Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Merayakan Kelahiran 2


__ADS_3

Aleris berjalan melangkah mendekati Jangsal yang masih berusaha untuk bangkit. Monster itu entah hilang kemana, masuk kedalam tanah dan hilang begitu saja.


"Kau baik-baik saja?" ucap Aleris seraya menyodorkan tangan untuk membantu Jangsal berdiri.


"Dimana monsternya?" ucap Jangsal.


"Sepertinya menghilang.."


"Lalu? kita pergi saja...."


Aleris mengangguk, sepertinya memang benar monster itu hanya memunculkan tubuhnya yang ngeri sebentar dipermukaan. Tidak begitu melihat bagaimana bentuk tubuh itu. Yang Aleris lihat hanya seperti ular berkepala naga, mungkin memang naga.


Ia juga tidak merasakan hawa iblis, mungkin memang monster seperti biasa yang tiba-tiba muncul. Ia membantu Jangsal berdiri lalu ia melepaskan ikatan kuda mereka, bahkan saat tubuh mereka terlempar sempat para kuda mereka mengamuk ketakutan mencoba melarikan diri, namun Jangsal berhasil menghalanginya.


"Baiklah, ayo pergi" sahut Aleris.


"Sungguh? jika tiba-tiba monster itu mengikuti kita..."


"Masih ada banyak waktu tidak?" tanya Aleris.


Jangsal mengangguk, "Mereka masih mempersiapkan pestanya, dan memang butuh waktu lama"


Tiba-tiba seperti tahu apa yang sedang diperbincangkan Aleris dan Jangsal monster itu muncul dari permukaan tanah tepat didepan mereka. Monster itu mengibaskan ekornya yang besar kearah depan berharap ekornya menghantam Aleris dan Jangsal.


Kedua kuda mereka berteriak dan kabur begitu saja. Aleris segera bangun ia menahan menggunakan kekuatan tanahnya lagi saat monster itu akan menyerang dengan kibasan ekornya.


"Kelemahan ada diekor!" pekik Jangsal.


Jangsal memang tahu apa yang menjadi kelemahan monster yang pernah ia lawan.


Jangsal mengeluarkan belati apinya, dimana kekuatan utama Jangsal adalah belati api yang selalu ia andalkan. Jangsal mengeluarkan dua buah belati yang pucuknya mengeluarkan api.


Karena penghalan yang Aleris muncul kan, Jangsal berlari naik keatas tanah yang dibangun Aleris, lalu segera ia melempar namun meleset mengenai punggung monster itu.


"Sial!" umpatnya, ia lalu turun.


Penahanan yang didirikan Aleris hancur saat ekor itu menghantam tanah yang menjadi alat penahan. Tubuh Aleris dan Jangsal terkubur oleh tanah. Dengan Cepat Aleris mengeluarkan kekuatan tanahnya, membuat sebuah tanah yang tajam.


Ie menyodorkan kedua tangannya, untuk mengeluarkan tanah yang berbentuk tajam tersebut, ia arahkan tepat kearah monster yang masih mengamuk. akhirnya tanah runcing itu mengenai mata monster tersebut, hingga ia mengaum kesakitan.


"Waktunya!!!!" pekik Aleris.


Jangsal yang tahu apa yang harus ia lakukan, ia berlari mendekat kearah belakang tubuh monster, ia mengeluarkan belati apinya dan segera ia tepat, hingga ekor monster itu terbelek setengah.


Monster itu kesakitan seraya mengaum tak henti-henti, hingga ekornya mengenai tubuh Jangsal hingga tubuhnya terlempar. Sedangkan Aleris masih tergeletak menahan sakit dilengannya karena tubuhnya terkenal tumpukan tanah, ia menatap monster itu didepannya, berharap monster itu tidak menangkapnya.


Dengan tenaga yang masih sedikit, Aleris mengeluarkan kekuatan anginnya. Monster itu masih mengaum, aleris mengangkat tubuh monster itu dengan kekuatan angin yang menggumpal disekitar tubuh monster itu.


Lalu dengan cepat Aleris melempar monster itu jauh dari hadapannya, hingga tubuhnya tersungkur jauh, hal itu membuat monster yang dilawan aleris tidak sadarkan diri.


"Pasti dia tidak mati!!" gumamnya seraya berusaha berdiri.


Benar, dugaan Aleris monster itu masih menggerakan tubuhnya. Namun yang Aleris lihat masih dengan auman karena ekornya yang terbelag setengah. Monster itu melirik Aleris sebentar lalu ia kembali kedalam permukaan tanah, dan pergi begitu saja.


