
Leon bersembunyi dibalik gentemg perumahan warga seraya mambawa busur panah, dan beberapa alat seperti korek api dan alkohol, dia beberapa memanah dengan busur panah api kearah monster kelelawar yang masih terbang diatas kota Majestic seraya menyembur api kemana-mana.
Leon tidak pernah meleset, ia berhasil menembak dengan mulus dan beberapa kali ia telah membunuh monster sebanyak mungkin, dan membakar monster itu dengan busur panah dengn ujung yang ia pasangkan alkohol dan api.
Ia melangkah mengendap-endap, melihat ada beberapa prajurit yang mati yang tergelatak ketanah. Leon berhenti sejenak menatap mayat-mayat itu, tak menyangka karena kesalahan mereka banyak prajurit yang mati, hanya karena mereka menunggu perintah banyak jiwa yang mati dilapangan.
Tiba-tiba Jangsal datang dati bali genteng, dan memanggil Leon, ia menyadarkan Leon yang sempat melamun sebentar.
"Kau tidak apa-apa?" teriak Jangsal dari seberang.
Leon hanya mengangguk, kemudian ia beranjak dan menyerang kembali. Bahkan suasana malam tidak membuat Leon dan Jangsal menyerah begitu saja, mereka tetap menyerang.
Jangsal mendekat dan melompat kearah genting dimana tempat Leon berada.
"Leon, mereka hanya menyerang permukiman warga? kenapa mereka tidak langsung menyerang kerajaan?" tanya Jangsal.
Leon menatap para kawanan monster itu, benar juga mereka hanya berterbangan di daerah permukiman warga, mereka belum sama sekali menuju ketempat kerajaan.
Leon masih terdiam, hingga Jangsal menyandarakannya.
"Kau kenapa? kenapa diam dari tadi sih?"
"Bagus kan?" sahut Leon.
Jangsal terlihat bingung, "Kok?"
"Kita menyerang mereka sebelum mereka kekerajaan, jadi sebisa mungkin kita habisi disini"
Jangsal menepuk dahinya.
"Aleris dimana sih... sialan...." gumam Jangsal.
Leon terdiam dan menatap kerajaan yang tak jauh dari hadapannya.
***
Aleris segera menghadang Fay dan Arvand yang tak sadarkan diri menyelonong keluar pintu, Aleris mengiring mereka kembali masuk kedalam kerajaan, saat melihat para prajurit yang berbaris didepan gerbang.
"Tunggu, lihat itu..." ucap Aleris.
Arvand mengangkat kepalanya, lalu ia kembali duduk.
"Sialan" umpatnya.
"Sepertinya memang, jika aku keluar pasti akan ditangkap..."
Fay menatap Aleris.
"Lewat belakang?" ujar Fay.
__ADS_1
"Bodoh kau! lewat belakang kita melewati ruangan itu lagi, pasti ayah dan Varegar sialan itu melihat kita...." sahut Arvand seraya menepuk dahi Fay.
Aleris masih terdiam berpikir, matanya menatap satu prajurit yang masih sibuk mempersiapkan alat peledak. Aleris berdiri.
"Kenapa?" tanya Arvand seraya memeggang kaki Aleris.
Aleris mengisyaratkan untuk diam, dan ia mendekat kearah prajurit itu. Tiba-tiba Aleris membekam prajurit itu hingga prajurit itu pingsan tak sadarkan diri, Aleriz menatap Arvand dan Fay.
"Tutup mata kalian" bisik Aleris seraya dengan mulut komat-kamit.
Mereka menatap Aleris dengan bingung, dengan pasrah karena mengejar waktu juga, Aleris melepaskan kain bajunya, membuat Arvand terkejut dan menarik tubuh Fay untuk menutup matanya.
Aleris mengganti baju miliknya dengan prajurit itu, ia akan menyamar menjadi prajurit agar ia bisa pergi. Dengan helm prajurit yang ia pasang dikepalanya, Aleris lalu mengisyaratkan Arvand dan Fay untuk segera cepat beranjak pergi.
"Pangeran? disana sangat bahaya, kalian bisa lihat sendiri para monster yang banyak dilangit kota.." ucap prajurit saat mereka sampai digerbang kerajaan.
"Kalian pikir aku akan diam menatap ratusan warga yang terbunuh?" sahut Arvand.
Para prajurit terdiam, "Putri Fay, sebaiknya anda juga jangan ikut pangeran..."
Fay menatap Aleris yang berjalan mendekat kearah mereka.
