
Setelah terlalu lama diam menatap kota dengan terheran-heran, ia menelusuri setiap perumahan hingga pasar, memang kota Majestic ini luas bahkan melihat kerajaan yang berdiri ditengah-tengah kota Majestic terlihat sangat kecil.
Randi sudah kehilangan dua orang itu, rencananya memang ia tidak akan ikut Aleris ke kerajaan, ia hanya butuh rumah saat ini. Sudah hampir pagi tapi Randi tak kunjung menemukan perumahan yang bisa ditinggali, ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya disebuah restauran yang masih buka hingga pagi, Randi bisa melihat hanya ada pria-pria pemabuk yang masih terjaga disana.
Tidak beda jauh didunianya, malam hingga pagi pun masih ramai anak muda yang bermain-main, mabuk, karaoke dibar, ya walaupun Randi sering melakukan hal seperti itu.
Ia masuk kedalam restauran tersebut, Randi sadar ia sedang ada didunia yang kuno, ia bisa melihat restauran yang kumuh tidak terjaga dengan baik, seperti kota bawa tanah yang kumuh dipenuhi hewan-hewan yang kotor.
Saat masuk, Randi tidak begitu bisa melihat dan menelusuri tempat itu, sengaja matanya ia tutupi dengan jubahnya, karena ia masih terasa asing disini. Ia hanya melihat orang-orang berbadan besar seperti preman yang sedang berbincang-bincang seraya mabuk-mabukan.
Randi begitu masuk mencium aroma alkohol yang mencolok, ini sudah benar-benar seperti bar atau tempat mencari wanita.
Ia mendekati kasir, dimana kasir itu dipenuhi oleh botol-botol minuman yang mengandung alkohol. Muncul wanita yang mungkin bisa dibilang seumuran dengan Randi, ia muncul dari balik meja.
Tato dikedua lengannya, dan tindik dihidung dan telingannya, pakaiannya sangat terbuka, dan satu lagi, ia mengikat rambut coklatnya dengan kain, cantik memang tapi Randi tidak bisa terpesona. Rasanya wanita ini penuh dengan obat-obatan, seperti orang-orang yang duduk disana.
"Ada yang bisa aku bantu?" ucap wanita itu, senyumnya mengambang.
"Ada menu apa disini?"
"Berbagai sup, sup anjing, sup babi...."
Randi melotot membuat wanita itu menghentikan ucapanya.
"Aku bir saja!" sahut Randi langsung beranjak dan duduk dikursi.
Ia melepaskan jubahnya, dan meletakan tasnya, ia menghembuskan nafasnya.
Tidak menyangka aku bisa sampai dikota Majestic, aku tidak mimpi kan?
Ia beberapa kali memastikan bahwa ia tidak mimpi, ia mencubit pipinya beberapa kali namun memang ini nyata, dimana ia sudah berada dikota Majestic.
Wanita itu menyodorkan gelas yang penuh dengan air bir seraya postur tubuhnya menggoda Randi, ia duduk dimeja tubuhnya menggeliat mendekati Randi.
"Siapa kau? aku tidak pernah melihatmu berkeliaran disini, aku baru saja melihat ada orang tampan yang mengunjungi restauranku...." ucap wanita itu seraya menggoda Randi, menyentuh daginya.
Randi merasa sangat geli, ia berusaha menghindar. Wanita itu sadar ia lalu tertawa dan duduk berhadapan dengan Randi.
"Baiklah katakan padaku? kau zero? priest? biasanya mereka sering datang kesini untuk meminta makan atau minum...." ucap wanita tersebut.
Randi tersentak kaget saat wanita mengucapkan kata asing, ia lalu menjawab.
"Tidak, aku asli sini, dan memang sedang butuh jalan-jalan...." jawabnya.
"Siapa namamu?"
Randi terdiam, ia sangat bingung untuk menjawabnya, apakah ia akan jujur dengan nama aslinya atau ia akan memalsukan namanya.
"Atau jangan-jangan kau manusia yang tersesat, datang dari entah mana? bukankah ini ramai diperbincangkan!"
"Delon!" sahut Randi entah dari mana ia bisa menyebutkan nama itu.
Wanita itu lalu tersenyum, "Maka aku Vin!" pekik wanita tersebut.
"Kau tahu? ada banyak pria brengsek disini, kau jangan pernah main-main dengan mereka..."
Randi menatap semua orang yang masih sibuk dengan aktifitasnya.
"Kau tahu mereka bahkan tidak bisa membunuh para monster!"
