Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Petarungan Silas


__ADS_3

Aleris menelusuri kebun buah, seraya ia membawa keranjang untuk meletakan buah-buah yang ia petik, hari ini memang sangat terik, membuatnya harus melepaskan pakaiannya, ia sering membuka tiba-tiba bajunya, dan telajang dada tanpa memikirkan tempat.


Randi datang, ia sempat merasa aneh seseorang dengan telajang sedang sibuk memetik buah-buahan.


"Hei!!!" teriaknya mendekati aleris.


Aleris menoleh.


"Kau masih tidak ingat kah?"


Aleris memutar bola matanya, "Sudah aku bilang beberapa kali aku masih belum ingat apapun..."


"Kau lihat sendiri luka lidra kan? lidra dan malucia saja masih bingung apa yang terjadi, aku mencoba menjelaskan namun ya sudahlah...."


Aleris menatap tajam randi, ia juga bingung kenapa ia bisa melupakan kejadian yang terjadi.


"Kau kenapa? kau sering kali melepaskan bajumu... kau ingin pamer otot perutmu?" ucap randi memgalihkan pembicaraan.


Tidak banyak jawaban yang aleris keluarkan ia hanya menjawab beberapa kalimat yang pantas ia jawab saja, pikirannya masih campur aduk, tentang kabar raja jesper, bukankah dia sudah berjanji akan membawa kabar detail tentang ini, ia juga memikirkan ucapan randi yang selalu mengikutinya selalu mengatakan hal itu, bahkan untuk mengingat saja membuatnya sakit kepala, dan tentang liontin bintang yang ia temukan bersama randi, bahkan karena masalah monster-monster ini ia sampai melupakan liontin itu.


"Senang deh kau memang tuan disini tapi kau memahami anak buahmu..."


Aleris terdiam, seraya memeggang buah persik tiba-tiba ia ingin mrlihat lagi liontin itu, ia menoleh dan melempar buah persik itu kearah randi, dan ia beranjak pergi meninggalkan randi.


Randi yang kewalahan menangkap buah itu, ia terlihat bingung dengan sikap aneh aleris yang tiba-tiba terdiam dan pergi begitu saja.


"Apakah pikirannya selalu seperti itu?" gumam randi.


Aleris meletakan keranjang yang berisi buah dimejanya, ia lali dengan segera mengambil liontin bintang itu dari laci mejanya.


"Masih bingung apa gunanya ini?" gumam aleris seraya menggantungkan kalung dijarinya.


"Jika memang benar ini ada hubungannya dengan bravogar maka berikan aku petunjuk sialan!!!" aleris membanting kalung itu.


Otaknya berantakan akhir-akhir ini ia mendapatkan banyak hal yang membuatnya terus berpikir, bahkan ia tidak bisa tenang gara-gara masalah yang terus berdatangan.


"Kapan leon mengirimkan gagak jelek itu, dan mengatakan jika raja jesper mengirimkan kabar... aku lelah menunggu..." gumamnya.


Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang harus ia lakukan hari ini, hari ini adalah hari dimana semua anak buah aleris akan melakukan pertarungan, untuk melatih fisik mereka.


Aleris memang sering mengadakan kegiatan seperti ini setiap satu tahun sekali, mereka akan bertarung, dan disaat itu lah aleris bisa mengukur kekuatan mereka. Hal itu sebagai alat evaluasi untuk menilai berapa jauh pengetahuan tentang kekuatan mereka yang sudah dikuasainya.


Aleris menghelan nafasnya, "Sedang banyak masalah seperti ini bukannya menyelesaikannya malah bengong didepan kaca..." gumamnya.


Sebuah ruangan yang tidak cukup besar memang, seperti gelanggang, dimana aleris sudah menyuruh anak buahnya untuk berkumpul diarea tersebut.


"Maaf karena aku telat, aku datang kesini kalian sudah siap diruangan ini..."


Mereka menundukan kepalanya kepada aleris.


"Aku hanya sedang banyak masalah akhir-akhir ini jadi kita lakukan dengan cepat..." pekik aleris.


Bahkan randi dan gilang pun ikut datang menonton pertarungan latihan mereka.


Aleris duduk disebuah kursi diatas, dimana ruangan itu seperti studion, aleris, randi, dan gilang bisa menonton mereka yang bertarung dibawah lapangan.


Aleris menyiapkan sebuah buku, ia akan mencatat skor setiap yang kalah dalam sesi pertarungan itu, dimana ketika seseorang kalah dalam pertarungan itu, maka aleris tidak segan-segan untuk mengajari mereka.


