
Seraya turun dari punggung kuda, mereka bertiga melotot dengan bengong melihat tembok besar berdiri didepan mereka, bahkan sangat tinggi. Dimana hari itu rasanya lelah sudah terbayarkan sudah, rasanya ingin berteriak karena telah sampai dikota Majestic, kota yang selama ini membawa Agil terus bersemangat untuk mencari kebenaran.
Saat melangkah maju seraya menuntun kudanya, Agil menatap langit saat serpihan salju itu berjatuhan didepannya, ternyata salju pertama turun disaat mereka pertama kali menginjakkan kaki dikota Majestic.
Jay meneteskan air mata saat pertama kalianya seumur hidup ia merasakan hawa salju turun dinegeri ini.
Agil yang sudah melangkah didepan berhenti dan menoleh.
"Apakah kita baru saja melihat serpihan salju berjatuhan?" gumam Agil.
Disebuah bukit didalam hutan, yang tidak lama lagi mereka telah sampai digerbang tembok kota Majestic jika turun beberapa langkah lagi. Mereka berhenti, mereka ingin melihat bagaimana bentuk salju yang indah ini.
"Didunia kita tidak ada salju, aku sangat menyukainya.."pekik Tea.
Selang beberapa detik, hujan salju mulai turun setelah serpihan salju itu bermunculan.
"Aku takut ada hujan badai salju setelah ini, bahkan kita masih berada dibukit, ayo turun...." sahut Agil.
"Lalu? bagaimana kita bisa melewati para prajurit yang menjaga gerbang itu?" tanya Tea.
Agil membuka kantong sakunya, ia melempar koin kepada Jay dan Tea.
"Apa ini?" tanya Jay.
"Ini seperti token untuk bisa masuk ke kota Majestic, aku mendapatkannya dari raja Jesper" jawab Agil.
Seraya turun dari bukit menuju gerbang kota Majestic, mereka dibuat heran saat salju itu terus turun menghujani tubuh mereka, mereka tidak henti-hentinya terheran-heran, beberapa kali berhenti hanya untuk merasakan bentuk salju yang lembut.
"Benar, rasanya sangat lembut...." gumam Jay.
Tiba-tiba kaki Jay terasa sangat lemas, ia tiba-tiba tersungkur masih dalam posisi memeggang tali kudanya, Agil dengan cepat mendekat.
"Jay? kau tidak apa-apa kan?"
"Kau masih sakit?" sahut Tea.
"Masih sih, ini hanya karena tadi melawan monster itu..."
"Yaudah aku gendong?"
Jay menggeleng seraya berusaha untuk berdiri, "Aku bisa kok...."
"Ayo cepaat, kita cari penginapan lalu kita obati Jay.." ucap Tea.
__ADS_1
Benar mereka diberhentikan oleh banyak prajurit itu, lalu Agil menyodorkan koin yang biasa disebut dengan token untuk masuk ke kota Majestic. Tidak menunggu lama mereka membukakan gerbang.
Seraya menuntun kuda masing-masing, mereka dibuat takjub saat satu langkahnya melewati gerbang, kota Majestic yang diselimuti salju. Baru beberapa menit namun saljunya sudah sangat menumpuk disetiap genting perumahan.
Mereka berjalan, dan segera mungkin untuk menemukan penginapan.
"Aku sangat bergetar saat sudah memasuki kota Majestic ini..." gumam Tea.
Jay menggengam tangan Tea, "Berati ini adalah waktu kita, mencari jawabannya, karena kita sudah berada dikota Majestic, kota utama dinegeri ini..."
*Randi, Gilang, aku sangat yakin kalian dibawa oleh elang hitam disini aku sangat yakin, dimana lagi kalau bukan kota utama dinegeri ini? aku yakin kalian masih hidup. Lihat, lihatlah aku, aku sudah beranjak menyusul kalian!!! apakah ini keajaiban? dalam perjalanan yang tidak bisa berhenti didalam pikiranku adalah.
Dimana aku akan bertemu kalian, dimana pada akhirnya aku bisa beranjak setelah terlalu lama aku diam, aku sungguh sangat menangis jika membayangkannya lagi, saat awal-awal kita berpisah, aku sangat mengerikan untuk membayangkannya lagi.
