Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Ingatan muncul


__ADS_3

Aleris berhenti didepan pintu masuk rumah itu, ia menatap menara kerajaan yang terlihat dari tempat ia berdiri. Kai membuka pintu saat melihat Aleris berhenti dan terdiam didepan pintu.


"Tuan? gak masuk?" tanya Kai diambang pintu.


Aleris hanya menatap Kai, dengan tatapan kosong. Hingga Kai mendekat dan menepuk pundak Aleris.


"Kau ingin ikut denganku?" sahut Aleris tiba-tiba.


Membuat Kai terbelalak kaget, Ia lalu masuk kedalam rumah seraya mengajak Kai, Kai ikut dibelakangnya, ia berhenti didepan Agil dan yang lainnya.


"Kali ini aku tidak bisa diam.." sahut Aleris tiba-tiba.


Semua warga yang ada disana hanya terdiam dan mendengarkan ucapan Aleris.


"Ingatan itu muncul dan aku tahu sekarang, walaupun aku telat..."


"Apa itu?" sahut Argus.


Aleris lalu duduk, ia mulai bercerita.


"Yang aku ingat adalah, aku sedang bercerita dengan iblis didalam anak kedua ratu dan raja..."


Tiba-tiba, Aleris berbisik dan hanya bercerita kepada Agil dan yang lainnya, ia tidak ingin warga tahu tentng ini.


"Mungkin sebagian kalian tidak tahu, tapi jiwa anak kedua mereka setengahnya adalah seorang iblis..."


Semua orang yang mendengar terbelalak, Fay mendekat.


"Kau sungguh mengatakannya kepada orang-orang ini?"


Aleris hanya membalas dengan anggukan saja.


"Jadi maksudmu? rumor itu benar adanya?" sahut Agil.


"Kau tahu itu?" ucap Aleris.


"Tentu..." sahut Agil.


"Kalian tahu? mengapa banyak orang-orang dari dunia lain masuk kenegeri ini, Kau, Tea dan Gilang, ini adalah salah satu rencana sang raja.."


Gilang berdiri, "Apa?"


Agil menyentuh tangan Gilang, "Lang, dengarkan dulu...."ucap Agil.


"Mereka memiliki Matrix, Matrix salah satu kekuatan yang mereka punya, dan sangatlah kuat, mereka merancang ini sudah sangat lama, bahkan rancangan ini juga dibuat oleh seseorang bernama Rine, dari negaramu Gil, dia manusia dari dunia mu.."


Semua yang mendengarkan itu terbelalak kaget.


"Tujuannya, jelas untuk kemakmuran dunianya sendiri..."

__ADS_1


"Iblis, iblis yang ada ditubuh anak itu kenapa?" sahut Tea.


"Entah aku mendapatkan izin dari Fay untuk mengatakan ini atau tidak?"


Fay tersenyum lalu ia menyahut, "Ini penting, kenapa kau masih berkata seprrti itu, ucapkan saja!" sahut Fay.


"Ini adalah kesengajaan, mereka memasukan jiwa iblis ketubuh anak kedua mereka, mereka ingin anak keduanya memiliki kekuatan, karena pada dasarnya anak pertama dan keduanya tidak memiliki kekuatan pewaris dari sang raja, namun rencananya berubah saat Randi datang, jiwa iblis itu akan dipindahkan kedalam tubuh Randi, mereka akan menyerang seseorang yang menghalangi rencananya, dan para monster dan raksasa itu adalah penghalangnya, karena masa lalu membuat mereka ingin balas dendam dengan sang raja.."


Gilang menyahut, "Dengar! aku tidak ingin terjadi! bagaimana bisa! Randi!! Ah, tolong tuan Aleris tolong kami!" ucap Gilang.


Agil terdiam ia menundukan kepalanya.


*Berarti aku sudah tahu Ran, kau masih hidup, tapi mendengar kabar ini, kenapa aku tidak bahagia karena mendengar kau masih hidup? kenapa aku malah merasa ketakutan, sedih, marah?


Kau sungguh berada dikerumunan sang raja? kau orang biasa kau bagaimana bisa kau ikut serta dalam masalah ini? kau tidak bisa diam saja dirumah? bagaimana bisa aku menyelamatkanmu*.


Gilang menyentuh lengan Agil, "Gil kenapa kau diam saja! Gil katakan sesuatu!" tak disangka Gilang menangis.


Argus terbelalak, ia tidak bisa berkata-kata, lagi ia meremas rambut kepalanya.


"Benar, kan kataku? dulu-dulu, jawabanya ada disini!" bisik Argus kepada Kai dan Timandra.


"Paman! disini adalah ibu kota, bagaimana mungkin mereka tidak ikut campur tangan dengan masalah baru-baru ini.." ucap Kai.


Malucia hanya bisa menghelan nafasnya, lalu ia mendekat dan menyahut.


