
Agil menyenderkan kepalanya di tiang lampu pinggir kota, seraya mendengarkan musik dari zayn malik - pillow talk, beberapa hari ini agil sangat menyukai lagu-lagu yang dibawakan oleh zayn malik, agil masih mendengarkam seraya menutup matanya, seperti biasa ia sedang menunggu seseorang datang, ia menyuruhnya untuk menunggu ditempat biasa, tempat pinggir kota, dimana tempat itu tidak jauh dengan tempat tinggal mereka berdua.
Agil menutup handphonenya, dan mencari keberadaan noze, karena sudah tiga puluh menit ia menunggu disini, tapi noze tak kunjung datang, sudah beberapa kali agil mengirimkan pesan dan menelfonya tapi tidak kunjung diangkat, perasaan agil semakin menjadi-jadi, tapi setelah itu perasaan agil yang menjadi-jadi itu kini menjadi lega, karena noze datang dengan berlari kearahnya, senyumanya lebar, matanya sampai tak terlihat, ia berlari dan tidak lupa ia selalu membawa kotak kardus, agil menduga bahwa itu makanan.
"Ah maaf" katanya dengan suara yang lirih dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kenapa kau tidak memberitahuku dimana tempatmu berkerja, aku bisa menjemputmu"
Noze hanya tersenyum, lalu ia menyodorkan kotak makanan itu, dan benar kotak itu berisi dua hamburger, noze menyuruh agil untuk duduk dikursi dekatnya itu, untuk memakan hamburger bersama.
Sejujurnya ini sudah beberapa kali pertemuan antara mereka, tapi dari sekian banyak pertemuan itu, agil tidak pernah tahu dimana pekerjaan noze sebenarnya, ia hanya memberitahu agil jika noze bekerja sebagai pelayan direstaurant, karena sudah beberapa kali bertemu mereka semakin dekat, mereka bisa melihat sifat asli satu sama lain.
Bagi agil, noze seorang yang pekerja keras, sabar, dan sangat baik, ia seorang yang selalu memikirkan perasaan orang lain, tanpa memikirkan dirinya sendiri, ia juga wanita tercantik yang pernah agil temui, tapi untuk saat ini, agil tidak bisa menyukainya, agil hanya menganggapnya teman, walaupun sempat berpikir apakah agil jatuh cinta atau tidak tapi setelah merenung bahwa perasaannya memang bukan untuk mencintainya.
Agil melihat ada beberapa luka memar ditubuh noze, ditangan, dan dileher, "Kau kenapa?"
Noze hanya menjawab, "Ini aku tadi jatuh saat berlari kearah sini, tidak apa-apa kok" lalu ia menutupinya dengan jaketnya.
"Kau sudah lama menungguku disini ya!"
"Tidak masalah, aku juga sudah terbiasa menunggu lama kamu disini kan" ucap agil seraya menguyah hamburger.
"Kau setelah bekerja biasanya apa yang kau lakukan?"
"Emmm bermain game dan bertemu kamu"
Banyak hal yang harus mereka perbincangkan tapi sebenarnya banyak hal-hal yang tidak penting yang mereka bicarakan, karena hal itu mereka sampai tak sadar hari sudah semakin sore.
Digang kompleks rumah noze yang sepi, noze menghentikan langkahnya, ia menatap rumahnya dengan tatapan kosong, dipikiranya percuma ia pulang karena tidak ada yang mengharapkan dia pulang, setiap hari pikiran itu selalu muncul diotaknya.
Ia melangkah malas, membuka pintu, ia sudah disambut kedua orang yang sedang mabuk diruang tamu, banyak barang-barang berantakan diruangan itu, noze lalu mengambil sapu dan membersihkannya.
"Kau tidak lelah membersihkan tempat ini? ini akan menjadi percuma karena yang kami lakukan disini setiap hari dan akan seperti ini lagi" saut seorang wanita setengah tua.
"Ibu, karena ini tugasku bukan?"
Noze hidup dengan ibu dan pamannya, ayahnya pergi bekerja saat noze berumur lima tahun, namun setelah itu noze tidak tahu keberadaanya, karena sampai saat ini ayahnya tidak pernah menghubunginya lagi.
"Dimana uangnya?" ucap seorang laki-laki yang masih sibuk dengan rokoknya.
Noze merongoh saku jaketnya, dan menyodorkan uang.
"Segini?"
