
"Katakan kepadaku, kau tidak kembali sekarang ke istanamu?" sahut Fay, ia duduk disamping Aleris.
Seraya menengguk air hangat, Aleris menjawab.
"Rasanya ingin kembali karena disini sudah jelas aku tidak nyaman.."
"Lalu kenapa kau tidak kembali?" tanya Fay.
Disebuah balkon kamar Aleris yang tenang dengan suasana salju pertama yang jatuh dikerajaan Majestic setelah beberapa tahun mereka tidak merasakan turunnya salju dikota tersebut.
Tidak lama setelah Aleris terbangun dari tidurnya yang tidak tenang, Fay muncul mengetuk pintu membawakan sebuah air hangat dan sebuah roti kering, ia menyuruh Aleris duduk didepan balkon kamar Aleris yang sudah ada kursi dan meja.
"Kau tidak tahu ini pertama kalinya setelah setahun turunnya salju? aku ingin merasakan salju pertama dikota Majestic..."
Fay menyeruput air hangat tersebut, "Terima kasih loh..." sahutnya.
Aleris menatap Fay dengan tatapan kebingungan.
"Kenapa?"
"Karena kau, aku jadi tetap akan tinggal disini tidak kembali mengabdi" jawab Fay.
Aleris tertawa, "Kau ini kenapa? kan ini memang rumahmu jadi ya kenapa ingin pergi lagi"
Fay menatap pemandangan didepannya, pemandangan yang penuh dengan perumahan warga yang diselimuti salju.
"Untung saja, sudah tidak ada tanda-tanda tentang iblis mengerikan lagi, aku berharap semuanya selesai sampai disini..." ucap Fay.
Aleris menghelan nafas, "Aku juga berharap begitu, tidak akan ada lagi..."
Aleris berdiri, menyodorkan satu tanganya agar tanganya bisa bersentuhan dengan salju yang turun.
"Setelah ingatanku balik, terkadang aku memikirkan sebenarnya ada benarnya juga iblis itu, ia mengatakan jika kita tidak usah susah-susah mencari, menebak, semuanya tentang para iblis itu....jujur aku tidak tahu apa tujuanya, setelah ada makhluk misterius yang muncul, potongan samurai tersebut, apakah mereka hanya ingin kita tahu bahwa mereka telah muncul kembali..." lanjut Aleris.
"Tapi kita lega, saat ini tidak ada masalah yang bersangkutan dengan iblis itu, yah aku tahu memang adanya mahluk misterius yang muncul hingga potongan samurai yang tidak terdeteksi, memang itu salah satu caranya agar kita bisa tahu kalau eranya mereka telah datang..."
Aleris terdiam lalu menatap Fay.
"Fay, aku sudah beberapa hari ini tidak datang ke kemar ratu Carlota, apakah bayinya baik-baik saja?"
"Aku tadi baru saja memeriksa, bayinya sehat-sehat saja, bahkan bayi ratu sudah bisa sedikit sedikit mengeluarkan suaranya, seperti bayi pada umumya..."
Aleris mulai berpikir, kenapa bayi tersebut tidak mengeluarkan tanda-tanda lagi? bukan, bukan ia menantikan hal itu, justru Aleris sangat khawatir jika tiba-tiba mungkin bayi itu bereaksi lagi dan lagi, atau kah....
"Ataukah? iblis yang ada di diri bayi itu sudah tidak ada?"
Fay lalu mendekati Aleris, ia berbisik.
"Kemarin raja Gevar datang menghampiri dukun itu dipenjara, ia bertanya tentang kesehatan bayinya dan ia ingin bertanya tentang ibkis yang ada didiri bayinya itu...."
"Lalu apa yang dikatakan dukun itu?"
"Ia mengatakan, jika tidak setiap waktu iblis itu bereaksi didalam tubuhnya, ada masanya, tentu hal ini mungkin mustahil dipercaya oleh siapa pun, tapi ini adalah nyatanya.."
"Benar juga, dia adalah dukun yang paling terkenal dan cerdas dikalangan negeri ini, aku juga bisa merasakan hawa panas saat berdekatan dengan bayi itu...."
"Apakah raja juga bertanya bagaimana nasibnya?" tanya Aleris.
Fay menggeleng, "Aku tidak tahu, aku hanya diberitahu oleh paman Leon ini saja...."
Aleris mengangguk.
Raja Gevar tertidur disamping bayinya, ia bahkan sudah hampir lima jam tertidur, ratu Carlota lalu membangunkannya.
