Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Orang-orang serafina


__ADS_3

Agil tiba-tiba bangun seraya terbelalak kaget, ia akhirnya sadar setelah beberapa jam pingsan, pikir agil ia telah mati namun tuhan masih menyelamatkannya, ia benar-benar ingin mati pada saat itu, namun setengah hatinya berkata bahwa sebenarnya agil ingin hidup, dan membenarkan semua yang terjadi walaupun masih ragu.


Agil terbangun kaget dengan apa yang dilihat sekelilingnya, ada banyak orang-orang didepan matanya, orang-orang itu seperti melakukan ritual, hanya sekedar bermain dengan lawan jenis, menyalakan api unggun, berbincang-bincang, intinya mereka melakukan aktivitas seperti biasa, tidak ada yang aneh, dan ada beberapa rumah kain yang tersusun rapi diberbagai tempat, itu tempat tinggalnya batin agil, tapi anehnya orang-orang itu memiliki tanduk disetiap kepalanya, mengerikan.


Orang-orang berpakaian seperti kain yang terbuat dari daging hewan yang tebal, dan ada banyak sela ditubuh mereka, apa mereka tidak kedinginan batin agil.


Pikiran agil menelaah sepertinya ini adalah mimpi, karena ia setengah sadar, pikirnya adalah mimpi, ia terus-menerus menepuk kepala dengan keras, agar apa yang didepannya tidak nyata.


"Apa tidak sakit ditepuk terus?" Tiba-tiba wanita dibelakang agil bersuara, agil spontan kaget dan menghadap ke arah wanita itu.


"Si...siapa kau?" Ucap agil gagap.


"Tenang kami tidak seperti mereka" ucap tea yang berjalan kearah jay dan agil.


"Apa maksudnya?" Agil bertanya-tanya seperti orang linglung.


Tiba-tiba tea menampar agil dengan keras.


"Aduhhh" agil memeggang pipinya.


"Hahaha kau tidak mimpi bodoh" lanjut tea


Benar juga, saat ini agil sedang masuk didunia yang aneh, kenapa ia kaget?


"Kami juga tersesat seperti kalian disini" jay melanjutkan.


"Ya benar, sepertinya memang konspirasi" tea memutar bola mata seraya duduk didekat jay.


Agil masih melototi orang-orang yang bertanduk itu, jay yang menatap agil tertawa terheran-heran.


"Kenapa? Mereka?"


Agil menatap jay.


"Mungkin kau sudah tidak kaget lagi sih, soalnya mereka memang benar-benar ada dan hidup" jay menjelaskan.


"Tunggu kalian juga tersesat seperti ku?"


Jay mengangguk, lalu tea menjelaskan.


"Kita juga tersesat, selama beberapa bulan disini"


"Apa kalian tidak merasa aneh?"


Jay dan tea saling menatap.


"Kami merasakan, karena itu kami bertemu dengan mereka" tea menatap orang-orang itu.


"Apakah kalian menanyakan suatu hal terkait hal ini kepada mereka aku yakin mereka pasti tahu" ucap agil.


Jay seperti tahu keadaan agil yang panik, ia beranjak lalu memberikan minuman hangat kepada agil.


"Ini tenangkan dulu, aku tahu kau sangat panik dengan keadaan yang seperti ini" jay menyodorkan gelas itu.


Agil menerima gelas itu, namun ia menatap lama gelas itu, lalu tea dengan sigap mengambil gelas itu dan meminumnya.


"Kau pikir kami meracuni mu? ini" tea menyodorkan gelas, lalu agil meminumnya.


"Huekkk apa iniiii" agil memutahkan air itu.


"Air lumut" ucap jay dengan polos.


"Apa??? Sialan!!"


"Lumut itu bisa untuk menyembuhkan badan-badanmu yang sakit tolol" ucap tea.


"Jelaskan padaku kenapa kalian bisa ada disini?" Agil bertanya.


"Kami sedang bertugas di lapangan, karena dibagi tugas kami berjalan dengan empat orang, dua berjalan kearah selatan kami berjalan kearah utara, saat beranjak melewati hutan kami langsung berada diatas langit diawan-awan, karena pada waktu itu malam jadi kita tidak melihat portal masuknya, itu singkatnya" tea menjelaskan


Agil hanya terdiam berpikir.


