Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Kisah cinta terburuk aleris


__ADS_3

Hari ini ia berjanji akan ikut leon pergi, dimana leon akan melakukan perjalanan bisnis, ia memanh tidak memberitahu leon jika ia akan ikut dengannya, karena aleris tahu jika ia ikut pasti leon akan menolaknya, perjalanan ini memang tidak untuk diikuti oleh anak kecil seperti aleris.


Karena aleris anak yang bandel dan keras kepala, ia akan ikut diam-diam ke kapal, walaupun ia terlambat karena bangun kesiangan, tidak membuatnya menarik ucapanya, ia terus berlari menuju dermaga, tapi aleris benar-benar tertinggal, ia lalu tersungkur sedih karena impianya untuk menaiki kapal tidak tercapaikan.


Ia menangis, memang wajar karena selama ini ia menunggu hal ini terjadi, tiba-tiba seorang tante-tante mendekat, ia menepuk pundak aleris yang masih menunduk menangis, aleris mengangkat kepalanya dan segera berdiri.


"Siapa kau.." ucap aleris.


Wanita itu lalu menyodorkan tangannya, "Rona..."


Aleris menghiraukannya, lalu wanita itu tiba-tiba menundukan kepalanya, "Maaf tuan saya tidak sopan"


Aleris tersentak, aleris membatin apakah ia baru saja tahu? aleris tak menggubris ia membuang mukanya.


"Kau anak tuan Arthur dan bunda Ellenora kan?"


Aleris membatin kenapa yang terkenal hanya kedua orang tuanya sedangkan dirinya tidak terkenal.


"Aku aleris..." ucapnya singkat, wanita bernama rona lalu tersenyum.


Aleris tersentak ketika rona mendekat kesamping aleris.


"Kenapa kau menangis tuan?"


Sebenarnya ia malas harus menjelaskan hal yang tidak penting ke orang asing, namun karena ia gugup ia menjelaskan kenapa ia menangis.


"Maaf tante karena aku harus pergi..." aleris beranjak namun tangan rona memeggang tangannya, membuat aleris berhenti dan menoleh.


"Boleh temani aku sebentar disini?"


"Aku anak dari seorang panglima, dan kau menyuruhku untuk menemanimu? berani-beraninya kau"


Wanita itu lalu menundukkan kepalanya, "Maaf...tapi kau dan aku lebih tua aku" lalu ia mendekat kewajah aleris dan berbisik.


"Temani sebentar" aleris tersentak ia merasakan geli ketika nafas wanita itu mendekat kewajah aleris.


Aleris lalu menemani wanita itu, wanita yang bernama rona itu banyak bercerita tentang kehidupannya, jika dia adalah seorang perawan tua, semasa hidupnya memang ia sering kali ditolak beberapa kali oleh laki-laki, sampai saat ini ia tidak tahu apa kesalahannya hingga pria yang mendekatinya akhirnya meninggalkanya.


Aleris menatap wajah wanita bernama rona itu, aleris juga merasa kebingungan tidak ada cacat sedikitpun di tubuh dan wajahnya, aleris juga menganggap wajah rona itu sangatlah cantik dimana wajahnya yang kecil dan matanya yang bulat.


"Dimana tempat kau tinggal...." tanya aleris.


"Aku tinggal di majestic kok, tidak diluar tembok....."


Entahlah kenapa aleris merasakanya nyaman ketika berada didekat rona, walaupun awalnya aleris merasa tidak cocok karena aleris dan rona terlihat berbeda, rona adalah rakyat biasa sedangkan aleris anak bangsawan.


"Kalau kau mau setiap sore hari kau bisa datang kesini.....aku akan melukismu"


Aleris kaget, "Kau bisa melukis?" rona menganggukan kepalanya.


Rona adalah seorang pelukis, walaupun tidak sebagus senior-senior, ia hanya melukis untuk hobbinya, tidak untuk pekerjaan, ia hanya melukis orang-orang dipasar dan jika perlu mereka bisa dengan ikhlas memberi sebuah koin emas atau perak, hal itu bisa membuatnya makan, walaupun ia sudah cukup tua, ia tidak memiliki pekejaan yang tetap.


Aleris kembali kekerajaan, tapi otaknya selalu terbayang-bayang wajahnya, wajah wanita bernama rona itu, dimana pun ia berada yang selalu ia lihat hanyalah senyum cantik itu, aleris sadar bahwa ia adalah nona-nona bagi aleris tapi apakah aleris menyukainya pada pandangan pertama, aleris langsung menepis karena aleris pikir hal itu wajar saja karena ia cantik.


