Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Menghilang...


__ADS_3

Raja Gevarnest masih terdiam ditempat, ia masih menatap beberapa kawanan monster diudara. Tak lama ia mendekat dan memerintahkan para prajurit berbaris didepan raja.


"Tak usah fokus dengan raja para monster itu, kalian serang kelapangan sekarang dan lempar peledak kearah anak buah, bantu prajurit disana, sekarang ini adalah perintah yang aku tegakkan, jangan seperti Mahagaskar...." pekik sang raja.


Semua para prajurit, menundukan kepalanya dan memberikan salam perintah, dan mereka bersiap-siap untuk menyerang kepermukiman warga.


Mahagaskar mendekat, "Sungguh, setelah banyak korban disana? kau baru saja memperintahkan sekarang?"


Raja Gevar masih terdiam menatap Mahagaskar, "Kau tidak tahu apa-apa sebaiknya diam...." sahut raja lalu ia beranjak masuk kedalam.


Leon mendekat kearah Mahagaskar, dan menepuk pundak Mahagaskar.


"Sudah tahu jawabanya kenapa kau tanya seperti itu.."


Mahagaskar lalu melepaskan tangan Leon yang mendarat dipundaknya.


"Kau kemana saja sialan!!!" pekik Manahagsakar.


"Paman...." ucapan Leon dipotong oleh Mahagaskar.


"Sudah! sekarang tanpa perintah raja gila itu, kau, aku, Jangsal akan menyerang ke permukiman warga, ini lebih penting dibanding diam tak berguna menunggun perintah disini...." pekik Mahagaskar beranjak.


"Tunggu! Aleris! dimanaa?" pekik Leon membuat Mahagaskar berhenti melangkah.


Mahagaskar menoleh, "Kenapa kau mencarinya? bukankah kau tidak ingin mengurusi hidupnya?" ucap Mahagaskar beranjak pergi.


Leon masih terdiam, tak berkutik, hingga Jangsal menyenggol tubuhnya hingga ia tersadar.


"Kau? ikut kita apa terdiam tidak berguna menunggu perintah raja disini?" sahut Jangsal.


Leon menyahut dengan cepat, "Idih! ikut kalian!"


***


Fay menarik tangan Aleris untuk masuk kedalam suatu ruangan diikuti Arvand, tentu Aleris terkejut, ia sangat terburu-buru untuk meneyerang monster yang merajalela itu, namun ia malah ditarik masuk kedalam sebuah ruangan.


"Ada apa!" teriak Aleris.


Namun Arvand menepis dengan menutup mulut Aleris dengan kedua tangannya dari belakang.


"Aku dipaksa Fay....." gumam Arvand.


"Fay cepat ada apa!" pekik Aleris.


"Aku obati, matamu!" ucap Fay.


Fay tidak bisa melihat kedua mata Aleris yang penuh luka memar sampai matanya tidak bisa terbuka dengan lebar, ia rasanya merasakan sakit juga.


Aleris memutar bola matanya, "Ini tidak sakit!aku hanya tidak bisa terbuka dengan lebar saja!"


"Setidaknya nanti, memar itu akan hilang dengan sendirinya setelah diobati!"


"Cepat! orang-orang sedang membutuhkanku!" sahut Aleris.

__ADS_1


Tak lama, hanya butuh lima menit untuk pengobatan, mereka mendengar sesuatu, seorang yang melangkah mendekat keruangan sel bawah tanah tersebut. Arvand mendekat dan mengintip dari balik pintu.


"Ayah!" bisik Arvand.


Raja Gevar membuka gerbang itu, lalu ia masuk kedalam.


Kenapa sang raja terlihat biasa saja? kenapa dia masuk kekerajaan, bagaimana keadaan diluar?


Arvand mengisyaratkan agar Aleris dan Fay mengikuti langkah Arvand segera keluar dari ruangan, setelah Arvand melihat keadan luar aman, dan raja yang sudah masuk kedalam.


Mereka berlari dengan mengendap-endap, hingga sesuatu dari atas yang menganggu mereka saat bersembunyi-sembunyi. Cahaya ungu yang kelap-kelip seperti tanda sesuatu sedang terjadi atau bahaya.


Cahaya itu sangat terang membuat mereka berhenti dan menutup kedua mata mereka, Aleris berusaha menahan dan menatap apa sebenarnya lampu kelap-kelip diatas mereka.


Tidak begitu jelas, hanya ada seperti sorotan lampu yang sangat terang, dari atap kerajaan.


"Ada apa?" sahut Arvand.


"Kenapa sangat terang sekali sorotan itu, asalnya dari mana?"tanya Fay.


Namun Aleris tidak menjawab, "Sudah, cepat pergi dari sini saja!"


Mereka lalu beranjak pergi.


