Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Minta maaf


__ADS_3

Randi memejamkan matanya, tubuhnya terbaring dikasur, kedua tanganya ia tindih dengan kepalanya untuk bantal, matanya terasa sangat berat rasanya ingin tidur, namun pikiranya kemana-mana, ia lalu membuka matanya menatap atap istana yang megah itu.


Dimana sebenarnya dirinya? kenapa saat matanya tertutup ia membayangkan ini adalah mimpi namun ketika ia membuka matanya, ia berhadapan dengan dunia mengerikan ini, ia masih tidak yakin bahwa ini nyata, dimana ketika mereka tersesat dan masuk kedalam air terjun dan awan, dimana ia melihat peri yang cantik, dan elang yang besar, dimana ia dan gilang dipenjara digoa yang kotor, dimana mereka melihat sebuah istana seperti di negeri dongeng, dan hingga detik ini melihat makhluk aneh.


Rasanya jika dibandingkan dengan dunia mereka apakah negeri ini memang ada, entahlah randi kembali memikirkan agil bagaimana nasibnya apakah ia mati? sedang apa dia? apakah dia sedang menikmati hidup atau apakah ia sedang berjuang menyelamatkan dirinya dan gilang.


Randi masih melamun menatap keatas, menatap atap yang tidak ada celah bahkan untuk randi itu bukanlah hal yang menarik untuk dilihat, tapi kali ini tatapanya kosong.


Gilang beranjak seraya menatap randi, ia sudah benerapa jam lamanya tertidur dikursi, sedikit merasa sangat kasihan dengan dirinya dan randi, melihat keadaan semakin memburuk, tidak tahu dimana agil, untuk mencarinya saja keadaan masih tidak memungkinkan.


Setiap hari randi gilang hanya membahas tentang agil, tidak lebih dari itu, berharap tiba-tiba seseorang membuka pintu itu, dan datanglah seorang agil, gilang pernah berpikir jika agil sudah mati, namun ia sadar jika untuk mati pun rasanya tidak untuk agil, gilang berusaha berpikir positif jika agil masih hidup dan mereka masih akan menunggu kedatangan agil.


Randi beranjak ia mengambil air minum, "Rasanya kita tidak ada urusannya dengan masalah mereka" ucapnya.


Gilang mendongak, "Iya memang karena kita memang tidak ada hubungannya"


"Pengen pergi cari agil sendiri lang..." ucap randi tiba-tiba, gilang terbelalak.


"Disituasi seperti ini"


Randi menunduk, "Tapi tidak mungkin kan?"


Gilang mendekat, "Lakukanlah dengan lapang dada"


Randi tersenyum, lalu ia keluar membuka pintu, matanya menelusuri halaman istana itu, hingga ia melihat aleris berjalan dengan tergesa-gesa.


"Hei!!!" panggilnya.


Aleris menoleh.


"Kenapa kau?"


Aleris hanya menggeleng malas.


"Kenapa kau berjalan dengan tergesa-gesa?" ucap randi mendekat.


"Apakah begitu?"


Randi mengangguk.


"Aku sedang mencari lidra" ucapnya.


"Dia sedang memetik bunga dibelakang istana" ucap randi.


Tanpa aba-aba aleris melangkah pergi, namun diberhentikan randi.


"Tunggu tapi itu tadi entahlah sekarang dia ada dimana" sahut randi.


Tanpa mendengarkan perkataan randi, aleris terus berjalan, randi masih terlihat kebingungan.


"Ada apa dengan anak itu?" lalu randi mengikutinya.


Aleris datang ke taman bunga, benar ia melihat lidra sedang sibuk memetik beberapa bunga, seraya membawa keranjang, lalu aleris mendekat.


"Tuan?" ucap lidra.


"Tunggu!!!" teriak randi berlari mendekat.


"Kenapa kau menemui lidra?" ucapnya seraya nafasnya terengah-engah.


Aleris tidak menjawab, "Pilihkan bunga yang cantik untukku"


Randi menyipitkan mata, ia menduga-duga jika bunga itu untuk malucia.


"Untuk malucia?" sahut randi, lidra terbelalak.


Aleris menghelan nafas, "Kenapa kau ini?"


"Tidak ada aku hanya bertanya"


Lidra memetik bunga sesuai dengan perintah aleris.


"Kenapa kau tidak menyuruh malucia?" ucap randi.


Sejujurnya aleris malas menanggapi randi, tapi jika ingin menanggapinya ia akan membahas malucia yang membuatnya kembali memikirkannya.


