
Ratu Carlota menyiapkan beberapa gaun untuk perayaan dibantu dengan kursi rodanya, seraya Fay yang menemani disebuah ruangan khusus yang menyediakan pakaian sang ratu, ratu Carlota memilah beberapa gaun yang cocok.
Beberapa kali memberitahu Fay apakah gaun ini akam cocok untuknya. Ratu Carlota sama sekali tidak memikirkan apa yang akan terjadi, ia amat sangat bahagia akhirnya yang ia tunggu-tunggu datang juga.
Ia sama sekali tidak memikirkan hal itu, dimana bayinya adalah seorang iblis bisa membahayakan semua orang, yang ia pikirkan hanyalah kebahagian yang harus diabadikan.
"Fay, menurutmu gaun berwarna ungu itu, cantik tidak untuk ku?" Ucap ratu seraya menunjuk lemari bagian pojok.
Fay menyipitkan matanya, lalu ia melangkah mendekato lemari itu untuk mengambil gaun yang dimaksud ratu.
Tidak begitu mewah memang namun dipinggang gaun itu dihiasi kristal dan bawahan gaun nya berlapis banyak kain.
"Apakah akan menarik dipakai? Pada akhirnya aku akan duduk dikursi roda" gumam ratu.
Hal itu membuat raut wajah Fay langsung berubah.
"Saat ratu memakai saat duduk atau berdiri saja, sudah sangat terlihat cantik..."ucap Fay.
Seraya memeggangi gaun itu, ratu Carlota menangis, sudah lama ia pendam.
"Selama ini aku diam karena aku tidak ingin memikirkannya, tapi pada akhirnya pecah juga disini Fay..." ucap ratu.
Fay memeluk ratu, mata ratu sudah bisa ditahan lagi, ia menangis dipundak Fay, Fay menepuk punggung ratu agar bisa menenagkannya.
"Apakah kau pernah berpikir jika anak yang dilahirkan adalah seorang iblis atau monster? Tentu aku tidak ingin itu terjadi, tapi aku sangat mencintainya, bagaimana bisa aku harus membunuhnya?"
"Tentu aku tidak percaya dengan dukun itu, ia benar-benar mengatakan hal yang tidak aku bayangkan...."
"Bagaimana bisa aku tidak tahu? Bagaimana bisa ini terjadi...."
Fay lalu melepaskan pelukannya.
"Ratu, entah bagaimana sifat atau karakter anak yang kau lahirkan, ia tetap anak kandungmu, selagi ia tidak melakukan apapun denganmu, kau bisa mencintainya setulus ini..."
Ucapan Fay yang Fay lontarkan sebenarnya ia samgat ragu, apakah hal ini akan bisa menenagkan ratu.
Tangan ratu memeggang kedua tangan Fay, ia mengatakan.
"Jika terjadi sesuatu denganku atau anakku, maka bantulah, tetap tinggal disini"
Hal itu justru membuat Fay semakin bimbang, ia memiliki tanggung jawab disebuah desa, namun ia harus kembali akhir-akhir ini untuk membantu persalinan ratu, ia tidak akan tahu jika ratu melahirkan jika Varegar tidak mengirimkan surat.
Ratu memakai gaun ungu yang indah itu, ia berdiri dibantu Fay, menghadap kaca betapa cantiknya ratu senyum yang mengembang yang begitu membuat Fay tidak bisa berpaling.
"Kau tahu? Bagaimana terpesonanya suamiku saat melihatku ketika memakai gaun? Dia akan langsung memelukku dan mengatakan 'aku cinta kamu' aku berharap ketika aku datang memakai gaun ini, suamiku akan memelukku dan mengatakannya"
Tiba-tiba ratu Carlota terdiam, ia menyuruh Fay untuk melepaskan gaun yang ia pakai dan ia menyuruh Fay untuk membantunya duduk dikuris roda.
Ratu Carlota lalu beranjak pergi bersama Fay yang mendorong kursi roda tersebut, setelah ratu memilih gaun yang cocok untuk tubuhnya, ia juga menyuruh Fay untuk memilih gaun tersebut, namun yang Fay pilih hanya gaun biasa berwarna merah.
"Kau tidak memberitahu Aleris?" tanya Mahagaskar diambang pintu.
"Aku akan memberitahunya nanti jika sudah akan dimulai upacaranya" jawab Leon.
"Maka ajak semua pasukan Aleris untuk datang kesini..."
"Aku memang sudah berpikiran seprrti itu paman, tapi sepertinya perayaan ini bukanlah perayaan yang sebenarnya memang tidak akan diadakan oleh sang raja bukan? jadi sepertinya aku akan menyuruh Aleris datang seorang diri..."