***


Raja Gevarnest membeku sesaat saat ia berdiri di depan sel penjara, dengan tubuh Varegar yang tergeletak ditanah, bahkan sel penjara itu tidak terlihatnya Aleris.


Ia beranjak mendekat, dan melihat bobol rantai yang untuk mengikat kedua tangan Aleris.


Karena sangat emosi, ia mendekat dan menendang tubuh Varegar.


"Bangun sialan!" pekik raja.


Varegar akhirnya tersadar, ia merintih kesakitan saat ia bangun kepalanya penuh darah bercucuran.


"Bangun!" teriak sang raja.


Dengan kepala pusing dan sempoyongan, Varegar berusaha berdiri. Ia kaget saat melihat ruangan itu tidak ada sosok Aleris.


"Puas kau?" gumam sang raja.


"Dimana dia tuan?" tanya Varegar.


"Kau hilang ingatan?"


Varegar terdiam sebentar, lalu ia mengingat kejadian tadi.


"Sialan Arvand!" umpatnya, namun kembali ia menepis menutup mulutnya.


Ia mengumpat diorang yang salah.


"Bagaimana bisa? kau kalah dengan si Arvand bodoh itu?"

__ADS_1


Varegar terdiam, seraya membersihkan darah yang ada di kepalanya. Raja Gevar melangkah kearah sel, membelakangi Varegar, ia terdiam berpikir.


"Hubungi pria itu......" gumam sang raja.


Sepanjang hari, sepanjang tahun Varegar menanti ucapan itu, pada akhrinya ia mendengar dari mulut sang raja, ia bahkan tidak menyangka jika pada akhrinya ia tegar melakukan perintah.


"Sungguh?"


"Apa aku terlihat berbohong? jika dilihat situasinya, memang pria itu perlu datang kesini...."


"Awalnya sempat terlintas, karena bisa saja dengan kekuatan yang kita punya monster itu sudah punah..." sahut Varegar.


Raja Gevarnest menyahut.


"Tidak! mereka bukan sembarang monster...."


"Setelah penantian, akhirnya kau mengucapkan kalimat ini..." ucap Varegar tersenyum ceria.


***


Jangsal dengan belati apinya, berhasil mengenai beberapa leher monster yang melintas diatasnya, ia berhasil membunuh dengan lemparan belatinya dengan mulus.


Para warga yang berlarian kesana-kemari menyelamatkan diri mereka dan keluarga mereka, banyak orang-orang yang berusaha untuk mencari tempat aman dari serangan.


Mahagaskar tidak bisa menatap terlalu lama tanah kota Majestic itu, darah berceceran dimana-mana, tubuh warga yang tergeletak tak sadarkan diri, tubuh warga yang gosong karena luka bakar, perumahannya yang habis karena api besar.


Suasana kota Majestic sudah tidak seperti dulu lagi, semuanya telah hancur berkeping-keping. Asa api yang masih menyelimuti langit kota Majestic, dan para kawanan monster kelelawar yang tidak ada habisnya menyerang para warga disana.


Dengan lantang, Mahagaskar bersuara.


"Bagi yang mendengarkan suara saya, pergi kearah selatan, ada sebuah bangunan tua milikku, yang luas disana dijaga oleh portal dan tidak sembarang orang bisa masuk!" teriak Mahagaskar.


Semua orang yang berada disekitar berlarian, dengan para prajurit yang membantu mereka. Mahagaskar lalu mendekat kearah atasan prajurit.


"Bawa orang-orang yang masih ada dirumah-rumah, mereka pasti bersembunyi disana!"


Prajurit itu menundukan kepalanya, namun tiba-tiba ia terdiam dan menanyankan sesuatu kepada Mahagaskar.


"Apakah perintah ini dari sang raja tuan?" ucapnya.


Seketika Mahagaskar menatap tajam, yang membuat ia tidak habis pikir, masih sempat prajurit menanyakan sesuatu yang sudah seharusnya?


Mahagaskar mengangguk, "Bukankah perintah atau bukan, ini penting?"


Segera ia pamit beranjak pergi. Tak lama saat Mahagaskar akan beranjak pergi karena terburu-buru situasi sudah tidak memungkinkan, salah satu prajurit memanggil Mahagaskar.


Mahagaskar menoleh, "Ada apa?"


"Saya dari prajurit yang diperintahkan mencari monster yang menyerang kerajaan, namun saat kami kelokasi jatuhnya, hanya ada darah dan bekas jatuhnya saja, kami lalu mencari keseluruh kota Majestic, namun kami tidak menemukannya!"


Mahagaskar terbelalak, ia meremas rambut kepalanya, pasrah dan emosi.


"Cari lagi sialan!" pekik Mahagaskar.

__ADS_1


Prajurit itu menundukan kepalanya, lalu pamit pergi.


"Hilang?" gumam Mahagaskar.


__ADS_2