Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Negeri seperti neraka


__ADS_3

Randi terdiam, ia lalu berdiri, masih dengan raut wajah yang geram, ingin rasanya ia menonjok balik pria brengsek yang ada didepannya, namun rasanya energinya tidak sebanding dengannya, ia memiliki kekuatan yang tidak nyata, dibandingkan dengan randi yang hanya memiliki kekuatan bela diri.


Sejujurnya randi tidak percaya dengan perkataan aleris, dimana ia sudah mencari keberadaan agil namun mereka tidak bisa melihat jejaknya, mereka memiliki kekuatan spiritual yang hebat, kenapa mereka tidak becus mengurus ini, tujuan utama randi disini adalah menunggi agil dan mencari pertolongan, bukan basa-basi duduk diistana itu.


"Aku tidak percaya dengan omongan kalian, kalian orang sakti kenapa mencari satu orang saja harus lamban seperti ini!!!" teriak randi memenuhi hutan itu.


Aleris menghelan nafas, "Andai kau tahu....."


"Apa!!!!!" sahut randi.


"Kau ingin mencari agil bersamaku?" ucap aleris tanpa basa-basi.


Lidra menyenggol lengan aleris, ia mengisyaratnya jika aleris mengajakk randi pergi saat ini situasinya sangat tidak tepat, dimana tentang masalah teluk alaska dan makhluk aneh itu.


Aleris menenangkan lidra, "Tenang....." ucapnya lirih.


Randi menyahut, "Sekarang?"


"Ya karena kau ingin sekarang juga bukan?"


Aleris mengeluarkan elang itu tiba-tiba, ia menaikinya dan menyuruh randi untuk naik, randi sedikit kawatir karena apa yang akan dia lihat jika ia pergi hari ini, apakah ia akan menghadapi sebuah monster? tapi keraguan itu gugur ketika otaknya mengingat agil.


"Kau ragu?" tanya aleris, dengan cepat randi menggeleng.


"Kau kembali dan kabari mereka..." ucap aleris kepada lidra, lalu ia terbang bersama randi menaiki elang itu meninggalkan lidra yang kawatir.


"Aku harap tidak ada terjadi apa-apa" ucap lidra.


Disepanjang perjalanan, keheningan datang, randi hanya berharap pencarian ini membuahkan hasil, ia terlihat sedikit nyaman karena ia bersama aleris, dimana ia memiliki kekuatan yang bisa membasmi monster-monster yang ditemuinya.


Seperti tahu apa yang dipikirkan randi, tiba-tiba aleris berkata, "Sayangnya kekuatanku tidak ada apa-apanya jika menyerang monster"


"Apa?" ucap randi.


"Ada banyak monster disini yang susah untuk dibunuh, tidak seperti monster yang kau temui diduniamu" ucapnya.


"Sekarang kau ingin kita menuju ditempat yang mana?" sahut aleris.


Randi berpikir, sepertinya ia harus mencari keberadaan agil dihutan lumut itu.


"Kau tahu hutan lumut?"


Tanpa menjawab aleris mengangguk tanda mengerti.


"Kalau boleh ku tanya, seorang sahabat bagimu seperti apa?" tanya aleris tiba-tiba.


Randi menghela nafas, ia memejamkan matanya dan menatap langit biru, ia merasakan hawa dingin, karena ia berada diudara ia bisa merasakan ketenangan, seperti terbang tanpa sayap.


Randi menjawab, "Bagiku tentunya adalah seorang teman yang selalu ada untukmu saat susah maupun senang, ia akan selalu menyemangatimu dan mendukungmu dalam kehidupan, tertawa bersama hingga sedih bersama sudah menjadi barang tentu dalam sebuah persahatan"


Aleris tersenyum miring, ia sekilas menoleh sedikit kebelakang, menatap randi.


"Bagimu?" tanya randi.


"Aku tidak mengerti secara spesifik karena aku tidak memiliki sahabat" ucap aleris.


Aleris melanjutkan, "Sahabatku telah mati...."


"Siapa?" tanya randi.


"Aku tidak bisa menjelaskan kepadamu"


"Tapi kalau bagiku sendiri, kapan pun kau berteman denganya akan ada saat dimana kau dan dia akan menjadi musuh, karena suatu hal yang berbeda pendapat..."


