Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Matrix


__ADS_3

Raja Gevarnest menoleh saat mendengar teriakan istrinya, ia lalu berlari menyusul dan kaget saat ia melihat ratu Carlota yang tergeletak dilantai, dengan kursi roda yang sudah rusak. Ia kemudian menyadarkan ratu, namun ratu tak kunjung sadar.


"Bagaimana ia bisa datang kesini? bukankah ada tangga? bagaimana ia bisa turun dengan kursi roda ini..." ucap raja Gevarnest.


Tak butuh waktu lama sang raja lalu membawa ratu Carlota kembali kedalam kamarnya, namun saat ia berjalan di ruang tengah ia mendapati, Fay, Agil, dan juga Gilang. Yang juga sama-sama kaget melihat raja.


"Tuan? tidak lihat apa yang terjadi diluar sana?" ucap Fay.


Nafasnya terengah-engah, dan juga ketakutan.


"Aku melihatnya dan maka dari itu aku harus segera menghubungkan Matrix ku kepada matahari!"


Agil tiba-tiba mendekat ia lalu menyodorkan pedang, membuat Fay dan Gilang tersentak. Raja Gevarnest justru tersenyum.


"Kau ingin membunuhku?" ucap santai sang raja.


"Lalu kau yakin bisa mengalahkan iblis itu?" sambungnya.


"Tidak bisakah kau mengalahkannya tanpa harus menghubungkan Matrix gila Matrix gila mu itu? kau tidak memikirkan semua orang disini?" ucap Agil.


Gilang menyentuh lengan Agil, berharap Agil berhenti.


"Boleh saya tanya? bagaimana Matrix itu berkerja?" ucap Fay.


"Apakah Varegar tidak memberitahumu?"


"Matrix itu berkerja hanya untuk diriku.." ucap raja Gevarnest.


Lalu ia beranjak, Fay menyahut.


"Tuan, aku mohon serang dia terlebih dahulu, antara kau akan menggunakan Matrix mu itu atau tidak maka aku akan menyetujui semua keputusanmu.."


Agil menoleh tajam dan menatap Fay, "Apa katamu?"


Sang raja lalu naik ketangga dan hilang begitu saja dari balik tembok. Agil memeggang drngan erat kedua lengan Fay.


"Kau tidak begitu tadi, kenapa kau mengatakan seperti itu sialan!"


"Dengar! tidak ada cara lainnn, aku harus mengemis dengan cara seprrti apa lagi kaparat!!!! kau saja yang bunuh iblis itu!"


"Lihat ada banyak orang yang mati!!!!!" ucap Fay.

__ADS_1


Ia lalu beranjak pergi, Gilang mendeekat kearah Agil.


"Gil benar katanya, tidak ada pilihan lagi.."


"Apa yang harus kita lakukan Lang? kenapa kita ikut masalah seperti ini? bukankah seharusnya kita tidur dirumah dengan aman?" sahutAgil.


Gilang lalu memeluk tubuh Agil, Agil menangis dipelukan Gilang.


***


Kai masih tergeletak lemas, ia masih menangis menatap kedua mayat yang berada dihadapannya. Tea tak berhenti menenangkan Kai.


"Paman sudah melakukan yang terbaik, paman sudah berjuang dan berkorban dengan hebat sampai tak terasa tempat abadi menantinya..." ucap Tea.


Tea mempersilahkan kepala Kai untuk menyender dibahunya.


"Aku bahkan masih merasa kehilangan Timandra, sekarang aku juga kehilangan Argus..." ucap Kai masih terisak.


Arvand yang masih memperhatikan situasi diatap rumah, menatap Kai dan Tea dibawah, ia memejamkan matanya.


"Bahkan banyak sskali yang kehilangan keluarganya, aku justru ingin sekali kehilangan mereka..." ucap Arvand.


"Aki berharap paman dan Leon selamat..." sambungnya.


Arvand menoleh lalu kembali menatap keatas, dimana keempat pesawat itu masih terdiam diudara, tak kunjung menyerang.


"Setiap manusia mempunyai masalahnya masing-masing, dan aku memiliki kehidupan yang buruk terhadap kedua orang tua, semua orang tidak bisa di sama ratakan..."


"Saat aku lahir, aku tidak mewarisi setiap kekuatan yang dimiliki orang kerajaan, sejak itu lah kehidupanku sangat berat, karena aku dibeda-bedakan dengan Aleris, tapi aku bangga dengan diriku sendiri..."


