
Malam akhirnya datang, setelah tidak terasa matahari akhirnya tertidur, suasana menjadi petang hanya ada beberapa oncor yang menempel dibatang-batang pohon, bahkan proses pembuatan tempat tinggal ini membutuhkan waktu entah sampai kapan, selama satu hari ini hanya menyelesaikan dua rumah saja, padahal rumah ini bisa dibilang tidak terlalu besar dan tinggi, selama satu hari itu mereka di sibukkan dengan membuat rumah, bahkan tidak sempat mereka berempat untuk berbincang-bincang.
Argus yang sepertinya tidak pernah berhenti menjalankan tugasnya, sepertinya memang argus tidak memiliki waktu yang banyak, bagaimana tidak tujuan mereka berempat adalah ke kota Lander dan entah kenapa mereka bisa sampai di tempat ini dan mengiyakan para manusia kurcaci itu.
Agil sama sekali tidak bersemangat menjalankan tugasnya itu, entahlah jika mereka menolak para manusia kurcaci itu, entah akan jadi seperti apa agil nantinya, karena manusia kurcaci itu bukan sembarang manusia kerdil biasa, mereka bahkan sangat kuat.
Setelah selesai dengan pembuatan yang ke dua, manusia kerdil itu bernama Taka mengajak agil dan argus untuk ke sebuah sungai, dan ya, benar untuk membersihkan tubuh ini, yang penuh dengan keringat dan kotor penuh tanah dan goresan kayu, tentu jay dan tea juga melakukannya, bedanya mereka diajak oleh manusia kerdil wanita yang sepertinya itu istri dari Taka.
Sudah sepertiga malam, mata agil masih terbelalak menatap indahnya langit malam, sepi dan orang-orang tertidur dengan lelap, matanya tidak bisa tertidur sepertinya pikiranya mulai kacau kembali, sudah beberapa hari ini agil kurang tidur, entahlah dia merasa bahwa ketika dia memejamkan mata semuanya menjadi seperti nyata dan sangat kesepian.
Orang-orang tertidur dengan lelap diluar tempat tinggal mereka, karena hanya ada dua rumah saja yang sudah selesai mereka memutuskan untuk tidur diluar, ada hawa dingin memang ketika mereka tidur di luar tempat tinggal mereka, dan seperti biasa orang-orang tertidur dengan tenang dan yang selalu merasa kedinginan hanyalah agil seorang.
Agil melentangkan tubuhnya menghadap langit, ia menatap fokus satu bintang yang berkelip-kelip, bayangannya kabur, rasanya ia sepertu sudah mati rasa dan rasanya sudah menyerah, pasrah, dan tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, pikirnya mati saja sepertinya akan lebih baik.
"Tidur anak nakal" suara serak memenuhi tempat itu.
"Emon" agil membenarkan posisi duduknya, karena emon berjalan dan duduk disamping agil.
"Maafkan diriku ya" perkataanya muncul dengan tiba-tiba.
Agil yang bingung hanya memiringkan kepalanya.
"Ya karena mungkin aku sombong seperrti ini, tidak mau kalah dan tentunya memaksa kalian untuk membuat rumah"
"Ah tidak apa, tidak masalah soal itu"
Emon menjelaskan bahwa sebenarnya mereka kehilangan tempat tinggal mereka, emon tidak menyebutkan dari mana asal suku mereka, hanya saja ia menjelaskan bahwa suku mereka telah tiada dan ini yang tersisa.
Agil memutar bola mata, kenapa persis seperti suku Serafina, suku paman, dan kenapa banyak suku-suku yang kehilangan asal suku mereka.
"Bahkan yang paling mengerti asal-usul sebenarnya tentang suku kami adalah aku, dan aku sendiri tidak tahu bagaimana menjadi sebuah tuan dalam arti memimpin mereka" ada rasa menyerah yang bisa agil lihat di raut wajahnya.
