
Saat Aleris ingin mengeluarkan sepatah kata, matanya melihat lurus kejendela depan, ia melihat ketiga orang yang berlari dan saling menghindari dibawah kaki para raksasa yang berjalan diatas mereka. Aleris terbelalak saat penglihatannya mulai jelas siapa ketiga orang yang berlari mendekat.
"Agil!" Aleris berteriak.
Semua orang terkejut dan langsung melihat siapa yang datang, saat semuanya meneriaki Agil, Zero tersebut lalu melangkah mundur kebelakang saat ia mendapatkan kesempatan untuk kabur, karena disituasi seperti ini ia tidak bisa diam menyusun rencana, tugasnya hanya membasmi para monster ini seperti pada tugasnya saat mengabdi negeri. Vin tersadar saat Zero yang berada dibelakangnya sudah tidak ada, ia berjalan cepat menuju pintu dan melihat Zero itu sudah berlari jauh dari sini.
Aleris dan yang lainnya lalu keluar dari rumah tersebut untuk membantu Agil dan yang lain. Mereka semua kaget saat para raksasa itu sudah semakin dekat dengan kerajaan, walaupun jalannya sangat lamban.
Agil, Fay, dan Gilang berlari seraya menghindari para kaki besar raksasa tersebut, hingga mereka sampai dirumah Aleris dan yang lain berada.
"Gil, kau tidak apa-apa? Lang!" ucap Aleris.
"Ris? dimana Arvand?" ucap Fay dengan nafasnya yang terengah-engah.
Aleris terdiam, hingga Argus menyuruh mereka untuk masuk kedalam rumah karena situasi yang sudah semakin buruk. Agil duduk dekat jendela bersama dengan Kai, masih mengatur nafasnya, Kai mengajak bicara.
"Gil, Timandra sudah tiada..."
Agil terbelalak, "Kau jangan bohong Kai, dimana dia sekarang?"
"Tea dan Pangeran Arvand sedang menuju kemari membawa Timandra..." ucap Kai.
Agil memejamkan matanya seraya menunduk, "Aku tidak percaya jika aku belum melihat jasadnya Kai!" teriak Agil seraya berdiri.
Bahkan semua orang yang berada ditempat itu terkejut dengan teriakan Agil. Argus mendekat.
"Gil, tenangkan dirimu... sepertinya ini bukan saatnya.." ucap Argus.
Silas tiba-tiba menyahut, "Sepertinya kita harus menyusul rencana lagi dan lagi, tidak waktunya terdiam dan menangis!"
Mahagaskar yang tiba-tiba terbangun, dan batuk tersedak ia bangun dengan kaget, Leon dan Aleris cepat-cepat mendekat.
"Paman!"
"Kau tidak apa-apa?" ucap Aleris mendekat.
Malucia yang mencari botol air disekelilingnya, ekor matanya melihat sebuah kendi air, ia berjalan mendekat dan mengangkat kendi tersebut, dan benar saja kendi itu terlihat berat dan isi air yang lumayan cukup.
"Tuan, ini..." Malucia menyodorkan kendi tersebut.
Aleris menyahut dan memberikan kendo itu kepada Mahagaskar. Setelah menengguk kendi tersebut, Mahagaskar berdiri.
"Aku memiliki rencana dari sekian banyak rencana yang aku buat, dan aku ini sedikit yakin..."
__ADS_1
"Tuan? apa yang ingin kau katakan itu?" ucap Silas.
Ia berdiri seraya dengan lengannya masih diperban.
"Jadi jika kita menyerang para monster ini, sebenarnya kita juga sama saja dengan sang raja, bukankah musuh kita yang sebenarnya adalah sang raja? tentu kita harus fokus dengan menyerang sang raja."
"Apakah kau tidak diajarkan etika kemanusiaan? pertama tentu kita harus menyerang para monster ini teelebih dahulu, memang mereka fokus menyerang sang raja dan kerajaan, tapi Auvamor tidak bisa berhenti disitu saja, ia juga akan menyerang dan menghancurkan kota Majestic!"
"Lihatlah bukan para raksasa mulai mendekat kekerajaan, maka drakula itu akan muncul..."
Aleris menyahut dan meemotong pembicaraan Mahagaskar.
"Dan para raksasa yang berjalan lambat ini mereka memiliki titik kelemahan ditelapak kaki, dan mereka juga memiliki tenaga yang pendek, seperti awal-awal kita menyerang mungkin deengan serangan yang bertubi-tubi bisa membuat mereka terbunuh...!" ucap Aleris.
"Lanjut paman...." sambung Aleris.
