
Aku duduk diruang tengah, menatap kosong kedepan, ruangan ini hening, sama sekali tidak ada suara, rumah yang biasanya ramai kini sepi tidak ada orang sama sekali, sudah berapa lama aku pergi? batinku.
Bahkan peralatan yang penting masih tertata rapi disini, apakah ibu sama sekali tidak menjenguk rumah ini? rumah yang menjadi saksi kepergian ayah. Aku menghelan nafas panjang, kepergianku selama lima bulan ternyata tidak membuahkan hasil, aku pikir setelah aku pergi aku bisa melupakan semua tapi ya tentu akan ingat lagi, bagaimana tidak kita kembali ke tempat masa lalu.
Aku pergi selama lima bulan, ke rumah nenek randi, kami bertiga pergi bersama, karena memang sekalian berlibur karena masa sma telah usai, aku bahkan sama sekali tidak memberitahu ibu, sempat ibu menelfon beberapa kali aku hiraukan, aku hanya mengirim pesan "aku butuh waktu" aku pikir ibu akan sering jenguk rumah, dan mengambil barang-barang berharga dari rumah, oh ya bener barang-barangnya sekarang mahal, jadi tidak mungkin mengambil barang bekas.
Aku berjalan kearah kamar, benar-benar berantakan dan banyak debu yang berserakan, karena aku pikir sepertinya aku akan menjual rumah ini, sebenarnya aku sudah lama memikirkan ini, aku juga sama saja seperti ibu pada akhirnya aku akan pergi selamanya dari rumah ini, bagaimana pun, semua kenangan ada dirumah ini.
Aku membereskan barang-barangku, membuang barang yang tidak terpakai, dan mengambil barang yang sekiranya masih berguna bagiku, setelah itu aku turun, sudah ada randi dan gilang disana, mereka sama seperti ku waktu pertama kali masuk, benar-benar berserakan dan ada banyak debu dimana-mana mereka terheran-heran.
"Bagaimana bisa ibumu tidak kesini?"
"Lupa sama rumah lamanya, kan sekarang udah bahagia sama suami barunya" ucapku.
"Terus? kau akan tinggal disini sendirian?" tanya randi.
Aku hanya diam berpikir, walaupun sudah 90% aku akan meninggalkan rumah ini, tapi masih ada 5% berat meninggalkannya.
"Oke, kau boleh tinggal sama aku kalau gitu" ucap gilang.
Gilang melanjutkan, "Ibuku udah menganggap kamu anak sendiri gil, gapapa santai aja"
Malu memang, tapi sepertinya ini memang jalannya, uang dari hasil rumah ini akan menjadi sangu untukku nanti.
Sudah hampir satu minggu rumah ini tidak terjual, menurutku akan susah terjual karena rumah yang kelihatan tua, tapi tak masalah, dalam rumah tidak terlihat tua, bahkan malah terlihat aestetic bagiku.
Aku sering mengecek rumah, sekadar hanya duduk menunggu, atau hanya sekadar melihat-lihat, dan aku baru ingat ayah memiliki kebun di belakang rumah kenapa tidak aku jual saja sekalian, bagaimana aku bisa melupakanya?
Aku berjalan bersemangat ke belakang rumah, aku kaget mataku melotot setelah apa yang aku lihat didepan mataku, ada ibu dan suaminya disana, mereka sedang berbincang-bincang dengan seseorang, mereka melihatku datang dan ibu menghampiriku.
"Kemana saja kau" suara lirih ibu, matanya berkaca-kaca.
Aku ingin sekali pergi dari ibu, tapi kenapa aku tidak bisa bergerak, hatiku sakit setiap kali aku menatap ibu, ini adalah pertemuan aku dan ibu setelah 5 bulan aku tidak melihat ibu.
"Ibu rindu agil" ibu mendekat dan memeggang pundak ku dengan kedua tanganya, matanya meteskan air, ia benar-benar menangis dihadapaku.
"Maafkan ibu agil" lirihnya.
Aku menahan tangis sebisa mungkin, karena aku pikir menangis bukanlah hal yang membuatku aku luluh dengan semua perkataanmu, aku bahkan sangat membenci pria itu, pria itu yang membuat ibu dan aku menjadi seperti ini.
"Apa yang terjadi disini?" berusaha aku mengalihkan keadaan.
Ibu membersihkan air matanya.
"Agil ibu akan memberitahukan kamu nanti ya nak, sekarang ibu tanya kami dari mana saja? ibu sangat menrindukan kamu dan kawatir agil"
Aku memutar bola mata, apa aku bisa percaya?
