Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Ruang Bawah Tanah


__ADS_3

Randi menyelusuri setiap jalan setapak diperkebunan disebelah perumahan Majestic, seraya menahan tangisnya ia berjalan dengan langkah yang lemas.


Ia terus mengingat saat Leon menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apakah benar? kenapa ia setega itu?" gumamnya.


Ia duduk disebuah batang kayu yang jatuh ditanah, seraya melihat perkebunan buah persik disana, memang ada beberapa petani yang berdatangan atau sekadar mengambil buah persik, tapi hak itu tidak menganggu Randi, tanpa memperdulikan sekitar ia menangis.


Kenapa aku merasaka pilu lagi dan lagi? entahlah padahal dia adalah teman baru yang baru saja aku temui, tapi kenapa rasanya aku seperti kehilangan harta yang sangat berharga.


"Ran..." ucap seseorang yang tiba-tiba datang.


Suara yang Randi kenal, Randi menoleh.


"Gilang?!?!" Randi melotot seraya berdiri dengan spontan.


Gilang lalu duduk disampiang Randi tanpa memperdulikan Randi yang masih syok.


"Kenapa? duduk sini" Gilang mempersilahkan Randi untuk kembali duduk.


Seraya masih syok, Randi terbelalak tak henti-henti menatap Gilang.


"Kau kaget aku ada disini?" sahut Gilang.


"Lang, ngapain kesini? memangnya Lidra tidak memberitahumu?"


Gilang hanya tersenyum.


"Aku rindu kau Ran, kenapa kita berkerja sama mencaro jawabanya, kenapa kau harus meninggalkanku?"


"Tidak, bukan begitu lang..."


"Apa?" sahut Gilang.


"Aku hanya menunggumu disana, seraya berpikir apakah Randi sudah melupakannku, bahkan aku juga masih memikirkan Agil" lanjut Gilang.


Randi menundukan kepalanya.


"Kau tidak ingat? saat hidup kita normal dulu saat masih ada didunia kita? kemana pun kita mendapatkan masalah, kita selalu melakulan dengan bersama-sama, tidak terpencar seperti ini"


"Aku tahu lang, aku tahu" ucap Randi seraya berdiri dihadapan Gilang.


"Apakah kau seorang penghianat?"


Pertanyaan Gilang membuat Randi terdiam sejenak.


"Apa katamu?"


Gilang berdiri, ia menghelan nafasnya.


"Kenapa kau seperti ini?"


"Kau pikir aku egois melakukan ini? ini juga bukan untuk kita saja, untuk manusia yang juga tersesat seperti kita"


Tiba-tiba Gilang memukul wajah Randi dengar keras, tapi...


"Hah!!!" teriak Randi, terbangun.


Nafasnya terengah-engah, ia bangun setelah tidak sengaja ia terlelap diperkebunan buah persik.


Seorang bapak-bapak tua mendekat.


"Maaf nak, saya sangat ketakutan saat anda ngigau beberapa kali..." sahutnya.


Randi lalu berdiri dan menundukan kepalanya.


"Maafkan saya pak.."


Bapak tersebut lalu berlalu begitu saja, Randi terdiam sejenak, ia mengambil botol air dari dalam tasnya.


"Apa tandanya aku harus kembali ke istana Aleris?"


Randi lalu beranjak, tapi ia tersentak saat melihat siapa yang ada didepannya, seraya melipat kedua tangannya didada.


Randi terbelalak, dan menampar dengan keras wajahnya.


"Aw" rintihnya.


"Tidak, tidak, kau tidak bermimpi..." sahut Aleris.


Aleris mengajak Randi untuk mampir disebuah kedai disuatu pusat kota diMajestic, tentu kedai yang tidak biasa, kedai yang sangat berkualitas.


"Kenapa sih? kau ingin terus membuatku bisa pulang ke istanamu?" ucap Randi seraya duduk disebuah kursi kayu dikedai tersebut.


Seraya membawa sebuah nampan berisi dua gelas air hangat, seraya meletakannya dimeja mereka, Aleris menjawab.


"Tidak, kata siapa?" sahut Aleris.


"Kenapa kau selalu datang kepadaku?"


"Kau tidak paham? aku hanya mengajakmu makan disini...."


Randi kehabisan kata-kata, ia lalu menyeruput air gelas itu dengan tergesa-gesa.


"Hahhhhhhhhh!!!!" teriak Randi.


