Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Sebuah bangkai makhluk aneh muncul


__ADS_3

Randi membuka pintu kamarnya, ia tidak ingin membangunkan gilang yang masih tertidur dengan lelap, pagi ini ia akan melakukan sedikit gerakan olahraga setelah pemulihan tubuhnya karena sebuah fenomena serangan randi yang ingin membunuh malucia waktu itu, lengan randi dan punggungnya sedikit nyeri waktu itu karena ia jatuh disebuah bangunan yang keras, sudah kebiasaan randi memang terluka seperti itu.


Ia menggerakan tanganya seperti pemanasaan pada umumnya, randi menggelitik melihat begitu indahnya tempat ini jika dilihat saat pagi, ia tidak pernah melihat secantik ini, dulu ketika di rumahnya, ia hanya melihat gedung-gedung berjejer tinggi menutupi sinar matahari.


Randi olahraga di sebuah padang rumput di belakang istana, sepi memang, walaupun diistana begitu banyak para peri namun ketika pagi buta seperti ini terlihat sepi.


"Apa mereka tidak ingin olahraga sedikit pun?" gerutu randi.


Aleris keluar dari istana, tubuhnya telanjang hanya memakai celana saja, keringatnya sudah memenuhi tubuhnya, ia mendekat kearah randi.


"Baru ingin mulai?" ucapnya.


"Ini masih pagi buta, ini adalah waktu yang tepat untuk memulai" randi terlihat bingung ini masih pagi yang petang kenapa pertanyaan itu ia lontarkan bukankah ini waktu yang tepat.


"Waktu yang tepat adalah untuk olahraga dua jam yang lalu dan sekarang bukan waktunya yang tepat untuk memulai"


Randi terlihat sangat kesal, bagaimana bisa ia sok tahu seperti itu, randi sebenarnya tahu siapa laki-laki itu, namun karena sifatnya yang terlalu tidak peduli, ia berbicara nonformal, layaknya berbicara dengan teman sebayanya.


"Kau tidak memiliki tata krama.." ucap aleris.


"Apa katamu?"


"Kau tidak tahu aku?"


Randi memutar bola matanya, "Kau tuan aleris itu kan, yang menguasai istana ini..."


"Kenapa kau tidak menghormatiku?"


"Untuk apa, kita juga manusia kan?" gerutu randi seraya meninggalkan aleris yang masih terlihat kesal.


Aleris beberapa kali mengumpat karena perkataan yang dilontarkan randi, "Tapi benar juga..." ucapnya.


Gilang terbangun setelah suara pintu terbuka dengan keras, tubuh randi tiba-tiba tergeletak dilantai, keringatnya bercucuran dan nafasnya terengah-engah.


"Kau kenapa?" ucap gilang dengan suara serak.


"Kau tidak melihat dengan jelas aku baru saja ngapain?"


Gilang lalu membenarkan posisi duduknya, "Dimana kau melakukan olahraga?"


"Padang rumput itu belakang istana ini..."


Randi melanjutkan, "Kau tahu aku bertemu dengan tuan aleris aleris itu"


"Lalu?"


"Dia menyuruhku untuk menghormatinya"


"Kau kau hormatilah, kan dia memang pangeran kan?"


"Dia sama-sama manusia kenapa harus saling hormat.."


"Itu penting hei, kau tidak diajarkan saat sekolah"


Randi malah beranjak dan mengambil segelas air putih dimeja, randi lalu mengajak gilang untuk keluar, karena tempat itu sangat panas.


Masih dengan mata yang sipit karena belum sadar 100% gilang dengan lemas mengikuti randi, "Kau ingin mengajak ku kemana memangnya?" tanya gilang.


"Membersihkan diri seperti lidra mengajak kita waktu itu, kau ingat kan?"


Namun tiba-tiba aleris datang, menghalangi langkah mereka berdua.


"Ingin kemana kalian"


Gilang dengan cepat menundukan kepalanya, sedangkan randi masih dengan posisi semula, gilang menyuruh randi untuk menundukan kepala namun randi menolaknya.


"Minggir..." ucap randi, gilang melotot.


"Gila kau" ucap gilang.