Randi tersenyum seraya menunduk.
"Aku kaget ada orang yang tampan berani masuk kelingkup orang-orang brengsek seperti ini, restauran ini bukan sembarangan, aku berani mengatakannya memang ini kenyataanya"
"Kapan restauran ini tutup?" ucap polos Randi.
Vin tertawa, "Kau polos sekali!"
"Aku tidak pernah menutup restauran ini, aku hanya bekerja pada malam hingga pagi, setelahnya pamanku akan bekerja disini..."
"Pamanmu?"
Vin hanya mengangguk. Ia lalu beranjak pergi. Randi menyeruput bir itu, tidak beda jauh rasanya seperti bir didunianya. Tak selang beberapa menit dua orang seperti preman mendekati Randi, ia tiba-tiba duduk dimeja depan Randi.
"Siapa kau? ingin pergi bercinta?" ucap salah satu preman tersebut.
Randi memutar bola matanya, bukan saatnya mencari masalah disini, batinnya.
"Bagaimana kalau kita taruhan" sahut temannya.
Mereka bertubuh besar dan banyak tato, bahkan seperti orang kembar.
"Apa maksudnya? aku hanya istirahat disini?" tanya Randi.
Mereka tertawa, "Vin wanita sial itu tidak memberitahumu?"
Randi terbelalak ia menatap kasir yang ia harap ada Vin disana, namun ia menghilang.
Seraya menarik lengan bajunya, preman itu mendekat kearah wajah Randi.
"Kau ingin bercinta dengan wanita itu atau dengan aku?"
Hal itu membuat Randi geram, ia mendubrak meja seraya berdiri.
"Aku tidak akan mencari gara-gara disini!"
Dengan spontan preman itu menarik jubah Randi yang masih melingkar dilehernya, membuat wajah Randi dan preman itu terlihat sangat dekat.
"Kau masuk kedalam markas kita, jadi ini masalahnya!" sahut preman itu.
Randi menghelan nafasnya, ia melepaskan dengan cepat dan membenarkan jubahnya yang tidak rapi.
__ADS_1
"Maaf kalau begitu, aku akan pergi!!"
"Tidak, tidak bisa begitu!!!" gumam preman tersebut.
"Oh jadi ini yang membuat restauran ini menjadi sepi dan terlihat sangat buruk?"
"Apa katamu?!"
"Jelas-jelas didalam restauran ini ada banyak orang-orang yang bodoh!"
Ucapan Randi membuat preman itu geram, rasanya preman itu seperti diledek oleh Randi, ia dengan cepat mencekik leher Randi lalu menyenderkannya ditembok, hingga tubuh Randi terangkat,
Randi merintih dan berusaha melepaskannya.
"Dengar anak kemarin sore! kau tidak tahu apa-apa disini, kau pikir kau hebat?"
Semua orang kaget, melihat aksi preman itu. Preman itu melepaskannya hingga Randi tergeletak di lantai yang kotor.
"Lihat anak anjing ini! baru saja datang sudah sok hebat didepanku!" ucapnya sombong seraya mengangkat dadanya memamerkan kepada semua orang.
Randi menatap sinis preman yang masih memuji dirinya sendiri itu, Randi bangkit dan segera mencekik balik preman itu dengan tangannya, dari belakang tubuh preman itu.
Aksi itu membuat orang-orang menyaksikan dengan seru, bahkan mereka sama sekali tidak mengentikan perkelahian ini.
"Sialan!" umpatnya.
Ia berhasil lepas dari cekikan tangan Randi, ia menarik tangan Randi hingga tubuh Randi melayang dan terlempar kearah peti kayu berisi botol-botol bekas, membuat peti itu hancur berantakan.
Kejadian itu membuat ada banyak potongan kaca dari botol tersebut mengenai tubuh Randi, lukanya berdarah kemana-mana. Tentu hal itu tidak membuat Randi berhenti.
"Aku hanya menumpang istirahat bodoh! bukan untuk berkelahi!!"pekik Randi seraya mengambil botol bir dan melempar kearah preman itu.
Lemparan itu berhasil mengenai tubuh besarnya walaupun ia sempat berusaha menepis. Anehnya yang Randi lihat didepan matanya, semua orang meneriakinya seperti melihat perlombaan tinju dihadapan mereka sama sekali mereka tidak menghentikan perkelahian tersebut.
Preman itu membalas dengan mengangkat kursi disampingnya dan melenpar kearah Randi, namun Randi berhasil menghindar.
"Kaparat!" preman itu berlari menuju kearah Randi.