Sore itu aleris sudah menunggu lama rona, ia duduk dipasir putih lautan, ia tidak terlambat, karena sepanjang hari ia hanya memikirkan wanita itu, entah kenapa ia merasa sangat gugup untuk bertemu.


"Tuan!!!" teriak rona, ia lalu mendekat seraya membawa kain lukis dan pewarna.


"Sudah lama?" lanjutnya, aleris hanya mengangguk.


"Aku pikir kau tidak akan datang, karena pertama kali aku menemuimu sepertinya kau tidak tertarik denganku"


Aleris langsung menimpali, "Tidak, aku tertarik kepadamu, karena awal-awal aku tidak kenal kau, jadi aku merasa kurang nyaman"


Tanpa basa-basi ia langsung melukis aleris, rona menyuruh aleris untuk diam menatap senja ditengah hamparan lautan, dengan jari-jarinya yang lentik rona mulai melukis.


"Kenapa kau tidak mengajukan diri waktu itu..."


Rona terlihat bingung, "Ada apa?"


"Satu tahun yang lalu diadakan kontes melukis, dan ysng paling unik akan bekerja dikerajaan"


"Ah waktu itu aku sedang pergi...."


"Pergi kemana?"


"Bersama pasanganku waktu itu"


Aleris menunduk, "Jangan menunduk aku sedang melukis bagian kepalamu"


Satu jam terlewatkan, rona menyodorkan kain itu, aleris tersentak jika lukisan yang rona lukis benar-benar sangat bagus dan sama persis dengan bentuk tubuh aleris, spontan aleris memeluk rona.


Aleris tersadar jika tingkahnya sudah keterlaluan, ia mundur.


"Kenapa mundur?" ucap rona.


"Ah tidak apa-apa" ucap canggung aleris, rona tahu jika aleris merasa gugup, rona mendekat dan memeluk aleris.

__ADS_1


Memang aleris masih di bawah umur, tapi perawakan tubuhnya tinggi setinggi tubuh rona, hal itu yang membuat rona tidak kesusahan untuk memeluk aleris.


Hal itu membuat aleris menutup matanya, kenapa ia sangat merasakan nyaman ketika tubuhnya bersentuhan dengan rona?


"Jika suatu saat aku menyukaimu, apa yang akan kau lakukan tuan?" gumam rona.


Dengan jantung yang madmsih berdebar hebat, aleris menjawab.


"Ya aku akan menyukaimu juga....."


Rona melepaskan pelukanya, lalu ia memeggang kedua tangan aleris.


"Kau tidak tahu umurku sekarang?"


"Dua enam tahun....."


Aleris sedikit terbelalak, karena saat ini umurnya masih enam belas tahun.


"Tidak masalah....kalau aku sudah menyukaimu aku tidak memikirkan tentang umurmu...."


Tiba-tiba bibir rona mendekat dan mencium pipi aleris, aleris sontak mundur kebelakang.


"Kau pasti kaget" sahut rona.


Mereka lalu beranjak pergi meninggalkan pantai, dimana hari sudah semakin gelap, dijendela kamarnya, aleris melamun, ia tidak bisa membayangkan jika ia bisa menikah bersama wanita itu.


Apakah hati aleris sudah jatuh cinta dengan rona? aleris tidak yakin soal itu, tapi ketika mengingat senyumnya membuat aleris tersenyum sendiri seraya jantungnya berdegup dengan cepat.


Tiba-tiba ada sebuah ranting pohon yang menabrak wajahnya, ia menolah siapa yang melakukan ini tapi ia tak melihat siapapun, aleris mendengar seseorang yang memanggil namanya dibawah, aleris yakin yang menjahilinya adalah bravogar.


"Apa paman!!!!" teriak aleris.


"Kenapa kau melamun disitu...." tanyanya seraya mengangkat kepalanya menatap aleris diatas sana.


"Kenapa sih, suka-suka aku lah"


"Turun....turunnn" ucap bravogar seraya mengangkat jari tanganya menyuruh aleris turun ke bawah.


Aleris lalu beranjak turun menuju ketempat bravogar, dimana ia sedang duduk dikursi taman, dengan langkah yang malas aleris mendekat.


"Kau sedang melamun apa?" tanyanya.


"Tidak ada" jawab aleris cepat.


"Bagus kalau begitu"


Tiba-tiba muncuk pikiran aleris untuk bertanya kepada bravogar tentang, masa percintaanya saat ini, walaupun aleris tahu pasti bravogar akan kaget, ketika tahu umur wanita itu.