"Kami menjual tanah dan rumah ini" tiba-tiba pria itu datang mengalihkan pembicaraan.
Syok aku mendengar semua yang dilontarkan oleh pria itu, mataku melotot dengan susah payah aku menjual rumah ini, dan pria ini dengan entengnya menjualnya yang bahkan tidak ada hubungannya dengan semua ini.
"ANJ*NG kau!!!!!!!!!" aku menarik kerah pria itu.
"Seenak jidat kau berbicara seperti itu monyet??!!!"
Aku marah aku mengumpat habis-habisan di hadapan pria itu, bagaimana bisa dia ikut serta? ibu menghentikanku, dan memelukku. Ibu membawaku kedepan rumah dan menjelaskannya kepadaku.
"Iya ibu yang menyuruhnya, dia tidak ikut campur kok agil, ibu sudah bicara sama dia, uangnya akan ibu kasih ke kamu, karena ini semua punya kita" ucap ibu, dengan suara lembutnya.
Karena suara yang menenangkan, aku bisa terhanyut dan bisa melupakan emosiku dari pria itu.
"Kenapa ibu tidak bilang-bilang aku juga masih berusaha menjual rumah ini"
"Ibu kan tidak diberitahu kamu, kamu dimana"
Batinku kan bisa mengirim pesan.
"Terus kemana saja ibu kenapa gak menjenguk rumah ini?"
__ADS_1
"Kau tahu ya kalau ibu gak pernah dateng kesini?"
Aku mengangguk.
"Ibu merasa sakit datang kesini nak, karena pernah ibu datang sekali disini menunggu kamu, tapi kamu tak kunjung datang disitulah ibu merasa hati ibu sakit"
Matanya kembali berjatuhan dipipi.
Suasanya menjadi dingin, karena tempat yang basah sehambis hujan, angin berhembus, udara semakin terlihat samar-samar karena kabut, pohon-pohon bergerak mengikuti arus angin, dan sedikit demi sedikit menjatuhkan beberapa tetes air hujan.
Aku menghelan nafas panjang, "Aku juga butuh waktu untuk kembali"
"Kau dimana selama ini hemm? kenapa ibu sama sekali tidak tahu, bahkan ibu bertanya kepada ibu randi dan gilang mereka tidak memberitahu ibu"
"Aku sengaja menyuruh mereka diam dan tidak memberitahu ibu, seharusnya ibu paham lah, kenapa aku pergi"
Ibu mengagguk dan menunduk.
"Aku masih gak bisa nerima bu" ucapku.
"Kenapa gil, dia yang bisa melakukan apapun untuk kamu"
Ibu memeggang kedua pundakku, "Dia selalu menanyakan keadaanmu"
"STOP!" teriakku.
Aku menjelaskan aku tidak butuh dikasihani, yang aku inginkan adalah hidup tenang dengan kesendirianku, aku tidak bisa hidup bersama dengan ibu dan pria itu, aku bisa hidup sendiri tanpa bantuan pria itu, aku mengeluarkan semua perasaan yang sudah lama aku simpan dihadapan ibu, ibu menangis ibu memelukku, ibu berusaha menenangkan diriku, dan menjelaskan semuanya, tentang semua yang sudah lama ia pendam juga, ia memberitahu aku, semua kenapa ini terjadi.
Aku muak, aku berdiri dan meninggalkannya.
"Agil!!!!"
"Iya bu iya" aku berhenti dan menghadap ke arah ibu.
"Aku tidak benci atau marah dengan ibu, tapi untuk saat ini aku harus pergi" aku beranjak meninggalkanya, meninggalkanya seorang diri yang masih terisak menangis di tempat duduk depan rumah, rumah ibu, ayah dan aku, dulu.
Hari ini hari yang menyedihkan, bahkan aku tidak ingin menangis tapi akhirnya aku menangis juga.
Singkat cerita aku mendapatkan uang dari hasil menjual tanah belakang rumah dan rumahku, tapi satu kesepakatan aku harus tinggal dengan ibu, ibu mengatakan bahwa aku tidak bisa harus hidup dengan keluarga orang lain sedangkan aku masih punya keluarga.
Sempat terlintas untukku untuk tinggal dengan ibu, tapi rasanya aku juga sama seperti ibu menghianati ayah, rasannya aku disini tidak punya pilihan, tapi ibu mengatakan bahwa semuanya ia lakukan juga demi ayah, demi ayah?
