
Lidra beranjak begitu saja, pipinya masih merah, ia berusaha menutupinya.
"Kau kenapa sih? aku biasa saja aku menikmati buah-buahan ini..." sahut Randi seraya kembali mempersilahkan Lidra duduk.
"Kau sudah berapa kali datang kekota Majestic?" tanya Randi setelah Lidra kembali duduk disampingnya.
"Bisa dihitung, aku yang kerap mengantarkan tuan Aleris datang kesini..."
"Heh? aku pikir Malucia karena ia dekat dengan Aleris"
Lidra menggeleng seraya memakan buah apel tersebut.
"Banyak yang mengatakan kok, Malucia sangat dekat dengan Aleris, tapi sebenarnya jika dilihat dari pekerjaan aku yang kerap disuruh tuan, kalau Malucia lebih ke dekat karena perasaan mungkin..." ucap Lidra.
Randi tersedak karena mendengarkan ucapan Lidra.
"Benar, kau tahu? mereka seperti saling menyukai kan?" sahut Randi.
Lidra melirik sebentar Randi lalu ia menatap kedepan.
"Entahlah aku juga berpikir seperti itu...."
Tiba-tiba keheningan muncul, tidak ada perkataan yang muncul dari Randi dan Lidra.
"Sebenarnya urusan apa itu?" ucap Lidra tiba-tiba menghentikan keheningan.
Randi menoleh dan menatap Lidra, apakah ia akan memberitahu semua rencananya kepada Lidra?
Tidak, tidak akan mungkin aku akan memberitahu Lidra soal rencana rahasiaku.
"Kalau kau merahasiakannya, tidak apa aku juga tidak harus tahu semua tentang rahasiamu, tapi ingat...." Lidra menghentikan ucapanya.
"Kerajaan itu bukanlah kerajaan sembarangan...." ucap Lidra seraya beranjak.
"Selama tidur....."
Randi memeggang tangan Lidra, membuat Lidra berhenti dan kaget.
"Kenapa?" tanya Lidra.
Randi lalu berdiri dan menatap sangat dekat menatap Lidra. Randi menghelan nafas membuat Lidra bisa merasakan hembusan tersebut.
"Ada apa? kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Lidra.
Namun Randi masih menatap wajah Lidra.
"Apakah jika aku memberitahu tentang rencanaku kau akan membantuku?"
Lidra terdiam.
"Maka beritahu aku apa rencanamu itu..."
Randi mendekatkan lebih dekat wajahnya dengan wajah Lidra membuat Lidra terdiam membeku. Mata Randi menatap tajam bibir Lidra, lalu kembali menatap matanya.
"Rencanaya aku akan menjemput Aleris....." sahut Randi membuat Lidra geram.
Ia mendorong Randi untuk segera pergi dari dekapannya.
"Apa?" pekik Lidra.
Membuat Randi tertawa. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya ketempat tidur, dalam posisi masih telanjang dada. Lidra kembali duduk dan menyantap buah-buahan.
"Aku pernah menyukai seorang pria di kota Majestic ini..."
Ucapan Lidra membuat Randi exsited untuk mendengarkannya.
"Aku bertemu dengannya disebuah persimpangan jalan setapak, perbatasan sungai dan desa, aku bertemu dengannya karena sebuah pekerjaan sebenarnya"
"Pekerjaan?"
Lidra mengangguk.
"Aku bertemu dengannya tidak hanya satu kali, ada satu masa aku harus mengantarkan tuan Aleris ke kota Majetic, ia juga menginap dipenginapan kerajaan karena pekerjaan"
"Lalu apa yang terjadi?"
Lidra menghelan nafasnya, seperti berat untuk mengatakannya.
"Dia bunuh diri..."
Randi terbelalak seraya beranjak dan mendekati Lidra.
"Apa!?"
Lidra mengangguk.
"Aku sempat bertemu dengannya berbincang-bincang, dia dipaksa menikahi seorang janda anak dua, oleh orang tuanya, ia juga dipaksa untuk bekerja habis-habisan, hingga pada hari dimana ia akan pulang karena pekerajaan selesai, ia ditemukan menggantung diri dipohon dekat kerajaan...."
Randi melongo, mendengarkan cerita dari Lidra.
"Kita tidak tahu bukan? bagaimana orang akan hidup dan mati bagaimana orang bisa menerima hidupnya atau tidak, yang bisa kita lakukan didekatnya ya memotivasinya..."
Randi kembali duduk disamping Lidra dan menepuk pundaknya.
"Aku tidak sedih, aku belum mengatakannya jika aku menyukainya tapi aku sudah menyukainya saat pandangan pertama..."
"Kau akan mendapatkan pria seperti itu lagi dengan versi yang berbeda..." pekik Randi membuat Lidra spontan menoleh.
"Siapa?"