Jangsal yang bangkit, saat ia melihat monster itu kembali kepermukaaan tanah, ia sangat lega. Ia segera menghampiri Aleris.


"Lenganmuuuu" pekik Jangsal.


Bahkan tanpa disadari Aleris, lengannya sudah mengeluarkan darah yang terus mengalir dengan banyak. Jangsal langsung menyobek kain bajunya, dan segera ia mengikat kain itu agar darah yang keluar tersumbat.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Jangsal.


Aleris hanya mengangguk, kepalanya mencari-cari keberadaan kuda mereka namun, tidak ada sama sekali bayangan kuda yang ada ditempat itu.


"Kita sepertinya harus berjalan menuju kekerajaan..."


Aleris memejamkan matanya.


"Apakah monster itu tidak akan menyerang kita lagi?" sahut Jangsal.


Aleris menjelaskan jika monster itu pergi lawan arah, ia tidak masuk kedalam tanah menuju kearah mereka, justru monster itu pergi menjauh dari tempat yang mereka sedang injak ini.


"Sepertinya ini monster yang sangat mudah kau lawan.." ucap Jangsal.


Tidak ingin sombong, tapi memang benar. Menurut Aleris monster ini tidak ada apa-apanya dengan yang pernah ia temui. Apalagi raksasa titan yang pernah ia lawan, sejak saat itu sakit lengannya masih terasa sampai sekarang.


Jangsal menuntun Aleris berjalan, mau tidak mau mereka harus berjalan dari tempat ini menuju ke kerajaan Majestic. Aleris sudah seperti menyerah terlebih dahulu. Posisi tubuhnya amsih terlihat lemah, ia harus melawan monster, dan berjalan sangat jauh.


Aleris tidak bisa membayangkan saat kerajaan Majestic masih sangat jauh, apalagi saat ia masuk ke kota Majestic yang luas, untuk sampai dikerajaanya pun butuh waktu yang lama, melewati pemukiman warga, sawah, perkebunan dimana hal itu membuat Aleris semakin putus asa.


"Kau tidak bisa menggunakan teleportasimu disituasi seperti ini?"

__ADS_1


Dengan menahan rasa sakit, Aleris menjawab, "Sangat tidak mungkin menggunakannya saat aku lemah, yang ada kita akan tersesat"


Jangsal tertawa.


Mahagaskar menghampiri Leon yang masik sibuk menyiapkan acara perayaan, Mahagaskar memang sangat menunggu kehadiran Aleris sampai ia merasakan jika perjalanan Jangsal sangat lama.


"Kau yakin Jangsal tidak tersesat, hari semakin sore" ucap Mahagaskar.


Leon yang masih sibuk memasang lampion kemudian meletakan lampionnya dan menoleh kearah Mahagaskar.


"Paman kau pikir Jangsal sudah lupa dengan tempat Aleris?"


"Perjalanannya memang sangat menguras tenaga kan, tidak hanya jauh tapi juga jalannya sangat terjal" sahut Leon.


"Aku tahu, aku tahu..." gumam Mahagaskar.


"Eh paman!" ucap Leon mendekat kearah Mahagaskar dan berbisik.


"Bahkan sampai saat ini tidak ada sesuatu yang terjadi dengan bayi itu kan?"


Mahagaskar menatap sekitar, ia berharap tidak ada para selir atau pelayan yang mendengarkan atau menatap aneh kearah mereka.


"Ya aku berharap, iblis itu keluar dengan sendirinya dari tubuh bayi itu!" bisik Mahagaskar.


"Apa tujuannya ya" ucap Leon.


Mahagaskar menampar pipi Leon, "Tidak waktunya untuk membahas ini, sudah teruskan pekerjaanmu.." ucap Mahagaskar beranjak pergi.


Disebuah kamar yang sudah lama tidak Fay tempati, adalah sebuah kamar miliknya dulu saat masih kecil. Karena dimakan tahun banyak kotoran yang tertanam disana, banyak debu dan lain-lain.


Sudah tiga hari ini ia hanya tidur ditempat para selir yang sudah disiapkan mereka, memang Fay menginginkan hal itu. Dimana ia terlalu lelah untuk membersihkan tempat kamar nya dulu yang kotor. Taoi sepertinya hari ini waktu yang tepat untuk membersihkannya.


"Tandanya kau akan tinggal disini lebih lama lagi bukan?" sahut Seseorang diambang pintu.


Fay segera menoleh, "Arvand?"


Advand melangkah mendekat, ia menyentuh tempat tidur yang dikelilingi debu.


"Euuff....bahkan aku bisa mencium bau debu disini...." sahutnya.


"Artinya kau tidak akan kembali bekerja ketempat itu lagi kan" lanjutnya.