Pertama Ace melawan Ned, sedikit panas pertarungan itu dimulai karena ned sedikit agresif, ia memang ikonik dengan gaya tinjunya yang berbeda dengan para peri yang berada disana.


Pertarungan dimulai, ned langsung menghantam tubuh ace dengan lengan besarnya membuatnya terpojok dan susah untuk menggerakan tubuhnya, aksi itu membuat semua orang yang menonton memberikan tepuk tangan.


"Kau selalu mengadakan latihan seperti ini???" bisik randi kepada aleris.


"Iya, jika tidak melakukan kegiatan seperti ini aku tidak tahu keahlian mereka..."


"Kau tahu? ada banyak kegiatan seperti ini diduniaku..." sahut randi.


Aleris tidak menggubris ia fokus kepada pertarungan ace dan ned.

__ADS_1


Malucia dan lidra juga menonton pertarungan itu, mereka memang hari ini tidak bisa mengikuti sesi latihan tersebut karena, malucia akan menemani lidra yang masih kesakitan karena lengan yang tertusuk belati miliknya.


"Tuan? malucia dan lidra tidak mengikuti latihan ini?" bisik gilang seraya menatap malucia dan lidra jauh disana.


"Ah tidak lang, entah karena kejadian yang tidak aku ingat itu, sepertinya malucia dan lidra sedang menunggu pulih kembali.."


Dilanjut dengan pertarungan itu, ace tidak mau kalah ia mengeluarkan kekuatan anginnya, kekuatan angin yang bisa berubah menjadi bentuk belati, ia mengarahkan kearah punggung ned, agar angin berbentuk belati itu menusuk punggung ned.


Ned merintih kesakitan saat angin itu sudah mendarat kearah punggungnya, ia mundur. Lalu ace terbang seraya mengeluarkan kekuatan anginnya, ia menimbun dengan kekuatan anginnya kearah tubuh ned yang masih merintih kesakitan.


Lapangan itu dipenuhi pasir putih, hal itu membuat mereka berterbangan karena kekuatan ace. Tubuh ned terkubur dengan pasir itu, lalu ace turun kebawah, menindih tubuh ned yang besar dengan kakinya.


Tidak mau kalah, ned bangkit menarik kaki ace, ia putar-putar dan ia lempar kearah pondasi bangunan istana, ace menabrak bangunan itu hingga ia kesakitan, ia jatuh, mengeluarkan darah dari mulutnya. Ia lemas tersungkur tidak sadarkan diri.


Waktu inilah yang membuat ned menang dalam pertarungan sesi pertama, aleris mengumumkan jika ned akhirnya berhasil mengalahkan ace.


Satu demi satu pertarungan itu dilakukan, banyak luka memar yang mereka dapat dari pertarungan itu, namun mereka tidak menyesalinya bukankah ini adalah latihan yang sesungguhnya? tak terasa banyak yang kalah melawan ned, hingga pertarungan terakhir ned melawan silas.


Memang dalam pertarungan itu, dibagi menjadi dua babak, dimana silas banyak mengalahkan semua orang yang menjadi musuhnya, hingga tiba saatnya silas bermain-main dengan ned.


Tidak jauh berbeda, ned dan silas memang terkenal dengan kekuatan yang kuatnya, tidak bisa dipungkiri jika banyak yang kalah dalam pertarungan mereka melawan orang-orang yang ikut serta.


Malucia dan lidra tercengang ketika tahu ned dan silas akan melawan satu sama lain, mereka adalah yang terkuat dari mereka.


Memang baru dua kali ini dalam pertarungan jika ned melawan silas, ketika dulu silas belum sekuat dan sehebat sekarang ini.


"Hei? dia itu sangat gila kan?" sahut randi kepada aleris, membuat aleris tersentak.


"Gila?" tanyanya.


"Dia sepertinya sombong.."


"Memang, tapi aku tidak kecewa karena selama ini usaha ku tidak sia-sia mengajari teknik itu kepada silas, dulu ia sangat lemah hingga akhirnya ia bisa melawan ned, dimana ned itu adalah seseorang yang kuat setelah akuu.."


Randi melongo kaget menatap silas.


"Sepertinya memang akan mengasyikan pertarungan ned dan silas ini.." sahut gilang.


Ketika saling berhadapan wajah sebelum memulai pertarungan dengan musuhnya ned, silas memasang wajah angker, dingin, tanpa senyum. silas selalu menatap wajah musuhnya dengan sorot mata tajam, bengis, seolah-olah ingin menerkam. Sorot mata bengis itu mujarab untuk membuat musuhnya ciut nyalinya sebelum bertarung, tapi hal itu tidak mempan untuk ned.