Entahlah aku kemasukan setan atau apa akhirnya aku setuju untuk tinggal dengan ibu dirumah barunya bersama suaminya, aku bersumpah pada diriku sendiri aku tidak akan berbicara apapun dengan suami ibu dan anaknya, kecuali hal yang penting, ini adalah sumpah aku pada diriku.
Benar aku tidak harus hidup bergantungan dengan keluarga lain, aku punya ibu saat ini, sempat kecewa karena hal yang sebesar ini ibu rahasiakan, aku tidak bisa untuk berpikir seperti anak kecil yang labil, seharusnya aku bisa berpikir terbuka, ibu sangat senang aku bisa kembali di dekapan ibu, walaupun masih ada rasa sakit yang membekas dihati.
Aku hidup bersama ibu dan suami barunya bukan berarti aku melupakan ayah, aku selalu mengingatnya bersama ibu, ibu bahkan sering menceritakan kisah asmaranya ketika bertemu ayah untuk pertama kalinya dulu, seromantis itu mereka.
"Kau tidak mau tahu siapa sebenarnya ayahmu itu" ibu tersenyum.
"Aku sudah tahulah bu, dia adalah sosok ayah yang sederhana, pekerja keras, dan bijaksana kan, kan...." ucapku girang.
Ibu terdiam, lalu ia melanjutkan, "Maksutnya ayah barumu gil...."
Untuk kembali bersama ibu lagi ketika ada seseorang baru saja aku sudah sakit apa lagi aku harus mengetahui identitas orang baru itu, rasanya aku tidak ingin mengetahuinya, untuk berbicara saja aku tidak ingin, apalagi mengetahuinya
Ingin rasanya aku marah di hadapan ibu lagi, tapi hal semacam akan kembali ke masalah itu lagi, masalah dimana aku seperti menghianati kedua orang tuaku.
"Dia berkerja di project manager proyek, sudah 10 tahun lamanya ia bekerja gil, dan ia akan siap membiayai kuliah kamu"
Aku tersenyum kecut, apa seikhlas itu dia bisa membiayai anak tirinya?
"Kau harus berterima kasih padanya"
Aku hanya mengangguk, dan neranjak pergi dari ruang tamu, dengan langkah yang malas aku berhenti ketika seseorang tiba-tiba ada didepanku.
"Kau tidak mau main denganku?" Ucapnya.
Refa, anak pria itu.
__ADS_1
"Ada banyak game dikamarku, PS?"
Aku mengikutinya tidak ada salahnya kan? Benar ada banyak komputer dikamarnya, aku tahu game itu pasti sangat mahal, aku tidak henti-hentinya melongo kaget melihat apa yang ada didepanku.
"Kau bisa bermain sesuka hatiku, asal jangan pergi dari rumah ini, kau bisa ditembak" ucapnya.
"Pergi dari rumah?" Tanyaku bingung.
"Kan ini sudah menjadi rumahmu kan, akhirnya kau bisa menerimanya, walaupun banyak proses yang harus kau diskusikan dengan hatimu kan"
Haha, benar juga banyak proses yang harus aku olah lagi ketika aku akan tinggal disini, mempersiapkan hati untuk bisa menerima walaupun proses itu sangatlah lama, dimana pada hari itu hari dimana ibu memberitahuku, dan aku merasakan kehancuran luar biasa dalam hatiku.
Lama sekali aku harus bisa menerimanya, aku bersyukur aku bisa berpikir terbuka saat ini walaupun belum 100 % aku bisa mempelajari cara menerimanya, aku senang bisa bertemu ibu dan ibu bisa menjelaskan semua dan aku mulai sedikit mengerti.
Tapi untuk bisa menerima pria itu aku butuh waktu yang panjang, maaf. Disela-sela hariku yang membosankan, aku hanya merenung entahlah apa yang aku pikirkan, bahkan beberapa kali ibu membujukku untuk meneruskan pendidikan ku, kuliah, namun sepertinya aku harus butuh waktu karena aku selelah itu, ibu adalah tipe orang yang selalu tidak memaksakan keadaan ku, walaupun keadaan seperti apa, ibu selalu membiarkan ku dengan semestinya namun ada batasannya.
Singkatnya, sudah benerapa bulan ini aku bisa beradaptasi dikeluarga baruku, aku berbincang-bincang dan seketika aku bisa bangkit kembali, namun hal itu tidak membuatku melupakan ayah.
Aku bisa menerima pria itu, Pak burhan, em om Burhan. Dia memang baik kepadaku, tapi itu tidak membuatku luluh karena aku pikir tidak ada yang bisa menggantikan ayah.