"Sepertinya? apakah kau tidak yakin?"


"Tidak karena aku pikir mungkin aku sedang terpesona saja belum masuk ketahap jatuh cinta" ucap aleris, bravogar tertawa mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut aleris.


"Coba jelaskan kepadaku"


Aleris menjelaskan tentang pertemuan awal itu, ia menjelaskan tentang umur rona dan semuanya yang aleris ketahui dari rona, bravogar sempat kaget mendengar tentang umurnya.


"Ha dua enam tahun?" pekik bravogar.


"Aku tidak salah dengar kan?" lanjut bravogar.


"Sebenarnya aku tidak yakin akan mengatakan ini paman, tapi sepertinya aku harus cerita kepadamu"


Bravogar menatap aleris, "Dengar kau masih remaja, kau sedang dimasa-masa belajar, aku setuju jika kau menyukai anak yang seumuran denganmu, tapi jika kau menyukai nona-nona aku tidak setuju"


Aleris melotot, "Kan sudah ku duga kau akan berbicara seperti itu"


"Jelas kan? kau menyukai nona-nona aleris! aku tidak setuju"


"Kalau aku sudah jatuh cinta, aku tidak peduli dengan apa pun..."


Aleris berlari, tujuan adalah pantai entahlah setelah bertemu dengan wanita bernama rona itu, rasanya ia ingin terus berada dipantai, berharap rona ada disana dan menemaninya.


"Gara-gara ucapan paman aku jadi tidak enak perasaanya, gak enak ngapa-ngapain" gumamnya seraya berjalan dipasir pantai.


Mata aleris terbelalak ketika melihat rona membawa obor mendekat, seraya ia membawa lukisan, dengan cepat aleris mendekat.


"Hei kenapa kau ada disini?"


"Akhirnya aku bertemu denganmu"


"Aku sedang mencari objek untuk dilukis" lanjutnya.


"Aku saja, lukis aku saja!!" sahut aleris.


"Kenapa kau datang kemari?" tanya rona.


"Aku hanya sedang kecewa dengan seseorang jadi aku harus mencari angin"

__ADS_1


Akhirnya rona menyuruh aleris untuk menata diri, dimana rona akan melukis aleris untuk kedua kalinya.


"Aku kesini memang baru saja, tapi aku melihatmu bergerutu sendiri jadi aku mendekat heheh" ucap rona, aleris hanya tersenyum.


"Em kau akan melukis aku seperti apa?"


Rona mendekat kearah aleris, aleris terbelalak ketika wajah rona sangat denkat dengan dirinya, membuat tubuh aleris dengan spontan turun kebawah, rona yang sadar akan hal itu menahan aleris dengan baju milik aleris, membuat wajah aleris semakin dekat dengan rona.


Rona memejamkan matanya, menempelkan dahinya didahi aleris, aleris masih melotot ia seperti tidak bisa bergerak, jantungnya berdegup kencang.


Hidung rona menempel dihidung aleris, wajahnya lalu turun kebawah, dimana ia lalu menempelkan hidungnya ke bibir aleris, aleris masih mematung.


Tangan rona meraba punggung aleris dan melepaskan bajunya hingga dada aleris terlihat ia telanjang, rona membuka matanya, ia menatap wajah tampan aleris.


"Kau harus terlanjang diatas saja, tidak sampai telanjang bulat, kau bawa obor ini ya aku akan mulai melukismu" sahut rona, lalu ia mulai melukis.


Entah seperti tidak sadar, aleris masih mematung seraya membawa obor, batinnya apa yang baru saja rona lakukan kepadanya, itu sama sekali membuatnya menjadi tidak bisa bergerak.


Satu jam terlewat, rona beranjak mendekat yang menyodorkan lukisan itu, aleris menerimanya, lagi-lagi ia merasa takjub karena lukisan rona yang sangat bagus, ia tidak menyangka ia bisa menggabar sedetail itu.


"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu"


Aleris lalu merapikan bajunya, lalu ia duduk disamping rona, ditemani obor yang menjadi pencahayaan mereka, mereka duduk ditepi pantai menatap lautan didepan mereka.


"Aku menyukaimu..." ucap rona.


Aleris melotot menatap rona, "Apa?" ucap aleris.


"Aku sudah yakin aku menyukaimu"


Lalu rona merebahkan tubuhnya kepasir, ia menatap langit hitam diatas sana, ia bisa melihat aurora, bintang, dan galaxy yang menari-nari diatas sana, aleris mengikuti rona ia menjatuhkan tubuhnya kepasir dan menatap langit.