"Ris? jelaskan kepadaku? kenapa kita diculik? dan istanamu dihancurkan? kita disandera begitu, lalu lihat saat kita dibebaskan, sang raja hanya menyerang lalu meninggalkan kita, seakan kita lepas juga tak masalah..."


"Karena aku tidak mengatakan apapun, sebagai jaminanya mereka menghancurkan istanaki dan membawa pasukanku untuk disandera, tapi nyatanya mereka salah bukan? mereka tidak memiliki jawaban dariku..."


Agil dan Gilang masih terdiam, Gilang hanya bisa menangis dan menangis mendengar apa yang terjadi.


"Sialan!" umpat Tea, seraya menatap tajam menara kerajaan dari kaca jendela.


"Aku harus kehilangan teman baikku, kaparat!!!!" umpat Tea.


Vin mendekat dan menenangkan Tea.


"Te...sudah Te..." ucap Vin.


"Kau? kau ada dipihak siapa Vin?" ucap Tea berteriak.


Membuat semua orang terdiam, dan kaget mendengarkannya. Aleris berdiri dengan panik.


"Ada apa?" tanya Aleris.


Malucia tiba-tiba menyentuh tangan Tea, untuk tidak membeberkan identitas Vin, Malucia tahu ia juga seorang yang sama, dan ia tidak bisa membiarkan Tea mengatakannya.


"Kenapa?" bisik Tea kepada Malucia.

__ADS_1


Lidra lalu menarik tangan Vin untuk menghindar dari Tea, "Aku tahu identiasmu.." ucap Lidra.


"Bukankah dia nantinya akan berubah? semua orang juga akan tahu? bukankah aku benar? bertanya dia ada dipihak mana.."


Semua orang saling bertatapan, tentu teriakan Tea ini membuat warga yang berada dirumah tersebut menatapnya.


"Sungguh kau akan mengatakannya disini? kau tidak lihat situasi?"


Tea tertawa, "Dimana kalian? saat aku dan Jay merasa ketakutan?"


Argus merasa ada sesuatu yang tak beres dari Tea, ia mendekat dan memeluk Tea.


"Te, tidak jangan! jangan seperti ini jangan!" gumam Argus.


Gilang berdiri, ia menoleh kearah Aleris, ternyata Aleris sudah lama menatap Gilang.


"Tuan, bisa kan selamatkan Randi?"


Aleris menunduk, "Lang, ini memang salahku, maafkan aku tapi sudah terlambat, Randi sudah berubah, tinggal menunggu waktu dimana mereka menyerang kita.."


Gilang hanya bisa tersenyum dengan palsu, ia sangat marah mendengar jawaban dari Aleris.


"Ris..." Agil berdiri.


"Musuh kita sebenarnya bukan para monster atau raksasa itu, berati musuh kita adalah sang raja dan buntutnya, bagaimana kita bisa berkerja sama dengan mereka, para monster itu dan menyerang kerajaan..."


Fay menyahut, "Tapi sepertinya, senjata mereka sangat kuat, dan tentunya iblis yang mereka punya akan lebih jauh mengerikan dari dugaan kita.."


"Kau tidak memiliki informasi apapun?" tanya Aleris.


Fay menjawab, "Bagimana bisa aku mendapatkan informasi? jelas-jelas aku dan kakakku tidak akur"


"Tuan lalu bagaimana?" sahut Lidra.


Aleris mendekat kearah Lidra, "Kau bisa kan? melihat jejak sekarang?"


Lidra mengangguk, ia memejamkan matanya, dan mulai membaca jejak. Yang ia lihat adalah para raksasa yang kian mundur, entah yang ia lihat jejak para raksasa sudah tak terlihat didalam kota, ia bisa merasakan jejak keempat orang dari balik tembok, dan itu adalah orang-orang kerajaan.


Namun, anehnya ia tidak bisa membaca jejak langsung dari dalam kerajaan.


"Tuan, maafkan aku, aku tidak bisa melihat jejak didalam kerajaan..."


Mendengar itu, Gilang beranjak mendekat kejendela, Agil yang menyadari itu mengikuti Gilang.


"Kau sungguh diam saja?" ucap Gilang.


"Kau tidak lihat? teman kita? bagaimana nasibnya? kau tahu Gil? yang selalu ia ucapkan disituasi apapun adalah 'Pulang bersama bertiga, tanpa ada halangan apapun, lakukanlah dengan lapang dada!' kau sungguh diam saja?" ucap Gilang tanpa menoleh keafah Agil.


Agil menyentuh pundak Gilang, "Lalu aku harus bagaimana Lang? datang masuk kedalam kerajaan? menyerang mereka yang bahkan aku tidak memiliki kekuatan? jika pada akhirnga aku mati? kau kehilangan dua sahabatmu..." ucap Agil.

__ADS_1


Gilang menoleh, air mata itu sudah penuh diwajahnya.


"Bagaimana bisa Randi seperti itu, Gil...." ucap Gilang lalu ia memeluk tubuh Agil.


__ADS_2