
Jay tidak bisa hanya duduk terdiam memandangi kerajaan yang masih ia pantau, banyak para prajurit yang menjaga disana setelah kejadian malam itu, namun sepertinya Jay tidak ingin menyerah begitu saja, ia ingin masuk kedalam dan menyelamatkan Agil.
Ia melangkah mendengap-endap, dan mendekat kearah prajurit yang sibuk menjaga gerbang, seraya ia menyamar menjadi seorang warga biasa.
"Ada apa nona?" sahut prajurit itu saat melihat Jay berjalan mendekat.
Jay menjawab, "Tidak, aku hanya ingin bertanya apakah ada kejadian tadi malam?"
Ada beberapa prajurit disana, mereka saling bertatapan, bingung untuk menjawabnya, hingga salah satu prajurit yang duduk lalu berdiri dan mendekat.
"Ada keperluan apa ya?"
Jay memutar bola matanya, "Saya bertanya saja kok..."
Jay memutar tubuhnya untuk kembali pulang, namun saat ia berjalan dengan satu langkah ia mendengar suara gerbang terbuka, Jay lalu menoleh.
"Agil?" gumam Jay saat ia melihat Agil keluar dari gerbang tersebut tanpa ada prajurit yang mengikat kedua tangan Agil.
Agil berjalan santai seperti tidak ada apa-apa, ketika para prajurit itu berdatangan mereka mengisyaratkan agar tidak menangkap Agil, karena para prajurit itu diperintahkan oleh Aleris untuk bersikap biasa saja dengan Agil.
Jay sadar ia sedang menyamar, lalu ia meninggalkan Agil begitu saja, membuat Agil terlihat kebingungan, ia segera berlari menyusul Jay. Jay berhenti saat langkahnya sudah jauh dari para prajurit itu.
"Kau kenapa?" sahut Agil yang tiba-tiba datang.
"Tidak penting, kau tidak apa-apa? kau tidak disiksa disana?" ucap Jay seraya memeluk tubuh Agil dengan erat membuat Agil tersentak.
Jantung Agil berdetak dengan kencang saat tubuh Jay mendarat ketubuhnya, rasanya ia tidak bisa bergerak, apakah ini rasanya jatuh cinta lagi dan lagi?
Agil menundukan kepalanya, "Tidak, aku tidak apa-apa..."
"Lalu?" tanya Jay seraya melepaskan pelukannya.
"Sepertinya kita harus berbicara dengan Tea juga...."
Mereka lalu beranjak dan pergi menuju ke penginapan mereka.
Tea terbelalak saat Jay kembali bersama dengan Agil, karena tidak percaya Tea mendekat kearah Agil dan menampar pipi Agil dengan keras.
"Sungguh?"
Jay menepis dan mendorong lengan Tea, "Beneran..."
Tea masih tidak menyangka, Agil kembali dan dibebaskan begitu saja. Tea menyuruh Agil dan Jay duduk dikursi kamarnya.
"Ada yang ingin aku ceritakan......"
***
Aleris membuka sel penjara itu, dan melepaskan rantai yang mengikat kedua tangan Agil, mereka saling menatap lama, Aleris tidak menyangka ia telah bertemu dengan Agil, dihadapannya langsung.
"Benar, kata Randi, aku dan kau sangatlah mirip...."
Agil tidak menggubris ia lalu melewati Aleris begitu saja
"Tunggu..." sahut Aleris.
Agil menoleh, Aleris mendekat.
"Kemana saja kau?"
"Kau siapa? kenapa bisa tahu aku?"
Aleris tersenyum sinis, "Aku...."
Namun perkataan Aleris terpotong oleh Agil. Ia menarik kerah baju Aleris.
"Kau!!!! kau yang telah menculik teman-temanku bukan!!!! kau pemilik elang hitam itu kan!!!" pekik Agil.
Ia sangat emosi, jantungnya sangat ingin sekali ia ledakan, tak terasa ekor matanya mengeluarkan air mata. Aleris menundukan kepalanya seraya melepaskan dengan pelan kedua tangan Agil yang menggegam erat kerah bajunya itu.
"Aku ingin sekali menjelaskannya kepadamu, tapi apakah kau akan percaya denganku?"
Agil hanya menatap Aleris.
"Dulu, setelah aku mendengar kabar tentang manusia asing yang terus masuk kedalam negeri ini, aku mencari tahu apa yang terjadi, hingga aku diperintahkan untuk menjalankan tugas ini, semua anak buahku, para peri itu, Malucia juga..."