"Dan seperti yang kau lihat, tidak ada sama sekali yang berkuasa selain diriku, dulu aku hanyalah warga biasa dan keadaan yang membuatku memaksakan diri menjadi pemimpin mereka padahal aku bukanlah yang terbaik"
"Tapi kau sudah menjadi yang terbaik bagiku, sudah sangat profesional, aku pikir kau tidak memiliki rasa iba kepada sesama" agil tertawa.
"Aku membantu pekerjaan kalian, tapi banyak diantara teman-temanku yang menyuruhku untuk duduk diam saja, aku terkadang merasa seperti apakah ini yang dinamankan orang-orang yang berkuasa"
Emon melanjutkan, "aku memperhatikanmu dan sepertinya banyak pikiran, ada apa?"
"Setiap orang banyak memiliki masalah tentunya, dan aku sedang memikirkanya"
"Mungkin kau tidak ingin menceritakan masalahmu, namun ini yang bisa ku lakukan, aku pernah diposisi seperti mu, menyerah dan entahlah seperti kosong bukan?"
Agil mengangguk, emon melanjutkan, "Aku kehilangan orang tuaku dan teman-teman dekatku ketika suatu hari dimana desa kami dibasmi oleh para pembasmi monster, mereka mengira bahwa salah satu diantara kami ada yang menjadi monster dan kau tahu ayahku ia berubah menjadi monster dan dibunuh didepan mataku, ibuku marah menyuruhku untuk pergi, dan setelah aku pergi dan bersembunyi aku kembali ke desaku, dan yang tersisa hanya orang-orang yang sekarang disini menemaniku, mereka pikir aku tahu segalanya makannya mereka menjadikanku ketua"
Tidak habis pikir, banyak sekali orang-orang dinegeri ini yang kisahnya sangat tragis, mungkin ada yang lebih tragis lagi, agil bahkan ingin membayangkan seperti apa kejamkan orang yang berkuasa di kota-kota majestic itu, apakah seperti para pembasmi monster itu atau kah lebih kejam, sepertinya agil tidak ada apa-apanya dibanding dengan para pembasmi itu, bahkan ditempat yang terpencil banyak yang lebih tragis bagaimana jika dikota-kota yang besar atau kerajaan yang sekarang menjadi tempat tujuanya, mencari jawaban.
Sempat terlintas bahwa agil seperti meratapi kengerian itu, bahkan untuk menghadapi para kurcaci ini ia tidak bisa bagaimana bisa ia akan menyelamatkan randi dan gilang? dan mencari jawab dan kembali ke rumah? bagaimana bisa, bagaimana bisa ia pernah sempat berpikir dengan semangat untuk pergi ke kerjaan itu entahlah kerajaan apa, bagaimana bisa, yang ia tahu ia hanyalah seperti semut dan gajah, disentuh sedikit saja sudah mati dan hilang begitu saja.
Agil tidak bisa menahan tangisnya, dipikiranya bagaimana bisa dengan percaya dirinya ia ingin menyelamatkan randi dan gilang, dan berpikir bahwa mereka masih hidup, bukankah itu bodoh? bagaimana bisa agil berpikir masih hidup ketika dibawa pergi dengan elang raksasa? apakah masuk akal? agil tidak ingin mengetahui apa dan siapa kerajaan itu, yang dipikir agil hanyalah, mencari jawab, mencari jawab, dan mencari jawaban, bahwa sebenarnya ia perlu tahu dan perlu mencari strategi dengan matang-matang, kenapa ia bersih keras pergi begitu saja tanpa menggunakan apa-apa, tangan kosong?
"Aku tahu mungkin kau merasakan yang aku rasakan, tapi aku sadar saat itu juga, aku harus bangkit karena mereka juga butuh aku, walaupun aku tidak bisa seperti yang mereka inginkan"
Emon berjalan pelan menuju agil, dan memeluknya, membuat agil kali ini terlelap dengan tangisanya, emon menepuk beberapa kali pundak agil berharap agil bisa mengeluarkan emosinya dengan damai.
__ADS_1
Disaat itu juga, jay mendengarkan percakapan disepertiga malam itu, entah kenapa ia ikut menangis dalam pelukanya sendiri, jay juga merasakan rasa kehilangan itu.