Air gelas yang Randi minum, ternyata masih sangat panas, tanpa aba-aba Randi menyeruput begitu saja. Aleris hanya tertawa kecil, sedangkan Randi yang terus merintih kesakitan.


"Kau yang kenapa" ucap Aleris.


Selang beberapa menit, saat menu makanan mereka sudah datang, dan siap untuk dilahap, dengan mulut yang masih penuh dengan makanan Aleris manyahut.


"Akan aku ceritakan tentang hubunganku dengan Malucia...."


Seraya mengambil lauk untuk ia masukan kepiringnya, Randi memutar bola matanya, seakan perbincangan iki tidak ada gunanya baginya.


"Aku dan Malucia memang sedang menjalin hubungan..."


Randi tiba-tiba tersedak, "Sungguh?"

__ADS_1


Aleris mengangguk, "Kenapa kau pura-pura tidak tahu? aku pikir aku sudah tahu"


"Memang, tapi aku belum seratus persen yakin"


"Yasudah sekarang gantian kau..."


"Apanya?" tanya Randi.


"Hubunganmu dengan Lidra" ucap Aleris.


Randi langsung membuang nasi yang sempat akan ia masukan kedalam mulut, nafsu makannya tiba-tiba hilang.


"Kenapa, kenapa aku dengannya? kau berpikiran apa?"


"Sudahlah, aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik" sahut Aleris seraya merapikan meja, menyeruput air minum dan beranjak pergi.


Randi masih terduduk disana, menikmati air minum yang sangat menyegarkan.


Kenapa dia? seharusnya yang keluar dari mulutnya adalah "ayo tinggal di kerajaan"


Randi lalu pergi, ia akan mencari sebuah penginapan kecil untuk tempat tinggal sementara. Ia berjalan seraya meminkan batu kecil dengan tangannya, ia lempar-lempar keatas, namun tiba-tiba seseorang menangkapnya begitu batu itu terlempar keatas.


Randi mendongak. Pria itu tersenyum, seraya membuang batu kecil itu.


Bukankah dia yang ada di kerajaan waktu itu?


"Kau kaget?!?" sahut Varegar.


"Ah tidak"


"Kau sedang mencari tempat tinggal?"


Randi hanya bisa mengangguk.


"Baiklah ikut aku, aku akan tempat untukmu.."


Apakah ini kesempatanku juga? sepertinya aku akan tinggal dikerajaan


"Apakah boleh?"


Varegar tertawa, "Tentu saja sangat boleh, apalagi kau sahabat Aleris bukan?"


Randi terkejut, "Kenapa kau tahu?"


Varegar hanya menggeleng, "Ayo cepat ikut aku"


Memang jalan setapak ini memang mengarah ke kerajaan, namun Varegar melewatinya, ia berjalan tanpa menoleh kearah kerajaan, tentu hal itu mrmbuat bingung Randi.


"Tuan, kenapa kau melewati kerajaan"


Namun tidak ada jawaban, Randi terus mengikuti Varegar. Hingga ia berhenti disebuah ruangan cukup besar, seperti kandang sapi atau kerbau. Randi mengikuti Varegar dengan sedikit ketakutan.


Dimana aku? apakah aku akan baik-baik saja?


Varegar menoleh seperti tahu apa yang sedang dibatin oleh Randi.


"Santai saja, aku tidak akan menyakitimu, ikuti saja aku..."


"Ayo..."


"Sungguh? saya tidak masuk kedalam..."


Varegar tertawa.


"Ini tempat yang sangat bagus, memang tersembunyi tapi sda perlengkapan yang sangat komplit didalam, aku janji aku tidak akan menyakitimu...." sahut Varegar.


Walaupun Randi belum seratus persen bisa percaya kepadanya, namun ia akan tetap mencoba, bukankah dia adalah salah satu orang kerajaan? mungkin dia bisa membantu Randi.


Randi mengikutinya, ia masuk, dan turun dari tangga tersebut, terowongan yang gelap itu berubah menjadi cerah saat ia melihat sebuah Matrix besar yang terus berputar ditengah ruangan. Randi berjalan melihat kebawah Matrix itu, ia melihat ada banyak orang yang berkerja untuk itu.


Tempat ini seperti studion, dan Matrix tersebut melayang ditengah-tengah, apa itu?


"Jangan kaget, itu adalah salah satu penelitian raja Gevar..." sahut Varegar.


Varegar melangkah diikuti Randi, ia berhenti disebuah pintu kamar.


"Ini kamarmu..."


