
"Baiklah kita cari lagi ke tempat yang terakhir jika meemang agil tidak ada, bawa aku kembali ke istana mu" ucap randi.
Aleris membawa randi terbang dengan elangnya, mereka akan menuju kesuatu tempat dimana tidak lumayan jauh dari hutan itu, dimana tempat itu adalah tempat yang pernah aleris temukan, karena kecantikan yang luar biasa.
Randi berharap jika agil ada ditempat itu, berharap agil sedang baik-baik saja disana, dalam perjalanannya randi tak banyak bicara, ia hanya diam, satu yang ingin randi dengar dan randi lihat, suara agil dan wajahnya.
Aleris juga tidak banyak bicara ia hanya fokus dalam membawa elangnya, ia masih memikirkan tentang liontin berbentuk bintang itu. Akhrinya aleris mendaratkan elangnya, mereka turun, betapa takjubnya randi, ketika melihat tempat yang indah didepannya.
Sebuah bongkahan bangunan yang sudah runtuh, namun didalam bangunan yang sudah runtuh itu terdapat sebuah patung peri yang cantik, dimana ia berdiri ditengah-tengah bangunan runtuh itu, ia berdiri dan mengepakkan sayapnya, patung itu hanya berwarna seperti patung-patung pada umumnya, dan patung itu tidak memiliki cacat sedikit pun.
Saat perjalanan ingin menuju kebangunan runtuh itu, merrka harus melewati jembatan yang memang sudah sedikit rusak, tapi masih bisa dilewati, dibawahnya sungai mengalir jernih dengan deras , dan sebuah pelangi yang mengelilingi jembatan itu.
Nata randi berbinar sungguh ia bisa melihat dengan jelas sebuah surga, dimana tempat ini memiliki warna yang mencolok, cantik. Randi tak henti-hentinya memandangi tempati itu, matanya sibuk menjelajah sisi-sisi tempat itu.
"Kau baru tahu tempat ini kan? aku perkenalkan ini adalah gereja"
"Gereja?" ucap randi menoleh kebelakang.
Randi menikmati tempat itu sampai ia tak sadar meninggalkan aleris dibelakang.
"Aku kesini sudah lima tahun yang lalu, ketika aku sedang butuh hiburan"
"Tapi apakah ini sudah tidak digunakan? lihat bangunan itu"
Aleris lalu menyusul randi, mereka melangkah beriringan.
"Sudah sejak dulu seperti ini..." jawab aleris.
"Dan patung siapa itu"
Aleris menjelaskan, bahwa itu adalah dewi kesuburan, dimana semua para peri dan manusia menyembah dewi kesuburan untuk diri mereka sendiri atau untuk tempat tinggal mereka.
Aleris lalu bersujud didepan patung itu, ia menatap dewi itu, matanya berkaca-kaca.
"Sudah lama aku tidak datang kesini...."
Aleris menyuruh randi untuk mengikuti gerakannya, lalu randi bersujud.
"Yang kau lakukan adalah doa untuk bisa dipertemukan lagi dengan agil" bisik aleris.
"Tapi bukankah ini dewi kesuburan?" ucap randi.
"Tapi apa salahnya berdoa..." jawab aleris.
Randi bersujud, ia memejamkan matanya, ia berdoa jika ini adalah jalannya untuk berpisah, maka pertemukan mereka dialam lain, tapi jika masih ada kesempatan dimana pun dan kapan pun itu pertemuan mereka lain waktu.
Randi meneteskan air matanya, ia masih memejamkan matanya.
"Aku tahu kau adalah dewi kesuburan tapi izinkan aku berdoa tentang apa yang aku inginkan, maafkan aku karena aku tidak berdoa tentang kesuburan, tapi yang bisa aku temui adalah dirimu, jadi aku berdoa, pertemukan kami bertiga dan kembalikan kami ke tempat asal kami"
Tangan aleris menepuk pundak randi.
Randi berharap jika suatu saat nanti kapan pun itu, jika agil memang masih hidup pertemuan kami di lain waktu, tapi jika agil sudah mati makan pertemukan mereka di atas langit.
"Apakah ia sudah mati?" gumam randi, ia membuka matanya menatap aleris.
"Tidak!" jawab singkat aleris.
Tiba-tiba randi teringat momen-momen kebahagian mereka dulu, ketika mereka bisa tersenyum dan tertawa setiap harinya, tapi sesuatu terjadi kepada mereka, mereka harus berhadapan dengan kejadian yang gila dan membuat mereka berpisah.