"Sayang..."
Dengan kaget, raja Gevar terbangun.
"Maafkan aku membangunkanmu, tapi sepertinya kau harus bangun sekarang..." ucap lembut ratu Carlota.
"Iya, benar bangunkan aku sekarang.." jawab raja dengan suara serak.
Ia membenarkan posisi duduknya, lalu menatap anaknya itu yang girang karena mainan yang dimainkan oleh ratu Carlota.
"Sudah tidur?" tanya raja.
"Dia bangun beberapa menit sebelum aku membangunkanku.." jawab ratu.
"Aku senang akhirnya tidak ada lagi hal yang mengerikan disini, dan aku tidak menyesal karena ini...." gumam ratu.
"Sayang? kau tidak menyesal?"
Dengan bangga ratu menjawab.
"Buat apa aku menyesal? aku menyesal karena aku lumpuh seperti ini? aku menyesal karena melahirkan bayi yang dianggap sesosok iblis? aku tidak menyesal atau marah atau apapun, yang terpenting aku percaya semua itu tidak benar..."
Raja lalu beranjak, ia memakai jas pakaianya.
"Aku sudah lama sekali bermain dengan anakku, dari tadi ia sangat kegirangan saat aku beberapa kali mencium pipinya yang besar.." raja mendekat kearah ratu Carlota yang duduk dipinggir tempat tidur.
Ratu Carlota tersenyum, "Sampai akhirnya kau tidak sadar, kau sudah dialam mimpi..."
Raja tertawa, lalu mencium kening istrinya.
"Aku sangat mencintaimu, sangat, sangat, dan akan tetap mencintaimu..."
"Selamanya?"
Raja Gevar mengangguk.
"Aku akan pergi, dan akan menjenguk anak pertamamu..."
Raja Gevarnest menuruni tangga, ada banyak pelayan yang lewat disana mereka menundukan kepala saat raja berpapasan dengannya.
"Apa kalian melihat Arvand?" tanya raja kepada para pelayan diruangan itu.
Mereka menjawab, tidak melihat Arvand sama sekali selama sehari penuh ini.
Raja Gevarnest bahkan mencari Arvand sampai keliling kerajaan namun ia tidak melihat sama sekali. Hingga raja Gevar melihat Aleris dan Fay yang menuruni tangga dan berjalan kearah raja seraya menundukan kepala mereka.
__ADS_1
"Kalian melihat Arvand?"
"Tidak tuan..." jawab Fay.
Mata raja terfokus dengan pakaian Aleris yang penuh salju, ia kaget.
"Apakah hari ini turun salju? bagaimana bisa aku tidak tahu?"
Aleris hanya terdiam.
"Aku pikir kalian selalu bersama dengan Arvand.." ucap raja.
"Dikamarnya mungkin tuan?" sahut Fay.
"Tidak, tidak ada...."
"Apa kalian mu membantuku? mencarikan Arvand untukku? kalian yang tahu tentang Arvand tidak denganku..." lanjut raja.
Dengan senang hati mereka mengiyakannya. Dihalaman depan kerajaan yang sudah penuh dengan tumpukan salju, Aleris dan Fay berjalan beriringan dengan langkah yang berat karena menahan tumpukan salju tersebut.
Seraya memakai pakaian yang hangat, dan sebuah satu payung untuk berdua.
"Kau tahu dimana dia? kita berkeliling didalam kerajaan tidak melihat sama sekali jejak Arvand.." sahut Aleris dengan kedinginan.
Fay menghelan nafasnya.
"Sudah, kita cari saja dipermukiman warga, kalau disini tidak ada berarti kan dia mungkin diluar kerajaan..." jawab Fay.
Bahkan mereka bisa melihat, permukiman warga yang sudah penuh tumpukan salju, yang mereka lihat hanyalah hujan salju yang mengguyur mereka hingga pandangan mereka kabur.
"Sepertinya kita harus berhenti ada sebuah kedai kopi disana..." sahut Aleris.
Spontan Fay menjawab, "Tentu! kita harus kesana!"
Fay berlari kecil untuk segera menepi, Aleris yang menutup payungnya dan menyederkannya kesamping kedai tersebut. Mereka masuk kedalam ternyata sangat ramai pengunjung, hingga mereka menundukan kepalanya karena kedatangan seorang anak bangsawan dari kerajaan.
Mereka tidak henti-hentinya memuji ketampanan Aleris, Aleris hanya bisa membalas dengan senyuman.
