Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Pemakaman Jay


__ADS_3

Api itu mulai berkubar didepan mata Agil, ia menyaksikan pembakaran jasad Jay didepan matanya, bahkan abu-abu mulai berterbangan. Tea tak henti-hentinya menangis, ia bahkan sampai lemas, dibantu berdiri Argus.


Malucia menatap Jay, ia bahkan tak kuasa melihat Agil, sebegitu kuatnya, tanpa menangis melihat seseorang yang ia cintai, yang telah pergi, dan dibakar didepan matanya.


Ada banyak yang mempersiapkan pemakan Jay, dibantu dengan tiga serangkai, Silas, Ace, dan Ned. Tentu Kai dan Timandra ikut membantu disana. Vin mendekat kearah Agil.


"Kau sungguh kuat!" ucapnya.


Agil menoleh kearah Vin, ia tersadar setelah melamun lama.


"Ikhlaskan Gil, dia sudah bahagia disana, dia menyaksikan kau disini dengan teman-temanmu...."


Agil hanya bisa membalas dengan senyuman. Bahkan mata Malucia tidak bisa berpaling dari Agil, ingin rasanya ia mendekat dan menenangkan Agil, Aleris menyadari jika Malucia menatap Agil, ia hanya bisa terdiam menatap Malucia.


"Te, kau tahu? kenapa kita harus berpisah?" ucap Argus.


Tea masih terisak dipelukan Argus, "Karena, kita harus menjadi kuat, sebelum menjadi kuat kita harus kehilangan orang yang kita sayangi, jangan pernah menyerah hanya karena ini, Tea yang aku kenal orangnya sangat kuat..."


Tea melepaskan pelukannya, dan menatap Argus.


"Paman, kau sudah ku anggap seperti ayahku sendiri, janji kepadaku? jangan pergi! biarkan ini menjadi yang terakhir, aku tidak ingin kehilangan siapa-siapa lagi!"


Argus dengan cepat mengangguk. Api itu mulai padam memunculkan abu-abu yang berterbangan keudara, Argus membawa Tea kembali masuk kerumah, diikuti Kai dan Timandra. Tak lama Silas, Ace, dan Ned pergi dari tempat itu dan kembali masuk.


Agil masih berdiri ditempat itu, bahkan ia masih menatap bongkahan kayu yang sudah gosong tanpa tersisa kerangka Jay, hanya abu-abu yang berterbangan, Vin menepuk pundak Agil.


"Gil, ayo masuk..."


Agil menyentuh tangan Vin, "Biarkan aku disini sendiri sebentar saja Vin.."


Vin hanya terdiam, lalu ia beranjak, namun ia berhenti saat didepan Aleris, ia menatap Aleris.


"Ris, gak masuk?" tanya Vin.


Aleris hanya mengangguk, lalu Vin berlalu. Aleris menatap Malucia yang terdiam tak jauh darinya, ia masih menatap Agil.


"Cia?"


Malucia tersadar, lalu ia berjalan mendekat kearah Aleris.

__ADS_1


"Kau ingin mengatakan sesuatu kepada Agil?"


Malucia menundukan kepalanya, ia sempat ragu namun ia mencoba mendekat kearah Agil.


"G..Gil...?"


Agil menoleh, namun ia kembali menatap kedepan.


"Aku sungguh minta maaf, Gil..."


Malucia menundukan kepalanya, "Aku berusaha mencarimu, aku berusaha menjaga Randi dan Gil..." ucapan Malucia terpotong dengan sahutan Agil.


"Tidak bisakah kau tidak membahas ini? kau tidak lihat aku sedang berduka?" ucap Agil tanpa menoleh sedikit pun kearah Malucia.


Malucia terkejut, ia terdiam sebentar, "Maaf..." ucapnya.


Lalu Malucia beranjak pergi begitu saja, tanpa menoleh kearah Aleris sedikit pun, Aleris paham dengan situasinya. Ia tidak akan meninggalkan Agil sendiri disini, ia akan tetap menemaninya dibelakang tubuhnya.


Agil menjatuhkan air matanya lagi, sekarang diotaknya ada banyak pikiran yang lari kemana-mana, setelah kehilangan Jay, Agil memang sangat marah, ia marah kepada tuhan, karena kelalaiannya ia kehilangan orang yang ia cinta.