Noze hanya terdiam lalu ia masuk kedalam kamarnya.
"Sial, anak tidak tahu diri, kau memberi uang hanya segini? kurang ajar aku tidak mau tahu besok kau harus mendapatkan uang banyak!!!" ucap ibunya.
Noze hanya terdiam seraya menjatuhkan tubuhnya dikasur, omelan seperti itu sudah sering noze dengar, hampir setiap hari, karena sudah terbiasa noze hanya diam tak menjawab ia hanya terdiam dan menutup matanya.
Sering kali noze merasa sepi, karena yang ia lakukan ketika dirumah adalah mendengarkan suara-suara kasar dan toxic, ibu dan pamannya hanya duduk dan menikmati minuman keras, seraya menghambur-hamburkan uang, sebenarnya noze sudah memilik simpanan tanpa mereka sadari, ini adalah biaya untuk makan sehari-hari, dan membayar uang sewa rumah, dan kebutuhan lainnya, noze tidak pernah menyimpan uang untuk masa depannya, pekerjaannya benar-benar sangat melelahkan dan itu tidak cukup bagi mereka, seadainya noze pergi dari neraka ini, tapi noze tidak bisa seperti ada sesuatu yang tidak bisa ia tinggalkan, ibu.
Ibunya memiliki penyakit kelenjar getah bening, karena ibu noze adalah orang yang toxic didalam kehidupannya, ia lebih mementingkan ber foya-foya dan mabuk, noze menyimpan tabungan untuk kehidupan sehari-hari dan menyimpan tabungan untuk kesembuhan ibunya, ia tidak bisa meninggalkanya begitu saja, seperti apa pun itu ia tetap ibumu.
Sebenarnya sudah beberapa kali noze melarikan diri, namun ketika pergi dan jauh dari ibunya ia ingin kembali dan ingin dekat lagi dengan ibunya, entahlah bisikan-bisikan itu selalu muncul, dimana ia selalu memikirkan pikiran yang sulit.
Ditambah lagi ibunya sering menahannya untuk jangan pergi meninggalkanya, noze sadar akan perlakuan kasar ibunya padanya, namun ia tidak bisa membencinya.
"Kau tahu dari dulu kita hidup seperti ini, setelah pria brengsek itu pergi hidup kita hanya seperti ini" ucapnya.
Noze menahan tangisannya.
"Jadi aku berharap padamu jangan meninggalkanku kau tahu kan aku sedang sakit?"
"Tapi tolong berhentilah seperti ini bu.." ucap lembut noze.
"Kau ingin aku berhenti? kau ingin melihatku mati? didepanmu"
Noze menahan air matanya, ia menundukkan kepala.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?" batin noze.
"Kau tetaplah bekerja seperti itu, kau ingin melihatku sembuh kan?"
Tidak ada alarm yang membangunkan noze, tiba-tiba ia terbangun pukul tiga pagi, ia mendengarkan suara ibunya yang merengek kesakitan, dengan perasaan yang kawatir noze beranjak untuk menemui ibunya.
"Air!!! ambilkan aku air!!!"
Dengan nafas yang terengah-engah noze mengambil cangkir berisi iar putih dan membantu ibunya untuk minum.
"Aku tidak bisa berjalan karena pusing"
"Sudah aku bilang ibu berhenti meminum minuman seperti itu"
"Apa katamu?"
"Sudah beberapa kali aku menjawab pertayaan busuk itu" lanjutnya.
"Kenapa ibu keras kepala!!! aku bekerja susah payah dengan perasaan yang terpaksa!! mendapat uang tidak semudah itu tapi kenapa ibu malah seperti ini"
Dengan suara seraknya ia menjawab, "Kalau begitu pergilah tidak usah pedulikan aku, jika kau pergi hidupmu akan sama saja, kau tega melihatku sekarat seperti ini setiap harinya"
Seperti ditusuk pedang hatinya sakit saat ibunya mengatakan hal itu, rasanya hatinya tidak ikhlas harus berpisah denganya walaupun noze tahu apa yang mereka perlakukan pada noze.
Ketika jam berjalan begitu cepat, noze bersiap untuk pergi bekerja, ia berhenti ketika pamanya duduk merokok didepan rumahnya, karena tak ingin basa-basi noze hanya melewati saja namun dihentikan oleh pamanya yang memanggilnya.
