kenapa? Karena jay tidak ikut aku disini ya?"
"Woi tidak" wajah agil memerah.
Beberapa detik mereka terdiam hanya ada suara burung yang berkicau diatas mereka.
"Kau bisa kesini karena ada manusia aneh yang mengantarkan kesini?" Agil bersuara.
Tea dengan cepat menyaut.
"Ya benar, mungkin kau juga, entahlah apakah ada manusia disini selain kita?"
Agil hanya terdiam.
"Aneh, orang-orang disini saja tidak tahu kenapa kau tanya aku?" Ucap agil.
"Sialan kau" bentak tea.
"Kau belum pernah ikut paman kan?"
"Kemana?"
"Dikota lander"
Agil terdiam.
"Ah ya juga, nanti kau akan tahu dimana letak kota itu, disana orang-orang serafina bisa membeli barang-barang contohnya panah ini, disana sedikit lebih modern dibanding dengan daerah kita"
"Ah aku mengerti, kau akan mengajaku kesana?"
"Kalau kau merepotkan sepertinya paman tidak menyetujuinya"
"Apa?"
"Dulu aku dan jay ikut paman, karena jay belum mahir jay waktu itu sangat merepotkan, akan ada banyak rintangan yang kita lewati dan jay lah yang menjadi beban" tea tertawa terbahak-bahak.
"Lihat saja nanti"
Sudah beberapa jam tea menemani agil latihan, sesekali tea mengajari ketika agil salah, hanya ada mereka berdua disana.
Tanpa disadari hari semakin sore namun agil masih terus mencoba, tea sudah beberapa kali mengingatkan jangan sampai petang, namun agil bersih keras, tea tidak bisa meninggalkan begitu saja.
"Sudah petang bodoh, kau ini dimakan elang monster itu?"
Agil hanya terdiam dan masih berlatih memanah, hingga matahari sudah dipaling ujung, membentuk cahaya berwarna jingga.
"Hei" tea menarik baju agil, dengan cepat agil melepaskannya.
"Siapa kau narik-narik bajuku?" Suara sengak keluar dari mulut agil, tea yang terlihat bingung terdiam.
"Hei? Apa yang kau lakukan kau ingin dimangsa el...." ucapan tea dipotong agil.
"Kalau kau ingin kembali kembali saja!! Aku bisa sendiri" agil lalu kembali memasang bujur panah.
Tea memeggang pundak agil dan menepuk dengan keras.
"Kenapa ha? Kalau jay yang melakukan ini kau turuti iya kan?"
Agil terdiam sebentar, menjatuhkan panah itu dan menghadap tea.
"Kenapa kau bawa-bawa jay?"
"Kenapa salah?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan jay!!"
"Memang benar" ucap polos tea.
"Tapi kenapa kau bawa-bawa jay!!!!!!" Spontan agil berteriak dengan keras, tiba-tiba tidak ada satu pun suara ditempat itu, hingga suara elang muncul dari kejauhan.
Tea dan agil terdiam sejenak, mata mereka menelusuri tempat itu.
"Kau ikut dengan ku bodoh sebelum kau dimangsa oleh elang itu" tea menarik tangan agil, namun agil tidak bergerak sekali pun, matanya masih menatap langit-langit berharap elang itu datang.
"Hei apa yang kau lakukan" tea melepaskan genggaman itu.
"Kau pergi saja"
"Kau jangan membuat masalah aku tidak membawa alat sama sekali disini"
"Kau pergi saja sialan"
Tea berlari ke arah hutan namun ia tidak meninggalkan agil ia bersembunyi dibalik pohon, agil memasang panah siap untuk memanah tubuh elang besar itu.
Yang ditunggu datang juga, elang itu muncul dari balik tebing, hanya satu elang yang datang, elang itu mendekat kearah agil, dengan cepat agil memanah namun tidak mengenai tubuh elang itu sama sekali, dengan berlari kearah belakang agil masih berusaha memanah elang itu.
"KYA!!!" elang itu tidak henti-hentinya bersuara.
"Sialan!!!!! Sialan!!!!!!" Kaki tea yang semakin gatal ingin lari tapi ia tidak bisa meninggalkan agil.
Agil berlari masuk hutan, mencoba menghindar dari elang itu yang terus mengejar, tea yang bersembunyi di pohon bersebrangan dengan agil ikut berlari menghindar.
"Gil!!! Aku di sinii!!!" Tea berteriak.