Ternyata Fay baru saja tersadar, ia tidak sampai memikirkan hal itu, tujuannya membersihkan tempat ini karena ia ingin menempatinya bukan karena ia sudah tidak akan kembali kekota itu.


Arvand memutar bola matanya, "Lalu? jika tidak ada kau? siapa yang akan mengurus ratu?"


"Kau lah" sahut Fay.


Arvand hanya mendesah.


"Karena kejadian besar ini aku sampai lupa ingin menanyakan Aleris kepadamu..."


Advand menoleh, "Benar juga, aku juga lupa mengatakan tentang kabar Aleris..."


"Dia tahu apa yang terjadi?" tanya Fay.


Arvand mengangguk.


"Sebagian besar masalah ini, aleris yang memecahkannya. Emm.... bisa dibilang ia selalu ikut serta.." jawab Arvand.


"Kenapa dia tidak datang disituasi ini?"


"Soal bayi sialan itu, sepertinya ia tidak tahu!"


"Suuuuttt!!" ucap Fay, membuat Arvand tersentak kaget.


"Bayi sialan?" tanya Fay mengulangi kalimat yang Arvand ucapkan.


"Itu adikmu hei..."


"Kau pikir aku menganggap itu adikku? jelas-jelas dia iblis, dia bukan adikku.." sahut Arvand.


Fay hanya menghelan nafas panjangnnya, ia menghiraukan ucapan Arvand, ia selalu malas jika harus berdebat dengan Arvand.


Ia lalu beranjak membersihkan tempat tidurnya, tanpa memberitahu Fay, Arvand ikut serta membantu Fay, ia mengeluarkan perabotan yang besar dari kamar Fay.


Tidak henti-hentinya ia batuk, karena debu yang menempel disetiap perabotan yang ia keluarkan.


"Sudah sangat lama kamar ini tidak dibersihkan memang..." gumam Arvand.


"Aku pikir kau akan sering berkunjung dikamarku, untuk membersihkannya" ucap Fay seraya membersihkan lemari.

__ADS_1


Advand terdiam, lalu ia menyahut, "Kau pikir aku nganggur saja? masa bodo membersihkan tempat mu!!" umpatnya.


Fay hanya menggeleng saja, ia tidak ingin perkataan Arvand semakin panas karena Fay yang terus menyalahkannya, memang sudah sangat lama mereka tidak bertemu, hal pertama yang harus mereka lakukan hanyalah berdebat saat bertemu.


Sudah hampir tengah malam dan stok makanan Jangsal yang sudah hampir habis, akhirnya mereka sampai dipermukiman warga kota Majestic. Sempat beristirahat beberapa kali saat diperjalanan membuat mereka banyak mengulur waktu.


Aleris juga harus memperhatikan luka lengannya, dimana darahnya masih mengalir deras, beberapa kali Aleris membersihkan lukanya, dan kembali ia perban dengan kain tapi darahnya masih terus mengalir tanpa henti.


Hingga ia harus memaksakan diri berjalan seraya menahan sakit, perjalanan panjang yang baru pertama kali Aleris dan Jangsal lakukan, biasanya Aleris sering menggunakan kuda untuk bolak-balik dari tempatnya ke kerajaan Majetic. Apa lagi Jangsal anak rumahan.


Ketika sampai dikota Majestic, Aleris benar-benar baru tersadar jika ia malas menginjakan kaki dikerajaan itu, ia terlalu memikirkan ratu sampai lupa ia sangat membenci harus kembali ke kerajaan.


"Waktu itu, kenapa kau menghampiri anak-anak kecil disamping kerajaan?"


Masih berjalan dengan sempoyongan dan memeggang lengannya, Aleris justru dibuat bingung dengan pertanyaan Jangsal.


"Apa? apa yang aku lakukan?"


Jangsal memutar bola matanya, "Aku melihat kau menghampiri anak kecil mereka berusaha mengintip dijendela kecil kerajaan"


Aleris mencoba mengingat, dan ya, ia mengingatnya kejadian lama dimana ia harus ikut serta dalam masalah Arvand.


Aleris menceritakan detail, apa tujuannya mendekati para anak kecil-kecil itu.


"Aku tahu yang sangat membenci menginjakkan kaki di kerajaan Majestic, tapi pada akhirnya kau selalu melakukan tugas dengan baik"


Entah Jangsal menyindir Aleris tentang apa, yang jelas Aleris masih merasakan sakit dilengannya, bahkan sakitnya itu menjalar sampai dikepala, dimana kepala Aleris terasa sangat pusing.


Sudah didepan nata gerbang kerajaan itu berdiri, Aleris sudah tidak kuat untuk menahan rasa sakit lengan dan kepalanya yang berputar, ia mencoba menahan diri.


