
Raja Gevarnest lalu memejamkan matanya, tiba-tiba membangkitkan Randi, Randi dengan wujud monster drakula raksasa besar. Raja Gevarnest membuka matanya saat ia merasa janggal dengan tenaga Randi.
"Ada apa..." ucap raja Gevarnest.
Varegar yang berdiri dihadapan raja dengan naga besarnya, hanya bisa menyengir saat eihat raut wajah sang raja yang gelisah.
"Katakan padaku ada apa!" teriak sang raja.
Randi dengan wujud drakula itu berdiri dengan sempoyongan.
"Apakah tenaga iblis itu melemah? wau bagaimana mungkin itu terjadi? bukankah iblis itu sangatlah kuat?" sahut Varegar.
Raja Gevarnest hanya melirik sebentar kearah Varegar dengan kesal. Tiba-tiba naga milik Varegar mencoba menyerang sang raja, namun dengan santai Varegar menghentikan dengan cepat.
"Santai saja, belum dimulai sesi pertarungan ini, tunggu saja, sampai si raja itu, menyerang kita lebih dulu...." gumam Varegar.
Raja Gevarnest memejamkan matanya, ia berusaha fokus untuk masuk kedalam jiwa iblis dari dalam raga Randi.
"Apa ini, apa yang terjadi?" ucap raja Gevarnest.
Iblis didalam Randi menyahut, "Apakah kau sudah lupa? aku harus meminum darah manusia untuk mengembalikan tenagaku, kau sudah bertahun-tahun tidak memberikan aku darah yang cukup..."
"Baiklah, kau ingin darah manusia segar?"
__ADS_1
Tiba-tiba, mata iblis itu mengarah kebawah, seseorang yang berjalan mendekat kearah mereka.
"Kau melihat sesuatu?" tanya sang raja.
"Aku pikir dia, memiliki darah yang cukup kuat..." sahut iblis.
"Randi! kembali kekerajaan, dan beritahu para prajurit untuk membantu mu, aku akan terlebih dahulu menyerang Varegar.."
"Tuan, yang kau maksud dengan darah segar manusia, siapa itu?" sahut Randi.
"Sudah, biar aku saja yang fokus!" sahut iblis didalam raga Randi.
***
Gilang kabur, dan mencoba mencari keberadaan Randi, sejak saat kota Majestic pindah menjadi ruang angkasa, ia tidak dapat melihat Randi lagi. Selama ini Gilang hanya terdiam, ia sangat memendam semuanya kepada Agil. Ia juga sangat muak mendengar nasihat setiap saat dari mulut Agil, bahkan kenyataannya tidak seperti yang Agil omongkan.
"Omong kosong!" pekik Gilang.
Gilang sempat sangat percaya dan sangat lega saat ia pada akhirnya dipertemukan oleh Agil, namun saat pertemuan itu semakin menjadi buruk saat banyak rencana Agil diluar nalar Gilang.
Entah itu tentang kesabaran, dan pengorbanan. Rasanya Gilang tidak butuh semua itu, yang harus dilakukan dengam cepat hanyalah menemukan Randi lalu membawa Randi pergi dari dunia ini bersama dengannya dan juga Agil.
Gilang memang lebih banyak diam ketika orang-orang itu mulai merancang rencana, pada kenyataannya menang Gilang tidak setuju semakin lama rencana ini dibuat semakin cepat Randi mati.
__ADS_1
"Aku tidak percaya Agil mempercayai semua orang disini, bagaimana bisa ia membiarkan Randi seperti itu?" sahutnya.
Seraya berjalan dengan sempoyongan, hingga ia melihat sebuah raksasa yang gagah besar berdiri dihadapannya, Gilang mencoba memperjelas pengelihatanya karena jarak pandang yang kabur karena asap debu yang mengelilingi kota.
Kedua raksasa saling berhadapan, Gilang terbelalak saat melihat raksasa naga dan drakula diatas sana. Gilang berlari saat melihat raksasa drakula itu bergerak dan mulai beranjak.
Namun perasaan Gilang semakin tak wajar, saat ia sadar monster drakula itu melangkah mendekat.
"Aku harus bersembunyi dibalik perumahan...." sahutnya.
Gilang melotot saat tangan drakula itu tiba-tiba merogoh perumahan hingga hancur, Gilang tersentak saat jari-jari itu mengarah kearahnya, Gilang mencoba kabur namun percuma tangan itu sangat besar.
"Apa? apa yang dilakukannya? ada apa ini sialan, Agil!!!!!!"
Gilang masih berlari menghindar dan bersembunyi, namun pada akhirnya ia tertangkap dengan telapak tangan drakula yang penuh cakar tajam.
Gilang memejamkan matanya saat, tubuhnya diangkat oleh tangan drakula tersebut, ia tidak bisa membuka matanya karena ia sangat takut, monster ini sangat mengerikan.
"Agil, tolong aku Gil....."
"Lang, jangan khawatir..."
Tiba-tiba Gilang mendengar suara yang tak asing, hingga ia membuka matanya.
__ADS_1
"Randi?...."