Agil mencari sumber suara itu, dan ternyata tea dibalik beberapa pohon samping nya.
"Kenapa dengan panahnya, ayo panah elang!!!" Dengan suara yang bergetar karena lari tea berteriak dengan kencang.
"Kya!!!! Kyaaa"
Sialan batin agil.
__ADS_1
Agil memasang busur panah, ia mengarahkan ke arah elang itu sambil berlari namun panah itu tergelinjir karena batang pohon yang licin, agil pun terjatuh karena ia berlari menghadap kebelakang.
"Sialan" tea mengumpat seraya berlari ke arah agil.
"Ini aku ini aku sini kalau berani!!!!!" Tea berteriak mencoba mengalihkan pandangan dari elang itu, elang itu pun mengejar tea.
"Gil!!!!! Panah!!!! Panah!!!"
Dengan cepat agil mengambil busur panah, kali ini ia harus fokus pada satu titik apa yang dikatakan paman, ia mengarahkan keatas, menutup satu matanya fokus pada tubuh elang itu.
"Ayo bisa gil bisa gil!!!" Ucap agil.
"Depp!!" Panah itu mengenai mata elang itu sampai menebus dimata satunya, elang itu terjatuh begitu saja didepan tea.
"Wow!!!! Parah kau gil!!!" Ucap tea yang sudah kehilangan nafasnya.
Agil mendekat, menyentuh sayap elang besar itu, tiba-tiba elang itu bergerak, agil spontan jatuh tergelincir.
"Srek!!" Sebuah pedang melewati wajah agil, dan menanjap di leher elang itu hingga elang itu benar-benar tewas, karena kaget agil segera berdiri.
"Paman?" Ucap tea.
Argus dan jay yang datang dari balik pohon mendekat.
"Hahahahaha" argus menepuk pundak agil yang masih terlihat syok.
"Kenapa? Aku hebat bukan?" Tanya agil.
Jay mengambil panah itu dari mata elang, ia menarik panah itu hingga mata elang berdarah.
Wajah agil terlihat aneh, seperti bertanya-tanya.
"Ini panah jay, ia yang memanah elang ini hingga terjatuh" ucap argus dengan nada bicara yang menggeledek.
"Apa tidak mungkin, itu jelas-jelas aku yang mengenainya" ucap agil tidak terima.
Argus menatap keatas dan menyuruh agil juga ikut menatap keatas.
"Lihat" argus menunjuk dibatang pohon.
"Itu punya kau" ucap argus seraya menjawil telingan agil.
"Apa-apan?" Agil masih tidak terima.
"Makanya satu kau harus fokus gil" argus berjalan mendekat mengambil pedang itu dari leher elang.
Agil mendekat ke arah jay.
"Hei aku yang memanah elang ini kan?"
"Tidak, aku yang memanah mata elang ini" kekeh jay.
Agil masih terlihat bingung.
"Hei tahu apa kau?" Tea mendekat.
"Aku yang lebih tahu" ucap argus meninggal kan mereka bertiga, diikuti jay dan tea yang akhirnya pergi meninggalkan agil yang masih terlihat kebingungan.
Ditengah-tengah api unggun, dan orang-orang yang sibuk dengan makanan mereka, agil duduk dipojok tempat tidur, ia tidak mendekat api unggun, ia hanya duduk dipojok dan selimut yang menyelimuti bagian tubuhnya.
"Makanann seperti ini saja enak" gerutu agil.
"Memang" tiba-tiba seseorang datang.
"Timandra?"
"Kenapa tidak mendekat ke api unggun" tanya timandra.
Kalau mendiskripsikan fisik timandra, lebih seperti Zara Larsson versi asia, cantiknya natural dan tanduknya yang elegan.
"Malas berjalan" ucap singkat agil.
Timandra tersenyum.
"Kenapa?" Tanya penasaran agil.
"Namamu unik"
"Kau baru sadar kemana saja kau?" Celoteh agil.
"Aku baru pertama kali berbicara dengan mu"
"Oh ya? Aku lupa karena banyak yang mengajak bicara aku akhir-akhir ini"
Timandra hanya tersenyum memang ini kali pertama timandra berbicara dengan agil.
"Kau sudah lumayan bisa ya memanah"
"Ahh sepertinya begitu"
"Tadi pas ada elang kau yang memanah?"
"Sayangnya tidak, dia itu dia yang memanah" ucap agil menunjuk jay yang dengan memakan makanannya didekat api unggun.