Randi hanya tersenyum. Ia menyentuh tangan Lidra dan menggenggamnya.
Lidra tersentak.
"Kenapa ya? kau selalu muncul dipikiranku?" sahut Randi.
Lidra melotot.
"Maksutmu?"
"Aku pikir aku salah mengartikan karena aku tidak terlalu fokus, tapi...."
Randi lalu beranjak begitu saja setelah memotong ucapanya. Tiba-tiba saat ia melangkah anduk yang melingkar diperut Randi terlepas membuat Lidra tersentak dan segera menutup matanya.
"Ah tidak! jangan melihat!" pekik Randi seraya mengambil kain anduk tersebut.
Lidra masih menutup matanya.
"Kau melihatnya?" sahut Randi.
__ADS_1
"Tidak!"
Randi lalu segera melipat kain anduk itu keperutnya lagi.
"Kau bisa membuka matanya!"
"Sudah kau pakai pakaianmu itu!" pekik Lidra.
Tanpa basa-basi Randi mendekat kearah Lidra, ia lalu menciumnya begitu saja. Lidra tersentak matanya melotot pipinya sangat merah, ia membeku.
Randi melepaskan ciumannya dan menatap mata indah Lidra. Ia tersenyum dan melanjutkan aksinya lagi. Lidra berdiri masih dengan ciumannya tanpa lepas, Randi menggiring Lidra untuk melangkah menuju tempat tidur.
Lidra menjatuhkan tubuhnya, dan melepaskan ciumannya, ia bisa menatap dada bidang Randi diatasnya. Namun satu hal yang membuqt Lidra tidak bisa berkata-kata, Randi melepaskan kain anduk tersebut dan kemudian ia meniduri Lidra dibawahnya.
Ia kembali mencium Lidra, seraya meraba rambut kepala Lidra, sebuah hasrat yang sudah lama tidak dirasakan Randi, bahkan ia bisa bermain dengan wanita yang cocok dengannya.
Hal yang membuat hasrat Randi bertambah adalah ketika tangan kedua Lidra meraba punggung halusnya, karena kenikmatan ciuman tersebut.
Randi kemudia mencium leher Lidra, mata mereka terpejam merasakan kenikmatan hingga Randi mendengar suara indah yang keluar dari mulut Lidra karena kenikmatan itu, Randi tersenyum.
Malam itu, bukanlah malam yang seharusnya diisi istirahat yang cukup untuk Randi, seperti ia harus melakukan akso gilanya, bukankah ditengah-tengah kebimbangannya ia harus mengisi amunisi kebahagian, seperti ini contohnya.
Ia bisa merasakan Lidra mahir lakukan hal ini, tidak henti-hentinya Randi tersenyum karena kenikmatan yang bisa ia ciptakan dengan Lidra, awalnya ini bukanlah suatu rencana, entahlah Randi tiba-tiba ingin mencium wanita yang ada didekatnya.
Ia ingin menenangkan hatinya yang sudah lama ia rasakan dengan perasaan yang sakit, ia ingin memuaskannya malam ini, ia ingin malam ini menjadi malam yang tidak bisa dilupakan olehnya, ingin ia buang jauh-jauh rasa sakit ini.
Tentang rencana gila yang Randi buat adalah suatu rencana yang sangat diluar nalar manusia, ia saja masih ragu tentang rencana ini apakah ia akan berhasil ataukan ia akan mati didunia yang tidak nyata ini.
Satu pikiran kotor yang selalu lewat diotak Randi adalah, tentang kepercayaan. Sekarang siapa yang harus ia percaya? dirinya sendiri ataukah Aleris?
Tidak bisa ia jawab didalam pikirannya, ia selalu terombang ambing dengan pikirannya sendiri.
Randi melepaskan ciuman tersebut, namun Lidra mendorong kepala Randi agar ciuman ini masih berjalan, tapi seketikan Lidra tersadar. Randi masih menatap Lidra dibawah tubuhnya, ia mencium kening Lidra.
"Hebat..." gumam Randi.
Namun Lidra menatap dengan bingung. Randi tertawa.
"Kau sudah berpengalaman?"
Lidra melotot.
"Tidak, ini pertama kalinya bagiku..." pekik Lidra.
Hal itu jelas membuat Randi tersentak.
"Sungguh? ini pertama kalinya kau melakukan ini?"
Lidra mengangguk lalu ia menjawab, "Ini pertama kalinya aku merasakan ciuman...."
Randi terbangun saat ia baru saja terlelap, tangannya memeluk tubuh Lidra, ia tersadar dan beranjak. Ia sampai lupa hari ini ia akan mulai melakukan rencananya.
Dengan topeng dan jubah yang memutup wajahnya ia berjalan mengendap-endap jalan setapak menuju kerajaan, ia mengintip diberbagai sela kerajaan.
