Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Korban berjatuhan


__ADS_3

Agil yang masih melamun melihat semua yang melayang diudara, bahkan ia tidak bisa berkata-kata lagi. Fay tiba-tiba menepuk pundak Agil.


"Cepat serang dia..." bisik Fay.


Agil terbelalak saat melihat ketiga prajurit yang tepat berada didepannya, masih sibuk menatap heran diatas mereka.


"Mereka diam aka Gil..." ucap Gilang.


Tiba-tiba Fay siap-siap dengan posisi kuda-kuda seraya kedua tangannya mengeggam siap menonjok ketiga prajurit tersebut, namun Agil menahannya.


"Dengar, mereka membawa pedang?"


"Kita tidak ada waktu banyak hei..."


Fay tiba-tiba menendang perut salah satu prajurit tersebut, hingga ia tersentak dan jatuh, Fay dengan cepat mengambil pedang tersebut lalu menyodorkan kepada ketiga prajurit tersebut.


Agil dan Gilang terkejut dengan tingkah Fay tiba-tiba.


"Putri, bisa berikan pedang itu kepada kami, sebelumnya kami minta maaf, jika tidak ada perintah kami tidak bisa membiarkan kalian masuk!"


Fay yang mendengar langsung menyahut, "Perintah!? tidak salah dengar aku? sampai kapan kalian akan menunggu perintah, kalian tahu apa yang sedang terjadi? memangnya kalian tahu apa!" teriak Fay.


Tiba-tiba sebuah rantai mengikat kedua para prajurit itu dengan serat membuat mereka tidak bisa bernafas, Fay terkejut saat melihat rantai itu tiba-tiba datang dan mengikat kedua leher prajurit.


Fay menoleh, siapa yang melakukan ini sebenarnya.


"Kau?" ucap Fay.


Agil dan Gilang yang masih menggenggam rantai.


"Kalian? dari mana kalian dapat rantai ini?"


Seraya menahan rantai tersebut, Agil menunjukan dengan gaya wajahnya, jika ia menemukan rantai dibelakangnya, dimana ada sebuah kain yang menutup rantai tersebut.


"Awas!!!!!!" pekik Gilang.

__ADS_1


Saat melihat salah satu prajurit yang tidak terikat rantai mendekat kearah Fay untuk nenyerang, Fay menoleh dengan cepat, spontan Fay mengangkat pedang tersebut dan menebasnya. Darah bercucuran dimana-mana.


Agil dan Gilang tersentak kaget, saat leher prajurit itu nyaris putus dan darah yang keluar dengan segar ditanah.


"Putri!" ucap prajurit itu.


Fay memang tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, namun saat masih kecil ia pernah berlatih pedang dengan Mahagaskar, ia sempat sangat ketakutan menebas prajurit itu, tapi Fay mencoba tenang, selama ia mengabdi disebuah desa, hal semacam ini sudah menjadi hal biasa, karena ada banyak suku-suku yang Fay tempati saling bertarung.


"Tidak apa, aku melakukan hal yang benar!" sahut Fay menguatkan diri sendiri.


Tidak butuh waktu lama, Agil dan Gilang sudah selesai mengikat kedua prajurit itu disebuah kayu, kedua prajurit itu tidak bisa bergerak bahkan kedua tangan kakinya diikat dengan rantai.


Agil menoleh kearah Fay, Fay masih sibuk mendoakan prajurit yang ia bunuh itu, Fay memejamkan matanya entah doa apa yang ia ucapkan. Agil mendekat dan menepuk pundak Fay, Fay tersadar.


"Putri.." sahut prajurit tersebut.


Fay dan Agil menoleh, "Dia memiliki anak kecil umur lima tahun, apakah boleh jika kau sempat, datang kerumahnya katakan padanya, jika ayahnya telah berkerja dengan baik?"


Ucapan prajurit itu membuat Fay semakin merasa bersalah, lalu oa berdiri.


Diikuti Agil dan Gilang, selama mereka masuk kedalam kerajaan, Agil masih terdiam ia sama sekali tidak menyahut ucapan Fay atau Gilang saat mereka berbicara dengannya, ia sangat trauma jika melihat seseorang telah mati, ia selalu memikirkan nasib keluarga yang ditinggalkan. Lagi-lagi ia mengikat kepergian Jay, dan tentunya yang baru saja ia dengan kematian Timandra.


Agil berusaha untuk kuat, walaupun air matanya jatuh beberapa kali seraya berlari masuk kekerajaan. Gilang tanpa sadar menyadari itu, selama ia berada dinegeri mengerikan ini, pikiran Gilang tidak bisa lepas dari hal dimana ia ingin Agil dan Randi dipertemukan lalu mereka bisa pulang.


Bahkan Gilang masih tidak bisa percaya melihat seorang Randi yang berubah menyeramkan tersebut.