"Ah jay?"
Agil mengangguk seraya mengunyah makananya, lucu ya?
"Dia sudah semakin hebat akhir-akhir ini, kau harusnya bisa mengalahkan dia" ucap timandra.
"Kau seharusnya mengajariku"
Timandra hanya tertawa.
Mentari beranjak naik, sinar jingganya menyinari negeri ini seakan sinar miliknya tidak ada tandinganya, menyinari negeri ini bak lautan luas, burung mengoceh bersuara dengan gaya andalanya, angin bersuara membawa para tubuh pepohonan menari dan bersautan.
Sedikit dingin menyelimuti saat itu, argus sudah bangun terlalu pagi menyiapkan api unggun, semua orang masih tertidur pulas, ia lalu membangunan jay dan tea, mereka pun membantu argus menyiapkan minuman.
"Kenapa pagi-pagi sekali?" Ucap tea dengan serak khas suara orang terbangun dipagi hari.
"Kau lupa?" Ucap jay.
"Tidak usah tidur saja yang kau andalanya" ucap argus.
"Karena masih pagi, mau olahraga pemanasan dulu ya pamit sebentar" jay beranjak pergi.
"Kenapa sih, enak-enak minum didekat api unggun malah mau olahraga" mata tea masig terlihat sipit dan menguap beberapa kali.
Argus hanya menggeleng seraya menuang minuman.
Jay hanya melatih peregangan otot sebentar, lalu menikmati embun pagi, tiba-tiba datang seseorang seraya dengan wajah berantakannya.
"Ahh siapa, ada apa?" Matanya terlihat sipit dengan postur wajah yang bengkak.
Jay menoleh dan tertawa.
Agil mendekat seraya jalan sempoyongan.
__ADS_1
"Kenapa kau disini sendirian di belakang tenda-tenda ini?" Suaranya masih serak dan sepertinya ia masih mengantuk.
Agil duduk dibatang pohon, menyender kepalanya dipohon dan terlelap begitu saja, jay hanya menggeleng-geleng tersenyum.
"Lucu juga" ucap jay seraya melakukan gerakan Runner's stretch.
"Apa katamu?" Ucap agil masih dengan mata tertutupnya dan terseyum dengan girang, coba bayangkan? Meleleh sumpah, bagaimana jay yang ada didepan agil?
Jay membenarkan posisinya dan dengan panik ia menjelaskan.
"Lucu juga gerakan ini maksutnya" ucap jay salah tingkah.
Agil berdiri dan menatap wajah jay yang masih gelisah, wajahnya tidak bisa berbohong pipinya memerah.
"Dari tadi aku memperhatikanmu, dengan satu mata kau tidak menatap ku sih" celoteh ala agil.
Jay yang masih salah tingkah berusaha terlihat tenang.
"Oh ya??"
"Kenapa? Aku lebih suka kau terlihat gelisah seperti ini dibanding pura-pura terlihat tenang" (buaya ala agil muncul)
"Coba lihat pipimu itu" lanjut agil seraya menunjuk pipi merah jay, spontan jay menyentuh pipinya, agil tertawa.
"Kau lucu juga, lucu, lucu lucu!!!" Dengan gemas agil memeggang kedua pipinya dan meremasnya dengan gaya sok imut.
Jay yang dari tadi terlihat gelisah merasa seperti ingin muntah ketika melihat sok imut ala agil.
"Gil" jay memanggil agil.
"Hemm?" Jawab agil masih dengan gaya sok imut itu.
"Lihat matamu" jay menirukan seperti agil tadi, ia menunjuk ke arah mata agil.
"Ada kotoran dimatamu" dengan tertawa jay beranjak pergi.
Agil yang masih syok karena malu, ia terdiam sesaat dan menyentuh bagian matanya, dan benar adanya.
"Hahah sialan" ucal agil dengan tersenyum paksa.
Orang-orang masih tidur ketika agil, tea, jay, dan argus memasakan makanan, entah mereka masih bingung kenapa argus terlihat sangat antusias memasak hari ini, hanya agil dan tea yang masih menguap beberapa kali didepan api unggun, jay yang membantu argus memasak.
"Untuk apa paman?"
"Hari ini kita akan pergi ke kota Lander"
Dengan spontan jay berteriak.
"Hei sutttttt" argus menutup mulut jay.