"Apa yang aku dapat?" gumamnya seraya masih menyembunyikan diri.
Disana ada banyak para prajurit yang menjaga gerbang. Dimana membuat Randi tidak bisa berkutik.
"Kenapa aku tidak bisa melihat Aleris?" bisiknya.
Hingga ia menemukan petunjuk untuk rencananya. Ia bisa melihat stempel pedang dibagian leher prajurit itu, Randi menyipitkan matanya, memang benar ada banyak para prajurit yang memiliki stempel pedang seperti tato dileher mereka.
Benar saat Randi datang kesebuah restauran, ia bisa mendengarkan orang-orang berbincang tentang apa yang terjadi tadi malam, sambil menyeruput air minum, Randi asyik mendengarkannya, bukankah perbincangan mereka juga ada yang sama dengan rencana Randi ini?
Randi meletakan gelas dengan keras dimeja dengan sengaja, hingga orang-orang kaget menatap Randi.
"Semuanya....." pekik Randi.
"Aku disini bukan karena ingin mendengarkan ocehan busuk kalian....." ucapnya.
Orang-orang masih kaget, menatap Randi dengan kebingungan karena wajahnya tertutup jubah dan topeng.
"Siapa kau?!" ucap bapak-bapak yang terduduk dipojok restauran.
Randi berdiri, seraya melipat kedua tangannya didadanya.
"Aku bukan orang gila pastinya, aku akan mengatakan yang sebenarnya..."
Semua orang gaduh berbisik entah tentang apa.
Seorang wanita setengah tua, yang menjaga kasir mendekati Randi.
"Tuan, apakah kau zero?" ucapnya.
Dibalik topeng Randi menyipitkan matanya, kata zero sudah tidak asing lagi ditelinganya.
Randi menggeleng, "Tidak bu, ibu akan tahu aku siapa..."
"Tapi tolong jangan membuat onar disini, aku baru saja mendirikan restauran bulan lalu aku tidak ingin mengecewakan suamiku..." ucapnya seraya menatap lembut kearah Randi.
Randi memeggangi kedua pundak ibu tersebut.
Brek!!!
Bapak-bapak dipojok berdiri seraya memukul meja, membuat semua orang terdiam.
"Kita hanya perlu tahu siapa kamu....." teriaknya.
Randi mengangguk, "Baiklah, memang ini tujuanku sebenarnya..."
Lalu Randi melepaskan jubahnya, semua orang terkejut saat melihat stempel pedang dileher Randi.
"Kau prajurit?" pekik bapak-bapak tersebut.
Semua orang melotot menatap Randi, betapa terkejutnya ketika yang ada dihadapan mereka adalah prajurit kerajaan Majestic.
"Tenang, karena aku sudah dipecat dari kerajaan busuk itu..." pekiknya.
"Entahlah kalian akan percaya kepadaku atau tidak, tapi aku sudah mengabdi dikerajaan itu lima tahun, hingga hari ini akhirnya aku dipecat...."
"Boleh aku tahu, kenapa kau dipecat?" sahut remaja yang duduk didepan Randi.
Entahlah ini akan menjadi rencana yang gagal atau tidak, Randi sanhat gemetar jika harus mengatakan hal ini, tapi ia sudah sangat bulat membuat rencana ini matang dan yakin.
Ia menggengam kedua tanganya karena gugup, ini demi kebaikan ini perlu disampaikan.
"Benar, dugaan kalian, raja bersekongkol dengan iblis, dan berusaha mencari tumbal, bahkan anaknya juga berkerja sama dengan para iblis, kerajaan mereka sudah penuh ilmu hitam didalamnya!" pekik Randi.
Ia berusaha mengatur nafasnya. Semua orang terbelalak kaget, menutup mulutnya tidak menyangka, tiba-tiba suasananya menjadi gaduh.
__ADS_1
"Entahlah kalian akan percaya kepadaku atau tidak, tapi akuxmemang benar pernah mengabdi dikerajaan itu, dan aku mendengarkan semuanya, melihat secara langsung apa yang mereka lakukan, aku berharap apa yang aku katakan bisa sampai dikota Majestic yang luas ini dengan cepat!"
"Dan satu lagi.....sembunyikan identitasku..."
Ibu-ibu pemilik restauran menyentuh lengan Randi, seraya matanya berkaca-kaca.
"Kau yakin? memang raja seperti itu?" bisiknya.
Randi tak kuasa ia menunduk, sedikit ragu mengarang hal gila ini, tapi ia tidak bisa terus diam. Randi melepaskan sentuhan ibu itu, lalu ia mengangguk.
"Kau tidak berbohong?" teriak orang-orang.
"Untuk apa aku mengarang cerita?!!"
