Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Malvory


__ADS_3

Agil menjatuhkan tubuhnya ke semak-semak, tubuh penuh keringat, nafasnya terengah-engah, cuaca hari ini sedikit terik, wajahnya pucat dan lemas, sepertinya agil akan jatuh sakit, batinnya, akhirnya ia bisa bernafas lega, dimana pembangunan rumah milik para manusia kurcaci ini terselesaikan dengan baik.


Argus mendekat dan duduk disamping agil, ia beberapa kali menepuk pundak agil, agil bisa merasakan bahwa kami sudah melakukan pekerjaan dengan baik, walaupun bagi agil ini merusak momennya, merusak perjalanan bisnisnya, sudah hampir lima hari pembuatan rumah milik para manusia kurcaci ini di garap, bukan menyesal karena ia mendapatkan masalah dengan pra kurcaci itu, mereka menyesal akhirnya pekerjaan itu selesai dan harus berpisah dengan mereka.


Agil sempat membenci para kurcaci itu, tapi setelah beradaptasi dan kenal satu sama lain, agil merasaakan kekeluargaan yang kental disana dimana ia tidak pernah merasakan sebelumnya.


Agil salah menilai manusia kurcaci yang bernama emon itu, memang dari awal dia sangat menjengkelkan, tapi setelah kenal lebih dekat ia sangat baik, bahkan lebih baik dari dirinya sendiri.


"Kerja bagus!!" Tiba-tiba emon datang.


"Dengan demikian rumah ini tidak akan rapuh dimakan usia dan tidak akan rusak karena angin ribut" lanjutnya.


"Disini banyak terjadi angin ribut ya?" Tanya agil penasaraan.


"Disini sering, jadi waspada saja"


Emom duduk didepan argus dan agil, "Kalian ingin ke kota Lander bukan?"


Argus mengangguk, "Aku sudah sering kesana dan baru kali ini aku melewati jalan ini"


"Ah kau sering lewat jalan yang didaerah sana ya? Kenapa kau melewati jalan yang susah?"


Agil terlihat kebingungan menatap kedua manusia yang ada didepannya, karena agil pikir ini adalah jalan salah satunya.


Argus melotot didepan wajah emon ia mengode bahwa jangan bercerita didepan agil, karena paham yang diisyaratkan argus emon lalu tertawa.


"Kenapa kau?" Tanya agil.


"Banyak rintangan yang akan kau lewati nantinya dari sini menuju ke kota Lander"


"Aku tahu karena sebelum menuju kesini sudah ada banyak rintangan yang kami lewati"


"Ya karena sebab itu kau harus fokus gil" sahut argus.


"Di kota Lander kau akan melihat beberapa orang yang tersesat seperti itu, bedanya mereka dijadikan budak"


Agil kaget, "Budak? Bisa-bisanyaaa"


"Emmmm bukan budak, mereka lebih memilih menjadi pelayan dari mereka untuk menyelesaikan misinya dan kembali ke kehidupannya" tepis argus.


"Tunggu paman, kenapa aku tidak menjadi pelayan saja"


"Setiap orang mendapatkan misinya masing-masing"


"Paman kenapa kau tidak memberitahuku awal-awal"


"Ya karena nantinya kau akan tahu dengan sendirinya seperti ini kan?"


Setelah membersihkan beberapa potongan kayu yang berantakan dihalaman, taka duduk termenung menatap rumah-rumah yang sudah dibangunnya ini, berkat emoat orang yang senantiasa membantu mereka, taka terseyum tipis, betapa bahagianya ia bisa merasakan betapa lelahny melakukan pekerjaan ini.


Akhirnya ia bisa tidur dengan tenang, tidak tidur dengan was-was rumahnya kini lebih kuat dari sebelumnya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri gih?" Tiba-tiba tea datang.


Taka tersenyum seraya mempersilahkan tea duduk disampingnya.


"Awalnya aku marah karena perbuatan kalian kepada agil"


"Ah maafkan kami ya!" Sahut taka.


"Tidak masalah karena aku sekarang sudah tahu kan"


"Agil itu adikmu ya?"