Randi menundukan kepalanya, berterima kasih.


Varegar lalu membuka pintu kamar itu, betapa terkejutnya saat kamar tersebut sangatlah indah, dihiasi beberapa berlian dan emas yang menempel ditembok kamar.


"Tuan, ini benar? saya boleh tinggal disini?"


Varegar hanya tersenyum.


"Silahkan, saya melihatmu sangat iba ketika kau datang ke kerajaan, jadi karena saya sudah melihatmu, bukankah kita sudah saling melihat satu sama lain? kadi saya ingin kita bisa mengenal lebih dekat dan membuatmu bisa tidur nyenyak..." gumam Varegar.


Segera Randi melepaskan tasnya, ia duduk dikasur dan melihat-lihat seiisi ruangan tersebut dengan girang.


"Baiklah kau bisa mencuci tubuhmu dipintu balik lemari, aku akan menunggumu di depan..." sahut Varegar beranjak.


Randi mengangguk cepat. Ia bahkan beberapa kali menampar pipinya, ia tidak ingin ini hanya mimpi indahnya saja, ternyata ini benar-benar terjadi.


Varegar melangkah mendekati raja Gevar yang ada pagar ruangan tersebut, seraya ia menghisap rokoknya. Varegar menundukan kepalanya.


"Sudah?" sahut raja Gevar.


"Dia sangat mudah tuan...."


Raja Gevarnest tersenyum.


"Dia akan melihat orang-orang sama dengannya disana" gumam raja.


Sebuah Matrix yang melayang dengan cahaya biru yang mengelilinginya. Matrix yang dibuat oleh Varegar adalah sebuah komponen energi dari yang ia dapatkan, kristal berbentuk piramida yang dihiasi kaca berwarna merah, dimana didalamnya berisi liontin bulat yang melayang.


Ruangan bawah tanah yang mereka injak sekarang adalah sangat persis dengan studion, dimana ada tempat untuk duduk irang-orang diatas dan mereka bisa melihat seseorang yang beraksi dibawah.


Randi membuka tasnya, namun ada yang hilang dari tasnya, ia mencoba membuka tasnya lebar mengeluarkan semua barang.

__ADS_1


"Ah buku!!! dimana dia!!!"


Randi mencari-cari disekeliling namun ia tidak menemukannya.


"Aku harus mencarinyaa, tidak bisa aku tanpanya aku harus mendapatkan buku itu!!!"


Randi membuka pintu, namun yang ada didepan pintunya sekarang adalalah Varegar.


"Ada apa?" ucap Varegar.


Dengan gugup, Randi hanya menjawab.


"Tidak ada tuan, aku hanya ingin cepat keluar dan melihat keluar.."


Randi mengikuti Varegar, saat dari jauh Randi sudah melihat ada raja Gevar yang duduk menunggunya disana, ketika Randi telah sampai raja Gevar lalu berdiri dan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Randi menerimannya lalu ia duduk disamping raja Gevarnest.


"Senang bertemu denganmu lagi disini...."


Randi hanya tertawa kecil.


"Aku ingin mengenal lebih dekat lagi denganmu, jadi aku memutuskan untuk membawamu kesini.."


"Iya tuan saya sangat senang bisa mendapatkan tempat ini, saya juga sedang mencari-mencari penginapan" ucap Randi.


Tiba-tiba ada sesuatu yang menganjal didalam pikirannya ketika melihat Matrix tersebut.


"Tuan, apakah Matrix itu ada didalam kerajaan juga?" tanya Randi.


Varegar dan raja Gevar spontan menatap Randi.


"Kau melihatnya ya?"


Randi mengangguk.


"Seperti yang kau tahu, tempatku bukan tempat yang indah seperti diduniamu, ini adalah penyangkal iblis dan monster saat mereka menyerang kota Majestic..."


Apakah aku harus yakin dengan apa yang mereka kasih kepadaku? aku tidak boleh lengah, mereka mungkin memiliki rencana, tapi aku sangat berterima kasih karena mereka memberikan tempat tinggal yang sangat baik disini.


"Kau bisa lihat orang-orang yang sibuk bekerja dibawah sana? mereka megabdi kepada negara dan semesta untuk kita, merek adalah experimen yang dibuat oleh saudaraku" ucap raja seraya menatap Varegar.


"Maksudnya tuan?"


"Ksu mungkin belum tahu, dia adalah seorang profesor yang sangat pandai masalah experimen, Matrix itu salah satu ide gila Varegar, oh ya dan satu lagi pria ysng tidak bisa aku sebutkan...."