Silas membenarkan duduknya, lalu tak lama ia berdiri.


"Boleh ceritakan? bagaimana ini bisa terjadi? sepertinya ini sudah tidak akan menjadi rahasia kerajaan lagi..." ucap Silas.


"Bukankah Aleris sudah menceritakannya kepadamu? dia lebih tahu dibanding aku, sudah aku katakan aku adalah anak raja yang dikucilkan mana mungkin aku tahu segalanya..." Arvand membuang muka.


Vin melangkan mendekat, setelah ia memeriksa situasi disekitar.


"Sepertinya Randi dan iblis itu masih saling bertarung diarah selatan jika kaliam bisa mendengar ada suara keras dari arah selatan..." ucap Vin.


"Kau yakin tuan Aleris selamat?" tanya Silas.

__ADS_1


Vin mengangguk, "Lalu bagaimana dengan Mahagaskar dan Leon?"


"Aku juga harap mereka selamat?"


Silas menatap Tea dan Kai yang masih duduk dibawah.


"Aku, Pangeran, Vin, Tea, dan Kai....Hah tunggu? dimana Malucia dan Lidra!" pekik Silas.


***


Malucia terbangun dari reruntuhan tanah dan reruntuhan kayu, ia berusaha menyingkirkan kayu dan batu dari tubuhnya, yang menimpanya.


Malucia tersedak karena debu yang berada direruntuhan kayu, wajahnya penuh dengan luka, ia membenarkan posisi duduknya. Malucia merasakan jika ia pingsan sangat lama. Ia mengingat kembali saat ia melayang diudara dan jatuh tepat mengenai reruntuhan.


"Lidra!" pekik Malucia mencari keberadaan Lidra.


Malucia bangkit dan berjalan walaupun tenaganya sudah habis, ia mencoba mencari keberadaan Lidra, hingga tiba dipertigaan jalan, sebuah tubuh yang tergeletak dengan darah yang mengalir deras disamping kepalanya.


Malucia terbelalak dan berlari menuju kearah tubuh yang tergeletak, dan benar saja, Lidra tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir sangatt banyak.


Malucia berharap, Lidra masih bernafas, ia menyetuh leher Lidra, dan ia sangat bersyukur Lidra masih bernafas, namun iantidak bisa tenang begitu saja, darah yang mengalir dari kepala Lidra sangat bahaya.


"Kenapa aku? kenapa aku terpisah dengan mereka? mereka ada dimana?" ucap Malucia.


Malucia menatap kearah depan, dimana jalan yang ada didepannya adalah jalan menuju kesebuh kerajaan Majestic.


"Akan aku bawa Lidra kekerajaan..." ucap Malucia.


Ia lalu mengangkat tubuh Lidra dengan sempoyongan, ia harus memaksakan tubuhnya untuk terlihat kuat dan bisa dengan cepat membawa Lidra ketempat yang aman.


"Walaupun aku sudah tidak melihat adanya monster disini, entah itu kelelawar atau raksasa tapi setidaknya aku harus terus waspada.."


"Dimana para zero?" sambungnya.


Malucia mengamgkat tubuh Lidra kepunggungnya, dan menyeret tubuh Lidra seraya berjalan dengan sempoyongan. Kepala Malucia memang terasa sakit, sudah ia duga jika kepalanya terbentur sesuatu yang keras, namun ia tidak perduli ia tetap melajutkan perjalananya.


Jalan yang ia lewati memang tidak begitu jauh, hanya butuh beberapa langkah saja untuk sampai kekerajaan, namun disaat ia lemas seperti ini seraya mengendong Lidra, membuat Malucia merasakan perjalanan ini saangat jauh.


Malucia mulai melihat gerbang kerajaan, ia menoleh kiri kanan, berharap melihat teamnya, tapi sayangnya tidak ada sama sekali orang disekitar.


Ia bahkan melihat ada banyak para prajurit yang mati didepan gerbang. Tiba-tiba kepala Malucia terasa sangat berat, tubuhnya gemetar, tiba-tiba pandangannya kabur, ia mencoba menyadarkan diri, tapi tetap saja pandnagannya remang-remang dan juga tubuhnya ini sudah menolek berdiri.

__ADS_1


Dari kejauhan, Malucia menatap ketiga orang keluar dari gerbang, ia juga sama-sama saling melihat, tapi Malucia sudah tak kuasa berdiri, ia lalu jatuh pingsan seraya berkata.


"Agil?....."


__ADS_2