Tea membuka matanya lebar karena kaget lalu ia tertawa, "Bukan dia bukan adikku" lalu tea terdiam sebentar dan melanjutkan kata-katanya.


"Tapi aku sudah menganggap dia sebagai adikku sendiri"


Sore itu tea membagikan kisah awal pertama dia dan jay bisa kenal dengan sosok agil, dan menceritakan kisah perjalanan mereka, sempat tea bertanya tentang kejanggalan dunian ini tapi seperti biasa mereka juga bertanya-tanya.


Malam tiba, suara api unggun yang mengglegar dan sebuah daging kijang yang dibakar, mereka berpesta pada malam itu, merayakan hari jadi rumah mereka dan merayakan perpisahan dan rasa terima kasih mereka kepada agil, argus, tea, dan jay.


"Untuk rasa terima kasih kami kepada kalian, kami ingin membuat pesta yang sederhana!!"


Agil menyambut dengan senang hati begitu pula dengan argus, tea, dan jay.


"Sudah-sudah karena aku sudah merasakan lapar, sekarang makan saja!!!" Teriak agil.


Mereka tertawa, sudah lama mereka tidak merasakan kehangatan seperti ini, pesta dan bahagia.


"Sudah lama ya tidak merasakan ini" jay mendekat dan duduk disamping agil.


"Ah padahal baru saja aku ingin mengatakan itu kepadamu"

__ADS_1


Mereka saling duduk melingkar didepan api unggun dan menunggu daging yang matang ditengah api yang membara.


"Karena berkat kalian kita tidak bisa bahagia seperti ini" ucap emon dan diikuti sorak teman-temannya, argus berdiri lalu ia mengatakan.


"Saya senang bisa berpartisipasi walaupaun awalnya tidak begitu antusias karena perjalanan bisnis kami, tapi setelah terjadinya perjanjian kami akhirnya menerimanya dan melaksanakan dengan samgat ikhlas hati, terima kasih untuk pestanya"


Mereka semua bersorak kemudian mereka menikmati makanan mereka hingga malam itu semakin gelap dan sepi, semua orang telah kembali kerumah mereka dan tidur dengan perasaan yang bahagia karena rumah baru mereka.


Argus, agil, tea, dan jay tidur ditempat yang sudah mereka sediakan dirumah salah satu yang kosong, argus meneliti setiap tubuh rumah itu berharap rumah ini akan terasa nyaman, karena sejujurnya pembuatan rumah ini bukan bakat argus.


Pagi tiba, embun sejuk dan sinar hangat mentari menemani perpisahan mereka, agil, argus, tea, dan jay sudah menyiapkan persiapan mereka, dan sudah siap untuk pergi.


Emon dan taka yang mengatarkan perpisahan mereka, hingga mereka benar-benar berpisah diseberang sungai.


"Apakah kita akan bertemu mereka lagi?" Ucap lirih taka.


"Jangan nangis, aku yakin kita akan bertemu mereka lagi" ucap emon seraya meninggalkan taka yang masih tersedu.


Mereka menelusuri hutan, sedikit bahagia karena lepas dari rintangan itu tapi juga sedih harus meninggalkan teman-teman baru disana, agil masih bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman seperti itu, dipikiran agil apakah ada yang lebih sadis dari ini, rintangan demi rintangan agil lewati dan agil belum sama sekali merasakan yang menantang.


"Sekarang kita akan kemana?" Tanya agil disela-sela keheningan.


"Sepertinya kita akan melewati tempat yang bernama Malvory" jawab argus.


"Apa itu paman?" Tanya jay.


Argus menghentikan langkahnya, dan membalikan badannya, "Kata emon tempat indah namun misterius"


Agil menepuk dahinya keras, "Sialan!"


"Aku tidak yakin semisterius apa itu tapi kalian siap kan? Bukankah ini adalah salah satu tugas kita?"


"Kenapa awal-awal kita tidak lewat jalan itu paman jalan yang sering kita lewati" sahut tea.


"Aaa... aaaku sudah lupa" ucap argus berbohong.


Tea mendekat kearah kuping argus dan berbisik, "Bukan begini caranya melatih kami bertiga paman, bagaimana kalau kita mati disini!!"


