Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Pulang


__ADS_3

Malucia masih sibuk dengan bukunya, ia masih membuka halaman perhalaman buku itu, sedangkan randi dan gilang terlihat sangat kelelahan dan tertidur pulas disudut goa, ditempat yang lembab dan kotor mereka duduk tanpa adanya barang lain, tidak ada apa-apa disana, hanya air yang mengalir, bahkan tidak ada makanan yang tersisa disana.


Sebenarnya apa yang ditulis manusia kerdil itu, halaman buku ini benar-benar kosong, malucia terus membuka halaman perhalaman, ia membuka sampai tuntas dan memulai membuka lagi dari sampul, tidak henti-hentinyan ia melakukan itu.


Malucia kecewa, membanting buku itu dengan marah, ia menangis, kenapa mereka bisa berada disini, tempat kotor yang menjijikan, malucia menunduk menutup matanya dan tak henti-hentinya menangis lirih, namun didengar oleh gilang.


"Sudahlah ini adalah akhir dari hidup kami" gilang memalingkan wajah pasrah, malucia menatap gilang dengan tersedu-sedu.


"Ini bukan salahmu kok, lagi pula kami tersesat juga bukan ulahmu" gilang berdiri lalu mendekat ke depan wajah malucia.


"Aku yakin, buku yang dimaksut manusia kerdil itu ada tujuannya" gilang mengambil buku itu, lalu ia melanjutkan.


"Jangan emosi dan panik saat sedang mencari apapun itu, terkadang yang kita cari-cari tidak langsung ketemu kerena kita panik, istirahat dulu cia, manusia seperti mu juga butuh istirahat" ucap gilang dengan suara lirih.


"Aku yakin sih, disana sudah malam, karena digoa ini hanya terdengar suara air mengalir saja"


"Maafkan aku gilang" ucap malucia menahan tangis.


"Aku benar-benar bodoh"


Mulut malucia tiba-tiba berhenti ketika tangan gilang menyetuh mulutnya menandakan untuk berhenti berbicara.


Gilang hanya mengangguk pelan, malucia lalu masih dengan perasaan sedihnya ia berusaha untuk tertidur.


"Apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba suara berat terdengar dari sudut goa, randi terbangun.


Gilang mendekat dan kembali duduk dekat randi.


"Dia butuh istirahat bukan?"


Randi hanya menatap tubuh wanita yang ada didepannya itu yang sedang tidur.


"Sebenarnya siapa dia?" Tanya randi, masih dengan tatapanya yang tajam.


"Seperti difilm-film deh ran, banyak yang seperti dia" gilang kembali memejamkan mata.


"Waktu dirumah jamur aku kaget sih" ucap randi.


Gilang yang sempat mulai memejamkan mata sontak kaget dan bangun seraya bertanya.


"Apa kaget apa!!?!?!?"


Malucia masih terbangun dan mendengarkan perbincangan randi dan gilang karena rasa sedihnya masih menyelimutinya ia masih berusaha untuk tidur namun matanya tetap tidak ingin terpejam, ia masih mendengar percakapan mereka, dengan perasaan kaget malucia masih terlihat tenang dan mencoba mendengarkan perkataan dari randi.


"Waktu aku bangun...." perkataan randi sengaja ia potong.


"Apaan?"gilang yang masih penasaran.


"Waktu aku bangun, perutku keroncongan lalu aku bangkit dari tidur......" perkataannya semakin ia buat bercanda.


"Oke ran, sepertinya memang tidak penting"


Karena rasa penasaran dan kawatir, malucia bergerak dan pindah posisi, seketika hening, randi dan gilang melotot kaget.


"Hahahahaah" randi tertawa.


"Sepertinya kau ingin tahu ya?" Lanjut randi menatap malucia.


Malucia membuka matanya, karena posisi tubuhnya membelakangi randi dan gilang, malucia berucap lirih.


"Siapa? aku?"


Tapi ucapan lirih itu terdengar dikuping randi, karena posisi saat itu hening dan tempatnya yang bergema.


"Iya siapa lagi kalau bukan kau?" Randi berucap.


