
Gilang memukul gagang pintu kamarnya dengan keras, sudah beberapa minggu ini pikirannya kacau saat Lidra memperintahkan agar Gilang dikurung didalam kamarnya, sejak saat itu Gilang tidak bisa mempercayai siapapun, yang ia khawatirkan adalah tentang Randi, yang pergi entah kemana didalam kota Majestic.
Saat ia sangat khawatir tentang kepergian Randi yang tiba-tiba, banyak yang berusaha menenangkan dirinya, tentu Malucia, Silas, dan yang lainnya. Mereka yakin kepergian Randi ini hanyalah tentang mencari tahu jawaban, ketika suatu saat Randi menemukan jawaban, ia akan datang menemui Gilang, itu adalah kalimat yang selalu dilontarkan oleh orang-orang yang menjaga Gilang diistana Aleris.
Sejak saat itu Gilang mulai tenang, ia tidak mempunyai pikiran lagi untuk menyusul ke kota Majestic lagi, karena ia juga tahu Lidra akan menjemput Randi dan akan membawanya pulang.
Hingga suatu ketika Lidra datang kembali, Gilang sangat kecewa karena ia tidak membawa Randi pulang, yang dirasakan Gilang saat itu sangatlah emosional dan sedih yang luar biasa.
Bagaimana bisa? bagaimana bisa aku menjadi seperti ini? apakah peluangku untuk bisa datang ke kota Majestic sangatlah berat, hingga aku harus menunggu, menunggu sesuatu yang tidak akan muncul kembali.
"Tidak! aku tidak mengurungmu Lang...." rintih Lidra dibalik pintu seraya berbisik.
"Lalu apa? kau mengurungku hampir beberapa minggu disini!" pekik Gilang.
Lidra menundukan kepalanya, lalu dengan cepat ia membuka pintu kamar Gilang. Lidra bisa melihat wajah berantakan Gilang yang penuh air mata, dan mata hitam kurang tidur.
Lidra tak kuasa menatap wajah mengerikan Gilang. Gilang lalu memeggang dengan erat kedua pundak Lidra.
"Memangnya kenapa? kenapa? kenapa kau mengurungku? disini? Randi kemana...."
Lidra sangat prihatin dengan apa yang ia lihat didalam diri Gilang, hingga, Malucia datang.
"Lang...."
Gilang masih menatap tajam wajah Lidra. Tak lama Silas datang, ia lalu membawa Gilang untuk membersihkan tubuhnya. Lidra beranjak ia memangis duduk dibalkon istana tersebut.
"Sejak kapan, Gilang seperti itu...." rintih Lidra, ia tidak bisa menahan tangisannya.
Malucia masih berdiri, ia mendekat seraya melipat kedua tanganya didepan dada.
"Sejak Randi pergi, ia sering melamun dan menangis seorang diri, bukannya aku dan teman-teman yang lainnya tidak merawatnya, tapi apakah kau bisa langsung paham dengan mental seseorang, bahkan mereka yang mengendalikannya..." sahut Malucia.
"Aku menangis Dra, aku menangis sepanjang malam, rasa bersalahku kembali lagi, aku merasakan kesedihan lagi yang luar biasa, ketika aku menatap Gilang, aku sangat tahu tatapannya kosong! apakah memang benar Aleris memperintahkan seperti itu!" pekik Malucia.
Lidra hanya diam, ia menundukan kepalanya.
"Dengar, kau tahu sifat Randi bagaimana bukan? ia membuat masalah besar dikota Majestic!"
Malucia tersentak, ia sangat kaget.
"Apa?"
Lidra berdiri dan menatap Malucia.
"Dia menyebar isu, tentang raja Gevarnest, karena hal itu tidak membuatnya berhasil mencari jawaban, ia ingin tetap tinggal disana sementara waktu, tanpa ada yang menganggu, tuan Aleris memperintahkan aku untuk menjaga Gilang disini, saat aku datang Gilang menjadi seperti itu..."