Randi menundukan kepalanya, ia berharap diantara dirinya, agil, dan gilang, tidak akan menjadi seorang musuh dan penghianatan.


"Kenapa kau bisa berpikir begitu..."


"Karena suatu hal, tentang pendapat karena kita tidak selalu sama, pendapat mu dan pendapatku misalnya yang tidak sama...."


Randi berharap hal itu tidak akan terjadi.


"Apa kau yakin agil tidak mati?" ucap randi mengalihkan pembicaraan.


"Aku yakin pasti ia menyelamatkan diri...."


"Tapi jika dipikir ia jatuh dari ketinggian seperti itu...."


"Kenapa kau tanya aku? seharusnya kau tahu karena kau sahabatnya"


Randi memang sangat tahu betul dengan agil, dimana ia tidak akan pantang menyerah jika dia masih hidup, randi hanya minta satu, randi mohon jika pikiran randi selama ini yang selalu memikirkan agil mati, semoga tidak terjadi.

__ADS_1


Mereka akhirnya telah sampai didalam sebuah hutan lumut itu, gelap dan sangat lembab, mereka menyelusuri hutan itu, tapi mereka tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan, randi berteriak memenuhi hutan itu, ia memanggil nama agil, namun yang randi dengan hanya suara sepi dari hutan.


"Kau memiliki kekuatan seperti lidra?" tanya randi.


Aleris menggeleng


"Kita sudah beberapa jam disini tapi aku tidak bisa melihat agil....." ucapnya lesu.


"Kita cari ditempat yang kau tahu" sahut aleris.


Mereka meninggalkan hutan itu, dan mereka berjalan menuju ke hutan jamur bercahaya itu, benar lagi-lagi mereka tidak menemukan agil, mereka menyelusuri hutan itu dengan sangat seksama, namun randi tidak bisa mendengar jawaban dari teriakanya.


Aleris menepuk pundak randi, "Kita cari lagi"


Randi mengajak aleris untuk pergi ke sebuah rumah gubuk dekat hutan jamur, dimana manusia kerdil itu berada, perasaan randi sangat antusias, karena randi yakin pasti agil bersama dengan manusia kerdil itu berada.


Mereka telah sampai, aleris menurukan elang itu, dan elang itu mendarat dengan benar dipadang rumput, aleris dan randi turun, randi segera berlari dan membuka pintu rumah itu dengan cepat, iia memanggil-manggil manusia kerdil itu, tapi tidak ada jawaban.


Yang randi lihat hanyalah sebuah barang-barang yang berdebu, ia bolak-balik mencari namun ia tidak kunjung melihat seseorang, randi sangat frustasi ia menonjok lemari kayu didekatnya dengan tanganya, ia berteriak.


"Sialan!!!!!!!!" pekik randi.


Aleris berhenti dibelakang randi, "Tempat apa ini, kau tahu tempat ini?!?!"


Randi menoleh, ia lalu dengan cepat menarik kerah baju aleris.


"Kenapa kau terlihat tenang saja?!?! kau tidak lihat apa yang sedang aku lakukan!!!!!!!"


Aleris melepaskan genggaman keras randi, ia lalu menyeka bekas genggaman randi.


"Terus apa yang harus aku lakukan?" ucap aleris tenang.


Randi tidak henti-hentinya berteriak, tiba-tiba dia menyahut.


"Saat aku dibawa malucia kesini, aku melihat manusia kerdil yang mengerikan, sepertinya ia adalah seorang penjaga, yang menjaga tempat ini, kata malucia dia teman dekat malucia"


"Manusia kerdil?" ucap aleris penasaran.


"Ia hanya tinggal sendiri disini, aku tidak ingin tahu lebih detail lagi tentang manusia kerdil itu, karena aku pikir ini tidak ada hubungan dengan aku"


Aleris terbelalak mulutnya menganga, tidak terlalu yakin jika yang diceritakan randi adalah bravogar, ada banyak manusia kerdil di negeri ini.


"Sudah aku katakan bodoh, aku tidak terlalu mengurusinya"


Aleris berdiri, ia menjelajah isi rumah itu, ia membuka lemari, laci, atau apapun yang ada sirumah itu, namun hasilnya nihil tidak ada barang yang ia kenal, tidak ada barang bravogar yang aleris kenal, yang ada dirumah itu benar-benar kosong, hanya terdapat lemari yang sudah roboh dan meja kursi yang rusak.


