Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Penolakan


__ADS_3

Kepala pangeran Arvand bersender disebuah tiang lampu dijembatan kerajaan seraya ia duduk, kedua kakinya memainkan air dibawah jembatan, sebuah kolam ikan yang bersih dan jernih.


Ia ingin menangis, namun rasanya percuma, apakah ketika ia menangis semuanya berubah seperti semula? Semuanya menjadi semakin rumit saja.


Tidak seperti biasanya memang Arvand duduk disekitar sini didepan gerbang kerajaan, mungkin bisa dihitung beberapa kali ia duduk dijembatan ini, bahkan ketika ia kelaur dari gerbang kerajaan untuk duduk dijembatan, sempat para prajurit tidak membolehkan pangeran duduk sembarangan. Arvand tepis karena semua orang sama saja, tidak dia, seorang pangeran, raja, atau pun orang penting dikerajaan sekali pun.


Ia memejamkan matanya, kehadirannya saat rapat itu membuatnya banyak pikiran, ingin percaya atau tidak jika adiknya itu adalah seorang iblis. Apa yang dilakukan ibunya hingga ia pantas mendapatkan seperti itu.


Gara-gara bayi itu, bahkan ratu Carlota harus menderita, tentang kedua kakinya yang lumpuh total. Arvand tidak bisa menerimanya ia harus mencari tahu apa yang terjadi.


"Apakah aku harus ke teluk alaska?.." gumamnya.


"Jangan!" sahut seseorang yang tiba-tiba datang dan duduk disampinh Arvand.


Arvand menoleh, "Kau?" Ucapnya malas.


"Jangan sembarangan kau ingin pergi kesana, bodoh" ucap Fay.


Seorang wanita yang pintar melakukan hal yang berkaitan dengan kesehatan, selama bertahun-tahun ia harus mengabdi disebuah desa, sampai mungkin ia lupa memiliki tempat disini, dan seorang kakak.


Wajahnya bahkan masih terlihat seperti dulu, cantik. Seperti Ariana Grande atau? Karena kulit sawo dan rambutnya yang diikat seperti kucir kuda membuat seperti Ariana Grande.


"Aku tahu, bahkan Leon mendapatkan banyak luka setelah pulang dari sana"


Fay terdiam, ia menunduk.


"Aku ragu ingin mengatakan ini, tapi..."


Arvand menoleh, "Katakan saja...."


"Tadi saat aku memeriksa ratu aku tidak melihat adanya hal lain selain kelumpuhan..."


"Apa?"


"Rahim ratu rusak, aku harus segera mengangkatnya"


Arvand terbelalak ia spontan berdiri, Fay mengikuti Arvand berdiri.


"Rusak?"


Fay mengangguk.


"Yang benar fay?"


"Aku sangat sedih ketika memeriksa tubuh ratu, yang sangat seperti kekurangan gizi, pertumbuhannya sangat lemah bahkan seiring berjalannya waktu ratu akan semakin lemas"


Arvand meremas rambut kepalanya, ia berteriak, lalu ia beranjak pergi menuju kekamar ratu, diikuti Fay.


Arvand membuka pintu, sudah ada ayahnya disana sedang memeluk istrinya, Arvand melirik bayi yang berada dikeranjang bayi, rasanya ingin ia bunuh.


"Tidak, jangan..." pekik raja, sepertinya ia memperhatikan Arvand.


Ratu Carlota tersenyum saat melihat Arvand datang.


"Kenapa kau masih bisa tersenyum disituasi seperti ini..." gumam Arvand.


Ratu Carlota ingin memeggang tangan Arvand, kemudia Arvand duduk disamping ayahnya.


"Bahkan disituasi seperti ini saja kau masih terlihat tampan" ucap ratu Carlota.


Fay tersenyum melihat mereka didepan matanya, ia bersadar diambang pintu.


"Kenapa bunda seperti ini? Ini gara-gara bayi itu, aku tidak akan mengampuninya!!!" teriak Arvand.


"Jangan, jangan seperti itu......" ucap ratu dengan lirih.


Arvand melirik ayahnya, berpikir pikiran Arvand sama dengan raja, bagaimana rencana ayahnya yang sudah memutuskan untuk membunuhbayi ini?


"Aku sudah sangat sakit, kalian pergi lah..."


Sepertinya sudah saatnya untuk mengangkat rahim ratu. Arvand dan raja pun beranjak pergi.


"Beritahu aku jika terjadi sesuatu..." bisik Arvand kepada Fay.


Ditangga istana, Arvand memberhentikan langkah ayahnya.


"Apa rencana ayah? ayah sudah memberikan keputusan bukan?" gumam Arvand.