"Ya karena lidra sedang berada dikebun bunga" seperti menjawab pertanyaan anak-anak, aleris menjawab dengan seadanya.


"Umurmu berapa?" ucap aleris.


Randi menoleh, "Tiba-tiba?"


Aleris mengangkat alisnya.


"Dua puluh" jawab randi.

__ADS_1


Aleris kaget, "Kenapa?" tanya randi.


"Kau hanya beda setahun denganku"


Randi tersenyum ia sudah menduganya.


Lidra menyodorkan keranjangnya yang sudah berisi bunga sesuai dengan apa yang aleris inginkan.


"Tuan untuk apa kau memetik bunga ini?"


Aleris menerima keranjang itu seraya berkata, "Aku ingin mengunjungi seseorang"


"Malucia?" sahut randi.


Aleris tidak menggubrisnya, ia lalu beranjak pergi diikuti randi dan lidra dibelakangnya, aleris mengambil kudanya, menaikinya seraya membawa keranjang bunga itu.


"Mau kemana kau?" ucap randi bingung.


"Kau tidak perlu tahu kemana perginya tuan aleris" sahut lidra, randi melirik kearah lidra lalu ia mengangguk.


"Sudah aku bilang aku ingin mengunjungi seseorang" ucapnya lalu pergi.


"Tuan aleris banyak kenalannya mungkin dia ingin mengunjungi teman lamanya" ucap lidra beranjak pergi namun ia berhenti karena mengingat sesuatu lalu ia menoleh kebelakang.


"Oh iya kalau panggil aleris kasih tuan ya?" ucap lidra lalu ia beranjak pergi, namun seperti tidak mendengarkan apa-apa, randi hanya menatap lidra dengan aneh.


Ternyata malucia memperhatikan aleris lama dijendela kamarnya, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan aleris kenapa ia membawa bunga, untuk siapa sebenarnya.


Didalam perjalanan aleris sangat bersemangat dimana ia akan bertemu seseorang setelah lama sekali ia tidak bertemu, ia tidak henti-hentinya tersenyum.


Ia lalu berhenti disebuah hutan, ia mengikat tali kuda disebuah batang pohon, lalu ia melangkah dengan hati-hati akhirnya ia bisa mengunjungi nya, aleris duduk dan membersihkan halaman makan nisan yang dipenuhi oleh daun-daun kering, ia tersenyum ternyata ia sangat lama tidak mengunjungi makan orang tuanya, hingga makan orang tuanya sangat kotor.


"Kenapa ya makam ayah dan bunda berpisah dengan makam orang-orang?" ucapnya lirih.


Ia lalu menuangkan sebuah botol berisi air dikedua makam orang tuanya, ia meletakan beberapa bunga dinisan, lalu ia duduk, ia menangis padahal saat ingin datang kesini ia tidak berhenti untuk tersenyum.


"Kenapa ya aleris tega melupakan ayah dan bunda, sudah sangat lama kalian meninggalkan aku dan leon, yang berubah dari aku adalah sekarang terlihat lemah, sedangkan untuk leon dia masih seperti dulu, dia sering memukuli kepalanya, karena dia sering sekali merasa panik, tapi aku tidak selalu disampingnya, karena aku sudah memiliki jabatanku sendiri dan mendirikan istana, apakah kalian bahagia aku bisa berdiri dengan tinggi sekarang?"


Aleris menunduk, ia sudah sangat lama tidak mengunjungi makam kedua orang tuanya, bahkan makam orang tuanya terletak sangat jauh dari makam orang-orang lain, dimana mereka dikubur di tengah hutan tidak jauh dari wilayah kota majestic namun dilaur dinding, hanya ada makam mereka berdua saja.


"Anda saja kalian bergabung dengan makam yang lainnya, pasti tidak akan kesepian karena aleris ataupun leon tidak sering mengunjungi kalian"


Ada banyak hal ingin ia sampaikan dan ia ceritakan kepada orang tuanya, sampai banyaknya aleris tidak tahu ia akan memulainya dari mana.


"Ayah bunda kau tahu? bravogar dibunuh, pekerjaannya memang seperti kalian tapi yang menjadi bedanya kalian mengakhiri hidup kalian dengan kemauan kalian sendiri sedangkan bravogar ia dibunuh oleh pange....ah tidak ia dibunuh dengan raja gevar"


Aleris membenarkan posisi duduknya, "Aleris menyukai soerang wanita peri, dia anak buah aleris, tapi karena sudah sangat lama kenal, jadi aleris dan dia sudah seperti teman yang dekat, tapi aleris terjebak, aleris akhirnya menyukainya, tapi......sepertinya ia tidak menyukai aleris"


Lalu ia mengakhiri percakapanya, ia menundukan kepala untuk pamit pergi, keranjangnya masih untuk beberapa bunga, aleris lalu pergi menunggangi kudanya menuju kerajaan majestic dimana ia akan mengunjungi makam bravogar, lalu ia akan pergi setelah itu.


