Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Pergi


__ADS_3

Noze keluar dari kamar mandi, dia kaget dengan hasil test pack nyaa, hasilnya positif ia sudah mengulanginya beberapa kali memastikan bahwa itu tidak benar namun, tsst pack selalu menujukan hasil yang positif, noze membasuh wajahnya, mata mengeluarkan air mata wajahnya tidak menunjukan expresi apa-apa.


Apakah pekerjaan ini konsekuesinya seperti ini? apakah ini hal yang wajar untuk para wanita yang bekerja seperti ini? tapi noze tidak terima, ia menutup matanya.


Terakhir ia melakukan pekerjaan ini kemarin, dan noze tidak tahu siapa yang melakukan ini, ada banyak yang ia temui, memang benar sudah dua bulan noze tidak melihat adanya tanda datang bulan.


Ini adalah kesalahnya memang, seharusnya saat bekerja seperti ini, alangkah baiknya untuk melakukan KB, tapi noze lebih memilih menggunakan alat pencegah saja, kenapa ia selalu tidak peduli dengan hal kecil.


Dan sekarang apa yang harus ia lakukan? siapa ayahnya? bahkan mengurus dirinya sendiri adalah kesalahan besar, dan sekarang dia mengandung? terlintas dipikiranya tentang agil namun noze tidak sebrengsek itu ia tidak ingin merusak kehidupan agil, walaupun noze sudah menaruh hati padanya.


Pikirannya kacau, entahlah yang bisa ia lakukan hanyalah menangis, bagaimana keadaanku akan baik-baik saja? satu kesalahan bisa merubah segalanya.


"Han, habis ini ada pelanggan" ucap seseorang yang datang tiba-tiba.


"Maaf sepertinya aku sedang tidak enak badan, aku ijin pulang dulu"


Disepanjang jalan ia seperti mati rasa, buntu tujuan, ia merasaakn tubuhnya yang sangat menjijikan, apakah pantas wanita ****** seperti ini berteman dengan pria yang baik hatinya, sudah berbulan-bulan noze memikirkan untuk mengakhiri hidupnya, tapi karena pria itu datang noze sedikit lebih bahagia, namun sekarang ia melakukan kesalahan dan masih ingin berteman dengan pria baik itu?


Noze memeggang perutnya, "Anak bodoh kau pikir kau tumbuh di rahimku akan baik-baik saja?" ia memukul perutnya dengan keras.


Noze menangis ia telah membohongi agil, ia melakukan kesalahan yang besar, ia tidak pantas menyukai pria baik seperti agil, ia telah membohongi tentang pekerjaannya, "Namaku jihan gil, pekerjaanku seorang pelacur"


Mata noze tidak bisa bohong, ia menangis sejadi-jadinya, ia tidak peduli dengan orang-orang sekitar, ia melihat agil yang duduk menunggunya dikursi jalan, ingin rasanya noze berlari kearah agil dan memeluknya, namun tubuh noze yang sudah menjijikan ini tidak pantas menerima pelukan dari pria baik sepertinya.


Terlintas dipikiran noze, ia pergi ke toko buku membeli kotak dan menulis surat, ia menulis dengan tersenyum walaupun perasaanya sangat sakit, lalu ia berjalan kearah rumah agil, meletakan kotak surat itu, hingga hujan datang, noze tetap berjalan, ia menjalani hal buruk setiap harinya, itu yang selalu noze pikirkan saat ini.


Apakah hari ini hari yang tepat? matanya tertutup langkah nya berhenti wajahnya menghadap langit mendung diatas merasakan percikan iar hujan yang jatuh di wajahnya, rasanya sakit tapi tidak sesakit perasaan ini.


"Apakah hari ini sudah waktunya? meninggalkan ibu, paman, dan agil."