***


Auvamor tersenyum miring saat semua kota Majestic melayang tanpa gravitasi, Auvamor kembali memejamkan matanya, tiba-tiba ia membuka matanya, cahaya merah keluar dari kedua matanya, bersamaan dengan semua yang berada dikota Majestic berjatuhan kebawah, semua yang melayang jatuh dengan keras ditanah. Suara benturan benda-benda keras, terdengar mengerikan saling bertabrakan jatuh, saling terhempas ditanah.


Kai berusaha bangkit setelah tubuhnya jatuh dihempas ketanah, dan tubuhnya yang tertindih reruntuhan rumah warga, ada banyak luka yang diterima Kai, dengan menahan sakit Kai mencari keberadaan Argus.


Namun disekelilignya ia tidak nampak tubuh Argus yang tergeletak. Kai menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat, Kai berharap Argus yang datang namun saat ia menoleh betapa terkejutnya dia.


"Apa ini?"

__ADS_1


Vin datang seraya dengan banyak luka dan darah, ia mengangkat tubuh seseorang dengan raut wajah yang seperti keberatan, matanya bengkak karena luka dan juga ia menangis.


Kai melangkah mendekat, saat ia melihat siapa yang diangkat oleh Vin. Vin meletakan tubuh tak bernyawa ditanah.


"Tidak...." gumam Kai lirih.


Ia melihat tubuh Argus yang tergeletak tak nafas dihadapannya, ia duduk dan menyentuh wajah Argus.


"Bohong pasti, kau pasti sedang bercanda..." ucap Kai.


"Aku melihat setelah semua berjatuhan ketanah dengan keras, kau sempat pingsan, setelah itu pamanmu pergi menolongmu tapi batu besar datang dari atas, paman menyadari itu, ia tetap berdiri diatasmu menghalangi batu besar itu untuk mengenaimu, ia sempat bangkit walaupun kakinya sudah hancur, ia pergi dari keberadaanmu, setelah aku juga memiliki luka besar ditubuh aku tetap datang kepada paman, ternyata sebuah kayu tajam menusuk tepat dijantungnya, ia mati dipangkuanku..." ucap Vin.


Kai yang mendengar tersebut, menangis tersedu-sedu ia beberapa kali berteriak dan mengamuk, Vin mencoba menenangkannya namun sia-sia, Kai masih berteriak menangis.


"Kenapa harus aku!?!?!?! kenapa dia tidak menyelamatkan dirinya sendiri, biarkan aku mati!!!!!!"


Vin menoleh saat mendengar suara langkah kaki, melihat Tea dan Arvand yang datang dengan luka yang amat besar diwajah mereka karena jatuh dari ketinggian, tak lupa mereka membawa Jangsal dan Timandra.


Tea yang baru saja datang dengan menyeret satu kakinya, karena sakit. Meletakan Timandra ditanah, ia menahan tangisnya, hingga kemudian ia berlari, ia tidak perduli dengan kakinya yang sakit, ia berlari menuju kearah Kai, dengan cepat Tea memeluk Kai yang masih memangis.


Kedua tangan Tea mengelus rambut Kai, "Kai.....sudah Kai..." gumam Tea.


Tea tidak pernah berhenti memberikan ketenangan untuk Kai yang terus menangis. Arvand yang duduk didekat tubuh Jangsal tang tergeletak, ia menahan darah dikakinya yang juga sobek lebar, ia juga menahan tangis melihatnya.


Ia menatap Jangsal, "Asal kau tahu? setelah kematianmu, semuanya semakin terlihat menyeramkan, ada banyak orang mati dihadapanku..." ucap Arvand.


"Bahkan aku tidak tahu, bagaimana kabar kedua orang tuaku didalam kerajaan, aku sampai tidak perduli dengan mereka, karena mereka musuhku, aku tidak tahu Leon dan paman Mahagaskar dimana, aku tidak tahu Fay dan Aleris dimana, jika pada akhirnya hanya aku saja yang masih hidup, bagaimana yang harus aku lakukan? aku anak raja tapi aku tidak memiliki sesuatu yang istimewa didalam diriku. Selama aku berpencar dengan semua orang disini, bukankah kota Majestic sangat luas? aku berpikir ini semuanya akan berakhir tapi? tapi kenapa semakin kesini semakin menyeramkan?" gumam Arvand.


Tiba-tiba seseorang datang, ia menyeret tubuhnya, dan ngesot datang dari balik asap, ia seraya menangis.


"Ace.....Ned..." gumamnya.


Silas menampakan dirinya setelah keluar dari asap, wajahnya oenuh darah, ia mengatakan seraya menangis.


"Aku menemukan kalian....Ace dan Ned...mereka mati...." sahut Silas.

__ADS_1


__ADS_2