"Aku juga menyukaimu" gumam aleris, rona memiringkan tubuhnya agar bisa menatap aleris.


"Tapi tidak bisa...."


"Kenapa?" ucap aleris.


"Seharusnya kau memanggilku ibu..."


"Dengar aku tidak peduli dengan itu"


"iya tapi....." ucap rona terpotong, karena tiba-tiba aleris menatapnya.


"Aku menyukaimu" ucap aleris tersenyum.


Sejak saat itu mereka menjalin hubungan, tapi menurut aleris hubungan mereka tidak berjalan dengan baik karena sejak mereka menjalin hubungan yang serius, mereka justru tidak sering bertemu, membuat aleris semakin penasaran ada apa dengannya.


Hampir satu bulan, aleris hanya mondar-mandir dipantai, namun sama sekali ia tidak melihat wujud rona, ia datang kerumahnya namun rumahnya sepi, seperti tidak ada makhluk hidup disana, pencarian itu akhirnya dihentikan oleh aleris, ia pasrah yang bisa ia lakukan hanyalah duduk ditepi pantai menunggu rona.


Entahlah seperti ada yang memanggilnya digoa, ada rasa penasaran yang datang tiba-tiba, aleris ingin mendekati goa itu, aleris berharap rona ada disana, tapi ketika aleris semakin mendekat kearah goa ia mendengar suara wanita mendesah.


Dimana membuat aleris merinding, ia terus beranjak mendekat, hingga ia akhirnya mengintip siapa suara itu, mata aleris terbelalak seperti disambar petir hatinya sakit melihat siapa yang ada didepannya.


Rona dan seorang pria yang sudah tua sedang melakukan hubungan didalam goa itu, aleris mematung ia tidak bisa mengeggarakan tubuhnya, aleris tidak bisa menahan air matanya.


Lalu dengan energi yang lemah aleris mendekat, memperlihatkan tubuhnya, hingga rona melihat aleris datang, ia lalu segera membenarkan posisinya, dan menutupi tubuhnya dengan bajunya, pria itu kaget, dan menatap tajam aleris.


"Kau?" ucap aleris.


Rona masih terlihat ketakutan, ia tidak bisa melihat wajah aleris yang sudah penuh air mata, pria tua itu berdiri masih telanjang bulat ia mendekat kearah aleris.


"Siapa kau berani-beraninya kau menganggu kami!!"


"Tidak ada urusannya denganmu!!!!!" aleris menonjok pria itu dengan tangannya, membuat pria itu terjatuh karena tidak terima, pria itu melakukan hal yang sama, ia menonjok wajah aleris, rona menghentikannya, ia meleraikan mereka.


"Jelaskan padaku siapa ini!" tanya pria itu.


"Kau bahkan tidak memiliki sopan santun!!!" pekik aleris.


"Hentikan!" rona menatap aleris.


"Dia anak tuan arthur...."


Pria itu lalu melotot, namun hal itu tidak membuatnya merasa malu, atau untuk sekadar menundukan kepalanya, ia malah terlihat santai menatap aleris.


Aleris memeggang kedua pundak rona, "Apa yang kau lakukan kepadaku, kau menghianatiku?"


Rona menundukan kepalanya, ia tak kuasa untuk melihat wajah aleris.


"Dia pacarku...." sahut pria itu.


"Dia pacarku juga...." ucap lirih aleris.


"Dengar kau menjadi bahan saja baginya, pekerjaannya kan menjadi wanita penghibur" sahut pria itu.


Aleris yang tidak percaya apa yang dikatakan pria itu, ia lalu bertanya dengan rona, rona membenarkan perkataan pria itu, jika selama ini perkerjaannya adalah wanita penghibur, dan ia sedang menjalin hubungan dengan pria ini.

__ADS_1


Tanpa basa-basi aleris meninggalkan mereka, seraya tak henti-hentinya ia meneteskan air matanya, rasanya hatinya sangat sakit, sudah sangat percaya aleris kepada wanita itu, sudah sangat mencintai dengan tulus wanita bernama rona itu, namun ia menghianati aleris.


Rasanya aleris tidak ingin bertemu dengan wanita itu lagi, hingga dua bulan berlalu aleris sering datang ke pantai, tapi ia sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda keberadaanya, hal itu membuat aleris semakin menemukan jati diri setelah hatinya dipatahkan.


__ADS_2