Jangsal yang tidak sadar dengan apa yang dialami Aleris ia menyuruh Aleris untuk membantunya membuka gerbang, karena Jangsal heran kenapa tidak ada para prajurit yang menjaga? apa karena tengah malam ini?


"Bantu ris, kenapa gerbangnya sangat berat....susah dibuka"


Masih dengan lemas dan sakit yang luar biasa, Aleris melangkah pelan mendekati gerbang, ia menyentuh ganggang gerbang dan mendoring bersama dengan Jangsal. Namun saat ia mencobanya matanya tiba-tiba sangat blur, ia mencoba untuk mengedipkan mata berharap kembali normal namun justru semakin menjadi-jadi. Ia tidak bisa mendengarkan ocehan Jangsal disampingnya. Yang Aleris lihat dunia seperti sedang bergetar, hingga ia terjatuh pingsan tersungkur ditanah.


Jangsal tersentak, ia menampar beberapa kali pipi Aleris berharap sadar, namun sepertinya Aleris harus butuh pengobatan luka dilengannya.


"Panas sekali!" pekik Jangsal, saat menyentuh kening Aleris.


Karena teriakan Jangsal yang super keras membuat para prajurit itu terbangun dan membukakan gerbang untuknya, sempat Jangsal mengumpat beberapa kali kepada para prajurit karena tidak mendengarkan kerusuhan didepan gerbang.


Jangsal menyuruh para prajurit itu membawa tubuh Aleris ke sebuah kamar. Ia memanggil Mahagaskar dan Leon yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Kenapa ada apa!" tanya Mahagaskar.


"Hah!!" desah Leon menutup mulutnya, saat ia melihat wajah Aleris yang pucat, dan darah yang mengalir dilengannya, bahkan kain yang mengikat dilenganya sudah berlumuran darah.


Jangsal menjelaskan jika, saat perjalanan kemari mereka harus melawan monster terlebih dahulu dimana monster itu tiba-tiba muncul dan mengenai tubuh mereka berdua.


"Monster iblis?" tanya Mahagaskar.


Jangsal menggeleng.


Fay datang seraya membawa kontak berisi obat-obatan dan alat kesehatan. Walaupun ia saat itu ia baru saja terlelap dalam tidurnya, ia sudah dipanggil para prajurit yang datang memberitahunya, jika Aleris mengalami luka parah.


Karena mendengar hal itu, ia tidak perduli dengan matanya yang sudah mengantuk, begitu prajurit itu memberitahunya matanya langsung terbelalak, bukankah baru pertama kalinya sejak masa remaja ia bertemu dengan Aleris? Fay sangat khawatir, baru saja bertemu dengan Aleris namun yang ia jumpai Aleris yang terluka.


Dengan cepat Fay melepaskan kain yang mengikat dilengan Aleris, ia membersihkan lukanya, dan kemudian ia memeriksa apakah luka yang diterima Aleris adalah luka dalam, atau ada sesuatu benda lancip yang masuk kedalam lengannya.


"Apa monster itu memiliki racun?" sahut Jangsal membuat Mahagaskar dan Leon terbelalak.


"Apa?" tanya Leon.


"Tapi tidak, aku tidak bisa melihatnya.."


Setelah proses mengobati luka Aleris butuh waktu hampir satu jam, Akhirnya Fay sangat lega tidak terjadi hal yang aneh ditubuh Aleris. Sempat Fay juga menduga jika Aleris terkena racun tapi ternyata hanya luka lama yang Aleris miliki dan tambah luka baru karena melawan monster itu.


"Hanya luka lama yang belum sembuh, tapi sudah dapat luka baru lagi, hal ini yang membuat Aleris pusing, panas, dan jatuh pingsan, ia sepertinya baru saja sakit, dia belum pulih sudah melawan monster saja" gumam Fay.


"Aku pikir racun tadi...." gumam Jangsal.


Fay hanya tersenyum.


"Terima kasih Fay, Oh iya ini pertama kalinya sejak remaja kau bertemu dengan Aleris bukan?" tanya Mahagaskar.


Fay mengangguk.


Ketika Mahagaskar akan mengeluarkan kalimat, sudah disahut oleh Fay.


"Tuan gaskar, tuan Jangsal, dan tuan Leon bisa kembali tidur dan beristirahat, karena Fay yang akan menunggu Aleris disini, sebentar lagi Aleris juga akan sadar...." sahutnya.

__ADS_1


Karena mereka sangat mempercayai Fay, mereka beranjak pergi meninggalkan Fay dan Aleris diruangan itu.


__ADS_2