Seketika malucia kaget dan dengan sigap bangun dari tidurnya, ia sangat merasa malu pada saat itu, ia menatap diam-diam randi, tapi mata randi tidak berpaling darinya sama sekali


"Ingin tahu sekali ya?" Tanya randi dengan senyum mencurigai.


"Sialan, perasaan apa-apaan ini?" Ucap gilang, ia merasakan hawa kecanggungan disana.


"Apa?" Suara malucia terdengar sangat lirih.


"Aku tidak mendengar mu hei, mendekat" ucap randi.


Memang posisi malucia sedikit jauh dari mereka, malucia lalu mendekat.


"Hei, kenapa takut kau ini?" Randi lalu mendekat kearah wajah malucia melewatinya lalu membisikan sesuatu.


"Ada hubungan apa kau dan agil?" Bisik randi, seraya senyum yang menakutkan untuk malucia.


Malucia dengan kaget lalu mundur dengan spontan.

__ADS_1


"Ahh tidakk, tidak ada apa-apa, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya" ucap malucia panik.


"Kau gila ya ran? Masak aku gak tahu apa-apa ini?"


Randi kembali keposisi semula.


"Masalah percintaan antara agil dan..." ucapan randi dipotong oleh ucapan malucia yang sedang diserang rasa panik dan malu.


"Ahh kenapa kalian tidak tidur saja?? Sepertinya ini sudah malam"


Randi tertawa terbahak-bahak.


Malam tiba, sunyi dan engap mengelilingi mereka, seakan kegelapan datang begitu cepat, hanya ada sentir kayu kecil tergeletak di pojok goa, mereka seakan tahu malam tiba karena goa yang mereka huni juga semakin gelap.


Karena tak henti-hentinya malucia berpikir tentang buku itu ia semakin tidak bisa tidur, ia terus membolak-balikan tubuhnya karena tidak bisa, bagaimana bisa karena tidak ada satu pun alas tergeletak disana, hanya ada tanah yang keras, malucia lalu membuka matanya dan duduk sebentar, kembali mambuka buku itu, batinnya ada yang aneh dengan buku ini? Kenapa tidak ada satu pun kata-kata yang tertulis disini.


Ia masih memeggang buku itu, tiba-tiba lewat tengah malam, seseorang yang waktu itu datang kemari, ia seraya membawa obor.


"Ikut dengan aku" laki-laki itu berbicara pada malucia, malucia yang kaget sontak menyembunyikan buku itu.


"Aku saja?" Tanya malucia, laki-laki itu hanya mengangguk lalu ia membuka pagar besi itu, ia berjalan kearah malucia lalu menarik paksa tangan malucia, malucia mencoba menghindar namun sia-sia.


"Tidak!!!!!! Tidak gilang!!!!! Randi!!! Bangun!!!!!!!!" Teriak malucia seraya berusaha melepaskan tangan laki-laki itu.


Dengan kaget randi dan gilang terbangun, lalu mereka berteriak dan mencoba membantu malucia, namun karena sedikit telat laki-laki itu sudah menarik pagar besi itu kebawah, mereka terhalang, tetapi randi dan gilang masih berusaha meraih tangan malucia, karena geram laki-laki itu membuang obor di depan gilang dan randi dimana mereka masih meraih tangan malucia, tangan randi sedikit terkena serpihan api itu.


"Heiiiii brengsek!!!!! Lepaskan kami jugaaa!!!" Teriak randi.


"Ciaaaaaa tolong!!!!!! Hei!!!!!" Teriak gilang.


Lalu mereka menghilang begitu saja, hanya terdengar suara jeritan malucia yang bergema, gilang dan randi hanya pasrah dan kecewa, apa yang dilakukan malucia? Pikiran randi hanya bisa menyalahkan wanita itu, karena bertemu dengannya randi dan gilang berpisah dengan agil, dan karena dia juga dia dan gilang ada disini.


Masih di pojok goa, randi dan gilang hanya duduk pasrah mereka menanti keajaiban datang walau itu mustahil.


"Ada apa dengan mereka?" Tanya gilang.