"Tidak akan te, kau tenang saja"


"Apa-apaan kalian ini" gerutu agil.


Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka, sudah hampir dua jam setengah mereka melewati hutan ini, mereka masih trauma dengan tersesatnya mereka saat jalan dihutan, namun kali ini mereka ditenangkan oleh argus, bahwa argus memang benar sudah tahu jalannya, hal itu sudah begitu membuat perasaan mereka sedikit tenang.


Akhirnya mereka sampai disebuah tempat seperti surga, batu-batu besar berjejeran dibawa air terjun, batu-batu besar yang berwarna kecoklatan namun seperti hidup memiliki cahaya seperti berlian, air sungai itu dikelilingi oleh beberapa pohon besar dan pohon itu memunculkan sinar yang menkilap seperti berlian.


"Paman apakah yang dikatakan emon benar?" Agil menyaut.


Argus masih diam, lalu tea menepis, "Paman aku takut, jika benar ada ular besar disini"


Argus tiba-tiba berhenti, "Tidak bisakah kalian fokus melihat-lihat tempat indah ini?"


"Aku menikmatinya paman, semua yang ada disini mengkilap seperti perhiasan yang terkena sinar matahari"


"Kenapa disini tidak ada berlian yang berceceran atau...... batu ini berlian?" Tanya agil.


"Hanya ada di ular itu"


Agil memutar bola mata, "kita lewati saja tempat ini dan melanjutkan perjalanan kita" lanjut agil.


"Apakah kalian tidak ingin mendapatkan berlian itu?"


Agil melotot, "Coba bayangkan paman! Dia raksasa sedangkan kita kecil sekecil biji jagung, apakah bisa kita melewati itu semua"


"Paman kalau kita mati!!" Ucap tea.


Tiba-tiba argus terdiam, menatap agil, tea, dan jay secara bergantian.


"HUA!!!!!!" argus berteriak.


Agil, tea, dan jay melotot kaget, "Paman hentikan!!!"


Suara ular itu terdengar mengglegar, ekor ular itu keluar dari goa dibawah air terjun.


Agil, tea, dan jay hanya melongo dan ketakutan melihat apa yang dilihatnya, argus hanya tertawa.


"Elang raksasa saja kalian bisa membasmi, apa lagi yang ini"


"Paman ini beda!!!"


Tak perlu basa-basi ular itu keluar, seraya mengeluarkan suara seperti suara mencari sebuah mangsanya, "Hruaaagggg!!!!"


Ular hitam, dengan motif coklat itu keluar, lidah berbisanya keluar dengan panjang, tubuhnya mengkilap bak kristal terkenal sinar cahaya matahari, benar ular itu terbang.

__ADS_1


Argus berlari menuju ular itu berada yang masih sibuk mencari mangsanya, ia memanjat di tebing dan dengan cepat ia mengarahkan busur panahnya menuju diarah matanya, dan benar dugaan agil busur panah itu terkenal dengan pas di mata ular itu, hingga ular itu meraung kesakitan.


"Gil waktunya!!!!!!"


Agil berlari, untuk memancing ular itu ia berlari menampakan diri setelah bersembunyi karena ketakutan, sebenarnya ia sangat merasa takut, tapi jika dia terdiam saja, dia akan lebih merasakan ketakutan.


Pikiranya kemana-mana apakah ini saatnya agil mati dengan damai? ia sudah merasakan kesengsaraan dan apakah ini sudah waktunya, apakah ia bisa melakukannya? membunuh monster mengerikan ini, ular itu menghadap kearahnya, apakah agil bisa? apakah ia akan berlari saja menghindar? tidak!! ini saatnya pergi melawan, jika tidak kau tidak bisa menyelamatkan kedua sahabatmu.


"Disini sialan!!!!!!!" Agil berlari, mata ular itu kekuningan menatap tajam agil, ular itu melayang menuju agil dejgan cepat.


Agil membuka busur panah dan menyerang mata ular itu yang belum terkena busur, ia mengarahkannya, **** ia merasa ragu apakah ia bisa, jay berteriak!


