Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Perjalanan Agil menuju kota Majestic


__ADS_3

Perjalanan mereka sudah hampir berjalan tiga jam, para prajurit menyuruh mereka bertiga untuk beristirahat sebentar. Mereka berhenti disebuah padang rumput dengan tanah yang bergelombang, ditengah-tengah hutan pinus.


Agil membuka tas dan memberikan botol air kepada para prajurit itu lalu duduk disamping mereka.


"Saya pikir anda tidak bisa berkuda" ucap salah satu prajurit tersebut.


Agik tertawa, "Saya bisa kok, saya berlatih dengan paman Argus"


Kedua para prajurit itu tersentak kaget, "Lhoh?"


"Ia mengajari kita dengan materi dan ucapan, selama ingin tidur kita harus membayangkan bagaimana bisa berkuda, eh tapi selama saya masih ada di dunia saya, saya sering berkuda"


Kedua para prajurit itu mengangguk mengerti.


"Coba aku ingin tahu kalimat perpisahanmu semalam dengan paman apa?" tanya Tea.


"Aku hanya berterima kasih saja, selama ini paman sudah membantu kita.."


Tea menatap langit seraya menjawab.


"Benar, perpisahanku juga selama, aku mengatakan dengan tulus, apa unek-unekku, selama kita hidup bersama dengan mereka, aku sangat bahagia, benar-benar bahagia, sayang sekali tujuan kita harus etap dijalankan bukan?"


Tiba-tiba Jay memeluk tubuh Tea, ia menangis didalam pelukannya.


"Santai saja, kita akan pulang" sahut Tea.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka, hingga kedua para prajurit itu menghentikan langkah kudanya.


"Ada apa pak?" tanya Agil.


Prajurit itu menyuruh mereka untuk diam tidak bersuara sama sekali.


"Saya ingin kalian tetap diam..." sahutnya.


Jay melirik kearah Tea.


"Tenang Jay..." sahut Agil.


Ternyata sudah lama mata Agil terus menatap Jay. Kedua prajurit itu setelah memeriksa bahwa ternyata aman-aman saja, mereka melanjutkan perjalananya, seraya menunggangi kuda dengan sangat pelan.


"Pak? apakah ada tanda-tanda monster?"


"Aku harap seperti itu, karena sudah beberapa hari ini monster-monster ini tidak terlihat lagi.."


"Benar..." sahut Agil.


"Saya akan kebelakang..." ucap salah satu prajurit itu.


"Bukankah lebih aman kalian ada ditengah.." lanjutnya.


Setelah melewati perjalan panjang didalam hutan, mereka telah keluar mereka lalu melewati padang rumput yang luas hingga keujung, perjalanan mereka ditemani oleh banyaknya kupu-kupu yang memiliki motif yang beraneka ragam.


"Apakah perjalanan ini memakan waktu yang lama?" sahut Tea.


"Sangat lama, apa lagi saya menjaga kalian sepertinya akan sangat lama, kota Majestic sangat jauh kearah barat..."


Tiba-tiba keheningan datang, prajurit yang berjalan kedepan sedikit merasakan hawa yang tidak enak dilingkungan ini, sehingga ia memrintahkan agar mereka sedikit cepat untuk berjalan.


Tanpa ada tanda-tanda, sesuatu yang tiba-tiba muncul dari bawah tanah, didepan prajurit yang berada didepan, seperti seekor naga yang muncul, lalu ia melewati orang-orang dibawahnya melingkar seperti melayang, lalu dengan cepat melahap seorang prajurit yang berada dibelakang lalu masuk kembali kedalam tanah dengan cepat.


Agil, Jay, dan Tea berteriak dan melaju kedepan spontan dengan cepat.


"Ahhhhhhhhhhhhhh!!!!" teriak Jay dan Tea tidak henti-hentinya.


Prajurit itu lalu memerintahkan Jay dan Tea agar bersembunyi disuatu tempat.


"Pak apa itu, lalu prajurit itu bagaimana!!!" teriak Agil.


Jantungnya sangat berdebar saat monster itu tiba-tiba datang dan melahap prajurit yang ada dibelakangnya. Rasanya ia sangat ketakutan.


"Kau bisa menenangkan dua wanita itu..." sahut prajurit tersebut.


"Apa yang kau katakan" ucap Agil seraya mengambil busur panahnya.


"Baiklah..." sahut prajurit itu lalu ia turun dari punggung kuda diikuti Agil, ia mengambil pedangnya.


"Siap-siap jika monster itu datang lagi..."


"Bukankah kita harus pergi saja menghindar?"