Agil terbelalak saat nama Malucia yang ia kenal disebut oleh Aleris, Aleris memang dengan sengaja menyebut nama Malucia dihadapan Agil.
"Anak buahku adalah seorang peri, mereka aku perintahkan membawa para orang-orang tersesat, dan letakan mereka ditempat aman, itu adalah perintahku..." pekik Aleris mendekat kearah Agil.
"Dan kau tahu? sebenarnya aku diperintahkan tidak seperti itu, bahkan aku disuruh langsung membunuh manusia asing yang baru datang, apakah aku sangat baik? menjemput kalian dan meletakan kalian ditempat yang aman..."
"Tapi selebihkan kalian tidak tanggung jawab!!! kalau memang ingin melantarkan kami, tidak usah dengan acara jemput menjemput!" pekik Agil.
"Kau masih tidak paham?"
"Aku ingin bertanya kepadamu, kau yakin hanya beberapa orang pindah dimensi hanya dari awan itu? kau hanya tahu mereka datang dari sana!!!!!! mereka datang dari berbagai negara dari tempat-tempat selain di langit tempat aku pindah dimensi!!!! kau hanya ditugaskan untuk menjemput orang-orang yang ada diawan itu lebih tepatnya!!!!!"
Aleris terdiam, memang saat itu Aleris memikirkan hal itu, namun lagi-lagi ia egois, ia sangat jahat tidak memikirkan orang-orang yang lain.
"Bisa saja mereka datang dari depan kerajaanmu!!!! dari hutan!!!! laut!!!!! kenapa kau tidak berpikir itu sialan!!!!" pekik Agil, suaranya memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
Ia bahkan sampai meremas rambut kepalanya, ia sangat emosi dengan penjelasan Aleris yang menurut Agil tidak masuk akal.
"Ya, aku memang memerintahkan anak buahku untuk menjemput sebagian dari kalian, yang datang dari langit itu, selebihnya itu bukan tanggung jawabku, karena daerah awan itu tempatku, dan ya aku egois..." gumam Aleris.
Agil tersenyum sinis menatap Aleris, ia akhirnya bisa mendengar orang-orang yang berjabatan tinggi mengakui kesalahannya.
"Jadi? ini semua adalah kesalahmu kau tahu itu...."
Aleris mengangguk.
"Jadi, temukan aku dengan teman-temanku..." gumam Agil.
Aleris menatap Agil.
"Dengar, aku tidak memberitahu siapapun kau ku lepas seperti in...."
Ucapan Aleris terpotong saat Aleris dan Agil mendengar gerbang atas dibuka, Varegar datang. Ia sengaja melangkah dengan pelan seraya kedua tangannya ia taruh disaku celananya.
"Apa ini?" tanya Varegar saat ia sudah ada didepan Aleris dan Agil.
Agil hanya menundukan kepalanya.
"Kenapa kau kesini?" tanya Aleris.
"Lhoh? pertanyaan yang aneh, bukankah aku bebas melakukan apapun? karena aku sudah menduga kau pasti kenal dengan bocah ini..." ucap Varegar menatap Agil.
Aleris membuang muka.
"Aku mendengar suara teriakan dari arah sini, dan ternyata benar, bocah ini sudah lepas begitu saja..." ucap Varegar.
"Dia temanku.."
Varegar menoleh ke Aleris, "Teman barumu ada berapa? yang satu lagi dimana? yang berani masuk kedalam kerajaan itu?" ucap Varegar seraya melirik kearah Agil.
Agil yang terlihat kebingungan, dengan ucapan Varegar, lalu ia mendekat kearah Agil, ia mendorong Agil kembali kedalam sel dan mengurungnya tanpa mengikatkan kedua tangan Agil. Agil hanya terdiam dan patuh dengan aksi Varegar kepadanya.
"Sekarang lebih baik kan? karena kedua tanganmu jadi lebih leluasa..."
Aleris menarik kain baju Varegar dan mendorong tubuhnya dengan keras hingga menabrak sel penjara, membuat suara tebrakan itu memenuhi ruangan tersebut. Varegar hanya tertawa dengan aksi Aleris.
Agil terdiam menatap mereka, Aleris masih terengah-engah, ia tidak bisa mengatur nafasnya dengan baik. Varegar berdiri.
"Hanya itu kekuatanmu?" ucap Varegar.
Ia mendekat, dan berbisik.
"Kau ingin temanmu itu mati atau bagaimana? bisa-bisanya kau ingin bertengkar denganku disini??" bisik Varegar lalu meninggalkan Aleris dan Agil disana.