"Aku yakin ada sesuatu lang, pasti waktu pertama kali kita dilepas sama elang brengsek itu didepan goa ada banyak laki-laki seperti dia tadi, berpakaian seperti prajurit, aku yakin ada banyak orang seperti malucia di luar sana" randi menjelaskan, tapi gilang berpaling sedikit tidak yakin dengan ucapan randi.


"Aku kira waktu itu kita mau dibawa kemana gitu, eh ternyata di goa, ran!!! Dari kemarin kita belum makan sama sekali, dari kemarin kita cuma minum air ini aja" gilang menujuk air yang mengalir dari tubuh goa.


"Kita bisa apa woi? Lihat kita sekarang brengsek sampai mati kelaparan pun tidak ada yang bisa menemukan kita disini"


Randi melanjutkan, " Aku yakin ada banyak orang-orang brengsek seperti malucia diluar sana, lebih kejam dari laki-laki sombong itu, SIALAN!!!" Teriak randi seraya membanting batu.


"Masih gak bosen mikirin bukunya?" Randi yang dari tadi mengerutu.


Gilang lalu menyembunyikan buku itu di dalam bajunya tanpa bersuara.


"Punya rencana apa kalau semisal kita dibebaskan dari sini"


Dengan suara berat randi menjawab.


"Menyelamatkan agil, dan pulang kerumah"


"Kau yakin bisa kembali dengan santainya?"


Sedikit malas, randi menoleh ke arah gilang.


"Lalu kau?"


"Aku ingin tahu apa sih buku ini?" Ucap gilang seraya menujuk perutnya.


Randi memutar bola mata.


"Kalau masih ada agil disini aku sepertinya akan ikut dia mencari jawaban apa tempat ini, karena tidak ada dia, aku bisa apa?"


Gilang membenarkan posisi duduknya.


"Ran, aku harap kita masih bisa bersama-sama lagi"


"Jangan gitu lang, nanti aku nangis"


***


Malucia masih memejamkan matanya, ia sempat pingsan karena waktu itu memberontak ingin mencoba kabur namun laki-laki seperti prajurit itu memukul kepalanya.


Setelah lama matanya terpejam, akhirnya malucia tersadar, ia berada di sebuah ruangan, ruangan kosong, tidak ada apa-apa yang special disana hanya ada rantai yang melingkari kedua kakinya, malucia mencoba melepaskan, namun rantai itu sangat keras.


Ruangan sedikit bersih dari goa tadi, ruangan yang engap, seperti tidak ada sama sekali celah cahaya dan bolongan udara, ada obor kecil yang menempel di sebelah pintu masuk, tembok-tembok itu besar menjulang sampai atas, pintu besar seperti diistana, batinya, ia berada disebuah istana.


Dan selang beberapa waktu, seseorang itu membuka pintu itu, entah karena malucia lemas, lapar, atau pusing atau bahkan silau karena cahaya dari luar, ia tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, hanya saja ia bisa melihat ada kalung berbentuk bulan yang menempel di lehernya.


"Bagaimana kabarmu, cia?" Orang itu mengeluarkan perkataannya.

__ADS_1


Malucia berusaha membuka matanya lebar-lebar, memastikan siapa orang itu, lalu ia mendekat duduk didekat malucia.


"Aleris?" Mata malucia melotot kaget.


"Kenapa baru kembali sekarang?" Orang itu bertanya.


Aleris adalah orang golongan peri seperti malucia, aleris adalah orang yang sedikit lebih berkuasa dari para peri seperti malucia, namun digolongan mereka tidak ada raja atau ratu, hanya ada seperti aleris atau bisa disebut guru dari para peri.


Tubuhnya besar dan kekar, ia memakai sebuah rompi hitam transparan yang dimana membuat bentuk perutnya terlihat dan celana hitam seperti rok yang menutupi semua kakinya, tubuhnya berisi, rambutnya panjang berwarna abu-abu dan tidak lupa sebuah kain hitam melingkar dikapalanya, karena dia sama seperti malucia ada gigi taring di kanan kiri, dan kupingnya yang lancip keatas.


Peri-peri yang berada disana hanya memiliki kekuatan angin, tapi aleris bisa mengendalikan semua elemen, seperti angin, udara, dan api, hanya sedikit yang aleris lakukan.