"Mau libur satu tahun dulu ya gil?" ucapnya seraya menguyah makanan.
Aku hanya mengangguk, "Sepertinya memang agil butuh waktu, nanti dia akan melakukanya sendiri dengan giat kalau sudah merasa lebih baik"
Om burhan memberikan banyak sekali motivasi malam itu, justru motivasi itu membuatku mengantuk dan tak bisa masuk kedalam pikiran.
"Refa juga anak yang giat, aku pengen dia jadi dokter nantinya"
Malam itu ruangan diisi dengan gelak tawa ibu dan om burhan, aku hanya menunduk ingin cepat-cepat selesai makan dan pergi ke tempat tidur.
Pagi itu, sekitar pukul tiga pagi, ibu masuk kedalam kamarku, posisi aku masih memejamkan mata namun sebenarnya aku tidak bisa tidur, ibu mengelus kepalaku dan mencium keningku, aku masih memejamkan mata tak ingin membukanya.
Ibu berkata, "Jika suatu saat ibu meninggalkan agil, ibu berharap agil bisa berdamai dengan keadaan yang baru ini, seburuk apapun masa lalu, tapi bangunlah bersama yang baru, ibu tahu sulit sekali untuk menerima ini, tapi bagaimana? om burhan mengerti keadaan kita gil, warisan semuanya ibu serahkan untukmu, san om burhan tidak ikut campur tangan, kamu hanya akan bersenang-senang bersama mereka sekarang"
Aku bingung kenapa ibu berbicara seperti itu, setelah itu ibu berangkat kerja, aku mendengarkan suara mobil dibawah sana, ibu diantar oleh om burhan pagi itu.
Aku tidak begitu memikirkan perkataan ibu, karena selama ini ibu selalu melakukan hal itu disetiap harinya kepadaku, tapi hari itu sedikit mengganjal, entahlah batinku, berdoa saja yang terbaik.
Handphone ku berbunyi, tepat beberapa menit setelah ibu pergi dan mataku yang sudah mulai memejamkan mata, namun diganggu oleh suara dering handphone, karena aku gamers aku sering mendapatkan notifikasi telfon atau sms dari situs gamers online, itu merupakan hal yang wajar disetiap harinya karena pekerjaanku adalah menjual beberapa akun game-game.
Aku mematikan telfon itu dan kembali tidur, namun dering telfon itu terus berbunyi, akhirnya aku mengangkat telfon itu.
"Hallo ini dengan keluarga pak burhan?" suara laki-laki setengah terisak bertanya diseberang telfon.
Aku menjawab iya dengan suara serak.
"Maaf sebelumnya anda bisa kerumah sakit Rose colours, jakarta"
Aku bertanya mengapa, namun laki-laki itu hanya menjawab ada yang terjadi dengan pak burhan, aku sedikit tidak perduli dengan om burhan, namun tiba-tiba refa mendobrak pintu kamarku dengan keadaan yang berantakan, ia menangis.
"Ayah dan ibu!!!!"
Aku hanya melongo, "Kenapa mereka?"
Refa masih terisak, namun aku sudah mengerti maksutnya, aku beranjak dan berlari keluar, aku tidak peduli dengan penampilanku, aku berlari tanpa menggunakan kendaraan, pikiran dan hatiku kacau saat itu, aku terus berlari, aku tidak peduli dengan sekitarku.
Aku membuka kasar pintu rumah sakit, sudah ada banyak orang disana, aaku dihentikan oleh bapak-bapak, ia bertanya siapa aku, aku hiraukan, apakah disaat seperti ini bisa aku jawab?
Aku ditenangkan oleh bapak-bapak itu, "Tenang dek, orang tua kami sedang diperiksa, kamu bisa tunggu sini, duduk, dan minum dulu ini"
Pikiranku kacau, bahkan untuk tenang saja aku tidak bisa.
Dokter itu akhirnya keluar membuka pintu, "Keluarganya pak burhan?"
Tanpa basa-basi aku bertanya, "Ibu saya dok, bu retno dok"
Dokter mengisyaratkan aku agar duduk dan tenang, dengan entengnya dokter itu berkata, "Maaf saya sudah melakukan semaksimal mungkin tapi untuk ibu retno tidak bisa tertolong ada pendarahan hebat dibelakang kepalanya, saya sudah melakukan yang terbaik namun tuhan berkehendak lain, maafkan sayah dek"
Kalian tahu apa yang aku rasakan saat itu?
__ADS_1