Seperti harimau lapar, silas langsung menerkam musuhnya begitu bel tanda pertarungan dimulai dibunyikan, silas langsung merangsek dengan melepaskan pukulan mautnya.


Tidak peduli lawannya berpostur lebih tinggi darinya atau lebih pendek, silas langsung tancap gas menghajar dan secepat-cepatnya menghabisi perlawanan musuhnya, namun karena lawanya adalah ned ia berhasil menepis tonjokan maut silas, ia balik menerjang tonjokannya kearah wajah silas membuatnya tersungkur.


Tidak sampai disitu, ia menatap ned dengan tatapan jijik, karena sikapnya yang sombong membuatnya tidak ingin segera kalah dari ned.


Silas sadar dihadapanya adalah seorang harimau, ia sadar ia adalah kucing, tapi ia tidak ingin kalah dari ned yang memang ia terkenal sangat kuat.


Semua orang meneriakan mereka dimana keadaan semakin memanas, tidak henti-hentinya randi dan gilang menepuk tanganya karena pertarungan semakin memanas.


Silas mengeluarkan kekuatan anginnya, membuat tubuh ned terperangkap dalam lingkaran angin yang silas buat.


"Kekuatanya memang seperti itu ya?" gumam randi, ia memang sedang berbicara sendiri namun aleris menyahut.


"Kekuatanya memang mengikat musuh dengan kekuatan anginnya" sahut aleris.


Randi dan gilang selama hidup diistana ini, mereka memang belum pernah melihat orang-orang ini memiliki kekuatan yang sangat kuat, karena memang ia sudah sadar dan melihat aleris mengeluarkan kekuatannya beberapa kali membuat mereka tidak terkejut lagi saat mereka memperlihatkan kekuatanya.


Saat silas memerlihatkan kesombonganya, ia tidak henti-hentinya tersenyum menatap ned yang masih berusaha keluar dari ikatan angin silas.


Ned berhasil keluar, ia mengeluarkan satu tangan dari ikatan itu lalu ia mengeluarkan angin, ia menimbun dengan keras angin yang mengikat tubuhnya, membuat angin yang silas buat hancur.


Sudah ada banyak kelemahan yang aleris catat, ia benar-benar fokus dalam memperkerjakannya, yang ia hanya pikirkan adalah mereka bisa diandalkan saat para monster yang datang.


Ned menghantam pasir putih itu dengan genggamanya, membuat pasir itu melayang dan terbang kearah silas, silas menutupi wajahnya dengan tanganya karena pasir yang berterbangan, saat itu menyingkirkan tanganya, tangan besar ned sudah berada didepan wajahnya, dan meniju wajahnya dengan cepat.


Silas terjatuh, ia mengelurkan darah dimulut dan dihidungnya, tapi hal itu tidak membuatnya tidak berdaya, ia mengarahkan kakinya kearah kaki ned, dimana hal itu membuat ned terjatuh, dengan cepat silas menimbun tubuh ned dengan kekuatan anginnya yang menggumpal, membuat tubuh ned terkubur.


"Rasakan!!!!!!" teriakan silas.

__ADS_1


Pertarungan ned dan silas adalah pertarungan yang panas, dimana mereka masih tidak ada kalah-kalahnya, padahal pertandingan ini sudah memakan waktu yang banyak, namun aleris menghiraukannya ia hanya fokus kepada mereka, bukankah itu adalah hal yang aleris sukai akhirnya mereka semakin berkembang?


Pencapain yang silas lakukan bagi aleris adalah luar biasa, dimana dulu ia sering melatih kekuatanya dengan ned, ned berhasil membuat silas melakukan yang terbaik, aleris perpartisipasi dalam pembentukan yang silas lakulan selama ini, jerih payah silas terbayarkan saat ia bertarung untuk yang kedua kalianya dengan ned.


Saat itu silas kalah dengan ned, tapi kerena sifat arogan dan sombongnya itu, yang membuatnya tidak ingin kalah.


Entahlah ini sepertinya akan menjadi pertandingan yang tidak bisa dilupakan oleh silas, dimana tubuh mereka sudah kehilangan energi, sudah banyak luka namun mereka masih tidak mau mengalah.


Silas seraya berjalan mendekati ned yang masih terduduk karena lemas, silas datang dengan jalanya yang sempoyongan.


"Ned, mengalah saja, bukankah kau sudah menang melawanku waktu itu.." gumamnya.


Namun ned tidak menggubrisnya, ia masih mengumpulkan energi. Dari kejauhan malucia mengisyaratkan aleris untuk menghentikan pertadingan ini karena keadaan yang sudah tidak memungkinkan.