Ia memang malas menginjakkan kaki dikerajaan itu lagi, namun ia harus mengunjungi makam bravogar.


Ia meletakkan kuda dengan diam-diam lalu melangkah menuju makam bravogar, ia menyiramkan sebuah botol berisi air dimakam bravogar, ia juga meletakan beberapa bunga dinisan.


Ia menundukan kepalanya untuk pamit pergi namun tiba-tiba seseorang datang dan berhenti dibelakangnya, memanggil aleris.


"Kau datang?" ucap mahagaskar.


Aleris menoleh.


"Kenapa langsung pergi? tidak masuk kedalam"


"Untuk apa?"


Mahagaskar tersenyun lalu mendekat menepuk pundak aleris.


"Kau pasti baru saja mengunjungi makam orang tuamu"


Aleris mengangguk, lalu ia melepaskan tangan mahagaskar, ia menundukan kepalanya pamit, ia tidak berbicara sepatah katapun.


"Tunggu" ucap mahagaskar.


"Kau benar-benar tidak penasaran dengan masalah ini? ini ada kaitannya dengan dirimu..."


Aleris berhenti melangkah, ia menghelan nafasnya, ia menghiraukan perkataan mahagaskar, lalu ia naik kepunggung kuda dan pergi meninggalkan mahagaskar yang masih menatap aleris.


Disaat perjalanan pulang, aleris melambatkan perjalananya karena ia melihat seorang anak-anak yang sedang berusaha mengintip jendela kecil dikerajaan, ada lima anak-anak yang melompat-melompat berusaha melihat jendela kecil, dimana jendela itu ada di tembok kerajaan paling bawah.


Aleris mendekat, ia mengikat tali kuda disebuah pohon ia turun kebawah mendekati anak-anak itu.


"Apa yang sedang kalian lakukan disini?"


Anak-anak itu menundukan kepala, "Maaf tuan bukan maksud kami mengintip keruangan kerajaan tapi setahu saya tempat ini ada ruanganya"


Aleris mendekat kearah tembok, ia menelitik setiap detail jendela itu, tapi sepertinya memang ada ruangan didalamnya, karena jedela kecil itu, tapi aleris tidak yakin apa ruangan itu masih digunakan, aleris lalu melombat berusaha melihat isi ruangan itu, tapi ia hanya melihat sel penjara sekilas.

__ADS_1


"Sepertinya ini penjara"


"Apa tuan?"


"Memangnya ada apa?"


Lalu anak yang sedari tadi diam mendekat kearah aleris.


"Tuan sudah dua hari kami memberanikan diri untuk masuk kedalam kerajaan tuan, tapi kami masih sangat takut, tapi saat kami kembali pulang melewati jalan ini, ada seseorang yang memanggil kami dari jendela kecil itu" ucapnya.


Aleris menatap jendela itu, setahu aleris penjara ini sudah tidak digunakan lagi, ia lalu menatap anak itu, matanya salah fokus kepada lengan kiri anak itu, dimana ada sebuah perban ditangan kirinya.


"Kenapa dengan tanganmu?" ucap aleris duduk memeggang lengan anak itu.


Seperti takut untuk menjawab pertanyaan aleris, mata anak itu rembes, lalu dengan cepat temanya menjawab.


"Maafkan kami tuan, kami salah"


"Kenapa ada apa?" ucap aleris berdiri.


"Lenganya dipanah oleh raja tuan..."


"Apa?" aleris tersentak kaget.


"Kami sedang bermain dengan pangeran, lalu kami istirahat kami mengajak pangeran untuk istirahat namun pangeran menolaknya, tiba-tiba raja datang dan langsung memanah teman kami" ucapnya.


Aleris menghelan nafasnya, ia sudah menduga apa yang terjadi, pasti pangeran arvand dikurung diruangan itu, dimana kesombongan raja yan merugikan orang lain.


"Kau sudah diobati?"


"Sudah tuan..."


"Kau yakin ada seseorang yang memanggil kalian dari sini?"


"Iya tuan, kami kira itu hantu karena suaranya sangat lemas dan lirih, kami mencoba memanggilnya lagi namun tidak ada jawaban"


Aleris memutar bola matanya sepertinya terjadi sesuatu dengan anak itu.