Aleris menyipitkan mata, "Kau mengikutiku?"


Randi yang tidak terima langsung menggertak, "Mengikutimu? tidak salah dengar?"

__ADS_1


Tiba-tiba malucia dan lidra datang, mereka menundukan kepalanya menghormati aleris didepan mereka, randi tidak peduli, ia lalu menarik tangan gilang dan beranjak pergi begitu saja.


"Kau ingin ke sungai itu?" sahut lidra.


Randi menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, randi hanya mengangguk, "Tunggu kita juga akan kesana..." ucap aleris.


Mereka berlima lalu berjalan menuju sungai ditengah hutan, hutan yang asri dan damai tidak ada monster atau hal-hal yang mengerikan disana.


"Aku bisa mencari temanku kan? karena kau bukannya seorang pangeran?" ucap randi.


Tiba-tiba hening, tidak ada yang menjawabnya, karena tiba-tiba randi menanyakan tiba-tiba, tanpa menyebutkan nama siapa yang ingin dia tanyakan.


Mata randi membulat, ia merasa malu karena tiba-tiba terdiam, "Kau tanya siapa?" ucap aleris.


"Kau..." ucap randi membuang muka.


Aleris tertawa, ia menjelaskan bahwa sudah tiga hari berturut-berturut anak buahnya ia perintahkan untuk mencari orang yang tersesat dimana pun berada, namun tidak ada petunjuk yang mengarah ke teman mereka yaitu agil.


Sebenarnya malucia juga ikut serta dalam pencarian itu, tapi karena negeri ini luas dan keadaan ini masih sangat memungkinkan, karena aleris mendapat kabar banyak para zero yang sedang memburu monster, para monster keluar dari tempat tinggalnya, dan memburu manusia.


Randi dan gilang tahu persis dengan apa yang ada dinegeri ini, tentunya mereka mengingat kejadian saat mereka berpisah, lalu entah bagaimana mereka membayangkan jika mereka menelusuri setiap negeri apa yang akan mereka lihat.


Randi melepaskan bajunya tiba-tiba, membuat malucia dan lidra melotot kaget dan segera menutupi matanya, ia langsung menyebur kan tubuhnya ke sungai itu, diikuti gilang, aleris menatap kaget ketika melihat tubuh kekar randi, ternyata tubuh randi terlihat begitu sehat, tidak heran sifatnya begitu keras seperti tubuhnya.


Aleris tertawa pelan, membuat malucia dan lidra terheran-heran, aleris melepaskan bajunya, malucia dan lidra kembali dengan raut wajah kagetnya melotot melihat tubuh aleris yang ia pamerkan kepada kedua pria asing itu, aleris adalah tipe seseorang yang tidak mudah bergaul dan tidak mudah untuk memperlihatkan tubuhnya.


Malucia mengingat kejadian yang tidak lama ini, ketika ia tidak sengaja melihat dada bidang aleris yang terlihat begitu saja saat ia menerobos masuk kekamar aleris, pipinya merah, tiba-tiba ia merasa malu.


"Taunnnn saya kira kau tidak akan ikut berenang.." ucap gilang.


"Tentu saja aku akan ikut..."


Malucia dan lidra mencari sebuah pohon buah, seperti kata lidra ada banyak buah-buahan diarah hutan daerah utara, mereka lalu pergi mencari.


Disaat sedang sibuk memetik, malucia melihat sebuah potongan ekor seperti ikan yang tergeletak dibawah tumbuhan, ia lalu mengambil potongan ekor itu, malucia seperti tahu apa sebenarnya potongan ini, lalu ia memberikan ekor itu kepada lidra.


Lidra mengawasi sekitar, ia mencoba menggunaka kekuatannya yaitu mendeteksi jejak, dimana ia akan memejamkan amta seraya menyetuh tanah, dalam pikirannya memunculkan jejak-jejak makhluk yang melewati disekitaran tempat ini, tapi usaha lidra tidak membuahkan hasil.


Mereka berdua berharap hutan ini akan tetap terjaga dan damai tanpa ada gangguan monster, mereka menelusuri setiap tempat itu namun hasilnya nihil, mereka kembali ke sungai itu, ternyata aleris, randi, dan gilang sudah menepi, dan ada sebuah sosok yang sudah busuk yang tergeletak disana.