Ia bangun ketika ia mendengar suara seseorang yang merintih jay pikir itu tea, tapi dari kejauhan sepertinya itu agil, jay pikir sepertinya jay harus menemani agil, namun emon datang dan menenangkan agil, jay hanya duduk dari kejauhan memperhatikan mereka, sampai ia tidak sadar ia juga itu merasakan suasana menyedihkan itu, jay pikir kehilangan seseorang itu lebih menyakitkan, tidak ada yang bisa menandingi itu.
Jay kembali tidur, membenarkan posisinya, masih dengan mata yang penuh air ia memejamkan matanya.
Surya menampakan sinar khasnya, pagi terlalu pagi, seperti biasa agil tidak tidur sama sekali, ia sudah memiliki mata hitam yang kini mata hitam itu semakin terlihat jelas, hari ini seperti dugaan agil, agil harus melakukan pekerjaan ini dengan sabar, walaupun sebenarnya ini bukanlah hal yang membuatnya bersemangat.
"Semangat gil" ucap jay mendekat.
Agil hanya tersenyum entahlah kenapa hari itu ia merasa sangat lemas tak berdaya.
"Kenapa kau ini?" tiba-tiba argus datang.
"Sakit" ucap lirih agil.
"Sakit?"
"Entahlah paman hatiku sakit" ucapnya seraya dengan nada yang sangat lemas.
"Kau temani agil istirahat jay" ucap argus.
"Sepertinya agil akan menolaknya paman, tahu sendiri kan?"
Argus terlihat sangat kawatir, entah karena pekerjaan yang membuatnya malas atau memang dia benar-benar sakit, sejujurnya argus juga sangat menyangkal akan bisa membangun dengan cepat, karena satu hari hanya menyelesaikan dua rumah.
"lima saja cukup" taka datang tiba-tiba seperti tahu apa yang dipikiran argus.
Argus duduk, "Lima? apakah tidak masalah? tuan mu menyuruh sepuluh?"
Argus mendengus.
"Toh kalian sedang menuju ketempat yang kalian tuju kan? ini sebenarnya tidak ada gunanya" taka tertawa.
"Ada gunanya, karena kita ikhlas membantu"
Dari kejauhan tea memperhatikan argus, kenapa waktu itu tea tidak menyuruh argus untuk lewat kejalan yang biasa argus lewati, kenapa ia diam saja mengikuti argus, dan yang terjadi sekarang? banyak rintangan yang dilewati entah tersesat, jatuh, dan terperangkap ditempat orang, sebenarnya kenapa argus ingin melewati tempat ini? bahkan bagi tea ini adalah tempat yang sakral.
Tea mendekat dan menepuk pelan pundak argus, dimana argus masih duduk setelah ada perbincangan sedikit antara argus dan taka.
"Paman sudah makan?"
Argus hanya mengangguk.
Tiba-tiba mata tea tidak bisa ia bendung, kenapa menangis batinnya?
"Paman sudah tea anggap sebagai ayah tea, paman benar-benar sangat tahu persis tentang perasaan yang kami bahkan tidak bisa diutarakan" suara tea sesak.
Wajah argus terlihat bingung, "Kenapa kau? hahahah" argus tertawa.
Dengan mengusap-usap air mata yang jatuh, tea tersetak karena suara tawa argus kenapa tertawa jelas-jelas tea sedang mendalami perannya, dan sedang sangat sedih.
"Kenapa tertawa!!!" teriak tea.
Argus hanya menjawab bahwa tea sangat lucu jika sedang menangis.
__ADS_1
Tea bahkan tidak bisa melihat wajah argus yang begitu sangat lelah, tapi ditutup oleh setiap senyumannya, kenapa ia selalu seperti itu? apakah sebenarnya argus menyimpan banyak beban? kenapa tea menangis berlebihan sedangkan argus menertawakan tea.
Argus beranjak diikuti tea, argus meminta tea untuk tetap tenang dan sabar, seperti tahu apa yang dipikiran argus tea mengangguk, argus segera menyuruh tea untuk melakukan pekerjaan dengan sabar, karena ini akan cepat selesai, dengan malas tes melakukanya.
