Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Serangan mengerikan


__ADS_3

Iblis auvamor lalu terbang begitu saja setelah ia berubah menjadi seekor monster kelelawar raksasa, ia masih berterbangan seraya menatap raja Gevarnest yang masih mengendalikan anginnya ditalapak tangannya.


"Kau ingin melempar angin itu lagi kearahku?" ucap monster itu.


Raja gevarnest masih terdiam ia menatap pemukiman warga yang sudah banyak terkenal semburan api didepan matanya, perumahan warga yang roboh karena kebakaran. Bahkan anak buah monster kelelawar yang berterbangan sibuk menyemburkan api, dan para prajurit yang berusaha menyerang mereka.


Raja Gevarnest melirik kearah bawah. Leon, Mahagaskar, dan jangsal yang masih terdiam menatapnya. Tak lama tanpa perintah sang raja, Jangsal melempar belati apinya kearah monster itu hingga mengenai lengan kirinya.


Auvamor berteriak kesakitan, tanpa aba-aba pun, ia menyemburkan api kearah kerajaan, namun raja dengan cepat menepis dengan kekuatan anginnya hingga semburan api itu mengenai permukiman warga.


Setelah aksi jangsal tiba-tiba, Mahagaskar memerintahkan beberapa pasukan untuk mengambil alat peledak untuk meledakan bom kearah monster menjijikan itu, Mahagaskar tidak perduli, sampai saat ini ia muak, raja tak kunjung memberikan perintah.


"Cepat, bawa alat peledak!" sahut Mahagaskar.


Para prajurit itu mengambil alat peledak, dan mengisinya dengan bahan peledak.


"Siapa dia?" tanya Auvamor.


Raja Gevarnest masih terdiam, "Hentikan!" sahutnya.


"Kau ingin apa dariku?" lanjut sang raja.


Monster itu hanya tertawa terbahak-bahak, hingga saat tertawanya berhenti api besar mengenai tubuhnya dengan keras hingga ia terlempar jauh. Sebuah bom yang dengan manis mengenai monster itu.


Raja Gevarnest melotot menatap siapa yang menyerang tanpa perintahnya.


"Siapa!" teriak raja.


"Saya tuan!" sahut mahagaskar.


"Dengar! jika kau menyerang tanpa perintahku! ia akan lebih membabi buta!"


Monster yang terlempar jauh dan jatuh menabrak permukiman warga pun berusaha berdiri walaupun tubuhnya memiliki luka yang banyak, ia berdiri dengan terombang-ambing.


Sayap kirinya patah, dan wajahnya yang penuh darah, hingga kedua matanya tidak bisa terbuka karena memar.


"Hahahahahah" ia tertawa.


Auvamor menatap keatas, ada banyak anak buahnya yang sibuk menyemburkan api kewarga Majestic.


"Apa itu tadi? peledak? hebat juga...." sahutnya.


***


Tenaga yang Vin keluarkan sudah sangat menipis, ia sudah membunuh kawanan monster ini sangat banyak, tapi yang membuat ia heran, monster ini tidak berkurang namun semakin bertambah, membuat warga sekitar ketakutan dan meninggal karena serangan mereka. Vin tidak kuasa melihat ia berusaha membantu tapi tenaganya sangat terkuras habis-habisan.


Ia melihat beberapa prajurit yang menembakan busur panah api kearah monster itu, tapi lagi-lagi monster itu masih bisa hidup dan terus menyerang, hingga beberapa prajurit mati tergeletak ditanah.


Vin menyender ditembok rumah, ia memejamkan matanya.

__ADS_1


"Aleris....... kau dimana? kau seharusnya datang dan menyerang mereka..." sahut Vin.


Ia tersadar saat ia teringat Agil dan kedua wanita yang pergi bersamanya, ia lalu beranjak untuk mencarinya.


"Vin...." seseorang memanggilnya, suara seseorang yang baru saja mendarat ketanah, Vin sempat mendengar suara tersebut, namun ia terus barlari hingga, seseorang memanggilnya.


Vin tersentak, dan menghentikan langkahnya, ia menoleh.


"Elle?" ucap Vin terbelalak.


Elle seorang monster kelelawar, yang juga sama seperti Vin dari desa terpencil hingga ia menjadi seorang pengkhianat, dan menjadi anak buah Auvamor, ia berteman dekat dengan Vin namun Vin memilih pergi dan mereka pada akhirnya dipertemukan kembali.