Mahagaskar mengangguk, "Baiklah..."
Semua para selir dan pelayan istana sibuk memasang berbagai aksesoris didalam ruangan kerajaan, menyiapkan acara, dan tentunya membuat hiasan yang akan dipajang semegah mungkin diruangan tersebut membuat acara perayaannya menjadi lebih mengleggar.
Mereka juga menyiapkan beberapa furniture yang megah untuk tempat duduk yang disediakan, bukankah harus terlihat sangat menawan jika rakyat-rakyatnya akan datang menyambut kelahiran sang anak kedua dari ratu.
"Kau tidak membantu mereka?" ucap Jangsal yang menyender diambang pintu.
Varegar yang duduk seraya menyeruput air minum, lalu beranjak menatap Jangsal.
"Apa? aku? membantu mereka menyiapkan pesta ini? kau menyuruhku untuk apa? mengangkat kursi? memasang lampion? menyiapkan meja montana podium begitu? kau harus menggelar karpet merah begitu?" ngeggas Varegar.
Jangsal memutar bola matanya, "Seakan semua ora itu tidak sama ya?"
"Apa katamu?" ucap Varegar.
"Lihat itu" Jangsal menujuk seseorang yang ikut membantu membersihkan beberapa ruangan.
"Leon, Paman?" ucap Varegar terheran-heran.
"Kenapa?" tanya Jangsal.
"Orang-orang seperti kita tidak pantas melakukan hal itu...." pekik Varegar.
Jangsal adalah seorang yang biasa saja seperti Leon dan Mahagaskar, ia tidak pernah memandang semua orang dengan berbeda, ia tidak pernah sefrekuesi dengan Varegar, karena saat mereka bertemu mereka selalu berdebat, namum hal itu tidak masuk list ke irian Varegar, ia hanya iri kepada Leon seorang.
Pawakannya seperti biasa tampan dan gagah, warna rambutnya abu-abu dan dengan gaya rambut Buzz cut. Buzz cut cocok dapat menciptakan ketajaman dan lebih menonjolkan kepribadian dengan adanya garis di sepanjang garis rambut alami.
"Aleris tidak datang??" tanya Jangsal tiba-tiba datang.
Leon mendongak, ia menyentuh keningnya karena keringat, "Dia akan datang nanti, aku juga belum memberitahunya"
"Dia sudah tahu?"
Mahagaskar dan Leon saling pandang.
__ADS_1
"Belum, sepertinya ia akan kaget" sahut Mahagaskar.
"Kenapa tidak kau beritahu sekarang?" sahut Jangsal.
Siang ini tidak terlalu panas untuk Aleris, ia berjemur diatap istana seraya melepaskan semua pakaiannya, ia hanya berbalut ****** ***** saja, ia sudah bisa pulih dengan keadaannya yang sering lemas, bahkan setelah pulih pun ia masih memaksakan diri memikirkan hal yang sama. Ketika ia tiba-tiba amnesia tidak mengingat apapun, bahkan sampai detik ini ia masih berusaha mengingat.
Apa lagi saat ia tiba-tiba sakit kepala dan teringat sebentar seorang berjubah hitam datang dipikirannya. Ia sering berdiskusi dengan orang-orang terlibat, namun masih sama, nihil tidak ada yang teringat. Karena hal itu Randi sering mengamuk kepada Aleris, karena sampai detik ini pun mereka tidak mengingatnya.
"Apakah masih belum ada kabar tentang raja Jesper? aku menunggunya hampir lumutan" gumam Aleris.
"Apakah tentang para iblis ini sudah selesai urusannya? bahkan aku tidak tahu bagaimana situasi kerajaan Majestic" lanjutnya.
Ia melanjutkan memejamkan matanya, merasakan hawa yang tidak begitu panas yang Aleris rasakan. Sudah sangat lama ia tidak merasakan kenikmatan beristirahat yang menyenangkan seperti ini.
Saat ia mulai terlelap dalam tidurnya, ia tersentak kaget ketika batu kecil yang terlempar disekitarnya hingga memunculkan suara. Hal itu membuat Aleris terbangun dengan kaget. Ia memeriksa ke arah bawah.
Dan lihatlah siapa yang datang.
"Jangsal?"
Sudah ketiga kalinya, Jangsal datang ke istana Aleris, memang sudah sangat lama sekali, Jangsal tidak mengunjungi istana Aleris bisa dihitung berapa kali.
Aleris hanya memakai jubah saja saat turun perut kotaknya sangat terlihat bersama kedua dada yang terlihat bidang, karena ia sangat bersemangat menjumpai Jangsal, apakah raja Jesper sudah memberikan kabar?