"Itu Randi, Randi yang masuk kedalam kerajaan dan ingin mencari jawaban tentang kejanggalan ini.."
Agil terbelalak, ia lalu berdiri dan mendekat kearah sel.
"Katakan kepadaku dimana teman-temanku!!!"
"Ada disini, akan aku bawa Randi kesini...." sahut Aleris, lalu ia beranjak meninggalkan Agil.
Diruangan tengah, dimana saat Aleris melangkahkan kakinya ia melihat ada beberapa orang yang menunggunya disana. Raja Gevarnest, Varegar, Leon, dan Mahagaskar yang berdiri dan sengaja menunggu Aleris datang.
Masih kebingungan Aleris lalu terdiam sejenak, hingga Leon menyuruhnya untuk mendekat. Aleris mengisyaratkan kepada Leon apa yang sedang terjadi, Leon hanya mengangguk tanda apa yang akan dilakukan maka patuhlah, seperti itu lah yang Aleris baca dari bahasa tubuh Leon.
Raja Gevarnest menoleh, dan mendekat kearah Aleris.
"Kau kenal dia?" tanya raja.
Aleris tersenyum malas, ternyata gerak-gerik mereka menunggunya diruang tengah hanya untuk ini.
"Aku kenal dia, kenapa?" tanya Aleris dengan nafa bicara yang sedikit menantang membuat Varegar melototi Aleris.
"Hei, kau bisa bicara baik-baik tidak?" sahut Varegar, namun raja Gevarnest menepis, bahwa ia tidak masalah mau bagaimana pun sikap Aleris kepadanya.
"Aku kenal dia kare..."
Ucapan Aleris terpotong oleh Varegar yang tiba-tiba menyahut.
"Yah, karena teman barumu yang datang disini berteman dengan temanmu disel penjara itu bukan?? sejak kapan kau berteman dengan orang-orang seperti mereka?" sahut Varegar.
Leon menatap Varegar tajam, seperti biasa bahkan tatapan Leon tidak bisa berpalinh dari Varegar, ia sangat membencinya. Mahagaskar sadar tatapan Leon tidak biasa, ia menepuk pundak Leon.
"Tenang..." bisik Mahagaskar.
"Aku tidak mempermasalahkannya sih, aku hanya ingin bertanya saja, ternyata yang berani masuk dan berani membuat masalah dengan kita semua disini ya teman-teman barumu itu...."
"Aku akan membiarkan temanmu itu pergi dan bebas dari penjara.." lanjut raja.
Membuat Varegar melotot kaget dengan apa yang diucapkan sang raja.
"Tuan? sungguh?" sahut Varegar.
"Aku akan membebaskannya setelah ia sudah menjawab pertanyaanku..."
"Dengar, ini seperti yang aku katakan tadi, pasti ada banyak orang-orang yang bersengkongkol dengannya, kita bisa cari teman-temannya..." bisik Varegar.
__ADS_1
"Kita paksa dia bicara yang sejujurnya nanti..."
Varegar meremas rambut kepalanya, ia tidak menyangkan pikiran Gevarnest yang murahan seperti itu.
Tanpa pamitan, Aleris langsung beranjak pergi meninggalkan mereka, diikuti Leon dan Mahagaskar.
"Lihat, mereka bahkan ada seorang raja disini bagaimana bisa tidak menundukan kepalanya..." pekik Varegar.
Sore itu, Varegar dengan membawa belati didalam saku bajunya melangkah menuju kamar Aleris, ia menaiki tangga pelan-pelan, dan dengan cepat membuka pintu kamarnya. Aleris yang masih tertidur dengan spontan kaget lalu berdiri.
"Apa yang kau lakukan?"
Dengan cepat Varegar memukul wajah Aleris dengan keras membuat Aleris tersungkur jatuh, seraya memeggangi pipinya yang memar dan mulutnya yang sobek berdarah, ia masih bingung apa yang terjadi.
Varegar melangkah dan menginjak dada Aleris dengan keras membuat Aleris merasa kesakitan dan sulit bernafas, ia berusaha melepaskannya namun kekuatan Varegar sangat kuat.
"Dengar bodoh! jangan bersikap sombong didepanku, kau pikir kau siapa? bisa seenak jidat kau melakukan itu? aku lebih tua darimu seharusnya kau menghormati aku!..." pekik Varegar.
Aleris masih berusaha melepaskannya, namun sia-sia seperti nafasnya sangat berat ia tiba-tiba lemas.
"Kau sudah tahu bukan? orang tuamu mati karena apa?" Varegar tertawa.