"Aku mengajaknya pergi beberapa kali, namun ia sering hilang ia mengatakan jika ia ingin pergi ke kota Majestic, namun untungnya aku bisa menemukannya, aku bisa saja membawanya kesana, tapi saat aku mengirim surat ke Aleris ia tidak ada jawaban dan tidak membalas..."
"Iya!" sahut Ace.
Lidra dan Malucia sontak menatap Ace yang baru datang.
"Karena Gilang berubah, suatu hari aku dan beberapa yang lainnya akan menuju ke kota Majestic, namun saaat ekor elang kami terbang sesuatu terjadi, monster Naga Hitam datang menyerang kami, tapi untungnya kami tidak apa-apa..."
Lidra yang mendengarkan hal itu sontak kaget.
__ADS_1
"Dimana? kenapa saat aku kembali kesini? aku tidak menjumpainya?"
Ace melirik kearah Malucia, Malucia mengangguk seperti mengisyaratkan agar Ace bercerita. Ace mendekat.
"Aku kembali pada saat itu, tapi tetap akan memantau pergerakan monster itu, aku kembali terbang dengan seekor elangku, aku sempat ada diudara kota Majestic dan melihat seekor Naga Hitam, hinggap di menara kerajaan Majestic, aku sempat ragu ingin mengatakan langsung kepada orang kerajaan, atau Tuan Aleris, namun kembali lagi, seperti tahun-tahun sebelumnya, ucapanku tidak akan ada artinya, aku kembali kesini, dan akhirnya kau datang..."
Lidra masih membuka mulutnya dengan lebar, ia tidak percaya dengan apa yang Ace ceritakan.
"Jadi maksudmu? Naga Hitam itu..?"
Malucia menyahut, "Yah! mana mungkin Ace berbohong?"
"Kenapa? kenapa menjadi seperti ini?"
Malucia menyentuh dahinya, ia rasa semuanya akan menjadi madalah yang sangat besar.
Gilang melepaskan genggaman Silas, "Kau pikir aku gila?" sahutnya.
"Hingga kalian mengurungku seperti itu.."
Silas menghelan nafasnya.
"Apa sih yang bikin kalian jahat begini? bukankah sangat mudah untuk jalan begitu saja ke kota Majestic dan membawa Randi kembali.."
"Kalian sadar gak sih kalian dijadikan budak oleh Aleris?"
Mendengarkan kalimat yang keluar dari mulut Gilang, Silas pun tidak terima dengan ucapan Gilang, ia lalu memukul wajah Gilang dengan spontan.
"Kau tahu apa?" sahut Silas.
Gilang yang tersungkur seraya memeggangi pipinya yang merah, ia tersenyum sinis.
Setelah insiden tersebut, Silas tak ingin menimpukan masalah semakin menumpuk, ia lalu menemani Gilang membersihkan diri, hingga pada akhirnya Silas meminta maaf soal perkara ia memukul wajah Gilang.
"Aku sadar aku begini, aku sadar kok...." sahut Gilang.
Dimana perkataan itu membuat Silas terkejut.
"Mungkin kalian kira aku gila, atau apalah..." lanjut Gilang.
Silas menghentikan langkahnya, membuat Gilang menoleh kebelakang.
"Kenapa?"
"Tidak aku hanya, berpikir itu adalah suatu penyakit..."
Gilang mengangguk, "Penyakit mental? ya benar, rasanya emosi yang berlebihan, aku sadar aku gila tapi saat emosi itu mengerubung kedalam jiwa ku rasanya tidak bisa dihentikan..." ucap Gilang.
Malam itu, setelah semuanya berakhir menenangkan, Malucia duduk sendiri disebuah kursi taman, ia kembali menyendiri lagi dan merasakan rasa bersalah setelah sekian lama ia bisa berdamai.
"Apakah semua ini bermulai gara-gara aku? aku kehilangan semuanya, setelah aku berusaha untuk tidak gila setelah aku kehilangan Agil, tapi pada kenyataannya satu persatu, semuanya telah pergi, bagaimana aku bisa berpikir jika seperti ini..."