"Pangeran? ada yang bisa saya bantu? ingin pesan apa?" ucap kasir tersebut.
Karena Aleris tidak nyaman dengan bisikan orang-orang memujinya, Fay dengan geram lalu menyahut keras dengan sengaja.
"Bisa santai tidak! kita disini hanya ingin pesan kopi hangat saja!"
Aleris tersentak, "Apa yang kau lakukan? aku sangat malu!"
Fay tidak menjawab, "Saya pesan kopi hangat dua ya!"
Kasir itu mengangguk, lalu Fay menyuruh Aleris untuk duduk dikedai tersebut.
Masih dengan muka kesal, Fay menatap Aleris. Aleris hanya tersenyum malu-malu.
"Sialan!" gumamnya.
Aleris kebingungan.
"Ada banyak juga ya penggemarmu"
"Tunggu... dia wanita yang tidak asing bagiku..."
Dengan kepala yang menatap diberbagai tempat, Fay bertanya, "Apa? siapa?"
Aleris menujuk wanita itu.
"Kau lihat dimana?"
"Aku yakin aku pernah melihatnya kok, dia yang bersama dengan temanku dijalan kepergok aku saat mereka masih berpelukan.."
"Coba, samperin gih..." sahut Fay.
Aleris berdiri, lalu tanpa rasa malu ia duduk didepan wanita itu, wanita tersebut tersedak kaget saat sedang menyeruput kopi, karena kedatangan Aleris yang tiba-tiba.
Wanita itu segera menundukan kepalanya, salam.
"Ah tidak usah tidak usah..." Aleris menepis.
"Maaf tuan, saya tidak tahu anda datang..."
Aleris duduk tenang menatap wanita itu.
"Boleh saya gabung kan?"
Wanita itu mengiyakan dengan senang hati.
"Kalau boleh saya tanya, kau kenal dengan Randi?"
Ketika pertanyaa itu terlontar dari mulut Aleris, ia bisa melihat jika raut wajah wanita itu berubah seperti menyembunyikan sesuatu.
"Ah, saya kenal kok!" jawabnya.
Dan benar, ternyata Aleris tidak salah menduga.
"Kalau boleh tahu siapa namamu?" tanya Aleris.
"Vin tuan..."
"Kau tidak bersama dengan Randi lagi?"
Raut wajah Vin seperti sedih ia lalu membuang muka.
"Aku sendiri yang memutuskan untuk pergi darinya, jadi aku tidak akan menyesalinya..."
Fay masih menatap dengan tajam kedua orang yang sibuk bercumbu dipojok kedai terrsebut sampai dua kopi pesanannya datang. Akhirnya Aleris berdiri dan berpamitan kepada Vin ia harus pergi karena Aleris datang kesini tidak sendiri.
"Siapa? benar kau kenal?" ucap Fay.
Aleris duduk, lalu ia mengangguk.
"Iya, aku kenal namanya Vin, dia teman dsri temanku"
__ADS_1
"Siapa temanmu?"
"Randi..."
Saat menyeruput kopi hangat tersebut, tiba-tiba Aleris merasakan hawa panas yang luar biasa, seperti hawa panas yang ia rasakan saat bertemu dengan iblis, ia meletakan gelas tersebut dengan tubuhnya yang bergetar.
"Ris.... Ris...kenapa kau?" sahut Fay khawatir.
Fay sangat panik saat melihat tubuh Aleris bergetar hebat. Ia berdiri dari duduknya dan menyetuh tubuh Aleris namun, Fay berteriak saat ia merasakan tubuh Aleris yang sangat panas.
Aleris menginsyaratkan agar Fay terdiam, namun Aleris menatap Vin, Vin yang nenatap Aleris dengan tatapan yang ketakutan.
Kenapa? kenapa dengannya?
Aleris masih bisa menahan diri, namun ia melihat Vin yang tidak tenang, mata Aleris tidak berpaling dari Vin ia terus menatap dengan tajam, hingga tak lama Vin membayar kasir dan beranjak pergi.
"Kau tunggu disini Fay ada yang harus aku katakan kepada wanita itu..."
Aleris menduga seperti ada sesuatu dari wanita itu, yang pertama Vin duga adalah dia seorang monster yang menyamar, dan yang kedua ia adalah iblis.
Aleris berlari membuka pintu. Masih dengan hujan salju yang kian turun dengan lebat, membuat penglihatan Aleris buram. Samar-samar ia melihat Vin yang berdiri didepannya tak jauh seperti menunggu Aleris datang.
Aleris mendekat, "Vin?" tanyanya.