"Tidak, monster itu akan mengikuti kita, dia pikir kita takut, jadi mau terbunuh atau tidak yang terpenting kita harus menyerang agar kita dianggap berani"


Tanahnya bergetar, Agil dan prajurit itu menyodorkan senjatanya berhati-hati, makhluk itu muncul tepat dibawah mereka hingga tubuh mereka terlempar entah terjatuh kemana.


Monster itu mengaum, dengan cepat dari jauh Jay menyiapakn busur panahnya ia menutup satu matanya, ia berharap panahnya sampai dimatanya, dan...


"Byukkk!!" suara panah itu mengenai mata monster itu terdengar.

__ADS_1


Monster itu mengamuk kesakitan, Agil bangun dari jatuhnya ia mencari keberadaan prajurit tersebut, namun matanya terbelalak saat ia melihat wajah prajurit itu sudah penuh darah, ternyata ia mendarat tepat disebuah batu besar.


Agil dengan nafas yang terengah-engah ia menundukan kepalanya, sempat ia sangat takut, ia juga sudah melihat didepan mata kepalanya sendiri bagaimana kedua para prajurit itu dihabisi oleh satu monster dalam kurung waktu yang dekat.


Agil masih terduduk merasakan sakit betis kakinya, ia melihat Tea berlari seraya memanah dengan asal-asalan tapi bisa mengenai tubuh monster itu, monster itu merintih dan terus mengaum karena kesakitan.


Karena melihat hal itu, dengan langkah yang pincang ia mendekat kearah prajurit itu ia lalu mengambil pedang yang masih dipegang oleh prajurit itu.


Ia berteriak, "Jay!!!"


Agil menginsyaratkan Jay agar lari mendekat kearah monster itu, tanpa adanya isyarat yang jelas, namun Jay sudah paham. Agil melempar pedang itu kearah Jay, Jay menerimanya dengan cepat, ia melompat dan berusaha untuk menebas ekor monster tersebut namun, tak disangka ekor itu bergerak dan menyabit Jay hingga terlempar, tubuh Jay terjatuh mengenai sebuah gundukan tanah.


"Jay!!!!" teriak Agil.


Tea yang berhenti memanah dan bersembunyi dibalik batang pohon, nafasnya terengah-engah, ia sedikit lega setelah memanah monster itu walaupun sangat asal-asalnya tapi hal itu mengenai tubuh monster itu, hingga tubuh monster tersebut penuh panah.


Seraya mengaum tidak henti-henti, satu matanya mengarah kearah Agil yang masih terduduk merasakan sakit yang luar biasa.


"Gil!!!!" teriak Tea.


Agil mendongak, monster itu dengan cepat mengarah kearah Agil, ia mendekat, Agil berusaha terus menghindar ia terus ngesot entah kemana.


Tea berlari setelah mengambil pedang didalam tasnya, ia berlari kearah belakang monster itu, karena langkah yang lamban ia tidak bisa menyaingi monster itu, ia melempar pedangnya kedepan Agil.


Dengan mulus Agil menerimanya, ia menyodongkan pedangnya saat monster itu sudah sampai didepan wajah Agil dengan dekat, pedang itu mengenai leher monster itu dengan mulus, hingga menembus sampai keatas punggungnya.


Agil membuka matanya, saat monster itu sudah terdiam, dan tubuh monster tersebut tergeletak begitu saja, setelah ia mengeluarkan darah dari mulutnya membuat tubuh Agil penuh darah.


Monster yang bisa disebut dengan naga itu mati, sudah tak sadarkan diri, tergeletak disamping Agil, Tea yang sudah sampai dihadapan Agil lalu ia dengan cepat mencopot pedang tersebut, ia kembali menebas ekor monster itu berkali-kali hingga terbelah menjadi beberapa, Tea sangat takut jika monster tersebut masih hidup.


"Sepertinya ini pyur monster, monstrer yang bisa mati...."


Seraya menghelan nafas, Te menjawab, "Syukur kalau begitu...."


"Aku sangat bersyukur monster ini tidak besar-besar sekali, jadi kita tidak kesusahan..." sahut Agil.


Tea menolong Agil untuk berdiri, ia berjalan kearah tempat yang aman alias tempat dimana kuda dan barang-barang mereka letakan. Tea menyodorkan kain dan botol air untuk Agil untuk membersihkan tubuhnya.


"Jay....dia pingsan ditumpukan tanah itu..." sahut Agil.


Tea berlari menyusul, Jay tidak sadarkan diri, dengan tenaga yang tersisa Tea menggendong Jay, ia letakan dipunggungnya.