Ia mengangkat tubuh Randi seraya berlari dan menjatuhkan tubuh Randi ke beberapa meja yang tertata disana, membuat Randi terlihat tak berdaya dan ia mendapatkan luka robek dileher dan ia mengeluarkan darah dari mulutnya.
Saat Randi tidak berdaya, preman itu tidak henti-henti menonjok wajah Randi berkali-kali membuat Randi sangat lemasntak sadarkan diri.
Tak lama, seseorang datang Randi bisa melihat walaupun matanya sudah kabur, pria itu mendekat menyentuh pundak preman yang masih sibuk menojok wajah Randi, ia berhenti saat ia menyadari pria itu datang, seraya menghirup rokok pria itu lalu menojok wajah preman tersebut, hingga Randi tidak bisa melihat kelanjutannya karena ia jatuh pingsan.
Randi membuka matanya karena sinar matahari menyinari wajahnya, ia mengusap matanya seraya membenarkan posisi duduknya. Ia tersadar saat ia membenarkan posisi duduknya, bahkan ia tidur disebuah sofa yang sedikit kotor menurutnya.
Jendela yang terbuka lebar, dan ia mendengarkan banyak orang-orang berbincang, sekelilingnya ruangan seperti gudang yang berantakan. Tak lama seseorang membuka pintu yang terbuat dari besi yang menimbulkan suara keras.
Seraya menentengkan nampan berisi mangkok dan gelas berisi air putih, ia duduk sofa didepan Randi seraya tersenyum.
"Vin?" sahut Randi.
Vin mengangguk.
Spontan Randi menyentuh keningnya.
"Biasa mereka selalu begitu, jadi jangan hiraukan..."
Vin menyodorkan mangkok tersebut, lalu Randi menerimanya.
"Sup daging, entah aku tidak tahu apakah enak atau tidak, coba saja...." sahut Vin
Randi mencobanya, dan ia mengangguk sup ini lumayan enak juga.
"Boleh aku tahu? tempat tinggalmu dimana?"
Randi meletakan mangkok itu, dan ia menyeruput air minumnya. Ia menghelan nafas.
"Sebenarnya aku tinggal diluar tembok, aku kesini karena aku sedang mencari temanku..."
Vin tersenyum, seperti ia sudah menduga kalau Randi dari luar tembok.
"Siapa temanmu?"
"Agil...."
Tidak basa-basi ia akan mengatakannya jika suatu saat Vin bertemu dengan Agil disuatu tempat.
Vin menggeleng, ia mengisyaratkan bahwa ia tidak mengenal seseorang bernama Agil.
"Kau bisa tinggal disini sementara, jangan kaget jika tempatnya sangat kotor.." ucap Vin seraya beranjak pergi.
Setelah Randi selesai dalam sesi makannya, ia lalu meletakan mangkoknya dimeja, lalu ia menyeruput gelas berisi air itu hingga tidak tersisa.
Ia menatap sekitar, diruangan ini ada banyak benda-benda yang tidak terpakai, ia mencoba melihat-lihat. Namun tiba-tiba seseorang membuka pintu.
Postur tubuh seperti preman, preman yang berkelahi dengan Randi, dialisnya ada tindik melingkar seperti cincin, dan juga ada banyak tato ditangan dan lehernya, tentu ia juga sedang menghisap rokok.
"Delon ya..." sahut laki-laki itu seraya duduk disofa.
Randi menoleh lalu ia menundukan kepalanya memberi salam. Laki-laki itu mengisyaratkan Randi agar duduk juga disofa.
"Aku...Johny.." ucapnya seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, Randi menerimanya.
"Tujuanmu kemari?"
Randi menatap Johny dengan tatapan sedikit takut, lalu ia menjawab.
"Aku mencari temanku bernama Agil..."
Tiba-tiba ia tertawa, "Kota Majestic sangat luas, mulai dari mana dulu kau akan mencarinya?"
__ADS_1
Randi menggeleng.
"Kau bisa selamat tanpa luka sedikit pun ya? kau tidak lihat sekarang ada banyak monster berkeliaran.."
Memang benar kata Aleris, monster-monster ini memang sedang ramai diperbincangkan di kota Majestic.
"Boleh aku bertanya? apakah kota Majetic pernah kedatangan monster atau sebangsa iblis?"
Johny terbelalak, "Iblis?"
Randi mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi tentang iblis, ia sadar yang ramai diperbincangkan hanya monster saja, sedangkan iblis mungkin belum sampai ditelinga masyarakat.
"Aku hanya mengarang...."