"Lihat para zero yang datang? mereka juga masih berupaya menyerang para monster, tentu kelelawar yang susah mati tersebut, tujuan kalian hanyalah masuk kedalam kerajaan dan menghentikan sang raja, aku sangat yakin dengan adanya kek'uatan dari kalian sang raja bisa dihentikan, dan tentu soal Matrix, Matrix yang masih dikerjakan oleh sang raja, hancurkan itu!"
"Jadi? tuan menyuruh kami semua datang kekerajaan? apakah aman? kalian semua juga diserang habisan-habisan bukan?" sahut Argus.
Agil hanya terdiam bahkan ia tidak bisa berpikir jernih lagi setelah mendapatkan kabar kurang mengenakan.
"Karena para prajurit yang berada digerbang kerajaan tetap akan menyerang raksasa yang sudah mendekat, hal itu semakin membuat titik terang, aku akan memancing monster drakula itu dan kalian masuk kedalam kerajaan!"
Aleris juga menyahut jika ia harus menemani Mahagaskar.
"Tidak! aku harus sendiri! jika ada yang ikut dengan aku, akan ku bunuh kalian!"
"Apa-apaan paman? apa yang kau katakan?" ucap Aleris.
Mahagaskar hanya menepuk pundak Aleris, lalu ia memerintahkan semua orang yang berada diruangan itu untuk bersiap-siap.
"Tunggu tuan? kau mengharapkan sesuatu dari kami?" sahut Agil tiba-tiba.
Agil mendekat, "Bagaimana jika salah satu dari kami juga gagal dan mati karena rencanamu itu? kau menyuruh kami menghentikan sang raja? bagaimana itu akan terjadi?"
"Lalu kau memiliki rencana lain? lalu kau bisa menghentikannya dengan cara lain aku tidak masalah, bahkan aku bisa menyuruh kalian menghentikan sang raja dengan cara membunuhnya!" ucap Mahagaskar.
Aleris menyentuh tangan Mahagaskar saat mendengar ucapan Majagasakar.
"Aku tidak masalah kalian mempunyai pilihan lagi, tapi situasi yang seperti ini apa yang harus kita lakukan selain terus menyerang sang raja sampai berhenti..."
Mahagaskar menoleh kearah Aleris dan berbisik.
__ADS_1
"Jika memang tidak bisa dihentikan lagi, bunuh saja!"
"Tidak! aku pasti bisa menghentikannya tanpa membunuhnya..."
Aleris menunduk, "Aku tidak ingin membunuhnya, seperti kata Bravogar, sang raja memang bisa dihentikan olehku, tanpa harus membunuhnya"
"Lalu kau? sampai saat ini bisa menghentikannya? kau ini kenapa sih? dia hanya penganggu saja, basmi dia!"
Tak butuh waktu lama akhirnya setelah bersiap-siap, mengasah tenaga dan senjata yang sudah cukup memungkinkan, mereka mulai beranjak pergi menuju kerajaan. Mahagaskar yang memimpi perjalanan mereka.
"Cepat!!! cepat!!!"
Mahagaskar karena sibuk memimpin perjalanan, ia juga harus menjaga semua orang yang berada didepannya, Leon yang melihat Mahagaskar dibelakang ia mendekat.
"Paman, ayo!"
"Aku sudah bilang bukan? aku harus berpisah disana!"
"Tapi ayo jangan dibelakang sendirian..."
Leon lalu melangkah dengan pelan seraya menunggu Mahagaskar, Mahagaskar tiba-tiba merasakan sesat didada, ia batuk sedikit dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, saat ia membuka ada noda darah yang keluar dari mulutnya, Leon yang terus memanggil Mahagaskar menyadarkannya, ia menyembunyikan noda darah tersebut.
Aleris berhenti saat berada dipertigaan jalan, ia menoleh kearah belakang.
"Paman!"
Leon seraya Mahagaskar berlari kearah depan.
"Aku akan berpisah disini, lihat para raksasa itu dia kearah kiri aku akan pergi kesana..."
Aleris tiba-tiba memeluk Mahagaskar, dan berbisik, "Aku tahu kau akan selamat, kau selama ini mengajari aku berbagai macam kekuatan, jadi aku yakin aku akan selamat, janji kepadaku kau akan menyusul kekerajaan saat aku berhasil menemukan Matrix itu, tunggu kau tahu tentang Matrix itu? apakah aku memberitahumu?"
Mahagaskar tersenyum, "Saat aku pingsan aku didatangi ayahmu, dia mengatakan segalanya tentang rahasia Gevarnest..."
Leon yang mendengar itu, terbelalak.
"Paman? sungguh?"
Mahagaskar menundukan kepalanya, "Sudahlah tidak ada waktu banyak, sampai ketemu disana!"
Mahagaskar beranjak lali meninggalkan mereka, Aleris yang masih terdiam menatap tubuh Mahagaskar yang semakin dimakan asap dan hilang.
Agil menepuk pundak Aleris, "Ayo!"
__ADS_1