"Tunggu disini, aku akan melihat keruangan ini" aleris beranjak pergi.


Ia beranjak menuju pintu belakang istana, memang ada banyak prajurit yang menjaga disana, aleris sebenarnya malas untuk masuk kedalam kerajaan, tapi sepertinya ada sesuatu yang terjadi.


Prajurit itu menodongkan pedang kearah aleris, meminta aleris memperkenalkan diri, aleris merasa aneh bukankah ia masih anggota kerajaan walaupun ia ogah mengakuinya dan tidak sering datang kesini, kenapa para prajurit ini tidak mengenali dirinya, apakah prajurit ini masih baru.


"Aleris" ucapnya singkat.


Prajurit itu memutar bola matanya seperti tahu nama itu, salah satu prajurit yang duduk tiba-tiba menundukan kepalanya.


"Maafkan kami tuan!!!"


Kedua para pranjurit itu yang sedang menodongkan pedang kewajah aleris lalu tersentak kaget, mereka menunduk kepalanya, dan membukakan gerbang.


Aleris masuk, ia masih terlihat santai, karena ruangan dikerajaan ini memang tidak digunakan oleh orang-orang kerajaan sangat lama, apa lagi dengan penjara itu.


Aleris mendengap-endap ia telah sampai didepan gerbang masuk kepenjara, namun gerbang itu digembok, ia tidak masuk tanpa bantuan kunci, ia berusaha menggunakan kekuatanya untuk membuka gembok itu tapi hasilnya nihil,


"Aisss aku harus mengasah lagi kekuatanku"


Mata aleris menelusuri tempat itu berharap ia menemukan sebuah batu atau benda tajam.


Akhirnya ia menemukan sebuah batu yang sedikit besar, ia medobrak dengan batu itu.


"Tenang....suaranya memang sedikit keras tapi aku mohon suaranya jangan sampai keatas" ucapnya seraya mendobrak gembok itu dengan batu.


Setelah beberapa menit mendobrak gembok dengan menggunaka tenanga exstra, gembok itu terbuka dengan cepat aleris membuka gerbang dan turun.


Keadaan penjara itu sangat kotor dan gelap, ia mencari keberadaan arvand disetiap sel penjara, ia lalu melihat seseorang yang tergeletak di pojok ruangan, tubuhnya tergeletak seperti tidak bernyawa.


"Pangeran!!!!!! pangeran!!!!!" panggil aleris namun arvand tidak menyaut sama sekali, tubuhnya sangat memprihatinkan, ia lalu berlari keatas mengambil batu itu.


Ia mendobrak gembok itu, hingga gembok itu terbuka, segera aleris membuka sel penjara dan masuk kedalam, ia menyetuh tubuh arvand tubuhnya sangat panas, lalu aleris menggendong arvand dipundaknya ia beranjak pergi, ia tidak lupa menutup gerbang itu.


Aleris kawatir jika membawa arvand keluar melewati prajurit itu pasti mulut prajurit itu akan mengadu keraja, apakah ia akan menggunakan kekuatannya untuk teleportasi?


"Baiklah" ucapnya aba-aba.


Lalu tiba-tiba aleris sudah berada didepan gerbang belakang kerajaan, ia lalu membawa arvand keanak-anak itu.


"Maafkan aku sangat lama ya?" ucap aleris datang.


Ia bisa melihat mata anak-anak itu terlihat mengkawatirkan arvand, lalu anak-anak membawa aleris pergi, mereka menyuruh aleris untuk membawa arvand ke sebuah rumah dimana mereka tinggal, katanya ada seorang tabib yang bisa mengobati arvand, seperti ia mengobati luka anak itu.


Aleris bisa melihat betapa sayangnya rakyat-rakyat itu menyukai pangeran, dimana mereka menghormati raja yang licik itu, benar itu adalah kesalahanya, aleris masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan raja kepada anak itu, mereka tidak melakukan kesalahan tapi mereka ingin meminta maaf? apakah jabatan tingginya membuatnya buta dengan orang-orang kecil seperti ini?


Ia bisa melihat kekawatiran itu, mereka setia menemani arvand diobati, mereka mengelus-elus tubuh arvand berharap arvand segera bangun, aleris tersentak kaget saat melihat arvand yang ada diruangan itu, anak dari raja gevarnest dipenjara ditempat yang sangat menjijikkan.

__ADS_1


"Bahkan anaknya sendiri ia perlakukan seperti itu..." keluh aleris.


__ADS_2