Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Mati


__ADS_3

Mahagaskar tak berkutik, ia masih berdiri diatas rumah seraya menatap kedepan, raksasa yang mengamuk berteriak seraya menghantam tembok hingga banyak reruntuhan yang berjatuhan, ia melirik kearah raja Jasper diatas, yang masih menentengkan kedua tangannya seraya menatap raksasa yang mengamuk tersebut.


"Paman!" sahut Leon.


Mahagaskar menoleh kebawah, Arvand berhasil menemukan kedua joli yang sempat hilang entah kemana, Jangsal menyusul Mahagaskar ia merangkak naik keatas genting.


"Kau lihat itu paman? raja Jasper kenapa dia ada diatas sana?"


"Pasti dia sedang melawan para raksasa yang mulai berdatangan dari ujung menuju kesini"


Sebenarnya perbedaan para raksasa ini dengan salah satu raksasa yang normal seperti manusia sangat berbeda, bedanya para raksasa ini mereka seperti manusia biasa hanya saja berbadan besar, sedangkan raksasa yang memiliki akal ini, memiliki tanduk dan taring yang runcing, memiliki tubuh bidang dengan otot diseluruh tumbuhnya.


Bisa dibilang, para raksasa yang tidak normal dan normal. Bahkan manusia yang tidak tahu asal-usulnya akan mengira dengan cepat jika perbedaan ini sangatlah jelas.


Tiba-tiba, salah satu raksasa tidak normal tergeletak jatuh hingga membuat suara jatuh yang keras, seperti suara batu besar yang jatuh ke tanah, membuat semua orang yang berada didekatnya tersentak kaget.


Agil menurunkan busur panahnya saat tembakannya tepat mengenai kedua mata raksasa lamban tersebut, Agil seperti merasa sangat lega pada akhirnya salah satu raksasa sudah ia musnahkan.


Argus mendekat, ia menepuk pundak Agil.


"Lihat! raksasa yang normal tersebut, ia mencari seseorang yang berhasil membuat anak buahnya jatuh..."


Agil melirik kebawah, tepat raksasa itu tergeletak, dan benar dugaanya, jika titik kelemahannya berada dimata, dan ia sudah mati. Ia kemudian menatap raksasa yang normal, ia masih mencari keberadaan seseorang yang menyerang anak buahnya.


"Aku sangat senang bisa membuat salah satu raksasa bisa musnah dengan kedua tanganku, aku tak menyangka jika tembakanku mulus, aku pikir selain leher mata? yang menjadi titik kelemahannya..." ucap Agil.


Argus tersenyum, "Jangan senang dulu, lihat musuh kita masih banyak"


Entah karena kurang fokus atau Agil yang masih dikelilingi rasa duka karena kehilangan Jay, Agil terdiam saat melihat Jay yang berdiri dibawah para raksasa itu, awalnya Agil khawatir jika Jay terinjak oleh para raksasa, namun saat Agil kembali melihat jika para raksasa itu melewatinya.


Jay hanya tersenyum kepada Agil, Agil kembali meneteskan air matanya, karena ia tahu ini hanya ilusi dari egonya sendiri, hingga Argus menyadarkannya.


"Cepat! pergi dari sini!" ucap Argus.

__ADS_1


Mereka lalu beranjak pergi, raksasa normal itu mencari keberadaan seseorang yang berhasil memusnahkan satu anak buahnya ia berteriak dan mengamuk menghancurkan beberapa perumahan warga.


Arvand tak sengaja melihat tali yang cukup besar dan panjang, entahlah apa gunanya ini, tapi mungkin suatu saat ini akan sangat berguna, ia mengambil dari balik gerobak dan menyimpanya.


"Apa itu?" tanya Leon.


"Hanha tali, entah sepertinya semua yang berada disini nantinya akan bergunaaa"


Mahagaskar mencoba memejamkan matanya, ia ingin memulai kembali setelah bertahun-tahun mengubur elemen kekuatannya, yaitu kekuatan mengontrol jejak, dimana ia memiliki kekuatan mengusut jejak seseorang dari jarak pandangnya.


Tapi saat ia memulai mengontrol kekuatannya, yang ia lihat hanyalah jejak yang berantakan dan acak-acakan, seperti tidak memiliki ruang dan tempat yang biasa Mahagaskar periksa.


Yang ia lihat, jejak itu acak-acakan tidak berbentuk, membuat Mahagaskar tersadar dan kembali membuka matanya seperti semula.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Jangsal.