"Bruk!!!!" tubuh Jay Tea letakkan disebuah tumpukan rumput.


"Hati-hati!!" pekik Agil.


"Lalu bagaimana?" ucap Tea.


"Mayat prajurit itu, lalu perjalanan kita"


"Kita letakan tubuh prajurit itu disini, lalu kita bawa tasnya kita ambil petanya"


Agil berdiri walaupun ia merintih kesakitan pada kakinya, ia mendekat kearah Jay yang masih tak sadarkan diri, ia duduk.


"Jay...bangun yuk...."


Ekor mata Agil yang sudah penuh dengan air mata, ia menutup tubuh prajurit itu dengan dedaunan yang ada disana, lalu ia menyiram dengan air botol. Jay dan Tea yang menyaksikan didepan mereka tak kuasa menahan air matanya.


"Kau sudah berjuang demi kita, kau sudah berjuang untuk orang yang dipercayai, terima kasih sudah mengantarkan kami diperjalanan untuk mencari jawaban dunia yang fana ini, suatu saat kau akan bahagia melihat aku dan orang-orang disini yang tersesat bisa kembali kedunia asal.." Agil menundukan kepalanya berdoa.


Ia berdiri dan menepuk pundak Jay dan Tea, menenangkan mereka agar ikhlas.


"Aku melihat, aku melihat saat kepalanya terbentur disebuah batu.." rintih Tea.


"Aku berharap ia masih bisa bangun, tapi aku melihat darah yang keluar dari mulut dan hidungnya, aku berlari ingin menyelamatkannya, namun ada satu hal yang lebih mengangguku, monster itu, aku meraih busur panah aku memanah tak beraturan aku berharap tidak beraturannya aku saat memanah bisa mengembalikan emosiku..." gumam Tea.


Jay memeluk Tea.


"Kita tidak bisa kembali atau membawa prajurit ini, kita harus berjalan sesuai rencana, aku bisa membaca peta kok, yang harus kita waspadai adalah para monster..."


"Dengar, sejak iblis itu datang ketenda kita, aku tidak melihat monster yang mengerikan seperti siluman lagi, aku hanya melihat monster yang alami ditempat-tempat, yang bahkan bisa dibunuh dan mati.."


Jay dan Tea mengangguk, mereka lalu mengambil tas mereka dan beranjak menunggangi kuda, meninggalkan jasad yang sudah berjasa untuk mereka.


Namun didalam perjalanan, mata Jay sangat buram, kepalanya sangat berat hingga ia tak kuat untuk berdiri, ia lalu terjatuh dari punggung kuda membuat kuda yang ditumpangi Jay berhenti seketika.


"Gil! Jay!" pekik Tea.


Agil yang sudah berjalan didepan, lalu berhenti dan balik putar arah, ia segera turun dari punggung kuda.


"Jay! jay!" teriak Agil menampar beberapa kali pipi Jay.


Jay membuka matanya, suasana gelap hanya ada obor yang menempel dibatang pohon dan suara kuda yang sesaat berbunyi, Jay terbangun, ia bisa melihat Tea dan Agil yang tertidur terlalap disampingnya. Dan bahkan Jay menyadari ia sudah jauh dari tempat monster itu datang.


Jay berdiri ia membuka tasnya, dan mengeluarkan botol berisi air lalu menegguknya.


"Sudah bangun?" gumam Agil, ia masih terdiam tidak bergerak dari tidurnya.

__ADS_1


Jay tersentak.


"Tidak ada yang sakit kah?" lalu Agil bangun.


Agil mendekat seraya ia meraih tangan Jay, meraba namun tidak ads sama sekali luka, kemudian ia melihat kedua kaki Jay namun tidak ada luka juga.


"Tidak, tidak ada yang luka..." sahut Jay.


"Aku menggendongmu tadi, sampai ditempat yang aman aku berharap begitu..."


Jay tersenyum, "Terima kasih, pasti berat ya?"


Agil hanya tersenyum tipis, ia meraih kedua tangan Jay.


"Dengar, aku menyukaimu..."


Jay hanya terdiam kaku, bahkan Agik sudah mengulangi untuk yang kedua kalinya.


"Bisakan kalau kau terus bersamaku, sampai kita kembali kedunia kita?"


Tanpa aba-aba, Agil menarik kedua tangan Jay hingga tubuh Jay terjatuh kedada Agil, Agil memeluknya dengan sangat erat, mencium rambut kepala Jay.


"Akan aku perkenalkan kepada dua sahabatku..."


Matahari mulai naik, suasana pagi yang sangat dingin, bahkan kabut masih berdiam dihutan tersebut, embun yang membasahi dedaunan disekitar, suasana yang gelap menjadi lebih sedikit bersinar.