"Bagaimana dengan kau?" Jay bertanya.


"Singkatnya seperti kalian, hanya saja aku beberapa hari yang lalu"


Tiba-tiba agil teringat dengan buku yang diberi oleh kurcaci itu, agil berdiri dengan kaget.


"Ada apa?" Jay bertanya.


"Apakah kalian diberi sesuatu oleh manusia kurcaci?"


Tea dan jay hanya menggeleng tidak.


Agil benar-benar baru ingat bahwa selama ia terbang dari rumah kurcaci itu dia tidak membawa apapun, sialan batin agil.


"Aku berharap randi atau gilang yang membawanya" gerutu agil.


"Apa, siapa?" Tea bertanya.


"Benar, aku tidak sendiri tersesat disini aku bertiga dan aku berpisah dihutan ini karena elang sialan itu, beruntungnya aku diselamatkan oleh kalian"


"PD banget" ucap tea.


Tiba-tiba datang wanita bertanduk itu menemui mereka bertiga.


"Kenapa kalian masih ada disini? Makanan sudah siap" ucap manusia bertanduk itu, lalu matanya menatap agil.

__ADS_1


"Kamu yang ditolong jay dan tea ya? Ya sudah ayo gabung" lalu wanita bertanduk itu pergi.


Agil masih melongo kaget, ia sempat syok karena ia hidup kembali dan ketika sadar dia berada di tengah-tengah orang yang aneh, namun sedikit membuat nyaman hatinya karena ada dua manusia normal seperti dirinya disini.


"Namanya timandra ia yang paling dekat dengan kami"


Orang-orang itu menyambut kedatangan agil, seperti bernyanyi-nyanyi, menari dengan api unggun, mereka tidak jahat mereka sangat baik, bahkan langsung disambut seperti ini, padahal agil orang baru yang masuk, tapi rasanya seperti sudah kenal lama.


Agil mengambil sebuah piring yang terbuat dari kulit kayu, agil melihat-lihat tapi sepertinya memang sudah bersih, ia mengambil sup daging dari panci besar itu.


"Apa ini?" Agil bertanya.


"Daging kijang" jawab jay


"Apa? Sialan" gerutu agil.


Agil, jay, dan tea duduk bersama didekat api unggun, orang-orang itu juga menyantap makanan mereka dan duduk memutar diapi unggun itu, apakah kalian penasaran berapa banyak orang-orang ini? Mereka lumayan banyak.


"Laaa singg yu rinkaaa lii yangg...." bapak-bapak berjenggot itu menari didekat api unggun dan bernyanyi bahasa mereka.


Bapak-bapak itu lalu mendekat kearah agil.


"Selamat datang disini, kami harap kau senantiasa membagikan kekuatanmu" ia berlalu begitu saja dan melajutkan menarinya, agil terlihat bingung, apakah ini yang dimaksud awal perjalanan mereka, berpisah dan menemukan manusia aneh lagi dan lagi disini.


"Waktu aku datang kesini di giniin juga, tenang aja" ucap jay.


"Namamu jay?" Agil bertanya.


Jay hanya mengangguk seraya melahap makananya, tidak begitu mengubrisnya.


"Namamu tidak cocok denganmu" ucap agil mengoda.


"Apa?" jay kaget, batinnya baru kenal kenapa dia berani berkata tidak sopan seperti itu.


"Jay hanya untuk laki-laki" agil tertawa.


Jay ikut tertawa, ah sepertinya memang anak ini pintar bercanda batin jay.


"Berapa umurmu? Biar ku tebak emm 17?" Tanya agil.


"Emm no no" senyum jay.


"20?"


"Benar haha" mereka tertawa.


"Sama dong, aku juga 20"


"Tidak tanya"


Agil melongo, lalu tersenyum, pikiran agil hanya senyuman wanita disampingnya karena senyuman itu kenapa tidak bisa hilang dari pikiran agil padahal baru saja melihat.


"Katanya kalian waktu itu sedang bertugas, kalau boleh tahu apa yang sedang kalian kerjakan?"


"Aku dan tea masuk angkatan udara, dan kita sedang check situasi saat itu"


"Wauuuuu, hebat"


"Kau kerja? Kuliah?"


