
Raja Gevarnest lalu mendengarkan suara bising cukup keras diruangan kerja Varegar, ia bergegas lari menuju ketempat kerja Varegar.
"Ada apa ini!" teriak sang raja setelah ia sampai didepan pintu kerja Varegar.
Mahagaskar lalu menundukan kepalanya dan mendekat.
"Sepertinya ada yang salah paham tuan..." ucap Mahagaskar.
Raja Gevar melirik kearah Mahagaskar lalu ia mendekat kearah Aleris yang masih tersungkur dilantai.
"Bangun, bangun..."guman raja.
Aleris membuang muka, lalu ia berdiri.
"Ke intinya saja, kemana kau menyembunyikan anak buahku?" sahut Aleris.
Raja Gevar tertawa, "Kau ingin tahu?"
"Katakan saja dimana!!!!" teriak Aleris.
Mahagaskar lalu mendekat kearah Aleris, ia berusaha untuk membawa pergi Aleris namun ditahan oleh raja Gevarnest.
"Tidak apa-apa, sebaiknya kau yang pergi..."' ucap raja.
"Tapi?" ucap Mahagaskar.
Namun raja mengisyaratkan agar Mahagasakar yang pegi dari sini, tak butuh waktu yang lama, Mahagaskar berlalu.
"Ikuti aku..." ucap raja Gevarnest beranjak pergi diikuti Varegar dibelakang.
Aleris masih marah, emosinya meluap, ia lalu beranjak pergi mengikuti dua orang tersebut. Seperti dugaan Aleris mereka berhenti disebuah gerbang penjara, pasti anak buah Aleris dikurung dipenjara ini.
"Tuan..." sahut beberapa anak buah Aleris saat Aleris datang.
Namun Varegar menendang sel besi itu agar mereka terdiam.
"Diam!" pekik Varegar.
Mata Aleris menatap semua orang yang ada didalam sel tersebut, tapi ada beberapa orang yang membuatnya mencari-cari dimana orang tersebut.
"Malucia? Lidra? Gilang?" gumamnya.
Lalu ia mendekat kearah sang raja, dengan berani ia menarik kerah baju raja, namun dengan cepat Varegar mendorong tubuh Aleris hingga tubuhnya terlembar dan menabrak tembok.
"Kau pikir kau siapa!!!" teriak Varegar.
Segera Aleris berdiri, sampai ia tidak merasakan sakit apapun didalam tubuhnya.
"Tuan...." Silas berteriak, namun lagi-lagi Varegar memperintahkan mereka untuk diam.
"Katakan kepadaku! apa salahku hingga terjadi seperti ini!" pekik Aleris.
Raja Gevarnest terdiam cukup lama hingga pada akhirnya ia mengeluarkan suaranya.
"Aku tidak akan membunuh mereka santai saja..."
Aleris masih terdiam.
"Kau sudah lihat istanamu yang sudah tercampur rata dengan tanah?"
__ADS_1
"Secara tidak langsung istanamu itu adalah istanaku, istana IVORNEST" lanjut Raja.
Memang benar, yang membangun istana itu adalah perintah raja Gevarnest, namun saat istana itu sudah berdiri kokoh ia melepaskan semuanya, jadi bisa dibilang sekarang istana itu adalah milik Aleris.
"Jadi?" gumam Aleris.
"Sebaiknya aku hancurkan saja, tidak ada gunanya bukan?"
Aleris membuang muka, dengan tersenyum sinis.
"Lalu? kenapa kalian membawa anak buahku seperti ini...."
Raja Gevarenest mendekat, lalu ia berbisik.
"Karena kau selalu penuh dengan rahasia, katakan padaku apa rencanamu!" bisik raja.
Aleris melotot menatap sang raja.
"Apa maksudmu?" ucap lirih Aleris.
"Aku tidak memiliki rencana apapun!!!" teriak Aleris.
Karena teriakan Aleris, raja memukul wajah Aleris hingga laghi-agi hidung dan mulutnya mengeluarkan darah segar.
"Diam!" teriak raja.
"Akan aku bunuh mereka satu persatu jika kau tidak katakan tentang rrencanamu, bahkan aku bisa membunuh diam-diam, ketiga orang yang aku kurung disuatu tempat..."
Aleris menahan emosinya, tapi setelah raja mengatakan hal itu, emosi Aleris sudah tidak bisa ia bendung lagi, ia melayangkan genggamab tangannya siap untuk menghantam wajah yang ada didepannya, namun lagi-lagi Varegar sangat cepat, menahan tangan Aleris.
Tangan Aleris diremas oleh Varegar dan diputar hingga tangan Aleris memerah, Varegar melepaskannya dengan kasar hingga Aleris tersungkur.
Lalu Raja mengisyaratkan Varegar untuk membawa Aleris pergi.
"Ayo..." bisik Raja.
Leon mendubrak meja berkali-kali, hingga meja tersebut sedikit penyet, ia meremas rambut kepalanya.
"Menjadi mata-mata pun sampai sekarang tidak ada hasil...." gumamnya.