"Apakah saya dibawa kesini untuk ikut bergabung dengan mereka juga?"


Raja Gevarnest berdiri, ia melangkah didepan Randi yang masih duduk.


"Kau bisa?" ucap raja seraya menatap tajam kearah Randi.


Randi tersentak, ia menatap kebawah, dimana orang-orang itu berada.


"Jadi? memang benar? saya dibawa kesini untuk itu?"


"Suuttt..." sahut raja seraya menutup mulut Randi dengan tangannya.


"Kau tahu? saat kau ingin mengabdi untuk negara, ada imbalannya, kau bisa pulang keduniamu...." bisik raja, wajahnya mendekat ketelinga Randi.


Randi spontan berdiri.


"Tuan? sungguh? saya bisa pergi dari sini? sungguh?" teriak Randi kegirangan.


Raja Gevarnest mengangguk.


"Sangat bisa, sangat sangatlah bisa maka dari kau bisa berkerja untukku"


"Lalu bagaimana bisa?" tanya Randi.


Raja Gevarnest kembali duduk disamping Randi.


"Matrix itu adalah bukan sembarang Matrix, bahkan ia bisa membasmi iblis dan monster selain itu, dia bisa membuatmu kembali kedunia mu, dengan....."


"Dengan apa tuan?" sahut Randi.


"Satu pengorbanan" bisik raja.


Satu pengorbanan? apa itu.


"Apa itu tuan?"


Raja Gevarnest berdiri, "Saya tidak bisa memberitahumu sekarang, baiklah kau bisa bekerja besok"


"Dan kau tahu? selama ini aku berusaha untuk mencari tahu apa penyebab orang-orang asing masuk kedunia ini" ucap raja seraya beranjak pergi diikuti Varegar dibelakangnya.


"Tunggu tuan!"


Raja Gevarnest dan Varegar menoleh.


Dengan gagap Randi berkata, "Emmm...apakah saya boleh keluar sebentar? saya ingin menemui teman saya sebentar"


Spontan Varegar mendekati Randi.


"Siapa dia? Aleris?"


Randi terbelalak seraya menjawab, "Tidak tuan, teman baru yang saya temui dikota Majestic"


"Janji kepadaku jangan kau beritahu siapa-siapa hal ini kepada semua orang, aku bisa membunuhmu, karena ini adalah pekerjaan rahasia, dimana jika mereka tahu, Matrix yang akan menyelamatmu tidak bisa digunakan dengan baik, karena apa? semakin orang-orang tahu, mereka akan datang berbondong-bondong meghancurkan Matrix ini, karena kau tahu isu itu? mereka menganggap kita berkerja sama dengan iblis, mereka akan mengira ini adalah benda iblis!" pekik Varegar lalu ia beranjak pergi dengan raja.


Masih ditempatnya, ia kembali duduk dengan perasaan yang lemas, pikirannya kemana-mana. Apakah Randi masuk kedalam sarang kejahatan?


Aku akan segera mendapatkan buku itu, lalu menyimpannya, akan aku baca seratus kali hingga aku paham isinya.


Ia tersentak spontan berdiri saat ia mengingat, saat raja berbucara dengannya ia melihat sebuah liontin yang dipakai dileher raja, liontin bulan.


Yang aku ingat, jika raja memakai liontin bulan, makan memang benar kejahatan ada ditangan raja, lalu bagaimana aku? apakah kau sudah terperangkap disarangnya? tapi ia berjanji akan menyelamatkanku, maksudku menyelamatkan orang-orang yang tersesat didunia ini.


Randi melangkah dipagar besi, ia menatap tajam Matrix yang besar, matanya mengeluarkan cahaya biru karena tersorot oleh Matrix tersebut, lalu ia menatap orang-orang yang bekerja dibawah sana.


*Apakah mereka tidak lelah? apakah aku harus percaya dengan omongan raja? katanya ia tidak tahu soal ini, tapi ternyata ia memiliki benda ini untuk bisa memberikan jawaban kenapa orang-orang yang tersesat, mungkin ada sesuatu yang harus ia sembunyikan

__ADS_1


Tenang lang, gil. Aku akan mencari jawaban secepatnya aku tidak perduli nyawa taruhannya, yang terpenting aku bisa menyelamatkan orang-orang disini agar bisa kembali ke dunia mereka dan menjalankan aktifitas mereka seperti dahulu kala*.


__ADS_2