
"Sepertinya kita harus beranjak menyusul orang-orangmu!" sahut Mahagaskar.
Tea dan Arvand menoleh, mereka berdiri. Tea menyahut.
"Lalu? Timandra?"
"Sepertinya kita harus meninggalkan dia disini.." ucap Leon.
Tentu hal itu tidak disetujui oleh Tea, ia menelak.
"Baik jika kalian yang ingin seperti itu, maka tinggalkan aku sendiri disini"
Spontan Arvand memeggang tangan Tea, Tea hanya melirik sebentar. Leon mendekat.
"Lalu? kau akan membawanya?"
Tea menatap tubuh Timandra yang tergeletak.
"Jika kalian yang memiliki tubuh besar dan kuat seperti ini tidak ingin membawanya, maka aku yang akan mengendongnya..."
Tea lalu berusaha mengangkat tubuh Timandra, namun tiba-tiba sesuai hal terjadi tak terduga. Seperti busur panah yang datang hingga menusuk jatung Jangsal tiba-tiba, hingga menembus tubuhnya, busur panah tersebut tertancap disebuah kayu rumah tersebut seraya tubuh Jangsal yang melayang karena tusukan tersebut.
Darah Jangsal yang keluar hingga memercik kemana-mana, awalanya Jangsal sibuk memperbaiki belati api miliknya namun tanpa sadar busur panah itu datang hingga menusuk tubuhnya, sampai menembus dan panah tersebut tertancap dikayu rumah.
Semua yang berada didekat Jangsal kaget, Leon langsung berjalan kearah depan, dan melihat siapa yang melakukan ini. Dan ternyata Auvamor datang seraya dengan wujud aslinya.
Seorang iblis dengan jubah yang melingkar dikepalanya, namun ia terlihat memperlihatkan wajahnya yang mengerikan, wajah dengan senyuman menyeringai berjalan mendekat, dengan membawa busur panahnya.
Mahagaskar menyahut, "Sembunyi sembunyi!" ucap Mahagaskar.
Tanpa basa-basi, Arvand lalu mengendong tubuh Timandra.
"Dengar, aku bawa dia..." ucap Arvand.
Mahagaskar menyentuh kedua pundak Arvand.
"Pangeran, pergilah dari sini bawa Jangsal..."
Arvand terbelalak, "Aku? bagaimana dengan wanita ini!"
Tea menyahut, "Aku akan membawa Timandra! kalian pikir aku lemah?!"
Rasa sedih dan ketakutan menjadi satu disana, melihat secara langsung serangan dari iblis itu membunuh Jangsal, membuat mereka menahan rasa sedih, mereka tidak harus bersedih dan terdiam merenung disituasi seperti ini.
Arvand membawa Jangsal dan Tea membawa Timandra segera pergi dari tempat itu, Mahagaskar mendekat disamping Leon, melihat iblis itu berjalan mendekat.
"Hentikan ini!" sahut Leon.
Leon berjalan mendekat namun ditahan oleh Mahagaskar.
"Kau menyuruhku untuk berhenti?" pekiknya.
__ADS_1
Tiba-tiba iblis Auvamor itu menentengkan busur panahnya, mengarah kearah Leon dan Mahagaskar. Dengan cepat busur itu terlempar menembak kearahnya.
Leon menangkis dengan elemen tanahnya untuk menjadi penghalang, tanah yang keluar berhasil meenghadang busur panah itu.
***
Arvand berjalan diikuti Tea dibelakang dengan bersembunyi-sembunyi, dibagian jalan tikus diperumahan warga. Mereka juga harus hati-hati dengan kawanan monster kelelawar diatasnya.
Para monster kelelawar itu memang sedang memangsa musuhnya diatas, bahkan ada beberapa yang mencari mangsa dirumah-rumah warga, hal itu tentu sangat tidak memungkinkan untuk mereka lanjut berjalan.
"Dimana keberadaan teman-temanmu?" ucap Arvand.
Seraya dengan keberatan, Tea menjawab.
"Sepertinya dibalik rumah tingkat itu..."
Arvand menolehh dan ternyata rumah yang dimaksud Ttea masih jauh diujung sana.
"Maafkan aku..." ucap Tea tiba-tiba.
Arvand yang kebingungan bertanya, "Maaf?"
"Aku membawa iblis kemari, aku pikir itu memang Agil..." sahutnya.
"Aku sudahh membunuh dua orang dan itu tepat didepan mataku..." ujar Tea.
Arvand mendesah, ia meletakan tubuh Jangsal ditanah. Lalu ia duduk seraya menatap wajah Jangsal.
Tea meletakan tubuh Timandra ditanah, lalu duduk disamping Arvand.
"Bisa kau jelaskan siapa Levaron? siapa Bravogaar?"