"Tadi kita kaget, karena makhluk ini tiba-tiba muncul dari dasar sungai" ucap aleris.


Malucia lalu menyodorkan potongan ekor itu, memang cocok dipasangan dengan ekor itu.


"Kau tahu dari mana asal makhluk ini? sungai ini aman dan tidak ada hal-hal mengerikan" sahut malucia.


Aleris berdiri dan memakai pakaiannya, "Ada sesuatu yang terjadi, ada yang sedang mengintai istana kita..."


"Dimana kalian menemukan potongan ekor ini?" tanya aleris.


"Dihutan bagian utara tepatnya dikebun buah" jawab lidra.


Aleris menempelkan kedua telapak tanganya, ia memejamkan mata dan seperti membaca mantra, tiba-tiba ia memunculkan seseorang yang persis dengannya, ia menciptakan beberapa salinan dari dirinya, randi dan gilang kaget dan tersungkur jatuh, mereka benar-benar tidak percaya adanya kekuatan itu, setahu mereka kekuatan itu hanya di miliki oleh kartun jepang bernama naruto, namun ini benar adanya.


"Gila apa ini!!!" teriak randi.


Gilang masih mematung dan melotot menatap apa yang ada didepannya.


"Maaf membuat kalian kaget ini adalah kekuatanku, sebenarnya sudah lama tidak aku gunakan, tenang aku hanya bisa memunculkan diriku sendiri tanpa bisa berbicara, jadi jangan takut"


"Ini memang benar adanya?" tanya gilang seraya menampar pipinya sendiri.


Aleris tersenyum, "Duniamu dengan duniaku berbeda kau tahu itu kan?"


"Baiklah tidak ada waktu banyak, kita harus kembali"


Kembaran aleris lalu membawa makhluk itu, dan mereka segera kembali menuju istana.


"Letakkan diruang penelitianku" ucap aleris kepada kembarannya, lalu ia pergi.


Mereka masih terlihat kawatir, apa lagi randi dan gilang, ia merasakan hawa aneh ketika melihat makhluk itu tiba-tiba muncul, ditambah mereka melihat secara langsung kekuatan jurus seperti dikartun naruto itu.


Kembaran aleris lalu kembali dan menerobos masuk ketubuh aleris lalu menghilang masuk kedalam tubuhnya, membuat randi dan gilang lagi-lagi kaget.

__ADS_1


"Aku bisa gila berada disini..." sahut randi.


"Kenapa tiba-tiba ada makhluk seperti itu tadi??" tanya gilang.


"Aku tidak tahu ini baru pertama kalinya tempat suci kita dikotori oleh makhluk seperti itu"


Lidra kembali menyentuh tanah dengan telapak tangannya, ia memejamkan mata, dan fokus memeriksa jejak, namun lagi-lagi tidak ada jejak yang tertinggal atau sesuatu seperti makhluk yang menginjak kaki dihutan itu.


Malam itu aleris memberikan tugas kepada anak buahnya, kali ini mereka tidak akan merasakan menjadi pengangguran, karena memiliki berbagai macam kekuatan disetiap tubuh mereka, mereka menjaga istana, malam itu mereka harus bekerja exstra mengeluarkan chakra mereka.


Randi dan gilang ikut serta, tapi mereka hanya menajamkan indra penglihatannya.


"Aku takut sesuatu akan terjadi" ucap gilang.


Mereka menjaga disebuah koridor istana bagian belakang, bersama dengan malucia dan lidra.


"Lang tenang ada banyak orang disini..." malucia menenangkan gilang.


"Apakah makhluk seperti itu memang benar adanya di negeri ini"


Malucia dan lidra saling menatap, "Ada lang, ada yang lebih mengerikan" ucap lidra.


"Makannya aleris menyuruhku untuk sabar dengan pencarian agil, aleris tahu hal seperti ini akan terjadi" sahut malucia.


Randi hanya terdiam, matanya melirik malucia, entahlah ia masih merasa kesal jika melihat malucia ada didepannya, rasanya ingin membunuhnya.