Dulu saat aku masih terlalu dini untuk hal semacam ini, aku sangat takut untuk pergi mencari kalian, pergi dalam perjalanan, menelusui hutan, bukit, gunung, laut, padang pasir atau padang rumput. Tapi setelah aku diam terlalu lama, yang hanya aku pikirkan adalah menemukan kalian yang membuatku bisa beranjak.
Aku tidak menyangka akhirnya ini yang aku tunggu, ini yang aku harapkan, ini yang selama ini menjadi penantian panjangku, setelah aku menangis berkali-kali meminta pertolongan agar aku cepat dipertenukan oleh kalian.
Apakah kalian baik-baik saja? aku sudah ada disini? aku tidak mati! aku ada disini*!
"Sepertinya ini penginapan Gil" sahut Tea.
Agil lalu berhenti, ia menatap perumahan megah tersebut.
"Coba saja.."
Setelah bertanya dengan ibu-bu yang ramah didepan teras perumahan itu, ternyata memang benar perumahan yang sederhana yang cukup besar.
Agil, Jay, dan Tea menaruh kuda mereka disamping penginapan itu, mengikatkannya kesebuah batang kayu.
"Apa yang bisa kita bayar untuk menginap disini?" tanya Tea kepada seorang yang duduk dimeja pembayaran atau bisa disebut kasir.
Remaja itu tersenyum, "Akhirnya saya bisa melihat ada seorang pelanggan yang datang setelah sekian lama..." remaja itu terus tersenyum.
Agil mendekat, "Apakah sebelumnya belum ada sama sekali?"
Remaja itu mengangguk, "Karena waktu itu ada beberapa pelanggan yang bunuh diri disini, tapi tenang saja kakak-kakak itu sudah sangat lama, dan penginapan ini sudah direnovasi..."
"Aku percaya padamu, lalu bagaimana cara membayarnya disini? kita hanya memiliki koin yang aku bahkan tidak tahu jumlahnya..." ucap Agil.
Ia mengeluarkan sejumlah koin yang tersimpan didompet kainnya, remaja itu terkejut saat ada banyak koin dimejanya.
Jay yang menyadari remaja itu kebingungan, ia lalu mendekat seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
__ADS_1
Agil dan Tea sontak kaget. Tea menahan agar Jay mengembalikan barang itu ke tasnya karena itu sangatlah berharga jiwa dan raga.
"Kenapa sih? cuma satu aja?"
"Itu kristal yang kita ambil di Malvory, jadi rasanya sangat disayangkan untuk membayar hal-hal semacam ini" bisik Tea.
"Lalu? apa motifasinya kita membawa kristal ini..."
"Baiklah tidak apa-apa te!!" sahut Agil.
Jay mengeluarkannya, seraya bersinar terang Jay meletakan dimeja.
"Wah, benar ini kristal kak?" ucap remaja tersebut kaget.
"Benar kok, kau bisa menjilatnya..."ucap Jay.
Ucapan Jay sedikit menjijikan membuat Agil da Tea menundukan kepala pasrah.
"Memang sepolos itu....." gumam Tea.
Setelah tawa menawar, mereka menaiki tangga seraya membawa barang-barang mereka, ada sebuah kamar yang lumayan modern bagi mereka karena seperti dihotel, koridor kamar yang berjejeran dan berhadapan.
"Aku akan dikamar 45..." sahut Tea seraya membuka kamarnya.
"Aku 46!" ucap Agil dan Jay serentak bersamaan.
Membuat mereka bertiga terdiam saling menatap satu sama lain.
"Emmmmm.." gumam Tea.
"Baiklah kau 46 aku akan ada dikamar hadapanmu, 55!" sahut Agil langsung beranjak membuka pintu dan menutupnya.
Jay dan Tea masih melongo didepan kamar.
"Baiklah masuk Jay..."
Jay mengangguk.
Agil menaruh tasnya, lalu ia mengeluarkan barang-barang yang sekitaranya memang pantas dikeluarkan, ia lalu membuka baju dan segera membilas tubuhnya.
Tidak terlalu mengerikan menurut Agil, seperti penginapan pada umumnya, kamar mandi yang sudah bagus untuk ukuran orang-orang jaman dulu, bahkan sudah ada sower yang tidak terlalu modern memang tapi lancar digunakan.
Bahkan ada air hangat didalam kamar mandi, mungkin memang sengaja karena hari ini hari pertama turun salju bukan?
__ADS_1