Agil tersenyum tipis, pertanyaan seperti itu sudah sering agil dengarkan, hanya bisa jujur dan seadanya saja yang bisa agil lakukan selama ini toh memang seperti ini tidak mengada-ada, bahkan untuk dibandingkan dengan dua wanita perkasa ini, apakah pantas?


"Hehe tidur aja dirumah" jawab santai agil, agil tahu pasti wanita disampingnya akan menceramahinya, tapi segera agil tepis dengan pertanyaan.


"Kalian pengen keluar gak sih dari dunia aneh ini, kenapa dari tadi aku lihat kalian baik-baik aja?" Agil melanjutkan.


"Tidak semua yang kami rencanakan harus diperlihatkan sih, aku dan tea juga sedang merencanakan dibantu oleh mereka"


"Mereka?" Tanya agil menatap orang-orang itu.


"Mereka siap membantu kok, mereka juga bingung kenapa orang-orang seperti kita masuk di dimensi mereka"


"Aku bingung, kenapa hanya kita disini yang masih hidup" jay menghelan nafas.


"Kata seseorang ada banyak orang yang terjebak, tapi karena pikiran mereka sempit mereka mengakhiri hidup mereka disini" agil melanjutkan.


"Benar karena mereka cepat menyerah" ucap jay


Menyerah bukan sesuatu yang baik, tapi terkadang butuh menyerah dan setelah menyerah harus bangkit kembali, sejujurnya itu istirahat yang dimaksud, menyerah adalah hal yang manusiawi tapi untuk soal perpisahan menyerah adalah hal yang baik, dan orang-orang tertentu saja yang bangkit karena merasa pepisahan bukanlah akhir segalanya


Entah, agil terdiam sejenak karena ia memikirkan randi dan gilang, agil memikirkan apakah mereka mati dimangsa elang raksasa itu, atau hanya mereka diletakan disuatu tempat dan malucia yang melawan elang-elang itu dan mereka selamat dan sedang berjalan untuk menyelamatkanku.


Bahkan otak agil pun sudah penuh dengan pikiran-pikiran yang tidak masuk diakal, pikiranya menjadi kacau dan sama sekali tidak bisa fokus untuk tetap tenang.


"Ceritakan kenapa bisa kalian bertemu dengan orang-orang ini?" tanya agil.


"Aku dan tea dibawa oleh orang wanita yang memiliki kuping runcing seperti peri..."


"Tunggu? Dia membawa elang bukan? Dia sempat memberikan nama?" memotong omongan jay.


"Ya, namanya lidra"


Agil terdiam, sepertinya bangsa seperti malucia banyak, bukan hanya malucia.


"Emmm lanjutkan, lanjutkan"


"Pada saat itu kami tersadar bahwa ada yang tidak beres yang menimpa kami, lidra menceritakan semuanya, kau pasti tahu, setelah itu ia mengantarkan kita ke sungai untuk istirahat, dan setelah itu kami kehilangan lidra, dan memutuskan untuk berpetualangan sendiri mencari jalan keluar"

__ADS_1


Agil menatap tajam jay yang dengan asyik bercerita, namun jay merasakan hawa yang aneh, jantungnya berdebar, tapi agil malah sibuk memikirkan kenapa dua wanita ini tidak mendapatkan buku seperti dia?


"Kenapa berhenti?" Tanya agil.


"Emmm, setelah itu kami bertemu orang-orang ini dan mereka mengerti bahasa kami setelah itu kami membahas semua apa yang terjadi dan mereka membantu kami berlatih mental dan fisik, seperti berlatih pedang, memanah, dan bergelut"


Lalu agil juga menceritakan semua yang telah dialami olehnya kepada jay, dimana saat ia pertama kali diatas awan, dan diselamatkan oleh wanita misterius, dan tentunya tentang manusia kerdil tapi tidak dengan buku itu.


"Aku yakin ada sesuatu yang terjadi, ada orang yang sengaja melakukan ini, dan aku benar-benar baru tahu ada dunia lain selain dunia kiita?" Ucap agil.


"Ya, karena waktu itu juga aku berpikir dunia tidak hanya ada dunia kita saja, emmm semua orang juga berpikir ada sesuatu dikerajaan sana"


"Kerajaan?" Tanya agil.