"Toh percuma kalau aku masih hidup masalah ku semakin menjadi-jadi bagaimana tidak? aku pikir seiring berjalanya waktu masalah akan terselesaikan tapi kenapa aku tidak? masalah semakin bertambah"


"Coba sekarang lihat kehidupannku? pekerjaanku adalah seorang pelacur, keluargaku, ibu dan paman seorang pemabuk dan hanya bermalas-malasan dirumah, masa depan? apakah ada didalam benakku? apakah uang bisa membahagiakan kehidupan? tidak untukku, semua yang aku lakukan adalah kesalahku sendiri, benar ini waktunya, aku sudah memikirkannya terlalu lama"


Setelah noze meletakan tasnya dikamarnya, ia berjalan keluar, ia menghentikan langkah dan menatap langit diatas betapa indahnya jika aku bisa tinggal diatas sana, ia berjalan ke sebuah gedung tidak jauh dari rumahnya, ia berjalan keatas menaiki tangga, banyak orang-orang yang berpapasan dengan noze, namun mereka tahu bahwa noze adalah wanita pelacur, mereka hanya menatap risih kepada noze, noze tahu itu noze hanya berjalan tanpa expresi ia tidak memperdulikan siapa yang berpapasan dengan mereka.


Gedung itu adalah sebuah toko pakaian namun yang bisa digunakan hanya dilantai bawah saja, dilantai atas kosong, ini menjadi kesempatan noze untuk mengakhiri hidupnya.


Ia berdiri diujung gedung, ia menangis dan merasakan kesepian yang luar biasa, dadanya sesak, rasanya sudah mati rasa, ia memeggang perutnya, "Kau tidak memiliki ayah untuk apa kau hidup"


"Lihatlah kehidupan ku yang suram, apakah kalian tidak melihatnya? kenapa kalian tidak mengerti tentang perasaanku? apakah kalian tuli? ini semua kesalahanku bodoh!!!"


Noze memejamkan matanya, tapi tiba-tiba ia mendengarkan seseorang berteriak, memanggil namanya, noze membuka matanya, dan benar agil, noze bisa melihat agil dari atas, agil sedang mencari keberadaan noze, noze bisa melihat tubuh basah kuyupnya.


"Kenapa kau mencariku? seorang dirimu tidak pantas berteman denganku"


Matanya tidak bisa berpaling dari agil, ia masih melihat agil sampai agil pergi dan tidak bisa ia lihat lagi.


"Kenapa kau mencariku? kau tidak bisa melihatku bukan? aku diatas gil..... diatas gedung gil..... kenapa kau tidak kemari? apakah kau tidak melihatku diatas padahal aku sudah berdiri dipaling ujung?"


Ia mengusap pipinya yang penuh air mata, "Terima kasih ya gil, untuk beberapa bulan ini..."


Hatinya seperti diremas, hatinya kembali sakit ketika apa yang dilihat didepannya, beberapa orang ramai-ramai datang mengerubungi wanita yang sudah berlumuran darah dijalan, agil mendekat.


"Aku mohon jangan diaaaa aku mohonnnn" batinnya.


Seseorang keluar dari mobil ambulan, dan beberapa orang juga keluar dari dalam box ambulan, mereka mengeluarkan branker pasien dan mengangkat tubuh wanita itu, seorang wanita dengan laki-laki yang agil temui tadi datang dengan menangis, agil bisa menebaknya, agil bisa melihat jelas siapa dia, tubuhnya tiba-tiba tidak bisa bergerak, matanya mengeluarkan air yang berjatuhan begitu saja.


Ambulan itu lalu pergi begitu saja membawa tubuh wanita itu, dan kedua orang yang tinggal dengannya.


"Noze?......."


Agil duduk terdiam dibar tempat biasa, tempat tongkrongan mereka bertiga, agil, randi dan gilang, wajah agil tidak berexpresi, hal itu membuka kawatir kedua sahabatnya, randi dan gilang.


"Yasudah gil, kita doakan yang terbaik semoga ia bisa di terima disisihnya" ucap randi mendekat dan duduk disamping agil.


Randi dan gilang sudah benerapa jam bermain biliard namun mereka tidak serius bermain, karena temannya, agil ia baru saja kehilangan teman barunya, usaha mereka berdua untuk menghibur pupus.


"Aku baru tahu namanya bukan nama asli" saut gilang.


"Sut....." randi menampar pipi hilang dengan keras.


"Its okay!"

__ADS_1


Agil berdiri dan menatap mereka berdua, "Aku memang baru saja kehilangan dia, tapi aku tidak ingin kehilangan kalian" ucapnya.


"Kenapa kau?"


"Tidak ada apa-apa aku sudah lelah beberapa kali merenung, toh jihan sudah meninggal beberapa minggu yang lalu kan?"