Jangsal mengikat tali kudanya kesebuah batang kayu pohon, lalu ia melangkah masuk menaiki tangga, tidak henti-hentinya ia memandangi bangunan istana Aleris yang tidak berubah.
"Woy, Jangsal" sahut Aleris yang datang setelah turun dari tangga.
"Wow, wow apa yang sedang kau lakukan? kau sedang bermain dengan wanita?" ucap Jangsal, ia menatap heran tubuh Aleris karena ia masih terlanjang saat menemui Jangsal.
"Jangan salah paham, kau pasti tahu aku sedang melakukan apa..." ucap Aleris seraya meraih tangan Jangsal yang sudah terangkat siap tos.
"Kau lama sekali tidak mengunjungi istana ku, ada apa? pasti raja Jesper kan?" Aleris mempersilahkan Jangsal untuk masuk kedalam, tapi Jangsal menolak.
"Sepertinya aku tidak akan lama-lama ris...."
"Kenapa? ada apa?"
Raut wajah Jangsal tiba-tiba berubah.
"Ratu Carlota akhirnya melahirkan anak keduanya, tiga hari yang lalu.."
Mata Aleris terbelalak, ia sangat bahagia mendengarkan ucapan Jangsal.
"Bukankah ini hal yang bahagia, kenapa raut wajahmu seperti itu, laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki..."
"Wah pasti akan sangat bersaing dengan Arvand kan"
"Ris, anak yang dilahirkan ratu, adalah anak iblis..." gumamnya.
Entah seperti kesambar petir. Mata Aleris langsung terbelalak setelah mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Jangsal.
"Jangan sembarang kau!" pekik Aleris.
"Kenapa aku mengatakan yang sembarangan?"
"Bagaimana bisa?" sahut Aleris.
Jangsal menjelaskan asal muasal apa yang terjadi saat kejadian ratu Carlota melahirkan, ada begitu banyak masalah, hingga seseorang telah mati.
Perasaan Aleris seperti tercampur, apakah ia harus senang atau pun sedih.
"Kenapa masalah ini sampai terbawa hingga keanak ratu, kenapa harus iblis" ucap Aleris.
Ada begitu banyak berita yang harus Jangsal jelaskan kepada Aleris tentang para iblis yang semuanya ada kaitannya dengan suku itu. Jangsal tahu mungkin Aleris lebih tahu dari Jangsal, tapi bukankah Aleris tidak tahu apa yang terjadi saat kejadian itu.
"Bukankah ini masalah besar? kenapa kau baru saja memberitahuku, Ah tidak penting! lalu bagaimana keadaan ratu?"
"Kedua kakinya lumpuh, dan rahimnya rusak..."
Mulut Aleris menganga kaget, ia meremas rambut kepalanya.
"Keputusan raja?"
Jangsal menundukan kepalanya.
"Ia sempat mengandakan rapat, ia sudah memutuskan untuk membunuh bayi itu, tapi yang kudengar raja membatalkannya.."
Aleris paham situasinya, apakah mungkin seorang ayah tega membunuh anak kandungnya.
"Bahkan dukun hebat datang dari sebuah desa yang sudah aku ceritakan, ia berusaha mengeluarkan iblis itu tapi tidak bisa"
Aleris mengigit bibirnya, "Aku paham situasinya, jadi bagaimana?"
"Mungkin ini terlihat sangat tidak masuk akal, tapi raja dan ratu akan mengadakan perayaan untuk kelahiran anaknya...." gumam Jangsal.
Aleris menatap tajam Jangsal, "Apa katamu?"
"Yah, mereka sedang menyiapkannya..."
Aleris menghelan nafasnya, "Lalu apa yang dilakukan bayi iblis itu, ahh ehh.. maksudku bayi ratu itu, apakah selama tiga hari itu ia melakukan hal yang gila?"
__ADS_1
Jangsal menggeleng, setelah kelahirannya, bayi itu tidak melakukan reaksi apapun.
"Mungkin jal itu yang membuat raja yakin akan mengadakan perayaan" sahut Aleris.
Jangsal sudah sangat paham. Aleris akan langsung mengerti situasinya.
"Baiklah, aku siap-siap dulu..." sahutnya.
Tidak butuh waktu lama, Aleris sudah sangat medis dengan pakaianya, bahkan sampai Jangsal terpesona, Jangsal mengakui ketampanan Aleris melebihi siapa pun.
Jangsal melepaskan talinya, dan menaiki kuda. Begitu pun Aleris mereka beranjak pergi begitu saja.