Awalnya Vin tidak menjawab, tapi setelah Aleris memanggilnya beberapa kali, Vin menjawab.
"Baru saja kenal kau sudah memanggilku seperti sudah kenal lama.." ucap Vin tanpa menoleh.
Karena salju yang kian lebat, Aleris tidak bisa menahannya lagi, rasa panas dan dingin yang bercampur aduk.
"Kau tahu siapa aku ya?" ucapnya tiba-tiba.
"Aku harap kau tidak memberitahukan tentang aku kepada Randi, karena ini rahasia.."
Aleris yang menahan hawa dingin dan panas itu lalu terdiam.
"Apa maksutmu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, aku tahu kau sudah menduga-duga, apa lagi tubuhmu yang tiba-tiba memanas..."
Aleris masih menunduk karena rasa panas dingin yang bercampur, namun tiba-tiba Vin menoleh kearah Aleris seraya ia memperlihatkan identitasnya yang sebenarnya.
Ia berubah menjadi manusia kelelawar, ia menyibak sayap kelelawarnya yang besar hingga ia melayang keatas Aleris. Dengan wajah yang setengah kelelawar dan giginya yang runcing ia sama sekali tidak menyerang Aleris ia hanya memperlihatkan identitas aslinya.
Aleris tersungkur saat melihat Vin yang tiba-tiba berubah didepan wjaahnya, mata Aleris terbelalak saat monster kelelawar itu berada diatas kepalanya.
Masih dengan nafasnya yang terengah-engah, Aleris mengeluarkan suaranya.
"Kau???"
Dengan suara seperti monster pada umunya, suara berat, Vin menjawab.
"Yah, ini lah aku!" teriaknya.
"Apa yang kau lakukan disini sialan!" umpat Aleris.
Masih menyibak-yibakkan sayapnya yang besar ia menjawab.
"Kau tidak perlu tahu bodoh!"
Tiba-tiba suara teriakan Fay yang membuyarkan pikiran Aleris, dan disaat itu lah Vin tiba-tiba terbang menghilang begitu saja. Aleris masih terdiam tersungkur ditumpukan salju, hingga Fay datang membawakan payung.
"Aleris!! ada apa kenapa kau jatuh seperti ini?" tanya Fay seraya membantu Aleris berdiri.
"Lihat bajumu, penuh salju...."
Aleris masih terdiam, ia menhelan nafasnya.
"Aleris?"
"Iya, iya aku dengar..."
"Ada apa?"
"Aku hanya terjatuh saat mengejar wanita itu..."
Fay memutar bola matanya, "Pulang saja, saljunya semakin lebat..."
Aleris membuka gerbang dibantu oleh para prajurit disana, hal pertama yang membuat Fay dan Aleris kaget saat satu langkah mereka menuju kerajaan, Arvand yang tertidur di rumah kecil dimana rumah tersebut adalah rumah untuk jaga para prajurit.
"Ah tuan, mencari pangeran Arvand? pangeran juga beberapa menit baru sampai disini.."
"Apa?" sahut Aleris.
"Memangnya dia dari mana?" tanya Fay.
"Katanya dia dari luar dinding tuan, saya juga kaget saat pangeran mengatakan itu.."
Aleris dan Fay kaget, ia lalu mendekat kearah Arvand yang masih tertidur dengan pulas.
Dengan tanpa aba-aba, Fay menampar pipi Arvand hingga Arvand bangun dengan kaget.
"Sialan!!!!" pekik Arvand.
"Fay? kenapa kau tampar aku!?!?!"
"Kau tidak lihat? sekarang masih hujan salju lebat begini kau diluar tembok? apa yang kau lakukan?" teriak Fay dengan muka geram.
Arvand menghelan nafasnya seraya membenarkan posisi duduknya.
"Kalian pasti mencariku?" ucap Arvand seraya menatap Aleris dan Fay secara bergantian.
Aleris mengangguk.
"Dengar? aku selalu keluar tembok sialan, apa kau lupa tempat yang biasa kita bertiga datang kesana? danau itu, aku ingin melihat danau itu saat salju turun..." sahut Arvand.
Dengan perasaan lega, Fay duduk disamping Arvand ia menyentil kening Arvand dengan jarinya, Aleris hanya terdiam seraya melipat kedua tanganya didadanya.
"Ah!!" pekik Arvand seraya menyentuh keningnya.
__ADS_1
"Kau jangan nakal-nakal lagi deh, aku dan Aleris yang susah....." gumam Fay.