Aleris ini adalah tipe seorang laki-laki yang tampan, wajahnya yang lonjong dan hidungnya yang mancung sedikit tegas, baik, dan angkuh, disebuah istana peri ini ada beberapa peri-peri yang sama seperti mereka, dan beberapa para peri laki-laki adalah anak buah aleris.


Istana itu bernama Ivornest sebuah tempat tidak begitu besar yang berdiri ditengah hutan belantara.


"Lepaskan mereka berdua" suara malucia mulai lemas.


Aleris berdiri.


"Bukannya aku berniat jahat, tapi sebenarnya ini sebuah perintah" dengan suara berat aleris menjawab.


"Elang-elang itu dari mana?" Seperti memotong pembicaran aleris.


"Ya iya itu perintah cia, itu bukan milik kami kamu tahu sendiri"


Aleris menatap tajam malucia.


"Kenapa kau ingin menyelamatkan mereka? Kau melanggar"


"Bukan melanggar, apa kau tidak bisa merasakan perasaan mereka?"


Aleris hanya menghelan nafas.


"Aku tahu semua disini juga merasakanya, dan sedang mencari tahu semuanya, lepaskan mereka saat itu dan mereka bisa mencari sendiri"


"Bodoh, bodoh kau sialan" teriak malucia.


"Kenapa kalau aku menyelamatkan mereka? Ha?"


"Kau akan dibunuh, tidak bukan hanya kau tapi mereka" aleris lalu beranjak pergi menutup pintu dengan keras


Ucapan itu membekas di hati malucia, yang dipikirkan malucia hanyalah agil, dia tidak bisa melihat agil mati karena dunia bodoh ini.


Beberapa saat datanglah seseorang yang membawa sebuah nampan, kali ini yang datang adalah seorang wanita, mata malucia lalu menatap orang itu, dengan lemas malucia memanggilnya.


"Lidra" lalu kembali malucia memejamkan mata.


"Makan cia" orang yang bernama lidra itu menaruh nampan itu didekat malucia, dan melepaskan rantai yang mengikat dikedua kaki malucia, lalu malucia membenarkan posisi duduknya.


Wanita itu menyodorkan nampan yang berisi sebuah mangkok makanan, satu cangkir minuman, mangkok berisi air hangat dan satu kain, dengan lemas malucia mengambil mangkok berisi makanan itu dan memakannya, wanita itu melihat dengan perasaan iba.


"Kau terlihat kotor saja masih cantik" ucap lembut lidra.


Entah karena lemas, malucia hanya bisa tersenyum palsu.


Lidra mengambil kain, memasukinya didalam mangkok air, memerasnya dan ia membersihkan wajah malucia yang penuh dengan tanah.


"Maafkan kami ya, tujuan kami menyembunyikan dirimu bukan untuk hal yang jahat"


Malucia hanya mengangguk.


"Oh iya mungkin kau masih asing dengan para prajurit itu ya? Itu datang dari kerajaan sana untuk menjaga kami"


Malucia lalu terdiam, dan tidak meneruskan mengunyah.


"Sejak kapan kalian jadi bodoh seperti ini sejak kapan kalian seperti ini?"


Lidra lalu memeluk malucia, dengan sigap malucia melepaskannya.


"Jelaskan padaku lidra"


"Aku tidak tahu!!!" Teriak lidra.


"Aleris bahkan tidak memberitahu kita!!!!" Lanjut lidra.


"Ada apa ini!!!!!!" Teriak malucia memenuhi ruangan itu.


"Aku juga ingin mencari tahu, tapi aleris melarang kita, yang selalu dia ucapakan adalah nanti kita akan terbunuh, apa yang bisa kita lakukan ha? hanya menunggu perintah aleris"


Malucia seperti terdiam sesaat.


"Lepaskan teman-temanku digoa itu dra, tolong"

__ADS_1


Lidra terdiam masih menatap mata malucia yang masih berkaca-kaca, hatinya seperti ikut merasakan sakit, bahkan untuk menatap malucia ia tidak punya tenaga, karena ia sama-sama merasakan kebingungan seperti malucia, matanya tidak bohong ia sempat meneteskan beberapa air mata, segera ia hapus dengan tanganya.


__ADS_2