Elle tersenyum nyengir.


"Ketemu...." sahutnya.


Vin masih terdiam menunduk, "Aku cari-cari ternyata kau kembali ke kotamu ya?" lanjut Elle.


"El, apa yang kalian lakukan disini?"ucap Vin.


"Aku membantu seseorang, membantu dia...." nyengir Elle.


Langkahnya semakin mendekat kearah Vin.


"Kenapa kau pergi?" tanya Elle.


Ia memeggangi lengan Vin, dengan erat.


"Jangan pergi....." sahutnya.


Vin melepaskan Elle dengan kasar, dan tiba-tiba mereka berubah menjadi monster kelelawar, mereka saling berhadapan dan mengaum. Vin mencakar Elle tepat mengenai dadanya.


Elle mencoba mencakar, namun Vin berhasil menghindar. Elle kemudian terbang diikuti Vin, Elle mencakar punggung Vin dengan kaki runcingnya membuat Vin terluka sangat serius dipunggungnya.


Hal itu membuat Vin tidak bisa mengendalikan sayapnya, hingga ia terjatuh ketanah dengan keras, lalu Vin berubah menjadi manusia kembali.


Elle mendarat seraya berubah menjadi manusia, ia mendekat kearah Vin, dan mengangkat kakinya, tanpa aba-aba Elle menginjak punggung Vin dengan keras dan menahannya. Vin berteriak dengan keras, ia mencoba melepaskan namun tenaganya terkuras.


"Kau tidak bisa apa-apa sekarang" ujar Elle.


Vin masih merintih kesakitan.


"Lihat teman-temanku, memakan warga sekitar dan merusah perumahan mereka dengan api-api indah, kenapa kau menghalangi kami? bukankah? kau sebangsa kami?" pekik Elle.


Vin tidak bisa menamjawab, tubuhnya seperti tertekan tanah dengan sangat kuat. Elle menahan tenaga untuk menginjak punggung Vin.


"Kau tahu? saat kepergianmu, aku disiksa habis-habisan karena yang selalu bersamamu kemana pun hanya aku!" ucap Elle.


Namun tiba-tiba Vin terkejut saat tubuh Elle tersungkur jatuh ketanah, dengan busur panah menempel dilehernya, dan darah yang bermuncul dari lehernya, vin beranjak dan melihat siapa yang menyerang Vin.

__ADS_1


"Agil!" teriak Vin.


Agil, Jay, dan Tea kembali mereka membawa senjata yang sangat banyak ditangan mereka, busur panah Agil telat mengenai leher Elle dan menbuatnya mati.


Vin masih tersungkur dan membenarkan nafasnya, karena tekanan dari ijakan Ella, ia menyender ditembok perumahan, hingga Agil, Jay, dan Tea, mendekat.


"Kau tidak apa-apa?" ucap Agil.


Vin hanya mengangguk.


"Mereka temanku...." ucap Agil, lalu ia melirik kearah Jay.


"Dia, pacarku..." bisik Agil menujuk Jay, Vin hanya menatap Jay sekilas.


Tea membantu Jay berjalan dan mereka duduk disamping Vin.


"Kau sudah tidak apa-apa?" ucap Agil mendekat kearah Jay.


"Sudah aku katakan, aku masih bisa jalan dengan satu kaki kok...." sahut Jay.


Tea masih menatap tajam kearah Vin, hingga Vin sedikit canggung.


"Kau siapa?" tanya Tea.


"Aku....akuu..." ucap Vin, gugup.


"Sudah aku ceritakan padamu!" sahut Agil.


"Kau memihak kami kan?" tanya Tea.


Vin hanya bisa membalas dengan anggukan.


"Jadi?" sahut Agil, ia berdiri dihadapan ketiga wanita itu.


"Sepertinya ini tempat aman, disana lebih banyak monster..." ucap Agil menujuk kearah timur.


"Dan sepertinya ada beberapa warga yang bersembunyi disini...." sahut Jay.


Tea mengganguk, "Aku haral seperti itu....."


"Aku sudah membunuh lebih dari dua puluh kali, tapi rasanya monster itu masih banyak..." ujar Vin.


"Apa?!" ucap Agil dan Tea bersamaan.


Vin menatap heran Agil dan Tea. Vin mengangguk.


"Apa mereka terus berdatangan?" tanya Jay.


"Sepertinya, karena anak buah Auvamor memang sangat banyak disana...." gumam Vin.

__ADS_1


__ADS_2