Randi tidak habis pikir, kekuatan dan makhluk seperti ini benar adanya, ia sangat tidak bisa mempercayai hal itu, karena menurutnya makhluk dan kekuatan seperti hanyalah mitos belaka.


"Kenapa setiap ki periksa tidak ada sama sekali jejak, lalu dari mana asalnya?" ucap lidra.


"Aku yakin, seseorang telah membawa makhluk itu, dan sengaja ia menghilangkan jejak dirinya disana..." jelas malucia.


"Atau mungkin dia menggunakan kekuatan perpindah tempat dengan kilap apa namanyaa?..." ucap gilang.


"Teleportasi" tepis randi seraya memasang muka malas.


"Aku sempat perpikir seperti itu" sahut lidra.


"Tapi apa tujuannya? apa mereka memberikan kita petunjuk?"


Terdengar suara langkah kaki, aleris datang.


"Dan sepertinya memang benar orang itu menggunakan jurus teleportasi" ucapnya.


"Tapi seharusnya aku bisa melihatnya" sahut lidra.


"Aku telah membuat salinan diriku banyak, mereka akan menjaga hutan itu malam ini..."


Gilang benerapa kali menelan ludah, ia merasa takut sesuatu terjadi kepadanya, ia tidak bisa harus melakukan adegan action seperti difilm-film, gilang tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan agil saat ini, apakah lebih mengerikan dari ini? gilang berharap agil masih hidup, ia adalah sosok yang tidak mudah menyerah membuat gilang yakin agil masih hidup.


"Lang...aku ingin menyelamatkan agil lang...." bisik randi.


Gilang menatap aneh kearah randi.


"Kenapa kau gila?"


"Gila? tujuan kita menyelamatkan agil kan?"


"Kau tidak lihat apa yang sedang kita kerjakan, dan kau tidak lihat apa yang kau lihat tadi siang?"


Randi menatap kosong didepan, ia tidak bisa harus berdiam diri seperti ini, sedangkan agil menunggunya.


Gilang memenggang kedua pundak randi, "Dengar aku tahu kita tidak bisa berdiam seperti ini saja, kita harus mengikuti perkataan aleris itu, siapa yang lebih kenal negeri ini jika bukan dia?"


Randi memejamkan mata, "Tapi agil......"


"Tempat ini bukan seperti tempat punya kita, dimana tidak ada yang membahayakan ditempat kita selain perampok dan yang bersangkutan dengan itu, tapi disini kau melawan monster ran...."


Mata randi membendung air mata, ia tidak ingin menangis tapi ia tidak bisa membohongi hatinya yang sakit, gilang memeluk tubuh besar randi menenagkannya.


Ternyata malucia telah menguping pembicaraan rsndi dsn gilang, ia menyalahkan dirinya sendiri, karena gara-gara dia, mereka berpisah ditempat seperti ini, negeri yang sangat mengerikan, malucia susah payah mencari keberadaan agil, ia juga mengajak lidra untuk memperiksa jejak, namun karena suatu hal tentang cuaca membuat chakra lidra tidak bisa digunakan dengan baik.


Malucia tahu ada banyak tempat dinegeri ini, ia tidak bisa mencari hanya dengan sekali perjalanan, sayangnya waktu itu ia kembali ketempat dimana agil terjatuh, namun seperti yang dikatakan lidra, tidak ada tanda-tanda jejak disana karena perubahan cuaca akhir-akhir ini.

__ADS_1


Malucia meneteskan air matanya, ia tidak bisa seperti ini, apa yang harus ia lakukan? aku harap agil masih hidup dimana pun dia berada, malucia sangat yakin itu.


Masih dalam posisi menjaga, sampai matahari akan memunculkan cahaya tidak ada tanda-tanda, entahlah apa maksud dari makhluk yang ditinggalkan begitu saja, aleris sangat yakin bahwa sungai bersih dan tidak ada sesuatu yang menganggu selama ini, tapi sesuatu telah terjadi siang tadi, sebuah makhluk muncul tiba-tiba dari dasar sungai, sebuah mayat yang sudah membusuk, sangat menjijikan karena kulit makhluk itu berlendir, dan warna kulit yang terlihat pucat.


__ADS_2