Mahagaskar mengangguk. Mendadak raja Jasper baik kepunggung elangnya, ia terbang menuju ke raksasa normal itu yang masih mencari seseorang seraya mengamuk ketempat warga, ia mengendalika kekuatannya, dan mengeluarkannya, mengarahnya kearah kedua tangan raksasa normal itu.


"HUAAAAAAAAARRRGHHH!!!!!"


Raksasa normal itu mengamuk, dan berteriak berusaha memecah batu dari kedua tangannya. Raja Jasper berteriak saat melihat Mahagaskar dan Jangsal diatap genting.


"Kekuatanmu!"


Mahagaskar lalu mengeluarkan kekuatan anginnya, mengatah ke raksasa itu, dan membentuk lingkaran keleher raksasa itu, lalu Mahagaskar mencoba, mengikat dengan erat.


Leon berlari, ia mendekat kearah kaki raksasa itu, ia mengangkat kedua tanganya, dan mengeluarkan eleman tanahnya, tanah keluar dari dalam, dan mengikat kedua kaki raksasa tersebut.


Ini memang salah satu hal yang sangat menyakitkan bagi Leon, ia harus menahan sekuat tenaga, dari sang raksasa yang mencoba melepaskannya. Namun hal tak terduga terjadi, saat raja Jasper masih terbang tepat dipunggung raksasa itu, raksasa itu berhasil lepas dari ikatan tanah yang Leon buat, hal itu membuat Leon terlempar jauh hingga tubuhnya jatuh menabrak perumahan warga, dan dengan cepatan kilap, punggung raksasa itu mengeluarkan seperti tanduk runcing, beberapa tanduk tajam itu keluar tiba-tiba membuat elang dan raja Jasper tertusuk, bahkan tanduk itu bisa menembuss dari tubuh elang sampai tubuh raja Jasper.


"Tuan!!!!!!!!!!!" teriak Mahagaskar.


Raksasa itu barhasil menghancurkan batu dari kedua tanganya, namun karena yang tersisa hanyalah angin yang mengikat leher raksasa itu, raksasa tersebut mengambil tanduk dari punggungnya, dan melempar kearah Mahagaskar, namun hal itu berhasil ditepis oleh belati api dari Jangsal.

__ADS_1


Belati api yang Jangsal lempar hingga mengenai tanduk itu, hingga tanduk itu berhasil jatuh tanpa mengenai mereka. Mereka dengan cepat turun darri atas, dan berlari menuju ketempat Leon berada.


Ekor elang dan tubuh raja Jasper masih menempel dan tertusuk ditanduk tersebut, lalu raksasa terrsebut, mencabut hingga ada banyak darah yang keluar dari tubuh raja Jasper.


Raksasa itu menatap Jasper seraya ia pegang dengan kedua tangannya, terdiam seraya memeggangi tubuh Jasper yang sudah banyak darah dan tak sadarkan diri.


Arvand berlari menjauh seraya melihat raksasa itu, apa yang akan raksasa itu lakukan dengan raja Jasper batinnya.


"Lihat, apa yang terjadi yatuhan..." pekik Arvand.


Bahkan mereka tak bisa berkata-kata lagi, jika mereka melihat langsung kematian Jasper dihadapan mereka, didepan mata mereka secara langsung, masih dengan panik dan ketakutan mereka tidak bisa menyembunyikan perasaanya.


Rasa kehilangan saudara, dimana dia sudah berjuang demi keselamatan semuanya, pada akhirnya harus diambil terlebih dahulu oleh tuhan, Arvand menangis ia berlari seraya meneteskan air matanya.


"Bagaimana bisa! apa yang terjadi sialan!" pekik Arvand.


Mahagaskar hanya berlari dan terdiam, Jangsal menyahut.


"Kau bisa diam? aku juga ingin menangis jika kau terus berkata seperti itu sialan!!!"


"Bukankah kita harus menyelamatkannya!" pekik Arvand.


Mereka berhenti saat melihat tubuh Leon tergeletak direruntuhan rumah yang hancur, dengan kayu tajam yang menancap dilengannya. Leon merintih kesakitan, Mahagaskar mendekat.


"Tenang, tenang...." ucap Mahagaskar seraya ia mencoba mencabut kayu tajam tersebut dari lengan Leon.


Dengan teriakan yang keras, kayu tajam itu berhasil diambil oleh Mahagaskar, ia lalu menyobek kain bajunya untuk membuat perban menutupi luka dan darah yang terus mengalir.


"Tuan? tuan Jasper?" tanya Leon seraya merintih.


Mereka menundukan kepalanya, seakan tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, namun Jangsal ia memberanikan diri.


"Tuan Jasper mati.."

__ADS_1


__ADS_2