Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Hancur


__ADS_3

Rine sangat muak, ia berlari menuju kearah pesawatnya ia masuk dan menyalakan mesinnya, ia terbang begitu saja menuju kearah dimana Varegar berada dengan naganya, yang dimana Varegar sudah terbujur kaku. Ia mendaratkan pesawatnya tepat didepan sang raja Gevarnest yang masih duduk seraya memulihkan tenaganya.


Rine keluar dan berlari.


"Sudah selesai bukan? waktunya melakukan perkerjaan kita..." sahut Rine.


Raja Gevarnest, berdiri ia mendekat kearah Rine.


"Kau tidak seperti dia?" ucap sang raja seraya melirik kearah tubuh Varegar tergeletak.


Rine menatap Varegar, lalu ia mendekat.


"Dia mati sia-sia, pengorbanannya selama ini hanyalah angan-angan saja..." ucap Rine.


Ia lalu menoleh kearah Gevarnest.


"Sejauh ini sudah aku lakukan demi kau, ku pertaruhkan nyawaku, lalu kau bertanya seakan-akan aku bersenkongkol dengan dia?" ucap Rine mendekat.


Sang raja hanya menyengir, lalu kedua mata Rine menatap Randi tang tergeletak ditanah dengan wujud aslinya.


"Kau apakan dia setelah ini?"


"Dia hanya akan mati saja..." gumam sang raja.

__ADS_1


Kedua mata mereka saling bertemu saat mereka tersadar, jika sesuatu masih menghalangi rencana mereka. Siapa lagi kalau bukan Aleris yang masih hidup. Selama dia hidup dia pasti masih akan tetap menghalangi rencana mereka.


Rine masuk kedalam pesawatnya dengan cepat.


***


Aleris mengendap-endap ketika mulai masuk kedalam kerajaan, namun jantungnya berhenti bergetar saat ia tidak melihat satu pun prajurit disana. Aleris percepat langkahnya.


Namun tiba-tiba sesuatu datang menghantam bangunan kerajaan tepat didepannya, dengan suara dentuman yang keras sehingga bangunan kerajaan yang roboh.


Aleris menyelamatkan dirinya, saat keadaan sedikit membaik karena tubuhnya tak terkena benda apapun, ia mendongak melihat keatas. Betapa kagetnya saat pesawat itu datang tepat diatasnya. Pesawat itu terus menembakinya, Aleris berhasil menghindar.


Ia menatap pedang tersebut, berharap ada sesuatu keajaiban yang bisa menyelamatkan dirinya.


Rine yang berada didalam pesawat menyengir, lalu ekor matanya melihat kedua pesawat yang terjatuh tak jauh dari kerajaan.


"Pesawat yang ditumpangi Varegar?" gumam Rine.


Rine mengangguk, seperti ia sudah merancang strategi lanjutan. Ia memencet suatu tombol, hingga pesawat itu memunculkan sebuah megnet dari sisi kanan dan kiri.


Aleris terbelalak saat kemudian pesawat itu mengeluarkan magnet dan menarik badan pesawat yang sudah tergeletak itu. Pesawat yang melayang itu semakin besar dan kuat karena potongan pesawat yang tergeletak tertarik dan menempel pada bagian pesawat tersebut.


"Kau tidak akan bisa menghalangi rencanaku..."

__ADS_1


Aleris masih terbelalak, ia menghelan nafasnya.


"Kaparat, aku sangat malas karena peperangan ini tidak ada habisnya...." ucap Aleris.


Pesawat itu terus menembak kesebuah gubuk dimana Aleris berada, ia tetap berusaha bersembunyi dibalik genting. Aleris memejamkan matanya berharap sesuatu tak terduga datang dari pikirannya, ia lalu terus mencoba berbagai cara dengan menondongkan pedang, menyilangkan pedang, namun sia-sia tidak ada efeknya.


"Apakah?..." sudut mulutnya berhenti saat ia sedikit yakin dengan apa yang ia karang sendiri.


Ia lalu menancapkan pedang ketanah, dan benar saja sesuai karangan dari pikirannya, pedang itu memunculkan kekuatan, dimana pedang tersebut membangkitkan protal kaca bundar yang menghalangi tubuhnya agar terselamatkan dari marabahaya, seperti tembakan pesawat tersebut.


Rine yang melihat didalam kaca pesawat melotot saat protal itu muncil tiba-tiba.


***


Agil panik, kedua tangannya bergetar tak beraturan. Malucia mencoba menenangkannya namun sepertinya masih tidak berhasil. Agil dan Malucia tertinggal cukup jauh dari Fay dan Lidra yang terus berjalan menuju keruang bawah tanah.


Agil menghelan nafasnya, "Aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi, apa lagi Gilang dan Randi..." ucap Agil.


Malucia lalu memeggang kedua tangan Agil yang terus bergetar.


"Gil, tenang Gilang hanya menjauh dari kita dia pasti bertemu yang lainnya disana..." sahut Malucia.


"Bagaimana bisa? aku kehilangan dia? apakah langkahku terlalu cepat? kenapa bisa aku berjalan didepan? kenapa aku tidak berjalan bersamanya dibelakang tadi?"

__ADS_1


__ADS_2