Namun aleris menyuruh malucia untuk menunggu, aleris yakin mereka masih ingin menyelesaikannya.


Silas menonjok wajah ned beberapa kali, namun ned tidak membalasnya, ia hanya berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


Namun saat tonjokan silas berhenti, ned berdiri dan menendang wajah silas hingga tersungkur hingga kepondasi bangunan.


Silas masih bisa tersenyum. Ia lalu berlari walaupun ia sadar ia akan berlari dengan sempoyongan, tubuhnya menabrak dada bidang ned, mereka malah berpelukan, ned segera melepaskannya, ia kembali menonjok wajah silas dimana silas sudah benar-benar kehilangan tenanganya.


Aleris masih memperhatikan gerakan silas, dimana ia bisa melihat jika silas masih bisa bangkit mengalahkan ned, walaupun aleris tidak begitu berharap karena yang dilawan silas adalah ned.


Silas bangkit ia berbisik, "Ku mohon kau mengalah..."


"Bukan begitu caranya..." sahut ned.


Entah karena geram karena jawaban yang tidak mengenakkan keluar dari mulut ned, ia melawan rasa lemasnya, ia berdiri dan mengeluarkan kekuatan anginnya, dimana ia mengikat tubuh ned, dengan erat membuat ned susah untuk bernafas.


Aleris tersenyum ketika melihat aksi maut tiba-tiba yang silas keluarkan.


Ia lalu membuat sebuah tangga dari angin dan berjalan menuju tepat diwajah ned, ia lalu menendang wajah ned hingga ia terlepas dari ikatan angin itu yang terlempar hingga ia jatuh pingsan, karena tubuhnya menghantam keras pondasi bangunan istana itu.


Akhir dari pertarungan itu adalah silas, akhirnya silas bisa mengalahkan ned walaupun akhirnya ia juga terjatuh dan tak berdaya, aleris memperintahkan seseorang untuk membawa kedua manusia kuat itu untuk segera diobati.


Aleris berdiri, ia masih menatap tubuh silas yang dibawa pergi, banyak orang-orang yang memberikan tepuk tangan meriah untuk silas. Begitu pun malucia, lidra, randi, dan gilang.


Randi tak henti-henti takjub, karena baru pertama kalinya ia melihat dua manusia yang bertarung hingga tubuh mereka sudah tidak berdaya namun mereka masih berusaha untuk melawan tidak mau kalah.


Selama ia hidup diistana ini, hanya ia tahu gilang lebih dekat dengan mereka, mereka tidak memperlihatkan sosok mengerikan itu dihadapan gilang, namun disaat pertarungan ini, randi kerap menatap gilang, dimana ia sangat terkejut kedua manusia yang ia anggap lemah lembut menjadi seekor singa saat latihan.


"Kau kaget?" randi menyenggol lengan gilang.


"Kaget lah, kau pikir aku tidak kaget?" sahutnya.


Randi melirik aleris, ia masih sibuk dengan bukunya, "Boleh ku lihat kan?" sahut randi.


Aleris menyodorkan catatannya itu.


"Wah kenapa sangat memusingkan? tulisanmu sangat terkutuk..." ucap randi.


"Kau tidak paham kan apa yang aku tulis?" jawab aleris.


Randi mengangguk, "Kau sebaiknya tidak usah mengerti karena ini tidak penting, ini adalah catatan tentang kelemahan dan kelebihan yang sudah berkembang dari mereka...." jelas aleris.


"Gila..." umpat randi.


Aleris membubarkan acara itu, begitu pun dengan randi dan gilang yang sudah menghilang saja dari ruangan itu, aleris masih mencatat dan meneliti tulisannya, hingga malucia dan lidra datang.


"Kau lihat silas kan?.." sahut malucia.


Aleris tersentak karena malucia tiba-tiba datang, aleriz mengangguk.


"Kau akan melihat pertarungan aku dan lidra kapan, kan hari ini kita tidak bisa ikut..." ucap malucia.


Entahlah kenapa aleris sangat gugup jika harus bertatapan dengan malucia, lidra sadar jika aleri sangat gugup, lalu ia menyahut.


"Tuan, tunggu aku sembuh dulu dari luka ini, luka dilenganku masih basah dan masih terasa sakit" ucap lidra merintih.

__ADS_1


Aleris lalu mengangguk dan tersenyum, wajahnya sangat tampan saat tersenyum, tapi anehnya lagi-lagi malucia tidak bisa terpesona dengan senyuman aleris.


"Bodoh...." batin lidra dalam hati.


__ADS_2