"Maafkan aku karena aku hanya selalu menyalahkanmu.." gumam randi.
"Kenapa kau minta maaf bodoh" ucap aleris ketus.
"Aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu, karena aku tidak becus menemukan temanmu"
Randi hanya menunduk, ia menggenggam kedua tanganya, ia menatap dewi itu.
"Beri tahu aku dalam mimpi atau dalam pikiranku, datanglah dalam mimpiku, agar aku bisa melihat agil apakah ia sudah mati atau ia masih hidup"
"Apakah akan dikabulkan?" tanya randi.
__ADS_1
"Tentu dewi kesuburan selalu mengabulkannya" jawab aleris sigap.
Entahlah persahabatan mereka membuat aleris takjub, aleris tahu persis bagaimana rasanya berpisah, ia semakin merasa sangat bersalah, dia juga tidak bisa apa-apa dalam melakukan pencarian ini.
Disaat aleris dan randi masih fokus berdoa, dengan hening, tiba-tiba mereka merasakan jika tempat ini bergetar seperti gempa bumi, aleris menatap disekeliling namun ia tidak melihat apa-apa.
Aleris dan randi berdiri, getarannya semakin kuat membuat mereka tidak memiliki keseimbangan dalam berdiri, tiba-tiba elang aleris terlempar jatuh dihadapan aleris dan randi, aleris mencari siapa yang melakukan ini.
Aleris dan randi terbelalak ketika melihat apa yang ada didepan mereka sebuah raksasa, dengan cepat mereka bersembunyi.
Raksasa itu sangat besar dan tinggi, ketinggianya melampaui pohon-pohon besar didekat sana, ia telanjang namun ia hanya menggunakan kain kecil untuk menutupi alat kelaminya.
Mata aleris bisa melihat disela-sela pohon tempat persembunyian, jika raksasa itu sangat menjijikkan, mulutnya penuh dengan darah, ia sudah menduga jika raksasa itu sedang mencari mangsa, aleris menatap elangnya, dan benar kepala elang itu sudah tiada.
Randi yang sedari tadi ketakutan, ia bersembunyi dibalik punggung aleris, ini adalah pertama kalinya ia berhadapan dengan monster yang mengerikan.
Randi tiba-tiba teringat sebuah jata yang dilontarkan agil "Badan aja yang besar tapi kau takut dengan wanita" lalu segera randi tepis, ia bergumam jika ini adalah hal yang sangat berbeda, yang randi hadapi kali ini bukan wanita melainkan monster.
"Apa itu!!?" ucap randi.
"Raksasa, aku tidak tahu jika tempat ini sering dikunjungi raksasa seperti dia" bisik aleris.
"Apa yang akan kita lakukan?"
Aleris mencoba melakukan hal yang sedikit bodoh, ia akan mengeluarkan beberapa salinan dari dirinya, lalu salinan itu akan datang menemui raksasa itu.
Salinan itu datang telat didepan raksasa itu yang sedang mencari mangsa, ia bertanya siapa raksasa itu tapi dengan gumaman yang tidak jelas raksasa itu mengambilnya, dengan cepat salinan aleris tepis dengan kekuatannya, yaitu membekukan kedua tangan raksasa itu, raksasa itu merintih kesakitan dan mencoba melepaskan namun raksasa itu tidak bisa melepaskan tangannya yang beku.
"Kenapa salinanmu sangat lemah" bisik randi sedikit tertawa.
"Lemah katamu?" sahut aleris.
Aleris fokus menatap raksasa itu, apa yang akan raksasa itu lakukan lagi, Raksasa itu terdiam ia menatap pasrah kepada salinan aleris, tiba-tiba raksasa itu meludahi salinan aleris, hingga salinan aleris terguyur ludah ditubuhnya.
Salinan aleris geram, ia menunjukan jari tengahnya, randi dan aleris tertawa karena tingkah salinan aleris yang sangat lucu.
Namun tidak berhenti sampai disitu, tiba-tiba raksasa itu mengeluarkan suaranya ia berteriak dengan sangat keras membuat aleris dan randi menutup telinganya.
Aleris membatin apa yang dilakukan raksasa itu, ternyata teriakan itu adalah untuk mendatangkan teman-temanya, aleris dan randi bisa merasakan getaran tanah, dimana ada banyak raksasa yang berlari kearah mereka, dengan cepat aleris mengeluarkan elang, dan mereka naik kepunggung elang dan terbang melayang keluar dari tempat persembunyian mereka
"'Apa yang kau lakukan!!!" teriak randi.