"Manusi kerdil ini penjaga tempat ini?" tanya aleris.


Randi mengangguk.


Aleris lalu menepis pikiranya, tidak mungkin tempat ini adalah tempat bravogar, ia lalu duduk seraya melamun.


"Kenapa kau menjadi gila tiba-tiba?"


Aleris masih berusaha menghilangkan pikiranya jika tempat ini milik bravogar, namun kembali lagi ia masih ragu, ia kembali mengeledah ruangan, ia membuka atap rumah, membuka lemari lagi dan lagi.


Tapi kali ini ada yang berbeda, aleris berjalan disebuah lanti kayu namun setelah ia menginjak lantai itu, ada suara injakan yang berbeda, ia lalu segera membuka lantai itu dan benar dugaan aleris dimana ia menemukan sebuah lubang kecil seperti liang, aleris membukanya, namun lantai kayu terlalu keras, kemudian ia mengulangi lagi hingga lantai kayu itu terbuka.


Ia melihat sebuah liontin berbentuk bintang, aleris berharap jika liontin ini berbentuk bulan namun, yang ia dapat adalah liontin berbentuk bintang, apakah ini milik bravogar? apakah benar ini adalah tempat bravogar?


"Ada apa?" sahut randi tiba-tiba.


Aleris berdiri, ia perlihatkan liontin yang ia temukan, "Entahlah ini apa tapi aku menemukan diliang ini"


Randi mengambil liontin itu, ia menatap tajam, "Apakah ini milik manusia kurcaci itu?"


Aleris mengatakan jika ini mungkin milik manusia kurcaci itu, ia tidak menyebutkan jika ini adalah milik bravogar karena randi tidak ada hubunganya dengan hal ini.


"Ayo kita cari agil lagi" sahut aleris.


"Kau membawa kalung ini?" tanya randi menghentikan langkah aleris.


"Iya aku pikir aku bisa merawatnya" ucap aleris beranjak.


Randi masih memanggil nama agil di area tempat itu berharap agil muncul, tapi memang benar tidak ada agil disini.


Randi berlari menyusul aleris, "Katamu kau sudah mencari keberadaan agil didalam hutan itu, tapi pada saat itu apakah sama? seperti aku dan kau cari tadi? tidak ada sama sekali jejak manusia?"


Aleris mengangguk, "Setelah ku cari tahu, memang hutan itu tidak bisa ditinggali orang manusia, karena kadar oksigen yang lemah"


"Agil jatuh disana!!!!!" teriak randi menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Aleris ikut menghentingkan langkahnya, ia membelakangi randi.


"Kau pikir dia masih hidup!!!!!!"


"Kenapa kau tidak bilang awal-awal jika hutan itu memiliki kadar oksigen yang lemah??!!!" teriak randi.


Aleris menoleh, "Dengarkan penjelasanku, karena aku belum selesai bicara"


"Apa!!!!" teriak randi.


"Kau bisa menetralisir perkataanku? tempat itu tidak bisa menjadi tempat tinggal manusia, dimana tidak akan ada yang bisa tinggal disana" ucap aleris.


"Aku yakin agil paham jika ia harus keluar dari hutan itu"


Randi merenggut rambut kepalanya, ia sangat merasakan stress yang luar biasa.


"Hebat ya kau baru bilang sekarang?"


"Seorang orang yang berkuasa tapi bodoh jika berurusan dengan masalah ini"


Aleria terlihat sangat terhina oleh kata-kata randi, dengan spontan ia menonjok wajah randi.


"Kau pikir aku hanya memikirkan tentang masalahmu!!!!!"


"Jika aku mengatakan hutan itu memiliki kadar oksigen yang lemah, kau pasti akan menyalahkanku!!!!!! aku diam saja kau juga menyalahkan diriku!!!!"


"Aku tidak akan menyalahkan dirimu jika kau bilang awal-awal !!!!" teriak randi.


"Aku juga baru saja tahu sialan!!!!!!!!!!!!!!! akku bukan orang pintar soal mencari tahu tentang negeri ini, yang tahu tentang mitos setiap tempat-tempat, apa kau pikir aku memiliki kekuatan seperti dukun!!!!!" teriak aleris suaranya terlihat bergema karena terdengar sangat keras.