"Masih aja sok kuat ya gil?" ucap gilang.


"Aku masih syok aja, dia berbohong dengan nama aslinya dan tentang pekerjaannya" ucap agil.


Randi dan gilang hanya menyampingkan kepalanya.


"Dan penyebab dia bunuh diri karena ia hamil" saut randi.


"Tidak itu saja menurutku, ada banyak masalah yang menimpanya, sebenarnya aku ingin membantunya tapi aku telat, waktu itu aku naru saja datang kerumahnya, dan beberapa menit kemudian ambulan datang"


"Gil kenapa kau kuat sekali?" gerutu gilang.


Agil tersenyum, "Kuat tapi akhir-akhir ini sering ngalamun kalau malam-malam"


"Sudahlah, biarkan ini menjadi pelajaran untuk kita"


Agil manaruh sepatunya dilaci depan rumah, ia berjalan masuk kedalam, dan berhenti kaget karena refa yang tiba-tiba datang menghalangi jalanya.


"Masih mikirin kak noze?"


"Tidak" ucap agil singkat seraya melangkah melewati refa.


"Aku tahu bagaimana kehilangan orang yang dicintainya" gerutu refa seraya menguntil agil dibelakangnya, agil tiba-tiba berhenti membuat refa menabrak tubuh agil.


"Aduh kenapa tiba-tiba berhenti?"


Agil menoleh, "Sudah beberapa kali kau bertanya seperti ini? dia sudah tenang disana, kenapa kau masih bertanya-tanya soal dia kepadaku?"


Agil meninggalkannya, "Gilak sombong bener"


Agil menjatuhkan tubuhnya dikasurnya dia memejamkan matanya sebentar, ia menghembuskan nafasnya seraya membuka matanya, handphonenya bergetar ia membuka pesan itu.


"Mohon maaf kamu agil ya teman jihan?" nomor tidak diketahui.


"Hallo?"


"Maaf ini agil ya?"


"Ah iya ada apa?"


"Aku pamannya jihan, yang waktu itu kau temui"


Sebenarnya agil sudah tidak ingin berhubungan dengan keluarga jihan karena jika masih ia tidak bisa menyembuhkan hatinya.


"Ada apa mas?"


"Bisa bertemu sebenar di cafe dekat sini aja?"


"Iya nanti aku kirim lokasinya mas"


Semua buyar ketika laki-laki botak itu menceritakan semuanya kepada agil, tentang kehidupan rumah tanggannya dan bagaimana bisa ia menjadi seperti ini, agil hanya menghormati dan mengangguk semestinya, ia tidak ingin terlalu jatuh mendengarkan cerita dari pamannya ini, agil tidak ingin menggores luka lama lagi.


"Ibunya sekarang sedang sakit parah" suaranya lirih karena bertabrakan dengan suara tangisannya.


Agil menghembuskan nafas panjangnya.


"Sebenarnya jihan sudah memberikan banyak uang untuk kami tapi karena serakah dan egois, kami lebih mementingkan dunia kami"


Tidak butuh basa-basi agil beranjak pergi, "Tunggu disini ya mas"


Agil beranjak pergi dan menujuk ATM terdekat, ia mengambil uang dan kembali menuju ke tempat laki-laki botak itu, tidak butuh waktu lama dan basa-basi.


"Aku berharap uang yang saya berikan tidak untuk berjudi dan membeli barang-barang yang tidak sewajarnya" agil menyodorkan uang kepada laki-laki itu.


"Ahhh saya pinjam dulu ya mas" ucap laki-laki itu.


"Tidak-tidak usah mas, saya ikhlas memberi mas uang ini"

__ADS_1


laki-laki itu masih memeggan tangan agil, dan tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.


"Saya mau tanya mas" saut agil.


"Seberapa menderitanya jihan waktu itu?" lanjutnya.


"Dia.....diaaa" suaranya serak dan ia mulai menangis.


"Saya paksa untuk bekerja dipekerjaan itu, dia anak yang polos, dia baik hati, saya sering melontarkan kata-kata kasar kepadanya, mengambil dan mencuri uang dengan paksa ketika ia tidur, padahal uang itu simpanannya dan...."