Tea terbangun, ia melihat Jay dan Agil masih terlelap, ia lalu mengambil sebuah makanan yang ia bawa didalam tasnya. Seraya berjalan mencari angin kearah utara. Tea terbelalak saat ia melihat pemandangan dari arah bukit yang ia langkahi ini, sebuah perbukitan yang saling berjajar dan sebuah surya yang menyelinap disisi bukit tersebut.


"Wau....sangat, sangat indah sekali..."


Ia ingin sekali memotret pemadangan seperti surga didepannya, nsmun ia sadar ini bukanlah dunia miliknya bahkan tidak ada alat seperti kamera disini.


Tea melirik kearah tempat mereka tidur, saat ia mendengar suara Agil yang menguap dan menggeliat, mengembalikan otot agar ia bisa bersemangat kembali untuk perjalanan.


"Coba lihat petanya" Ucap Tea.


Agil lalu menyodorkan peta tersebut. Tea terbelalak saat melihat jalan didalam peta tersebut sangatlah rumit.


"Gil kita sekarang ada dimana?"


Agil berdiri, lalu ia menunjuk sebuah tempat didalam peta tersebut.


"Hah? jadi masih sangat jauh?"


Agil mengangguk.


Tidak menunggu waktu yang lama, mereka sudah melanjutkan perjalanan seperti biasa, hingga tak terasa perjalanan mereka telah menempuh lima jam lamanya.


Mereka beristirahat disebuah tempat, tapi ada satu hal yang membuat istirahat mereka tidak tenang, mereka mendengarkan auman serigala. Waspada mereka menyiapkan senjata mereka.


"Sepertinya kita harus pergi dari sini..." gumam Agil.


Namun ditengah-tengah mereka bersiap pergi, serigala besar datang dari balik pohon, ia berlari seraya mengaum dengan gigi yang tajam, berlari kearah mereka.


Jay yang ada diposisi belakang, lalu dengan cepat ia mengeluarkan busur panahnya, ia menebak kearah serigala itu, dan busur panah tersebut mengenai perutnya.


"Cepat!! cepat!!" teriak Tea.


Jay kemudian menunggangi kuda dan segera pergi. Tidak sampai disitu, bahkan serigala itu masih mengejar mereka, Agil menoleh.


Ia menyuruh Tea dan Jay yang ada dibelakangnya agar menyalipnya


Seimbang ayo seimbang!!!


Agil berdiri dipunggung kuda tersebut, ia mengarah kearah serigala tersebut, mengeluarkan busur panahnya.


Kalau bisa ayo panah matanya!


Benar dugaan Agil, Agil bisa mengenai mata serigala itu dengan panahnya, ia kemudian kembali duduk dan melanjutkan perjalannya saat ia menyadari serigala itu sudah berhenti, karena merintih kesakitan.


Tiba-tiba hal tidak terduga datang, saat Jay dan Tea fokus dalam mengendarai kudanya. Serigala besar yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


Karena kaget mereka membelokan kudanya, hingga tak tau arah membuat mereka tersungkur jatuh karena arah yang tidak beraturan tadi.


"Jay!! tee!!!" teriak Agil.


Ia kemudian mengambil belati dan melempar kearah serigala tersebut namun serigala itu berhasil menepisnya. Serigala itu mengarah kearah Jay, dengan cepat Jay berlari dan memanjat pohon, Tea berteriak lalu ia melempar pedangnya kepada Jay, Jay menerimanya dengan mulus ia mendarat jatuh keserigala tersebut, ia berhasil menancapkan pedangnya dipunggung serigala itu.


Serigala tersebut mengaum kesakitan, dengan cepat Agil berlari dan segera menebas kepala serigala itu, tapi sebelum itu serigala tersebut berhasil menendang Jay yang masih berdiri dibelakangnya, hingga terlempar hingga tubuhnya menabrak batang pohon, celakanya yang pertama kali mendarat adalah pergelangan kaki Jay yang melintir.


"Ah!!!!" teriak Jay.


Tea yang masih memeggangi pedang, meletakannya begitu saja dan berlari kearah Jay.


"Jay? gak apa-apa kan?"


Jay merintih, "Sepertinya kakiku tergelincir"

__ADS_1


Agil segera menebas kepala serigala itu tanpa aba-aba, kepala yang tadinya untuh sekarang menggelinding ditanah, Agil menoleh ke belakang saat serigala itu tidak mengikutinya lagi.


Agil berlari kearah Jay dan Tea.


__ADS_2