Mahagaskar lalu berdiri setelah terlalu lama ia duduk.
"Kita harus bantu Aleris, aku tahu dia sedang disiksa disana..." pekik Mahagaskar.
"Bukankah Aleris menyuruh kita fokus pada pencarian Randi?" ucap Leon.
"Terus kau akan diam saja? adikmu diperlakukan seperti itu?"
Leon terdiam, lalu ia menoleh kearah Mahagaskar.
"Bukankah masa kecilnya selalu bahagia? gantian sekarang ia akan merasakann seperti apa yang aku rasakan.."
Ucapan Leon tentu membuat Mahagaskar tersentak kaget, jawaban Leon adalah jawaban yang sama saja dengan kedua orang jahat itu, Varegar dan sang raja.
Ia lalu menampar pipi Leon, "Sadarlah bodoh..." sahut Mahagaskar.
Masih seraya memeggangi pipinya, Leon berkata.
"Kau tahu? selama kita hidup disini, apakah kita diperlakukan dengan baik? seharusnya kau yang sadar, Aleris pantas menerima itu..." ucap Leon
__ADS_1
Mahagaskar memejamkan matanya sebentar, seraya menghelan nafas beratnya.
"Hanya gara-gara seperti ini? kau jadi sama sekali tidak ingin menyelamatkan adikmu"
Leon mengangguk cepat, "Aku akan mengurusi pencarian ini, silahkan kau selamatkan Aleris itu, jika kau mau..." ucap Leon beranjak pergi.
Mahagaskar memutar bola matanya, tak disangka Leon lebih mengerikan dibanding sang raja, Mahagaskar masih terheran dengan jawaban Leon yang membuatnya merinding.
Arvand masih setia duduk menemani Fay yang masih tidak sadarkan diri ditempat tidurnya, ia memeggangi tangan Fay erat dan menatap wajah Fay yang masih memejamkan matanya.
"Fay?" gumam Arvand.
"Entahh kau akan mendengarkan aku atau tidak, tapi sepertinya aku menyukaimu..." gumam Arvand.
Awalnya Arvand sangat ragu mengatakan ini, tapi ini adalah kesempatan emas, ia harus mengatakan disaas Fay tak sadarkan diri. Arvand mengangkat tangan Fay, lalu menciumnya.
Matanya tak bisa berpaling, ia terus menatap wajah cantik Fay.
"Aku sepertinya tahu kau menyukai Aleris, tapi aku tidak marah atau pun cemburu, wajar sih Aleris tampan dan berwibawa seperti itu, ya terserah hati kau, kau yang memilihh aku tidak bisa memaksa...."
Tiba-tiba langkah seseorang terdengar menuju kearah kamar Fay, langkah itu berhenti diambang pintu.
"Paman?" ucap Arvand menoleh.
Mahagaskar mendekat dan duduk dipinggir tempat tidur.
"Fay masih tidak sadarkan diri dari tadi?" tanya Mahagasakar.
Arvand mengangguk, Mahagasakar lalu menyentuh dahi Fay, siapa tahu Fay sakit karena sudah beberapa hari terakhir ini ia terus merawat anak ratu Carlota tanpa henti.
"Tidak ya paman? ia cuma tadi kepalanya terbentur sedikit keras..."
"Aku yakin habis ini Fay akan sadar..." ucap Mahagaskar.
"Paman? kenapa dengan Aleris?"
Mahagaskar terdiam, saat ia ingin menjawab Arvand langsung menyahut.
"Tentu aku akan marah besar jika istanaku diihancurkan tanpa sepengetahuanku..."
"Ya, aku tahu itu, sebenarnya Aleris selalu menyembunyikan masalahnya kepada semua orang, bahkan aku tahu masalahnua dari orang lain, dia adalah orang yang tidak ingin masalahnya disebar sampai kemana-mana memang..." ucap Mahagaskar.
"Aku tahu paman, tapi apa motivasi ayah seperti itu, aku bisa tanya ke dia langsung!" pekik Arvand beranjak namun Mahagaskar memeggang tangan Arvand menahanya.
"Jangan, sepertinya kita tidak usah ikut campur, pangeran..." gumam Mahagaskar.
Arvand menoleh, "Tidak usah ikut campur? sungguh? lalu siapa kita disini?" pekik Arvand.
Mahagaskar terdiam.
"Aku anaknya paman, aku bisa bertanya dan menyuruh dia untuk membenahi masalah ini..."
"Kau yakin? ayahmu akan mendengarkanmu? kau tidak lihat selama ini kau selalu merasa bersalah dan apa reaksi ayahmu?"
Arvand tiba-tiba terdiam, ia duduk seraya dengan tatapan kosongnya.
"Sungguh, aku sangat minta maaf, tapi aku juga seorang yang berkuasa yang memiliki nama dikerajaan ini saja tidak bisa untuk menyuarakannya.."
"Tapi kita tidai bisa diam saja paman! bahkan aku sangat rela jika harus perang antar saudara!" pekik Arvand.
__ADS_1