"Aku juga ingin melakukannya, tapi...."


"Apa!! kenapa kau selalu ragu?"


"Karena kau belum pernah merasakan jadi seorang ayah!" pekik raja seraya pergi meninggalkan Arvand.


Hari ini adalah hari yang begitu berat untuk raja, ia sangat yakin saat rapat untuk membunuh anaknya, tapi ketika ia menatap istrinya yang masih tergeletak ditempat tidur, rasanya bagaimana bisa seorang ayah membunuh anaknya.


Ini sudah menjadi masalah besar, dimana anak yang dilahirkan istrinya adalah seorang iblis, raja sudah menyakini memang bayi tersebut adalah iblis, yang dikatakan dukun Sian memang benar adanya.


Setelah proses pengangkatan rahim tersebut yang berjalan sekitar dua jam, Fay bisa seyakin itu walaupun tubuh ratu yang semakin melemah, tapi Fay yakin tubuh ratu bisa menerimanya.


Fay turun dari tangga, keberadaanya sudah membuat banyak orang menunggu kehadirannya.

__ADS_1


"Kak ada apa?" ucap Fay.


"Ya kita harus tahu tentang keadaan ratu, jadi bagaimana?" jawab Varegar.


"Aku yakin setelah proses ini, ratu akan kembali normal.." sahut Fay.


"Kenapa Fay?" tanya Leon.


"Tumbuh ratu semakin hari semakin melemah seperti kekurangan gizi, aku tak henti-hentinya memberikan vitamin untuknya, semoga habis ini dia akan sehat kembali.." ucapnya.


Lalu Fay pamit pergi, Fay tidak sadar jika Varegar mengikutinya.


"Kau tidak akan kembali ketempat itu kan? kau akan tinggal disini lagi?" sahut Varegar.


"Entahlah, sepertinya masih banyak orang-orang yang membutuhkanku disana"


"Disini juga ada banyak yang membutuhkanmu"


Langkah Fay berhenti, ia menatap Varegar.


"Siapa yang akan aku andalkan disini?"


"Siapa?" tanya Varegar.


"Ada aku, aku kakakmu bodoh" lanjut Varegar.


"Kaumasih dibutuhkan disini, raja khawatir jika ada yang terjadi tiba-tiba dengan ratu, sekarang raja menolak untuk mencari dukun, ia sudah tidak percaya"


Fay memutar bola matanya.


"Ada Arvand, ia mengandalakanmu selama ini..."


Fay menatap Varegar, "Kak, sekarang bukan waktunya berbincang-bincang, aku sudah lelah waktunya untuk mengistirahatkan badanku" ucap Fay beranjak pergi.


Mahagaskar duduk termenung dimeja makannya, ia menatap masakan dipiring dengan tatapan kosong.


"Ada apa paman?" ucap Leon yang tiba-tiba datang membawa nampan berisi daging yang sudah disiram tepung siap untuk dimasak.


Hari ini, mereka akan membuat makanan spesial untuk sang ratu, memang bukan perintah sang ratu atau sang raja, namun mahagaskar selalu melakukan hal ini jika sesuatu dengan terjadi dikerajaan berharap ratu atau sang raja tidak terlalu memikirkan tentang masalah yang datang.


"Memikirkan saja, tentang yang dikatakan dukun itu, aku percaya karena saat aku menatap bayi itu, rasanya tubuhku ingin terlempar..."


Leon terbelalak, ia langsung duduk didepan Mahagaskar.


"Sungguh?"


Mahagaskar mengangguk, "Dukun itu apa mungkin salah? ketika aku melihat mereka melakukannya saja seperti mantra kuno yang aku kenal waktu aku kecil, secara mungkin mereka juga memang tahu dan memang benar merasakanya..."


Mahagaskar memalingkan muka, "Aku kenal dengan raja, ia selalu bersikap ragu, dan ia bisa saja membatalkan keputusannya, mengurungkan niat membunuh bayi itu..."


"Kenapa iblis ini berani sampai dimasalah yang besar ini?" tanya Leon.


"Hal itu yang membuatku yakin, jika memang benar suku itu ada kaitanya, logika saja kenapa para iblis itu melakukan hal keji kepada kota Majestic? mereka tidak ada kaitanya dengan kita"


"Dari dulu aku setuju memang dengan hal ini, tapi kita tidak bisa untuk terus fokus kepada hal ini jika tidak ada perintah raja"


Memasak bukanlah sesuatu yang asing bagi mereka, bahkan setiap kali mereka menolak untuk di masakan kepada para selir, mereka sering memutuskan untuk memasakan makanan mereka sendiri, dikarenakan mereka juga suka melakukan hal seperti ini, walaupaun mereka tidak yakin dengan rasanya.