"Bagaimana kerjamu?" ucap pamanya seraya menghirup rokok.
Noze berhenti, ia tepat membelakangi pamannya itu, karena malas noze hanya menjawab, "Biasa saja"
"Kau tidak menyesal kan sudah aku rekomendasikan disana?"
Noze lalu menoleh, "Terima kasih" ucap noze singkat.
Ia berdiri dan melangkah kearah noze.
"Kau menikmati pekerjaan itu kan?"
Dijalan pagi yang dingin, kota yang mulai sibuk dengan aktifitasnya, noze berjalan tak fokus, yang hanya dipikirnya adalah tentang berantakanya hidupnya, sesekali ingin rasanya noze hilang dari bumi dan bisa terlahir kembali, kenapa ia terjerumus di hal-hal semacam ini, tapi jika dia tidak melakukan hal ini, keluarganya semakin hancur lebur.
Karena tidak fokus, pikiranya masih kemana-mana, noze menabrak seorang laki-laki yang ada didepannya.
"Ah maaf" ucapnya tanpa menoleh wajah laki-laki itu.
"Hei!" ucap laki-laki itu.
Noze menoleh, "Ah! agil"
"Kau akan pergi bekerja?"
Dengan salah tingkah noze menjawab, "iya gil, aku sudah terlambat"
"Maaf menganggumu ya, tapi bisa kan nanti setelah pulang kerja bisa bertemu denganku di tempat biasa?"
Noze hanya mengangguk, dan pergi begitu saja, agil terdiam dan tidak begitu memikirkannya kenapa noze sedikit berbeda karena pikirnya, noze sedang banyak masalah.
"Masih jalan sama wanita itu?" ucap randi seraya mengambil minuman dimeja.
Agil mengangguk.
"Kalau dilihat-lihat ya gil kayaknya wanita itu gak bener" lanjut gilang.
"Kenapa bisa menyimpulkan seperti itu, aku yang sudah kenal dia dekat, tapi dia baik-baik saja"
"Kau tidak tahu yang sebenarnya gil"
"Aku tahu, dia hidup dengan ibu dan pamannya, memang keluarganya seperti itu kasar, dan yaaa mabuk dan sebagainya"
Randi dan gilang hanya menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Jangan sampai kamu menyesal ya gil"
"Aku tidak menyukainya, sudah beberapa kali aku mengatakannya kan? aku hanya menganggap dia temanku"
"Kau pernah diajak kerumahnya?"
"Tidak, karena ya aku tahu kisah hidupnya, aku yang sering mengajaknya datang kerumahku"
Ditempat biasa, dipinggir jalan, agil duduk seraya menunggu kedatangan noze, sebenarnya sudah tiga puluh menit agil menunggu disini namun, noze tetap tidak datang, agil mencoba berpikir positif, namun empat menit terlewatkan, hingga satu jam, agil masih duduk menunggu di kursi jalan, hingga malam tiba, hingga hujan datang dengan deras, agil menepi didepan toko, dia kembali membuka handphone dan menelfon namun tidak ada yang menyahut, sudah banyak pesan yang agil kirim namun tidak kunjung dibalas.
Agil lalu beranjak dan kembali kerumah, agil sontak kaget saat melihat dimeja depan rumahnya ada sebuah kotak, dan agil yakin itu adalah dari noze, dengan senyum yang lebar, agil mengambil kotak itu dan membukanya, namun agil terkejut karena isinya bukan makanan seperti biasa, namun itu sebuah surat.
Agil membukanya dan membacanya.
"Agil terima kasih ya sudah menjadi teman baruku, karena kalau aku tidak bermain game itu aku tidak akan bertemu kamu, terima kasih juga karena ada kamu hidupku menjadi sangat indah, walaupun saat kembali kerumah aku akan masuk kedalam neraka lagi, hahahah, agil kenapa ya kau bisa baik hati, ah refa juga saat aku mengunjungi rumahmu, refa ramah sekaliii seperti kamu, maaf ya kamu kira kotak ini isinya makanan ya! ah iyaaaa maaf juga aku tidak bisa datang sesuai janji kamu itu, karena ada pekerjaan mendadak jadi aku harus bekerja, mungkin lain kali? ah atau tidak ya gil, mungkin udah saatnya kita berpisah jangan cari aku ya gil, karena nantinya kau akan menyesal, bye the way namaku bukan noze hahahaha"
Agil menjatuhkan surat itu dan sontak ia terjatuh, agil masih terdiam tak bergerak, membaca surat itu, "Ini tidak mimpi?"