"Mereka masih tidur, ini kau siapkan bekalnya aku akan menyiapkan barang-barang"
Jay lalu menyiapkan bekal.
"Kalian siap-siap karena kita akan ke kota Lander"
Dengan sigap tea berdiri.
"YIHA!!" sedangkan agil hanya terdiam bingung.
"Gil kau akan ikut aku, tea dan jay pergi ke kota lander"
"Ah kita yang dimaksut tea?"
Argus melirik tea.
"Ya benar kau bisa siap-siap sana, aku sudah memberi tahu orang-orang kita akan pergi"
Perjalanannya memang sangat jauh, butuh beberapa hari, jadi bekal yang harus dibawa memang harus sangat banyak, tentu alat-alat seperti pedang, panah harus selalu dibawa ketika berpetualangan, karena ada berbagai rintangan yang harus dilewati tentunya, tidak seperti dikota agil dimana hanya ada polusi udara yang menyelimuti dan kemacetan dimana-mana.
Sudah setengah perjalan akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di dalam hutan, lihatlah agil dia sudah merasa kelelahan.
"Gil gil kau kalah dengan para wanita ini" ucap agil seraya duduk dan meletakan barang-barang.
"Lihatlah paman, aku yang membawa bekal dan panah ini mereka hanya membawa ya ampun membawa pedang dan wadahnya jangan lupa" agil menyindir.
"Hei lihat saja kau, kalau kau nanti berhenti benerapa langkah lagi ku tebas kau" ucap tea.
Agil hanya berpaling dan menatap sebentar jay.
"Bisa-bisanya disaat seperti ini masih aja" argus mendengus.
"Apanya?" Tanya agil.
"Ambil sekalian!!"
"Apa, kenapa, ada apa??" Agil masih bertanya.
"Kau tipe pria yang bagaimana kalau ada wanita yang kau sukai?" Tea bertanya.
Agil menunduk.
"Biasanya aku suka rusuh, dan terlihat gila kalau didepannya" ucap agil.
"Ahhhh!!!" Ucap argus dan tea bersamaan.
Jay bingung.
"Kenapa serentak gitu?" Tanya agil.
Argus dan tea hanya tersenyum.
"Jay kau tahu kenapa mereka?"
"Entah gil mereka gila"
"Kau yang gila!!!!" Tea menunjuk agil.
"Ada apa dengamu sialan aneh" wajah agil berpaling.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya, hingga mereka tiba di sebuah istana yang terbengkalai, istana yang sudah roboh, istana itu sudah dihiasai tanaman benalu yang menempel pada setiap bagian tubuh istana itu, istana di tengah padang rumput yang luas.
Mereka memutuskan untuk melihat-lihat ada apa dengan istana itu, pintu masuk yang masih terlihat bagus menurut argus karena pintu itu masih bisa dibuka dengan mudah, ketika masuk banyak tumbuhan yang rindang disana, kaca-kaca istana yang sudah pecah, ini benar-benar istana yang sangat mengerikan, sudah sangat rusak parah.
"Paman ini istana apa?" Tanya agil, matanya masih mengelilingi disekitar.
"Entahlah, hanya ada satu istana disini yang berdiri, ini seperti sudah sangat lama" ucap argus seraya menebas beberapa tumbuhan yang menghalangi.
Sebuah bangunan yang sudah dimakan usia, bagian atas yang hanya sedikit masih tersisa, lukisan-lukisan di tembok yang sudah berwarna coklat karena sudah lama tidak terpakai, ada banyak hewan mamalia disana.
Entahlah ada apa dengan istana itu, lumayan bagus dan mewah jika dilihat dari kejauhan, karena masih berdiri kokoh, hanya bagian atasnya yang roboh, dan tembok-tembok yang sudah mulai kecoklatan dimakan usia, argus beberapa kali mengamati bagian dari istana itu tapi tetap saja ia tidak bisa mengerti kenapa istana ini ditinggalkan begitu saja.
"Lihat tumbuhan-tumbuhan itu sangat banyak menghiasi istana ini" ucap tea seraya mendekat ke arah tumbuhan itu berada.
Hanya ada bagian ruangan tengah saja sebenarnya istana itu, tidak begitu luas, seperti hanya tempat untuk istirahat, atau gereja? tapi kenapa ukiran-ukiran tempat ini seperti istana?
Mereka masih melihat-lihat istana itu mencari sesuatu atau apa lah yang mungkin saja masih ada sesuatu yang tertinggal disana.
__ADS_1