Randi yang mendengarkan suara langkah kuda lalu keluar dari kamarnya sudah ada Malucia dan Lidra yang berada dibalkon istana, mereka mengantarakan Aleris pergi.
"Ada apa?" sahut Randi.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di kerajaan..." ucap Lidra.
"Apa yang dikatakan olehnya?"
"Dia hanya mengatakan kepada kita, jika ada sesuatu yang terjadi dikerajaan, mungkin ia akan memberitahu kita setelah pulang dari kerajaan"
Randi menatap tajam jalanan yang baru saja dilewati Aleris, ia sangat merasakan penasaraan yang luar biasa, apa perlu ia menyusul?
Didalam perjalanan, tidak habis dipikir oleh Aleris kenapa hal mengerikan ini terjadi, bagaimana bisa masalah iblis ini terbawa sampai dikelahiran anaknya.
Ia memejamkan matanya membayangkan apa yang terjadi waktu itu, ia sudah membayangkan saat Jangsal menceritakaanya, bukankah sangat mengerikan.
Ini bukan masalah yang sepele, ini sudah sangat bahaya, apakah kita akan tetap diam saja? bagaimana jika sesuatu terjadi lagi nantinya?
"Bagaimana bisa bayi itu iblis?" gumamnya.
Bukankah ini sudah sangat keterlaluan? Aleris menggerutu mengingat kembali masalah yang Randi ceritakan kepadanya, sampai detik ini pun, Aleris tidak bisa mengingatnya.
"Jika aku mengingatnya, pasti ini ada hubungannya bukan?" Gumamnya.
Perjalanan ini memang sangat lama, apalagi kota Majestic yang sangat luas, Aleris tidak sabar untuk datang dan melihat bayi itu, selama ia mengunjungi kota Lander, sejak saat itu rasanya Aleris lebih peka terhadap sesuatu yang berhubungan dengan iblis, ia seperti merasakan kehadirannya.
"Jika membunuh anak itu, apakah akan disetujui oleh ratu?"
Tidak henti-hentinya Aleris memikirkan hal ini, ia baru saja pulih bagaimana bisa ia harus menghadapi masalah mengerikan ini lagi.
"Iblis kaparat!!!!!" umpatnya.
Jangsal menghentikan langkah kudanya, Aleris tersentak kaget saat Jangsal yang tiba-tiba berhenti.
"Ada apa?"
Mereka masih sampai diperbatasan antara hutan dan padang rumput yang dikanan kiri mereka sebuah bukti yang tidak begitu tinggi hanya tanah yang menjulang dihiasi rumput kuning yang sudah mengering.
"Kenapa kau menggerutu sendiri?"
"Kebiasaan mu itu masih sama seperti kau kecil ya?" lanjut Jangsal.
Aleris memutar bola matanya, "Aku kira ada apa..."
"Tidak bukan ini yang akan ku bahas..." pekik Jangsal.
Aleris curiga, lalu ia terdiam berusaha merasakan situasinya, sedikit ada yang berbeda, hawanya sangat berbeda, Aleris baru saja menyadarinya ketika Jangsal mengatakannya.
"Apa perasaanku saja?" sahut Jangsal.
Aleris mencoba turun dari punggung kuda, ia melangkah dengan pelan, ia masih mencoba merasakan sesuatu.
"Bukan iblis..." gumannya.
Jangsal mengikuti Aleris, ia turun dari punggung kuda.
"Monster?"
Aleris mengangguk.
"Lawan?" gumam Jangsal.
"Kalau tidak lawan, sepertinya akan mengikuti kuta sampai ke kerajaan"
"Tapi dimana, tidak muncul-muncul..." pekik Jangsal.
Aleris menyentuh tanah dengan kedua tangannya, ia memejamkan matanya. Memang ada monster yang akan datang ia bisa merasakaanya.
"Kau takut?" tanya Aleris.
Jangsal terbelalak, "Takut? kenapa harus takut? aku tidak akan menjadi perdana menteri jika harus takut dengan hal semacam ini"
Aleris tidak menggubris, ia kembali menyentuh tanah dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba sesuatu yang besar muncul dari dalam tanah begitu saja, membuat permukaan tanah terlempar kemana-mana, diikuti suara auman monster itu.
Tubuh Aleris dan Jangsal terpental, kedua kuda mereka pun ikut terpental. Aleris langsung bangkit ia mengikat kedua kuda di batang pohon.
Monster yang tiba-tiba muncul itu, lalu kembali kedalam tanah, lenyap begitu saja, Aleris langsung berlari kearah monster itu berada namun monster itu lenyap dengan cepat kedasar tanah.
"Dimana!!!" teriak Jangsal.
__ADS_1
"Kembali kedalam tanah!" ucap Aleris