"Ku kira kau sudah tahu, karena dinegara ini, semua diperintahkan oleh raja dikerajaan, dan kita akan pergi kesana"


Memang ini ada tujuan agil saat ini, tujuannya memang dikerjaan atau di kota majestic, seperti kata malucia, pikiran agil kacau yang ia pikiran hanyalah butuh teman untuk menolong randi dan gilang, dan dia menemukannya.


"Aku akan pergi kau ikut denganku mencari jalan keluar besok, aku yakin kita bisa, terima kasih telah menolongku, tapi besok aku harus pergi mencari teman-temanku" ucap randi dengan polos.


"Caranya kau harus latihan dulu fisik mentalmu!" Tiba-tiba tea datang.


"Apa?"


"Ya kalau ada rintangan kayak tadi dikejar-kejar elang, mau cepet mati?" Ucap tea meledek.


"Sialan" ucap agil.


Beberapa orang sudah mulai mengistirahatkan tubuh mereka, malam semakin gelap hanya ada api unggun dan beberapa oncor kayu yang dipasang di beberapa sudut rumah-rumah, namun sedikit di redupkan karena takut akan elang hitam brengsek yang datang kesini.


Hanya agil yang masih menghangatkan badannya didepan api unggunya, ia merasakan kehangatan yang luar biasa, pakaiannya mulai kering, tubuhnya masih kotor namun tidak berarti apa-apa bagi agil, karena saat ini pikiranya sangat kacau dan resah, dipikirannya hanya ingin randi dan gilang selamat.


"Aku akan menyelamatkan kalian" gerutu agil.


"Em em siapa?" Tiba-tiba bapak yang tadi menari mendekati agil lalu duduk disampingnya.


"Aku Argus, kau?" Bapak itu memperkenalkan diri.


Mata agil masih melongo menatap tanduk itu, kaget memang karena sebelumnya ia hanya bisa melihat orang-orang seperti itu difilm.


"Tenang ini badan asli" bapak yang bernama argus itu tertawa seraya memeggang janggutnya yang tebal.


"Kau mungkin merasa ngeri" argus melanjutkan.


"Emm iya" ucap agil pelan.


"Kau seharusnya tidak kaget, sudah berapa lama tersesat didunia ini?" Argus bertanya.


"Baru beberapa hari sepertinya" ucap agil.


"Dan kau beruntung bertemu kami" argus menghelan nafas.


"Siapa namamu?" Argus melanjutkan.


"Agil"


"Nama yang unik" argus tersenyum.


Agil ikut tersenyum.


Dengan jantung yang berdebar, rasa yang ngeri, agil mencoba memulai sesi percakapan.


"Kalau boleh tanya, apakah hanya saya, jay, dan tea yang tersesat disini?"


Argus mencoba menetralisir pertanyaan agil, lalu ia menjawab singkat.


"Ada banyak"


"Lalu? Kenapa hanya ada kami bertiga disini? Apakah ada yang lain yang mungkin belum saya lihat?"


"Hanya ada kalian bertiga"


"Lalu?"agil terus bertanya.


"Kau seperti anak kecil yang penasaran dengan cerita yang dibawakan oleh orang tua" argus mendengus.


Agil hanya diam.


"Tidak banyak yang bertemu dengan kami, hanya ada beberapa, mereka malah justru takut kepada kami, memilih lari, ada yang tidak percaya tapi keesokan harinya bunuh diri, ada yang percaya tapi keesokan harinya pergi mencari jalan sendiri"


"Dan kau ingin seperti mereka?"


"Ah tidak"


"Apakah kau takut dengan kami? Terkadang mereka melihat dari sampul saja, dari luar kami mengerikan memang tapi kalau soal membantu kami bisa lakukan itu"


Agil masih terdiam, ada pertanyaan yang terlintas di otak agil dan agil seperti harus menanyankan itu.


"Kalian apakah asli dari dunia ini?"


Argus tertawa terbahak-bahak.


"Kau kira kami dari dunia mu? Kita asli penduduk disini, dan inilah bentuk asli kami"


Beberapa saat hanya ada keheningan, agil seperti berpikir, lalu agil memecahkan keheningan.


"Ada satu hal yang ingin saya tanyakan lagi, tapi apakah kau bersedia menceritakan detailnya? Saya tidak bisa bertanya kepada jay atau tea mungkin mereka sama-sama bingung seperti saya"

__ADS_1


Argus menghelan nafas, seperti tahu apa pertanyaan itu.


__ADS_2