Disatu sisi, ia dipertemukan kembali oleh Gilang, setelah berbulan-bulan lamanya, ia berusaha mencari dengan insting "Mereka masih hidup"


"Kau tahu Jay? aku sangat mencintaimu Jay, aku bisa bahkan berusaha melupakan seseorang, saat bertemu denganmu, kenapa? kenapa kau pergi secepat ini? kau tega denganku? bagaimana bisa kau pergi terlalu cepat seperti ini? kau mengira aku akan kuat? kau berjanji denganku akan pulang bersama dengan selamat!!!!"


Aleris yang menyaksikan itu hanya terdiam, ia menatap Agil.


Hingga sore tiba, matahari mulai tertidur memejamkan matanya, Agil masih berdiri ditempat itu, seraya menatap butiran abu didepan matanya. Aleris yang masih setia menunggu dibelakang tanpa berbicara sedikit pun.


"Kenapa kau masih ada dibelakangku?" ucap Agil tanpa menoleh.


Agil tahu itu, ia merasakan Aleris masih berdiri dibelakangnya.


Aleris mengigit bibirnya, ia mendekat kesamping Agil.


"Sepertinya aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja..." ucap Aleris.


"Terima kasih..." gumam Agil tiba-tiba, membuat Aleris terkejut.


Agil menoleh kearah Aleris.

__ADS_1


"Kau sudah menjaga Gilang, sampai detik ini...."


Aleris terbelalak, menurutnya ia sangat tidak becus menjaganya, bahkan semua ini terjadi karena Aleris, Agil tidak pantas mengatakan terima kasih padanya.


"Tidak, apa yang kau katakan?"


Agil tersenyum, "Selama aku tidak ada, aku kan yang menjaga Gilang?"


Aleris masih terdiam.


"Dia anak yang memili kekurangan, ia memiliki penyakit mental..." lanjut Agil.


"Ini semua salahku, salahku Gil, kau berpisah dengan sahabat-sahabatmu, kehilangan Randi, ini semua salahku Gil..."


Agil tertawa, "Bukankah ini takdir Ris? aku kehilangan Jay juga takdir, aku seperti ini karena aku sudah lelah, sepertinya aku harus bangkit sendiri agar kuat membangun pondasi hatiku yang lemah..."


Aleris tersentuh dengan perkataan Agil, ia bahkan tidak bisa menatap wajah Agil terlalu lama.


"Dan juga, terima kasih juga kau sudah menjaga Malucia"


Deg, Aleris terkejut, akhirnya ucapan itu keluar dari mulut Agil, kata-kata ia yang memanggil nama Malucia membuat jantungnya berdegup kencang.


"Kau ingin mengetahui satu cerita?"


Aleris menatap Agil dengan tajam, lalu Agil kembali menyahut.


"Tidak, tidak jadi, ini tidak penting.." ucap Agil tersenyum, ia menepuk pundak Aleris lalu beranjak pergi.


Aleris masih terdiam, ia tidak bisa berkata-kata, sepertinya ia sudah tahu apa yang ingin Agil katakan kepadanya, ini adalah tentang Malucia.


*Gil? katakan saja padaku, aku tidak akan merasakan cemburu kepadamu, kau berhak seperti itu, aku tidak akan marah kepadamu, yang hanya perlu kau tahu, aku sangat bersyukur kau bertemu Gilang, sampai detik ini pun, aku masih tidak bisa melihat tatapan Gilang kepadamu.


Jujur, jika aku jadi kau aku tidak bisa sekuat seperti itu Gil, kau sungguh kuat dan keren, bagaimana bisa Malucia tidak jatuh cinta kepadamu? aku tahu itu, tahu.....


Ada dimana saat aku menjadi tempat curahan hati Malucia, ia terus mengatakan tentang dirimu kepadaku, ia sangat jatuh cinta kepadamu, pada pandangan pertama, yang adalah salah satu laki-laki pertama yang berhasil masuk kedalam hati Malucia, karena selama ini ia tidak pernah jatuh cinta dengan siapapun.


Untuk wanita yang kau cintai, Jay. Tolong ikhlaskan dia Gil, dia akan bahagia disana, dia akan sering melihatmu, dari atas dan berkata "Lelakiku sungguh kuat, dan lebar hatinya, sampai aku tidak bisa lagi bertemu dengannya secara langsung*"


Aleris menatap ujung tembok, ia hanya bisa melihat tembok yang sudah dijebol.

__ADS_1


"Aku berharap ini sudah selesai, mereka kembali ketempat mereka masing-masing...." gumam Aleris.


__ADS_2