"Aku hanya ingin menemukan agil" randi merintih.


"Aku tahu bodoh!!!!!!!!! aku sudah berusaha!!!!!! dengar aku bukan orang yang tahu tentang tempat-tempat seperti itu aku hanya orang biasa ingat itu, aku baru tahu hutan itu memiliki kadar oksigen yang lemah!!!!"


Randi tidak bisa membendung air matanya, "Terus apakah agil selamat" ucapnya menangis.


"Aku tidak tahu sosok agil yang seperti apa tapi secara logika ia akan mencari jalan keluar dari hutan itu...."


"Kau pikir dia masih hidup???"


Aleris memutar bola matanya.


"Secara logika ia terjatuh diketinggian yang seperti itu, ia hanya sendiri, apakah masih bisa dibilang selamat?"


"Kau maunya apa?" ucap aleris pasrah.


"Aku berharap agil selamat bodoh, tapi kenapa pikiran ku berbeda, kenapa yang selalu muncul dikepalaku, tentang logika itu, tapi aku berharap agil selamat"


Aleris paham apa yang dirasakan randi, secara logika memang untuk ukuran manusia yang jatuh dalam ketinggian memang sembilan pukuh persen tidak selamat, namun randi masih ingin berpikir positif jika ahik masih bisa selamat.


"Kau tahu bukan??!!! tentang perasaanku? aku masih berharap agil selamat, tapi jika dipikir logika...." ucapan randi terpotong karena tonjokan tangan aleris yang melayang tiba-tiba diwajahnya.


Randi tersungkur tak berdaya, ia meringkuk ia meneras kepalanya, ia menangis, selama ini kenapa pikiranya seperti terbelah menjadi dua, hal itu membuat randi berambisi untuk menyelamatkan agil.


"Kenapa kau memukulku bodoh?" ucap lirih randi, rasanya ia tidak punya tenaga lagi untuk berteriak.


"Harusnya kau sadar......"


"Sadar?" randi tertawa.


"Aku berusaha berpikir agil masih hidup tapi pikiran buruk itu datang lagi!!!!"


"Aku tidak ingin membuatmu kawatir sebenarnya, tapi aku juga serba salah..."


"Pukul aku sampai mati..........." gumam randi tiba-tiba.


Aleris menatap bingung, ia juga merasakan penderitaan itu, ia sangat paham betul, tapi disisi lain, ia juga tidak bisa melakukan apapun, ia sudah melakukan yang terbaik, tapi ia juga manusia seperti biasa.


"Maafkan aku....aku juga baru tentang hutan sialan itu kemarin"


Randi tertawa, "Bunuh aku sialan!!!" ucap randi.


"Apa yang kau katakan?"


Rasanya hidupnya tidak akan bisa berjalan lama, dengan apa yang dialaminya tidak jauh berbeda dengan didunianya, ia sama-sama menderita, ini bukanlah jalan hidup yang randi inginkan, randi berharap bisa masuk dinegeri dongeng, tapi bukan seperti ini.


Ia masuk dinegeri dongeng dimana semua negeri ini berisi neraka, semuanya seakan dikubur dalam-dalam, randi tidak tahu apa-apa, seolah semuanya memang digariskan seperti ini, dimana ia tidak menemukan jawaban sampai detik ini, dimana pria tampan sok pintar itu baru saja memberitahu dirinya jika hutan itu memiliki kadar oksigen yang lemah, randi paham jika pria itu baru saja tahu tentang hutan itu.


Ia juga tahu tidak semua orang yang berkekuatan tahu semua tentang pelosok negeri ini, tapi rasanya randi ingin mengeluarkan semua perasaan yang terpendamnya tentang kekecewaannya, kesedihannya, kemarahnya, rasa penasaraanya, tentang semua perasaan yang randi miliki didalam hatinya, semuanya.


Randi tidak bisa diam, rasanya ia ingin bangkit, ia ingin keluar dari tempat ini, ia ingin segera mencari agil dan pulang, ia tidak ingin melihat negeri bedebah seperti ini, negeri seperti neraka, yang randi rasakan saat ini ia ingin menyalahkan semua orang, ia ingin berteriak, mengamuk, dan membanting apa yang ada didepannya.

__ADS_1


__ADS_2