"Kau tidak akan paham dengan silsilah keluargaku, intinya mereka orrang dalam kerajaan..."
"Dan aku membunuh sseseorang yang bernama Bravogar teresebut..." sambungnya.
"Aku masih merasa bersalah sampai detik ini...." lanjutnya.
Tea menatap wajah Arvand disampingnya.
"Boleh aku bercerita juga?"
Arvand menoleh lalu ia mengangguk.
"Aku tidak menyangka ternyata ada dunia lain selain duniaku, aku masuk kedalamnya, dan ternyata masih ada orang-orang seprrti ku disini, duniaku tentu lebih modern, tapi ternyata masalah kekuasaan sama saja dengan duniaku.."
"Apa yang terjadi? apakah musuhnya para monster?" ucap polos Arvand.
Tea tertawa, "Wujudnya manusia tapi kelakuaannya seperti iblis..." ucap Tea.
"Pertama kali kau datang kesini, kau bertemu dengan siapa?" tanya Arvand.
__ADS_1
Tea menundukan kepalanya, "Lidra..."
Arvand seperti tidak asing dengan nama tersebut.
"Anak buah Aleris?" ucap Arvand memastikan.
Tea mengangguk, "Coba jelasskan kepadaku, kau tahu tidak? mengapa dia meninggalkan aku dan Jay sendiri ditepi sungai? jika pada akhirnya meninggalkan, sebaiknya jangan pernah menjemput kami, biarkan kami tetap berada diatas awan sampai mati...." ucap Tea.
Arvand menundukan kepalanya, "Aku pernah mendengar tentang rencana Leon, dia memang mata-mata ayahku aku tahu itu, dia menggunakan beberapa prajurit abal-abal untuk mengintai istana Aleris, dan itu memang benar, tapi ada lagi, secara tak langsung juga aku tahu, Varegar dalangnya, ia mengatakan kepada Aleris, tugas baru anak buahnya adalah menjemput para manusia yang tersesat disana, jika tidak mereka akan dibunuh, memang Varegar baik hati bukan? hahaha" sahut Arvand meledek.
"Jujur, jika kau membahas seperti ini, lebih baik dengan Agil, selama ini ia kumpulkan kebenaraannya seorang diri, sampai ia mempunyai firasat Randi dan Gilang masih hidup, ia juga memiliki firasat, jawaban tentang masalah ini ada dikota Majestic.."
"Bagaimana bisa mereka berpisah?" ucap Arvand penasaraan.
"Hebat bukan? merrka masih bertahan didunia yang mengerikan ini? kau tahu Malucia? dia sudah terlalu cinta dengan Agil, hingga ia tidak menaati perintahh atasannya, ia ingin membbawa mereka berrtiga untuk menyalamatkan diri, hingga elang milik Aleris menyerang dan membuat mereka berpisah.."
"Cinta dengan Agil?" tanya Arvand.
Tea menoleh karena ucapan Arvand yang seperti mencurigakan.
"Ada apa?.."
Tea seperti mengigat sesuatu, "Ah!"
Tea ingat, selama ia bertemu dengan Malucia, ia juga tak bisa lepas dari tatapan Aleris kepada Malucia, dimana membuat Tea curiga.
"Jadi? memang benar ya? dugaanku? Malucia dan Aleris ada hubungan?" tanya Tea.
Arvand menoleh, "Sekarang, iya...." jawab tegas.
"Its okay, dont worry, Aku dan Agil, dan yang lainnya akan segera pergi dari sini, kita tidak butuh manusia-manusia disini.."
"Aku bersyukur Aleris dan Malucia memiliki hubungan..." sahut Arvand.
"Kenapa?"
"Aku mencinta Fay, Fay mencintai Aleris...." sambungnya.
Tea mendesah, "Kenapa kisah percintaan ini sangat rumit, dan terbelit-belit?"
"Aku memang menyukai Fay sejak kecil..." gumamnya.
Tea hanya mengangguk mengiyakan saja, ia kembali menatap tubuh Timandra yang tergeletak tak bernyawa itu.
*Kenapa kau pergi secepat ini? bukankah seharusnya setelah kepergian Jay butuh waktu lama lagi untuk merasakan kepergian sekeian kalinya?
Bagaimana perasaan paman Argus jika aku membawa mu kehadapannya, apakah paman akan marah kepadaku? karena ini semua salahku kan*?
Tiba-tiba salah satu monster kelelawar terbang kearah Tea dan Arvand, ia turun menyerang menuju Tea, dengan giginya yang runcing dan mulutnya yang terbuka lebar siap memangsa Tea.
Tea dan Arvand masih tak sadarkan diri, hingga.
__ADS_1
"Tea!!!!!!!" pekik Vin.