Aleris menyuruh randi diam, ia harus fokus, dimana ia tidak membiarkan mereka menghancurkan tempat ini, aleris menutup matanya, ia mengangkat kedua tangannya.
Tanpa menunggu lama, aleris mengeluarkan kekuatannya elemen tanahnya, tanah yang diinjak raksasa itu runtuh, membuat raksasa itu terkubur setengah dari tubuhnya, mereka berteriak.
Randi menganga apa yang dilihat dibawahnya.
"Gila" gumam randi.
"Kita tinggalkan mereka disini dan sudah selesai hei" lanjut randi.
Namun lagi-lagi aleris mengabaikan perkataan randi, mata aleris masih fokus dengan para raksasa itu yang sedang merintih naik dari lubang yang aleris buat, namun tiba-tiba mereka terpental jauh dan terjatuh, sebuah raksasa yang datang dari belakang mereka menyeruduk dengan tanduknya.
Aleris terbangun seraya merintih kesakitan, ia melihat randi yang tergeletak pingsan, dengan cepat aleris membuat pelindung untuk randi dari tekniknya yaitu tanah, aleris segera memunculkan elang dan terbang melayang, karena mereka terjatuh di dekat para raksasayang terkubur ditanah.
Aleris menatap kaget, karena raksasa itu berbeda dengan raksasa yang ia lihat ini, raksasa itu memiliki tanduk seperti rusa, dan sangat keras.
Aleris menyentuh tangan kirinya, ia merasakan sakit yang luar biasa, dan nyeri sepertinya ada yang salah dengan tulangnya.
Tanpa berpikir panjang, raksasa itu mengambil batu besarr dari sungai, melempar kearah aleris, dengan celat aleris tangkap dengan elemen tanahnya, ia membangkitkan tanah dari bawah untuk menghalangi batu besar yang akan mengenainya.
Aleris memejamkan matanya, ia mengeluarkan jurus beku, aleris mengarahkan tepat di kedua kakinya, tapi raksasa itu berhasil menghindar, raksasa itu berlari kearah aleris, aleris menghindarinya terbang diudara dikejar oleh raksasa gila itu.
Dengan tangan yang mengepal keras, raksasa itu berusaha meninju elang dan aleris yang terbang-terbang disekitarnya, hingga membuat raksasa itu frustasi.
Lagi-lagi aleris membuat lubang besar untuk mengubur raksasa itu, benar raksasa terjatuh namun ia bisa bangkit keembali tidak seperti raksasa yang lainnya.
Aleris tahu jika raksassa itu sedang menunggu aleris lengah, namun aleris hanya tertawa, dengan raut wajah yang geram raksasa itu meninju raksasa yang kedua tanganya membeku, tapi yang membuat aneh aleris adalah, raksasa bertanduk itu menarik tangan raksasa hingga terlepas hingga mengeluarkan darah, raksasa itu berteriak kesakitan.
Namun raksasa bertaduk memakan tangan raksasa, ia tidak memperdulikan temanya yang sedang teriak kesakitan, ia memakan tangan itu hingga hanya tersisa tulang.
__ADS_1
Aleris masih terbelalak menatap apa yang ada didepannya, raksasa bertanduk itu tidak henti-hentinya mengambil satu persatu tubuh teman raksasanya, hingga ia mati.
Masih fokus menatap jijik raksasa didepanya, aleris tidak sadar jika raksasa bertanduk itu melempar sebuah tulang raksasa kearah aleris hingga melayang didepan dan mengenai nya membuat ia terjatuh dari atas, tubuhnya mengenai bebatuan disungai, ia membalikan tubuhnya namun tangan raksasa itu sudah terlebih dahulu menangkap tubuh aleris.
Dimana raksasa itu mengenggam erat tubuh aleris membuatnya sulit bergerak dan bernafas, ia sudah berada didepan mulut raksasa yang menganga siap menelan tubuh aleris.
"Heiiiiii!!!!!!!!!!!!!" teriak randi, membuat raksasa bertanduk itu menoleh kebelakang.
Aleris terheran-heran, lalu ia dengan cepat mengeluarkan tanganya dari genggaman raksasa itu, raksasa itu kemudia menghiraukan randi, ia kembali akan menyantap aleris, namun randi mendekat seraya melepar batu, hingga raksasa itu muak mengejar randi, randi berlari.
"Sialan sialan.....apakah aku akan mati?" gerutunya seraya berlari.