"Cukup mas..... perlakuan mas tidak pantas, perkataan mas lebih pantas mas lontarkan di kuburan jihan, mengakui kesalahannya dan sadar diri"


Laki-laki itu yang menyalah dirinya seraya merengek, dan meminta maaf berkali-kali.


"Tidak! tidak usah minta maaf denganku karena ini tidak ada hubungannya denganku"


Agil berdiri, "Saya ikhlas memberikan ini untuk mas, gunakan untuk kesembuhan kakak mas, dan saya berharap jangan temui saya lagi" agil beranjak pergi.


Sepertinya sudah cukup bagi agil, ini adalah akhir kisahnya bersama jihan, ia tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga jihan, masalah kehidupanya yang sumit tidak ingin ia tambah lagi, rasanya ia sudah mati rasa, semuanya telah tuhan ambil, apakah agik tidak bisa merasakan kebahagiaan?


Untuk bisa menerima keluarganya sendiri saja butuh waktu, dan untuk saat ini saja tidak cukup waktu, kenapa agil harus merasakan hal pahit lagi dan lagi? umurnya masih sembilan belas tahun apakah sudah cukup dewasa untuk merasakah hal yang pahit dalam hidup?


Jihan adalah sosok wanita kuat yang pertama kali agil temui, sosoknya bisa membuat pelajaraan bagi agil, bahwa semuanya tidak akan bisa kembali seperti semula jika masih saja berkumpul di lingkungan yang mengerikan, benar lewati saja alurnya dan lewati saja masalahnya, benar itu adalah kalimat yang benar, setelah berpikir bagaimana mana bisa kita tidak melewati alurnya? dan solusinya adalah mengakhiri hidupnya? semua orang telah menjalani kehidupannya dengan berbagai macam rintangan, semuanya memiliki presepsi yang berbeda-beda, aku dan jihan berbeda, kita hanyalah orang kecil yang memulai hidup baru, tapi presepsi jihan salah.


Antara benar dan salah, semuanya selalu diambang kebingungan, hal yang tidak pernah kita lupakan adalah dengan adanya sebuah pilihan, menjalani hidup tidak selamanya lurus kedepan, ada banyak jalan yang berbelok-belok, dan kamu harus bisa melewatinya, dan itu benar adanya.


Randi mendobrak pintu depan rumah agil, ia berlari hingga nafasnya terengah-engah, randi berhenti didepan ruang tengah, ayah gail dan refa yang sedang duduk tiba-tiba kaget dengan kedatangan randi yang tiba-tiba.


"Ada apa ran?" ucap ayah burhan.


"Agil saya telfon kok tidak diangkat ya om, saya kirim pesan juga?" suaranya terengah-engah.


"Lhoh dia ada dikamar padahal?"


"Apakah terjadi sesuatu?"


"Apanya?" saut refa.


"Om saya ijin ke kamar agil" tanpa mendengarkan jawaban dari ayah agil, randi dengan tergesa-gesa lari dan meneriaki nama agil.


"Brek!!!!" pintu kamar terbuka.


"Sialan!!!!! sialan!!!!!!" randi mengumpat.


"Kemana saja kau sialan?"


Agil yang duduk seraya bermain game kelihatan kebingungan, "apaanya bodoh?"


"Setelah mengirim pesan 'Bye aku akan pergi tidak menemui kalian lagi' kau benar-benar off sialan, aku telfon tidak diangkat pikiranku kemana-mana!!!!!"


Agil berdiri dan mendekat ke wajah randi, menepuk dahi randi, "Ah benar panas, kau sedang demam?"


"Brengsek!!" randi mengumpat.


"Lagian kau kawatir banget kayaknya?" ucap agil seraya mejatuhkan tubuhnya kekasur.


"bagaimana aku gak kawatir gil, kau kan orangnya nekat"


"Tapi kalau soal itu gak sih"


"Kau kemana emang barusan?"


"Itu pamanya jihan telfon minta bantuan katanya"


"Apa minta apa?" tanya randi penasaraan.


"Kayaknya sih mau pinjam duit tapi aku kasih aja, ibunya jihan kan emang lagi sakit"


"Kalau aku udah ku geprek tu pamanya"


Agik tertawa, "Pengenya sih gitu"


"Ya udah sih lakuin aja"

__ADS_1


"Kadung kan, akunya dah pulang tolol"


__ADS_2