Saat matanya terpejam, rasa tenang tak bisa ia kendalikan lagi, Malucia lalu membuka matanya, namun ekor matanya meliht kearah timur, saat beberapa lampu obor terang didalam hutan, seperti sesuatu akan datang.
Dan benar seperti pasukan yang berjalan menuju kearah istana, mereka menunggangi kuda, dengan serentak dan ramai, Malucia berdiri mencoba untuk memberitahu orang-orang didalam istana, namun Lidra datang dan menghadang Malucia.
__ADS_1
Malucia terlihat bingung dengan tingkah Lidra.
"Mereka pasukan Majestic, raja Gevarnest dan tuam Varegar datang membawa prajuritnya kesini..." bisik Lidra.
Malucia menoleh kearah pasukan yang beberapa detik lagi sampai dihadapan mereka, Malucia terbelalak.
"Kenapa? kenapa mereka kesini?"
Malucia dan Lidra hanya bisa saling menatap.
Raja Gevarnest memerintahkan semua pasukan berhenti saat mereka telah sampai didepan gerbang istana Aleris, senyumnya terus mengembang saat mata raja tak henti-henti melihat istana Aleris.
"Tangkap semua!" pekik raja.
Semua prajurit turun dari punggung kuda dan segera menggrebek masuk kedalam istana, Varegar kemudia turun dan mendekat kearah Malucia dan Lidra yang masih menundukan kepalanya.
"Senangnya bisa berkunjung keistana Aleris..."
"Tuan? apakah Aleris mengetahui ini?" sahut Malucia.
Varegar menatap Raja Gevar, lalu raja mendekat.
"Iya, tenang saja.. ini juga perintah Aleris membawa kalian!"
"Tapi kenapa membawa kita dengan paksaan tuan, kami bisa sendiri!" sahut Malucia.
Malucia dan Lidra lalu, disekap hingga mereka tak sadarkan diri. Semua para peri yang ada didalam istana, ditangkap dan dikat erat dikedua tangannya, tentu Silas, Ace, dan yang lainya memberontak namun mereka pada akhrinya kalah.
Gilang yang terbangun karena ada suara riuh, lalu mendekat kearah pintu ia tidak berani untuk membuka pintu, karena suara riuh itu seperti suara penculikan, dimana ia kembali teringat saat dirinya, Randi, dan Agil dibawa dibawah goa.
Raja Gevarnest, tersenyum saat semuanya telah ditangkap dan diikat dengan erat, raja memerintahkan agar mereka dimasukan kedalam kereta kuda yang sudah disiapkan.
Varegar masuk kedalam istana, memastikan tidak ada orang-orang yang tersisa, hingga ia berhenti disebuah tempat latihan.
"Tempat latihan yang sangat kotor..." gumamnya.
Varegar berjalan kearah koridor, hingga ia berhenti didepan pintu yang masih tertutup. Salah satu prajurit itu lalu dengan sigap akan membuka pintu namun Varegar menepis.
"Biarkan aku saja yang membuka...."
Varegar membuka pintu tersebut, dan.....
"Siapa kau!" teriak Gilang.
Varegar tertawa, "Teman baru Aleris sangat banyak juga ya.."
Gilang tersungkur, ia berusaha untuk menghindar namun Varegar dengan cepat menangkap Gilang, ia mencubit kedua pipi Gilang dengan telapak tanganya.
"Dengar, kau ingin bertemu dengan Randi bukan?" bisik Varegar.
Gilang menoleh.
"Jika ingin bertemu kau harus ikut aku...." lanjut Varegar.
Ia melepaskannya, dan berdiri ia menyuruh prajurit itu untuk mengikat kedua tanganya.
__ADS_1
"Dan kalau bisa buat dia pingsan juga...."
Gilang masih terdiam, hingga prajurit itu menyekap dirinya hingga tak sadarkan diri.