Tangan raksasa itu berusaha untuk menangkap randi yang berlari, karena jika dibandingkan lari raksasa dan randi, jelas randi akan kalah, namun randi bisa menghindari tangan raksasa itu yang berusaha menangkapnya.
Raksasa bertanduk itu berlari mengejar randi, aleris berusaha mengeluarkan tanganya, ia menggerakan tubuhnya, walaupun ia sedikit tidak fokus karena tangan raksasa itu tidak bisa berhenti bergerak karena berlari.
"Keluarkan kekuatanmu sialan!!!!" teriak randi.
"Ahhhhh!!!!" teriak randi, berusaha mengeluarkan tanganya dari genggaman raksasa bertanduk itu, namun akhirnya ia bisa mengeluarkan satu tangannya.
Dengan cepat aleris mengeluarkan kekuatan tanahnya, ia membuat sebuah gundukan tanah didepan raksasa itu berlari membuatnya terjatuh tersandung, hingga membuat tangan raksasa itu melepaskan genggamanya, aleris terlepas, dengan cepat ia mengeluarkan kekuatan beku diwajah raksasa itu yang masih terjatuh, aleris mengeluarkan elang.
"Naik!!!! naik!!!" teriak aleris.
Randi menaiki elang itu, aleris berlari menuju elang dan segera naik, mereka sudah terbang melayang.
Namun raksasa bertanduk itu bisa memecahkan wajahnya yang beku, raksasa ituu menatap aleris dan gilang diatasnya dengan tatapan tajam, aleris menunjukan jari tengahnya seraya tersenyum.
"Masih saja bercanda"
Raksasaa itu terdiam cukup lama hingga akhirnya ia beranjak pergi meninggalkan teman-teman raksasanya yang masih terkubur setengah badan dilubang itu.
Aleris menatap aneh, kenapa tiba-tiba ia pergi meninggalkan para raksasa yang lain.
"Sudah waktunya pergi" ucap serak aleris.
Didalam perjalan mereka terbang diudara, nafasnya mereka masih terengah-engah, randi masih terdiam karena ia tidak menyangka ia selamat dari raksasa gila itu.
"Kau tahu raksasa itu datang dari mana?"
Nafas aleris masih terengah-engah, ia masih memeggang tangan kirinya yang ia rasakan sangat nyeri, mereka sangat berantakan, kotor dan beberapa luka memar.
"Ya seperti itu lah makhluk hidup dinegeri ini" jawab aleris.
"Kau tidak perlu kaget karena ini lah negeri disini, berbeda dengan dirimu yang hanya memiliki satu jenis" lanjut aleris.
Randi tidak henti-hentinya mengomeli aleris dimana randi sangat merasa kesal, kenapa aleris harus menyerang raksasa itu, membuat aleris muak.
"Kenapa kau ingin menyerangnya, hei dengarkan aku jika kita pergi dari situ awal-awal mungkin kita tidak akan mendapatkan luka seperti ini"
Aleris memejamkan matanya lalu menjawab, "Karena aku tidak ingin melihat pantung itu runtuh seperti bangunan disamping patung itu, bukankah tempat itu suci?"
Tiba-tiba randi terbelalak, ketika ia mengingat ia melihat raksasa bertanduk itu memakan raksasa yang lain, ia lalu menanyakan hal ini kepada aleris, namun aleris menggeleng tidak tahu.
"Kau melihatnya?" tanya aleris.
"Bukankah kau terperangkap didalam pelidunganku?" lanjut aleris.
"Entahlah tanah itu runtuh dengan sendirinya untung saja para raksasa itu tidak bisa naik kepermukaan" ucap randi lega.
Aleris teringat jika chakranya melemah, pelindung yang ia buat akan runtuh dengan sendirinya, ia lalu menunduk aleris merasakan nyeri ditanganya.
"Kenapa kau?" tangan randi.
"Sepertinya karena jatuh dari ketinggian dan tulangku sedikit tergeser"
Randi tertawa, "Ternyata kau dan aku lebih kuat aku ya? aku jatuh dari ketinggian tadi bersamamu aku hanya jatuh pingsan" ucap randi mengejek.
"Kau pingsan, aku melawan raksasa itu, dan menurutmu kuat dirimu?" ucap aleris.
"Hei aku juga melawan raksasa itu....." celoteh randi.
__ADS_1
Aleris memutar bola matanya, "Kau ingin aku buang ketempat raksasa itu?"
"Gila!!!" gumam randi.