Johny tertawa, "Aku sedang bertanya-tanya tentang manusia asing yang tersesat didunia kita, entah mereka datang dari mana....." gumam Johny.
Hal itu membuat Randi terdiam, ia menundukan kepalanya.
"Kau tahu tentang hal itu bukan?"
Randi hanya mengangguk.
Ada banyak perkenalan yang Johny kenalkan dengan Randi, hingga ia akhirnya memutuskan untuk pergi. Randi mengikutinya ia berjalan mengikuti jhony, hingga mereka tiba direstauran milik Jhony dan Vin tersebut.
Ia melihat Vin yang sibuk membuat bir nya, ada banyak orang yang datang memang tapi sebagian besar orang-orang tersebut adalah preman.
Randi mendekat kearah kasir, "Aku pikir kau tidak sibuk..." ucap Randi.
Seraya mengocok bir Vin menjawab, "Kenapa kau ingin mengajakku berkencan?" sahut Vin.
Randi hanya tersenyum.
"Baiklah...paman!!" pekik Vin mengisyaratkan agar Johny menggantikan Vin disini.
Vin lali berjalan beriringan bersama Randi dijalan setapak perdesaan, yang mereka lihat hanya perumahan yang berdiri disamping kanan kiri mereka.
"Kau menyukaiku?" ucap Vin tiba-tiba.
Ucapan Vin membuat Randi terbelalak menatap Vin.
"Aku hanya bercanda..." Vin tersenyum.
Randi menghelan nafasnya, "Aku menyukai seseorang didesaku, walaupun dia keras kepala tapi kenapa bisa aku menyukainya?"
"Siapa dia?"
"Entahlah, aku tidak bisa menyebutkan, hanya saja ia tinggal denganku...."
Vin tersenyum, "Kalau aku, menyukai pria yang sama seperti dirimu sayangnya ia terbunuh karena ketahuan merampok disalah satu toko besar di kota Majetic"
"Aku tidak tahu kalau tujuannya kemari hanya untuk merampok, sama seperti mu dia dari luar tembok, jujurlah kepadaku tujuanmu kemari untuk apa?" Vin menghentikan langkahnya.
Randi tersentak lalu ia juga menghentikan langkahnya.
"Jujur aku tidak ada niatan jahat, aku disini memang mencari temanku..."
Vin tersenyum.
"Aku tidak bisa mengajakmu mengelilingi kota Majetic, kau tahu kan ini sangat luas" sahut Vin.
"Kau akan mencarinya sekarang?"
Randi terdiam, bukankah ia bohong? tujuannya kesini adalah mencari keadilan dan jawaban.
"Kau lelah?" tanya Randi.
Vin menentengkan kedua tanganya dipinggulnya.
"Kau meledekku?"
Ada banyak orang-orang yang berjalan melewat mereka, tapi teriakan Vin sangat keras membuat mereka menoleh kearah Randi dan Vin.
"Tidak!" sahut Randi.
Vin dan Randi lalu melanjutkan perjalannya, ia akan menuju kearah pasar, Vin mengajak Randi untuk membeli barang atau sesuatu yang menarik di pasar tersebut.
"Ah kau tahu? akan ada acara besar-besaran dikerajaan, tapi warga didaerah ini sepertinya tidak akan datang, karena kita ada didaerah dekat gerbang tembok jadi sangat tidak memungkinkan kita kesana..."
Randi terdiam, menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Vin.
Apakah aku harus datang kesana saat acara itu? atau apa. Hais aku tidak bisa melakukan sesuai dengan rencana.
"Kapan acara itu?" tanya Randi.
Vin menggeleng.
"Sempat ramai dibicarakan dipasar, tapi aku pergi begitu saja karena obrolan mereka tidak menarik...." pekiknya.
"Seharusnya kau mendengarkannya!!" sahut Randi.
Membuat Vin kaget, dan menatap Randi dengan kebingungan.
"Ah maaf! kelepasan!"
Vin mengangguk, "Tidak apa..."
"Kau tahu acara besar-besaran apakah itu?"
"Mungkin kelahiran anak kedua ratu? karena ratu juga sedang mengandung..."
__ADS_1
Randi memikirkan banyak tentang suatu hal, membuatnya sangat goyah dengan rencananya, ia sudah sampai dikita Majetic mana mungkin ia akan diam saja, dan duduk direstauran kotor itu, seraya berkencan dengan Vin.
Ia tidak boleh goyah, ia harus tetap kokoh dengan rencana yang ia bangun diam-diam.