Sudah hampir beberapa jam mempersiapkan makanan ratu, berharap tidak ada hal yang mengerikan lagi disini karena kali ini yang mempersiapkan memasak adalah Mahagaskar dan Leon, mereka membawa nampan seraya menaiki tangga.


Mereka membuka pintu, "Selamat pagi, ratuu.." ucap Mahagaskar dan Leon bersamaan.


Sudah ada raja Gevar yang duduk disamping istrinya, dan ratu Carlota yang duduk menyender ditempat tidurnya, seraya menyusui bayinya.


"Emmm raja?" ucap Mahagaskar.


Raja mengisyaratkan untuk membicarakan nanti, ia mengangguk, ia tahu apa yang ditanyakan Mahagaskar.


"Kenapa kalian? aku sudah menyusui anakku beberapa kali kok..." Sahut ratu.


Leon dan Mahagaskar saling bertatapan muka, namun segera Mahagaskar menyodorkan nampan yang berisi sup daging dan air minum.


Raja langsung menyuruh Mahagaskar keluar.


"Gaskar..." ucap raja seraya menutup pintu.


"Ya tuan?"


"Aku sudah membicarakan ini dengan Fay, apakah nantinya istriku bisa menyusui bayinya, karena seperti yang aku lihat, tubuh ratu semakin melemah aku takut terjadi sesuai karena menyusui itu, tapi ternyata tidak ada kendala...."


"Bagaimana Fay tahu tuan? bukankah dia hanya seorang dokter saja?"


Raja menghelan nafas, "Setelah ia merampas semua tubuh istriku, hingga kakinya lumpuh dan rahimnya rusak, bayi itu tidak mengeluarkan kejadian aneh lagi, aku bisa merasakannya, kau percaya padaku..."


Mahagaskar tidak bisa menjawab apapun, ia hanya mengangguk lalu mengikuti raja masuk kedalam kamar, setelah tiga hari akhrinya ratu mulai kembali normal, ia bisa nafsu makan setelah ia merasakan tubuhnya yang lemas.


"Berkat Fay, aku jadi lebih sehat lagi, aku berharap ia akan tinggal disini lebih lama..."


Leon tersenyum, "Tidak usah khawatir ratu, pasti Fay akan tinggal disini lebih lama lagi, bukankah ini tempat tinggal yang asli?"


Raja Gevar tidak henti-hentinya mencium kening istrinya. Mahagaskar menatap bayi itu, memang tidak ada hal yang mencurigakan atau janggal saat ia menatap bayi itu, bahkan Mahagaskar mengakui jika bayi itu seperti pangeran Arvand yang tampan, dan lucu.

__ADS_1


"Ratu kau ingin menamai siapa bayimu?" sahut Mahagaskar.


Ratu Carlota terseyum, "Masih rahasia..." ledeknya, diikuti tawa semua orang diruangan.


"Kenapa tidak akan yang membahas soal ucapara kelahiran anakku?" sahutnya.


Leon dan Mahagaskar menatap sangar raja dengan raut wajah khawatir.


"Kenapa sayang?" tanya ratu.


"Karena hal gila ini kalian jadi tidak akan merayakannya?"


"Aku sadar, semuanya aneh aku sadar, apakah selama ini aku diam karena aku tidak tahu apa-apa? kalian bahkan tidak tahu sebab kenapa aku lumpuh, memang efek samping dari melahirkan, tapi aku juga mendapatkan cidera luar biasa dari saat tubuhku terlempar dan mengenai lemari! aku juga sadar kenapa dukun itu mati, aku sadar aku merasakannya saat proses melahirkan butuh banyak mantra yang tidak aku ketahui! tapi ini adalah kelahiran yang aku tunggu-tunggu!!! apa kalian tega tidak merayakannya. Aku pernah keguguran waktu itu! aku sangat merasakan hari-hari yang berat! tapi aku berjanji kepada diriku sendiri jika aku mendapatkan anak lagi, aku tidak akan menyia-yiakan anakku!!!" teriak ratu.


Suasanya menjadi tegang saat ratu sudah mengeluarkan emosinya yang sudah sangat lama ia pendam, bahkan ratu sudah sangat sadar ada sesuatu yang terjadi kepada bayinya, namun rasa cintanya itu yang membuat hal mengerikan terjadi terkubur.


"Pergi semuanya!!!!!!" teriak ratu.


Raja Gevar menenangkan ratu, ia berusaha memeluk tubuh ratu, namun ratu menepisnya.