"Mati karena telah dibunuh oleh raja.."
Aleris yang masih merasakan kesakitan, mendengar ucapan Varegar seakan sakit itu bertambah seratus persen, ia memangawalnya sudah menduga, tapi selalu ia tepis berharap ini tidak terjadi, namun semuanya ternyata benar.
Aleris semakin menahan dengan keras injakan Varegar yang terus ia dorong dengan keras, dengan kekuatan penuh Varegar berusaha namun lagi-lagi, tenaga Varegar lebih besar.
"Lawan aku! lawan aku!" pekik Varegar seraya menarik kerah baju Aleris, menariknya berdiri.
Aleris berdiri dengan sempoyongan, berdiri tidak seimbang, saat ia sedang mengumpulkan energi, tiba-tiba saja Varegar memukul wajahnya beberapa kali hingga babak beluk, wajahnya sudah tidak beraturan hingga Aleris tersungkur jatuh lemas, darah yang keluar dari dalam hidung dan mulutnya.
Raja Gevarnest membuka gerbang, ia masuk kedalam sel penjara itu, melihat Agil yang terpejam menyender tembok.
"Anak muda.." panggil raja.
Agil langsung berdiri. Raja Gevarnest membuka sel penjara itu.
"Silahkan pergi..." sahut raja.
Agil terdiam, ia sangat bingung apa yang terjadi, saat Agil melangkahkan kaki, pukulan keras menabrak wajahnya tiba-tiba membuatnya terjatuh kelantai. Setelah pukulan itu, raja Gevarnest mengelus-elus tangannya.
"Takut kotor..." sahutnya.
Agil memeggangi pipinya sang sudah memerah, ia masih terduduk.
"Aku bisa menjawabnya..." sahut Agil.
"Maka jawablah, atau kau akan mati disini tanpa bisa kembali keduniamu..."
Mendengar ucapan itu, Agil menundukan kepalanya, luka lama kembali lagi, dikepala Agil yang sekarang memenuhi otaknya, adalah antara ia harus mati atau kembali dengan kebahagian.
"Aku sendiri, aku sendiri berusaha masuk kedalam kerajaan, dan ingin mencari tahu kebenaran..." ucapan Agil terpotong oleh tawa raja tiba-tiba.
"Kenapa mereka ingin mencari tahu tentang dunia kejanggalan ini disini, apakah mereka yakin disini jaawabanya..."
Agil masih terdiam.
"Kau yakin tidak ada teman yang lain yang ikut bersamamu? lalu tali yang aku temukan dibelakang itu dari mana asalnya?"
Agil memutar bola matanya, "Sejujurnya saat pengejaran itu aku sempat melempar tali itu digerbang, tapi mereka sudah terlanjur menemukanku..."
Raja Gevarnest duduk seraya menatap tajam Agil.
"Sungguh?"
"Tuan..." panggil Agil, ia memberanikan diri.
"Saya sedang mencari teman saya, Randi dan Gilang..."
Mendengar ucapan Agil, raja Gevarnest berdiri ia melotot.
"Randi?" gumam raja.
Agil mengangguk.
Memang benar Randi adalah teman anak muda ini? jadi?
"Lalu kenapa kau bertanya kepadaku, jelas aku tidak tahu!" pekik sang raja.
"Apa hubunganya kau dengan Aleris?"
Agil memejamkan matanya sebentar, lalu ia menjawab.
"Aku tidak kenal dia, ia mengatakan kepadaku jika ia adalah orang yang menyelamatkan Randi dan Gilang, tapi sampai saat ini dia tidak menunjukan apapun kepadaku.."
"Dengar, dia seorang penipu yang cerdas, jangan berharap kau bisa ditolong olehnya karena semua ocehannya sangat palsu...."
Agil terdiam ia tidak bersuara, ia masih tergeletak dilantai, membersihkan darah yang keluar dari luka dibibirnya.
"Masuk!" raja Gevarnest menendang tubuh Agil dengan keras, hingga Agil berdiri dan masuk kedalam sel penjara itu, sampai raja Gevarnest pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Apakah ini akhir dari kisah hidupku? aku tidak berharap banyak ya tuhan, aku hanya ingin bertemu dengan kedua sahabatku, jika seorang yang bernama Aleris itu adalah baik, maka buatlah hatiku percaya kepadanya, bukankah ini adalah titik terang? dia adalah seorang yang menyelamatkan Randi dan Gilang, maka sebentar lagi aku menemukan kedua sahabatku, tapi......jika dia tidak menipuku.