Argus kembali melakukan pekerjaannya, kali ini ia harus detail dan teliti selain itu juga harus cepat, karena ia tidak memiliki waktu lagi, argus menatap agil yang sibuk memotong kayu, ia tersenyum bahkan agil pun tidak ikhlas melakukannya.
"Sialan, sialan kalau tahu begini, aku gak bakalan melek sampai pagi dan bakalan tidur diam diam-diam" ucap agil seraya memotong kayu.
Emon dari kejauhan menertawakan tingkah agil, karena sifatnya yang bertingkah seperti dirinya, membuat emon tidak bisa menghapus ingatannya tentang masa kecilnya.
Emon mendekat ke arah argus.
"Kau tidak tanya, dimana aku memiliki banyak palu, dan kapak-kapak ini?"
Argus mendongak, "Aku pikir itu peninggalan sukumu"
"Aku membeli di kota Lander"
Argus hanya mengangguk.
"Kau hanya membeli palu dan kampak?"
"Karena ku pikir itu tidak terlalu penting"
"Kau tidak membeli wanita?" argus bercanda.
Emon melotot kaget, "Umurku sudah tua" emon tertawa.
Tujuan argus selain mengunjungi teman lama di kota Lander ia sejujurnya memang ingin mengambil peralatan dan ingin mengenalkan kepada agil.
Argus dengan sangat hati-hati membangun rumah itu dibantu dengan beberapa manusia kerdil dan emon tentunya, entahlah seperti dikehar waktu argus sangat cepat bahkan kecepatan seperti kilat, emon dan yang lain, merasa kawatir karena argus sama sekali tidak merasa kelelahan tapi entahlah kalau memang sebenarnya ia lelah.
Agil, jay, dan tea seperti biasa membantu manusia kerdil yang lainnya, membangun juga tentunya karena agil berpikir sudah tidak ada waktu lagi untuk berdiam diri dan membantu argus, ia harus mandiri dan melakukan pekerjaan dengan sendiri walaupun dibantu dengan manusia kerdil yang lainnya.
Malas memang karena ia tidak menyangka perjalanannya akan menjadi seperti ini, perjalanan yang buruk, pikirnya saat ini adalah fokus menjalankan pekerjaan, cepat melakukan akan cepat juga selesai nantinya.
Jay sempat kawatir dengan agil, bagaimana tidak dari semalam ia tidak henti-hentinya memperhatikan agil, jay harap agil tetap kuat, walaupun entah jay tidak tahu persis apa yang di rasakan agil, yang perlu ia lakukan hanyalah menguatkanya, yang jay tahu ia kehilangan teman-temannya dan bersikeras menyelamatkan mereka walaupun agil belum memiliki bakat bela diri yang bagus.
Jay berharap teman-teman agil bertahan disuatu tempat dan tetap hidup, karena satu-satunya harapan agim saat ini adalah mereka yang bisa membuat agil bertahan sampai detik ini adalah mereka, siapa pun mereka jay berharap pertemukan tiga insan ini dipertemukan ditempat yang semestinya karena soal perpisahan bukanlah tentang hal yang biasa saja, melainkan suatu hal yang sangat tidak bisa dilupakan dan dihilangkan dari pikiran begitu saja.
Sudah lama ternyata jay melamun, ia kembali melakukan pekerjaannya, sedikit mengobrol dengan manusia kerdil tentunya, sudah mulai ada adaptasi dan benar mereka menyenangkan.
"Sudah makan?" ucap tea menguyah makanan dengan penuh seraya menawari makanan itu kepada jay.
"Aku sudah makan" jawab jay.
"Aku baru saja makan, dan ini terasa sangat enak"
"Itu sup sayur kan, sama seperti kita kalau makan di rumah paman" ucap jay.
"Ya tapi kan beda tangan beda rasa jay"
Jay hanya mengangguk, "Cepat kerjakan pekerjaan ini te, aku sudah sangat muak"
"Sabar jay, aku juga sedang mengisi amunisi agar pekerjaan ini lenyap dengan cepat"
__ADS_1