"Anakku sedang tidur, aku tidak mau menganggunya!!!!"


Raja Gevar lalu memperintahkan Mahagaskar dan Leon untuk pergi dari kamarnya, begitu pun raja.


Raja memberhentikan langkah Mahagaskar dan Leon saat menuruni tangga.


"Lihat? kalian lihat? apa yang harus aku lakukan? keputusan utu sudah sangat bulat, dan aku juga tidak bisa..." raja menundukan kepala.


Leon menyentuh pundak raja, "Maaf sebelumnya tuan, kami juga merasa memang harus membunuh bayimu, tapi melihat ratu Carlota yang seperti itu...." ucapan leon terpotong.


"Argh!!!" pekik raja.


"Tidak, tidak bisaaa aku tidak bisa melihat istriku menderitaaa"


Hal itu tentunya membuat bingung semua orang dikerajaan, begitupun sang raja, setelah ia menundukan kepalanya lama, ia mendongak menatap Leon dan Mahagaskar.


"Aku tidak bisa memperintahkan semua orang untuk datang keteluk alaska, bahkan kita masih sangat samar tentang masalah ini...." ucap raja.


"Sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda mengerikan yang keluar dari bayiku, jadi kuputuskan untuk merayakan upacara hari lahir anakku aku akan mengadakan pesta besar-besaran" ucap raja.


Tentu hal itu membuat Leon dan Mahagaskar tersentak dengan kaget, bukankah akan lebih membahayakan situasinya.


"Karena tidak ada yang terjadi dengan bayi itu sampai dengan saat ini, aku yakin saat pesta pun tidak akan ada yang terjadi sesuatu..." ucap raja seraya beranjak pergi.


Leon dan Mahagaskar masih bengong ditangga, mereka saling menatap bergantian.


"Apakah raja tidak memikirkan dengan situasinya saat ini?" ucap Leon.


"Aku pikir, ia melakukan hal ini karena ia tahu situasi nantinya akan bagaimana, kuta saja tahu, apa lagi raja?" sahut Mahagaskar.


"Tapi jika ia tahu, kenapa malah raja melakukan ini?"


"Kau baru saja mendengarkan ratu Carlota katakan? ia bisa melakukan suatu hal kepada kita jika tidak patuh"


Leon memutar bola matanya, "Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa" gumam Leon.


Mahagaskar lalu beranjak meninggalkan Leon begitu saja.


"Kau gila!!!!" pekik Varegar diambang pintu.


"Ah maafkan aku..." lanjut Varegar seraya menundukan kepalanya.


"Kau tidak bisa mencari jalan keluar, jadi kuputuskan acara ini memang harus dirayakan" gumam raja.


Varegar memeggang kepalanya dengan kedua tanganya, tidak habis pikir apa yang direncanakan oleh sang raja, setelah ia ragu membunuh bayi itu kali ini ia merencanakan hal gila.


"Kau tahu, ia juga anakku bodoh.." pekik sang raja.


"Tapi aku harap, setelah merayakannya, kau bisa yakin dengan keputusanmu soal membunuh bayi itu, bahkan pangeran Arvand menyetujuinya"


"Kau belum pernah menjadi seorang ayah?" sahut raja, membuat Varegar terdiam.


"Kau akan tahu jika kau sudah menjadi seorang ayah...." gumam raja.


"Tapi...." ucap Varegar.


"Aku tahu! semuanya terjadi begitu saja, siapa yang tahu akan seperti ini? bahkan aku sendiri sedang merancang sesuatu, kau tahu bukan?"


"Bukan saatnya untuk mengeluarkan itu tuan, bukankah masih ada tahap selanjutnya untuk menyelesaikannya?"


Raja Gevar mengangguk, "Tapi tidak pernah aku sadari akan secepat ini, kau siap?"


Varegar menyahut dengan cepat, "Tidak, aku belum siap melakukannya"


Raja Gevar tertawa, "Bodoh! anak itu juga belum kembali kesini! jadi mana bisa aku menggunakannya!"


Varegar menyentuh dadanya lega, ia sangat khawatir, hal yang selama ini tidak ia lihat, akan ia gunakan. Bukankah hal itu sangat mengerikan?


"Sampai kapan kita akan menunggu?" tanya Varegar.


"Bahkan sudah beberapa tahun lamanya ya? aku pernah menggunakannya, tapi sepertinya aku butuh waktu lagi untuk menjadikan lebih canggih lagi hingga sampai detik ini..."

__ADS_1


Deg, jatung Varegar bergetar, semakin penasaraan seperti apa alat ini, apakah yang ia lihat dulu sekali berbeda dengan yang sekarang?


__ADS_2