"Gil ayo!!!!!!" seperti disemangati sampai jiwa raga, suara jay membuat agil tersadar ia seperti ingin melawan ular itu dengan kekuataanya dan mendapatkan berlian itu segera.


Dengan cepat ia meluncurkan panah, dan langsung terkena dimata ular itu, ular itu terjatuh dan meraung kesakitan.


"Tea potong ekornya!!!"


Tea berlari menuju tubuh ular itu yang sudah tergeletak, ia langsung memotong ekor ular itu.


"Jayyyyy lariii berikan pedang itu ke agil!!!"


Jay berlari melewati tubuh ular itu dan melempar pedang itu ke arah agil, "Gil!!!!!!!!!"


Agil menerima pedang itu dan ia berlari dengan cepat ia memotong leher ular itu sekali tebasan, darah terceripat dimana-mana dan benar beberapa berlian keluar dari leher ular itu.


Argus tertawa, suaranya keras dan tergema dimana-mana, diikuti tea dan jay.


"Kenapa?"


"Kau hebat kau hebat"


"Tubuhmu sialan, dipenuhi darah" sahut tea.


Mereka lalu mengambil berlian itu, membersihkan diri mereka yang kotor, dan duduk dibawah pohon untuk beristirahat.


"Besar juga kenapa kita bisa sekuat itu"


"Nah itu yang dinamakan strategi yang cerdas" jawab argus.


Argus melanjutkan, "Itu adalah hal yang penting ketika kau melawan musuh mu didepan sana gil"


Agil membayangkan bagaimana musuh hebat diluar sana? Disaat seperti ini saja agil sudah kewalahan yang musuhnyanyang sudah mengerikan seperti ini, tidak bisa membayangkan saat menyelamatkan randi dan gilang disana, yang agil harapkan smeoga mereka bisa menyelamatkan diri.


Agil tidak menyangkan perjalanannya untuk menyelamatkan dua sahabatnya masih sangat jauh, hal semacam ini masih terbilang mudah bagi orang-orang seperti paman, entah apa yang akan dilihatnya nanti setelah ini, apakah jauh lebih membahayakan.


Apakah agil akan mati disini atau mati saat menyelamatkan randi dan gilang, lagi dan lagi agil tidak bisa memunculkan solusi yang tepat ia selalu terombang-ambing dengan pilihannya sendiri, agil berharap tanpa ada agil nantinya randi dan gilang bisa kembali ke kehidupannya semula.


Coba bayangkan ular besar? Dan ia baru saja membasminya? Apakah ini semua mimpi? Terkadang hal yang mengerikan bisa dibasmi dengan mudah asal butub strategi yang cerdas seperti kata paman.


"Cepil ah gitu doang"


Jay menampar pipi agil, "kau tidak akan bisa kalau sendiri"


Agil tertawa, "Paman pedang ini sangat tajam bagaimana caranya kau?"


"Kota lander disana kau akan menikmati berbagai senjata"


Agil semakin penasaran seperti apa kota lander itu.


"Paman apakah monster-monster itu biasa adanya disini?"


Argus mengangguk, "Akan ada yang lebih mengerikan dan aneh"


"Bagaimana bisa?"


"Makanya kau butuh yang namanya berlatih, tidak sembrono pergi begitu saja"


"Tempat ini, malvory akan menjadi tempat pertamamu yang susah kau lupakan"


"Indah tapi mematikan" lanjutnya.


"Santai gil, kau akan cepat bisa, sabar saja dan latihan dengan rajin"


"Kau juga ya!! Aku tidak bisa harus sendiri harus ada pendamping dan itu kau"


Tea tiba-tuba batuk dengan sengaja dan menyenggol lengan argus, "Masih bisa senyum-senyum ternyata"


"Apaan sih iri aja" saut agil.


"Oh iya kata emon kita harus cepat-cepat pergi dari sini, darah dari ular itu akan memunculkan anak-anak ular"


"Apa!?!?"

__ADS_1


"Aku kira sudah mati ya sudah paman!!" Lanjut tea.


"Yasudah ayo kita pergi dan jangan lupa berlian itu kalian simpan baik-baik"


__ADS_2