Agil mencoba menghubungi nomer telfon milik noze namun tidak diangkat, dengan perasaan yang acak-acakan agil bangkit lalu ia berlari, ia tidak peduli dengan hujan.
Ia menerobos hujan lebat itu, tujuannya adalah rumah noze, apapun yang terjadi agil berharap noze masih menunggu agil datang, agil sudah memikirkan tentang hal-hal yang aneh sepanjang jalan, ia menambah kecepatan larinya, hingga entahlah banyak sekali orang-orang berpapasan dengan agil dan agil tabrak berkali-kali ia tidak peduli, yang ia pedulikan hanya satu keselamatan noze.
"Tunggu aku noze!!!!"
Agil mendobrak pintu rumah noze, namun tetap tidak ada jawaban, berkali-kali agil mendobrak, namun tetap tidak ada jawaban, agil berteriak hingga seseorang laki-laki membuka pintu itu.
"Siapa?" tanya polos laki-laki itu.
"Apakah noze ada dirumah ini?"
"Noze? siapa noze?"
Agil memutar bola matanya seraya mengacak-acak rambutnya, ah iya hampir lupa noze memalsukan namanya.
"Apakah kau pamannya?"
"Ah kau temannya jihan?"
"Maaf ya dia sibuk bekerja, dia tidak bisa untuk foya-foya berteman dengan siapa-siapa" lanjut laki-laki itu seraya menutup pintu dengan kasar.
Agil beberapa kali sangat ketakutan dan kawatir, ia berlari mencari dimana pun berada, mencari ditempat yang biasa mereka kunjungi, agil mencari di berbagai restaurant daerah itu namun tidak ada keberadaan noze, hingga agil duduk dikursi jalan dengan perasaan pasrah dan berantakan.
"Apa yang kau lakukan? kemana perginya kau?"
Disaat yang bersamaan, ia mendengar sirine ambulan yang datang, ambulan itu sangat cepat melewati agil begitu saja, ambulan itu berjalan kearah gang kompleks perumahan noze, mata agil menatap tajam ambulan itu dan berlari mengikutinya.
Hatinya seperti diremas, hatinya kembali sakit ketika apa yang dilihat didepannya, beberapa orang ramai-ramai datang mengerubungi wanita yang sudah berlumuran darah dijalan, agil mendekat.
"Aku mohon jangan diaaaa aku mohonnnn" batinnya.
Seseorang keluar dari mobil ambulan, dan beberapa orang juga keluar dari dalam box ambulan, mereka mengeluarkan branker pasien dan mengangkat tubuh wanita itu, seorang wanita dengan laki-laki yang agil temui tadi datang dengan menangis, agil bisa menebaknya, agil bisa melihat jelas siapa dia, tubuhnya tiba-tiba tidak bisa bergerak, matanya mengeluarkan air yang berjatuhan begitu saja.
Ambulan itu lalu pergi begitu saja membawa tubuh wanita itu, dan kedua orang yang tinggal dengannya.
"Noze?......."
Bahkan tubuh agil tidak bisa mengejar ambulan itu, ia mendekat dan melihat dengan jelas jalan yang berlumuran darah, dan mengalir karena air hujan, agil menunduk melihat darah itu, darah wanita yang selalu mengirimkan kotak makanan untuknya, yang selalu datang tepat waktu disaat ada janji bertemu.
"Nak? apakah kau pacarnya?" ucap seseorang ibu-ibu membawa payung dan ia menyodorkan payung untuk agil.
Agil hanya menatap kosong ibu-ibu disampingnya, dan menerima payung itu dengan lemas.
"Sabar ya nak" ucap ibu-ibu itu seraya meninggalkan agil.
Orang-orang yang tadi berkerumun melihat tubuh tergelak akhirnya kembali kerumah mereka masing-masing, dan sekarang yang masih terdiam hanyalah agil disini, masih menatap darah itu, darah yang mengalir, tubuh basahnya itu tidak bisa ia gerakan, hatinya hancur.
"Apakah aku telat?" batinnya.
"Apakah aku bodoh?"
__ADS_1
Kenapa luka lama kembali lagi? bahkan untuk menangis saja sudah seperti mati rasa.
"Kenapa dulu aku harus kenal denganmu?"