"Sepertinya, mereka harus pergi sesuai perintah raja.." ucap Aleris.
Fay dan Arvand mencoba mengalihkan suasana, karena suara khas Aleris membuat beberapa prajurit yang terdiam dan menatap dengan penasaran kearah Aleris.
"Memang begitu?" tanya salah satu prajurit.
Tanpa basa-basi Arvand dan Fay beranjak pergi. Para prajurit itu kembali kedalam barisan membentuk benteng pertahanan, namun yang membuat para prajurit itu terlihat aneh saat melihat Aleris adalah tiba-tiba Aleris melangkah keluar baris pertahanan.
"Kau ingin kemana? gabung kebarisan!" ucap parajurit.
Aleris menundukan kepalanya, "Saya diperintahkan untuk kelapangan.." ucap Aleris beranjak pergi.
Semua para prajurit terdiam kebingungan. Seraya berlari ia melepaskan helm prajurit itu ia lempar dan buang, ia berlari seraya mengangkat kedua tangannya hingga elemen angin berbentuk tajam keluar dari kedua tangan Aleris, mereka terbang ke udara dan mengarah ke berbagai monster diatas, angin berbentuk tajam itu berhasil mengenai beberapa monster dengan mulus, membuat monster itu terjatuh dan mati karena tepat mengenai lehernya.
Titik kelemahannya memang dileher
Aleris berlari dan beberapa kali mengeluarkan elemen angin dengan bentuk tajam seperti serpihan kaca dimana hal itu bisa membuat seseorang yang terkena akan langsung tertusuk hingga menembus. Ia beberapa kali menggunakan kekuatan itu dan berhasil membuat beberapa monster jatuh dan mati.
Jangsal dan Leon terheran saat monster diatas mereka jatuh dan mati begitu saja.
"Siapa? siapa yang datang?" ucap Jangsal berdiri.
"Aleris!" sahut Jangsal saat melihat dibawah, seorang Aleris datang.
Leon berdiri saat mendengar Jangsal meneriaki nama Aleris.
Kau datang juga...
__ADS_1
***
Agil mengandeng tangan Vin agar kembali keruangan itu, sepertinya monster mulai mendekat kearah mereka.
"Ayo kembali!" sahut Agil.
Namun Vin menahan, "Aku tidak bisa melihat banyak prajurit yang mati, aku harus membantu mereka...."
Agil terdiam ia mengelan nafasnya, "Maka aku juga ikut...."sahut Agil.
"Gil....." ujar Vin.
"Aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi...." gumam Agil.
Tiba-tiba Argus dan Timandra datang. Berlari datang menghampiri Agil dan Vin.
"Kalian tidak apa-apa?" ucap Argus.
Agil mengangguk, "Jay? bagaimana Jay?" tanya Agil dengan raut wajahnya berubah.
Timandra menunduk, "Tea dan Kai sedang membersihkan tubuhnya..."
Agil menghelan nafasnya, "Aku tidak bisa melihatnya, terlalu sakit...."
Tiba-tiba mereka melihat beberapa monster yang berterbangan diudara, berjatuhan dan mati.
"Apa? kenapa mereka?" Argus berlari mendekat dan melihat apa yang terjadi, diikuti Vin, Agil, dan Timandra.
"Lihat itu!" ucap Timandra saat melihat sebuah angin yang bisa dibentuk tajam yang menempel dileher monster.
"Apa itu?!" tanya Argus.
Mereka masih melihat angin dengan bentuk tajam, yang berterbangan dan menembak beberapa monster hingga mati.
Agil menyipitkan matanya, ia pernah melihat hal semacam ini dikota Lander. Ia menatap Argus.
"Paman? kau pernah melihat eleman angin seperti ini kan? dikota Lander..."
Argus berusaha berpikir, dan benar ia mengingatnya.
"Ah! tuan Aleris?"
Agil terbelalak, "Aleris?"
Vin melotot dan mencari keberadaan Aleris, namun karena asap yang terlalu banyak membuat Vin tak kunjung melihat keberadaan Aleris.
"Tuan Aleris?" tanya Timandra.
"Kau tidak tahu! jika kau melihatnya kau pasti akan terpesona...." sahut Argus.
__ADS_1
*Aleris? apakah? dia baik-baik saja? aku pikir begitu, terakhir aku tidak bisa melihat dia lagi setelah itu, aku berharap dia tidak mendapatkan masalah. Aku sangat bersalah ketika istananya hancur dihadapannya.
Aku juga terlalu egois, entahlah....semoga dia baik-baik saja*.