"Aku yakin kau juga tahu anak muda, tentang manusia asing yang masuk kedunia ini!" ucap bapak setengah tua mendekat kearah Randi.
Randi melotot dibalik topeng.
*Ak*u juga harus mengarang berita ini.
"Aku berat mengatakannya...."
Semua orang gaduh karena menyuruh Randi cepat mengungkapkannya. Randi menyuruh semua orang untuk tetap tenang.
Lalu Randi mengangguk.
"Wahh!!" ucap semua orang yang ada diruangan itu.
"Aku tidak tahu pasti bagaimana caranya tapi memang mereka melakukanya"
Aku yakin mereka pasti dalang dibalik ini juga.
"Ini tidak bisa dibiarkan!!!"
"Apakah kita akan demo?!"
"Bagaimana bisa raja menyembunyikan hal ini?"
"Raja menghianati kita?!"
"Lalu bagaimana nasib kota Majestic jika ini terjadi?!"
"Nenek moyang mereka bukankah juga menyembah iblis?!"
"Lalu kita harus bagaimana?!"
Ucap beberapa orang yang ramai diruangan itu, membuat Randi tersenyum lega. Rencana yang ia rencanakan dadakan, semoga ini membuahkan hasil sesuai ekpentasinya. Walaupun ia sadar ia sangat ketakutan untuk melakukan hal ini, yang ia hadapai bukan manusia biasa bahkan monster.
"Kita akan menyembunyikan identitas kau nak, semoga harimu menyenangkan!!" ucap bapak-bapak seraya berlari keluar
Diikuti orang-orang yang ada didalam restauran, Randi tersenyum, jika mereka percaya dengan perkataanya dan mereka siap menyebarkannya.
Ibu-ibu pemilik restauran datang lagi dihadapan Randi. Ia menyodorkan sebuah kotak makanan yang dilapisi kain.
"Ada apa?" ucap Randi.
Seraya menangis ibu itu menjawab, "Terima kasih sudah membuka rahasianya, tidak sia-sia kau mengabdi dikerajaan itu..."
Randi menerimanya.
"Tapi tolong rahasiakan identitasku..." sahut Randi.
Ibu itu mengangguk, lalu beranjak pergi. Randi masih terdiam menatap ruangan yang tiba-tiba kosong dan sunyi, bukankah baru saja ia mengatakannya dan mereka sudah pergi untuk mengatakan kepada semua orang?
Rasanya tidak menyangka secepat ini mereka percaya kepada Randi apakah mereka terlalu bodoh? atau memang mereka sudah sangat yakin kepada perkataan Randi.
Bahkan tato ini tidak sama persis dengan tato milik para prajurit disana, yang ku gambar adalah pedang biasa, walaupun desainnya sudah lumayan sama.
Disepanjang jalan menuju penginapan, Randi memikirkan apakah rencana ini akan berhasil atau tidak, ia sempat ragu dengan rencana gila dan konyol ini. Awalnya Randi memang ingin menerobos masuk kedalam kerajaan, namun ada suatu hal keajaiban yang terjadi.
"Ini akan menjadi rencana gila!" bisiknya.
Hingga tanpa sadar ia menabrak seorang wanita didepannya, Randi tersentak dan kaget saat sadar siapa yang ada didepannya.
"Delon?" ucap wanita itu.
"Vin?" ucap Randi.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Randi.
Kali ini topeng dan jubahnya sudah ia sembunyikan didalam tasnya.
"Apa benar isu itu?"
Randi melotot saat mendengar jika isu yang ia buat sudah sampai diujung kota.
"Kenapa kau melotot seperti itu?" lanjut Vin.
"Aku sudah tahu, memang sudah sangat ramai dikota utama"
"Kau sudah menemukan Agil?" tanya Vin.
Randi menggeleng.
"Sudah aku katakan, izinkan aku ikut mencarinya..."
"Tidak!" sahut Randi cepat, membuat Vin terkaget.
"Kau tidak ingin ikut aku? aku hanya ingin datang kekota utama untuk meyakinkan Jhony apakah isu itu benar.."
"Isu apa!?" ucap seseorang yang tiba-tiba datang dan ikut nimbrung.
Randi dan Vin menatap seseorang yang tiba-tiba datang.
Lidra?
"Kau siapa? kenapa ada peri disini? kau dari kerajaan?" ucap Vin.
Dengan senyuman Lidra menjawab, "Tidak aku hanya ada bisnis disini..."
Vin mengangguk, lalu ia menyodorkan tanganya untuk perkenalan.
"Aku Vin!"
Lidra menerima jabatan tersebut, seraya memperkenalkan dirinya.
"Dan ini, Delon temanku..." Vin memperkenalkan Randi kepada Lidra.
Randi hanya menundukan kepalanya, sedangkan Lidra menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Ah iya, senang berkenalan dengan kalian....!" sahut Lidra.