Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Bukan Randi


__ADS_3

"Kau sudah siap?" tanya Varegar kepada Randi.


Randi tidak menggubris, ia masih menatap pria yang muncul tiba-tiba dari portal. Hingga Varegar menyentuh pundaknya.


"Sudah tidak ada waktu lagi, kau mau melihat keluar ruangan apa yang sedang terjadi?"


"Kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian lagi..." sahut sang raja beranjak pergi diikuti pria yang bernama Rine itu.


Varegar menarik tangan Randi, namun Randi menahanya.


"Apa yang ingin kau lakukan kepadaku?" tanya Randi.


Varegar mendekat, menatap Randi.


"Kau sudah berjanji kepadaku, jangan ingkari atau kau dan keluargamu mati.."


Randi menundukan kepalanya, "Kau tidak membunuhku kan?"


Varegar menggeleng, "Untuk apa aku membunuhmu membuang waktu saja..."


Saat Randi keluar dari ruangan bawah tanah tersebut, betapa sangat segarnya tubuh dan jiwanya, pada akhirnya ia bisa melihat sinar matahari dan angin yang segar diluar ruangan.


Namun yang membuat ia terbelalak, diam tak bersuara, dengan jantung yang berdegup kencang, ketika ia melihat beberapa sosok manusia raksasa yang sedang berjalan kearah kota Majestic diujung pintu masuk kota Majestic.


Sang raja dan Varegar terdiam.


"Kenapa? tidak ada yang memberitahuku?" ucap sang raja.


Rine menyahut, "Kau sibuk denganku kan? sepertinya para prajurit juga sedang mancarimu"


"Tidak ada banyak waktu tuan, ayo!" sahut Varegar.


"Tunggu! siapa mereka kenapa mereka menyerang kota ini?" tanya Randi.


Raja Gevarnest dan Varegar saling menatap, Varegar menjawab.


"Kau bukan hidup diduniamu, jadi setiap hari yang kau lihat disini ya berbagai macam musuh yang mengerikan.." ucap Varegar.


***


"Sebenarnya aku juga nengambil peralatan obatku juga, sepertinya ini akan banyak dibutuhkan" ucap Fay seraya mengendong tas berisi obat-obat dan alat medis.


"Kau bisa membawa alat ini..." ucap Fay menyuruh Kai membawa beberapa alat tajam, begitu pun dengan Tea.


"Ayo cepat!" Fay berlari diikuti Kai dan Tea.


Mereka berlari mengendap-endap, menuju ruangan penjara, karena ada beberapa prajurit yang menjaga ruangan itu.


"Suuut.." Fay mengisyaratkan agar Kai dan Tea untuk tetap terdiam.


"Sungguh ada Gilang disana?" ucap Tea.


Fay mengangguk. Kemudian mereka melanjutkan perjalannya. Fay menyuruh Kai untuk membekam secara diam para prajurit yang berada ditempat tersebut.


Sudah tiga prajurit yang Kai bekam dan jatuh pingsan tak sadarkan diri, Hingga mereka telah sampai diruangan penjara tersebut. Kai membekam satu prajurit yang menjaga sel, namun prajurit itu sangat kuat, ia tidak jatuh pingsan saat dibekam Kai.


Kemudian, dengan gagang pancul yang ia pegang, ia menghamtan kearah kepala prajurit itu hingga tergeletak tak sadarkan diri. Fay menatap Kai.


"Sungguh ini tidak apa-apa?" sahut Kai.


Fay tersenyum, "Kau bunuh juga tak apa-apa..."

__ADS_1


Mereka terkejut saat siapa yang datang menyelamatkan mereka, Malucia, Lidra, Silas, Ace, Ned, dan yang lainya terbelalak saat suara langkah datang.


"Putri Fay?" sahut Malucia.


Tea dan Kai berlari mendekat kearah Gilang yang tak sadarkan diri.


"Aku akan menyelamatkan kalian, kota Majestic sedang butuh kalian...." sahut Fay, ia mendekat kearah prajurit, dan mengambil kunci dari saku bajunya.


Dengan cepat, Fay membuka gembok kui dan melepaskan rantai satu persatu dari mereka.


"Terima kasih putri!" sahut mereka menundukan kepalanya.


"Aku akan mengobati luka ditangan kalian dulu..."


"Tea!" Fay melempar kunci kearah Tea dan Kai.


Lidra terbelalak, saat mendengar nama Tea. Ia mendekat dan mencoba mengamati siapa wanita yang melepaskan rantai dikedua tangan Gilang.


"Tea?" gumam Lidra.


Tea yang sedang berusaha melepaskan rantai yang mengikat kedua tangan Gilang, menoleh. Ia kaget saat melihat siapa yang memanggilnya.


Tea tidak menggubris ia melanjutkan untuk melepaskan rantai, Kai lalu menyentuh tangan Tea.


"Lidra yang kau ceritakan dulu bukan?" bisik Kai.


Tea terdiam, "Aku hanya ingin menyelamatkan Gilang untuk Agil, cepat pergi dari sini..."


Malucia menyentuh pundak Lidra, "Sudahlah, aku tahu, dia butuh waktu..."


"DUARR!!!!!!"


Semua orang yang berada diruangan itu kaget karena bom yang tiba-tiba mengenai disekitar mereka.


"Lari-lari!!" sahut Fay.


Ia berbenah dan mereka lari dari ruangan tersebut, Kai dan Tea yang membantu Gilang, sedikit kesusahan karena Gilang yang tak sadarkan diri, ia harus dibantu dengan merangkul pundak Kai dan Tea.


Tibanya mereka jauh dari ruangan itu, Fay berhenti, ia menoleh dan menghitung beberapa dari mereka yang selamat. Tentunya Malucia, Lidra, Silas, Ace, Ned dan lima lainnya yang selamat.


"Tubuh mereka tertimbun bangunan..." rintih salah satu anak buah Aleris.


Tiba-tiba, Varegar datang dengan suara tertawa yang jeras hingga bergema dimana-mana.


"Kaget? karena suara ledakan itu?"


Fay mengalihkan pandangannya.


"Punya nyali berapa? kau berani menyelamatkan mereka...."


Fay mendekat dan menatap tajam Varegar.


"Kak, bukan waktunya menyandera mereka, mereka harus membantu orang-orang yang menyerang diluar sana, saat ada korban jiwa disana? kau dimana!" sahut Fay.


Varegar hanya tersenyum.


Raja Gevarnest datang, seraya ia membawa seseorang dibelakangnya. Malucia dan Lidra menyipitkan matanya, berusaha melihat siapa yang datang bersama sang raja.


"Randi?" bisik Malucia.


Lidra melangkah maju, namun ditahan oleh Malucia.

__ADS_1


"Sebentar, jangan dulu...." bisik Malucia.


"Cia, itu Randi, itu Randi..." Lidra menatap Gilang, namun Gilang masih tak sadarkan diri.


"Randi?" ucap Tea saat ia tak sengaja mendengar ucapan dari Malucia dan Tea.


Kai menatap Tea, "Teman Agil juga?"


Tea mengangguk.


Tiba-tiba, tanpa aba-aba sang raja mengeluarkan kekuatan angin dari tanganya, mengarah kearah mereka hingga tubuh mereka terbawa angin dan terlempar mundur.


"Hentikan tuan!!!!" teriakan Fay, namun sang raja tetap tidak mendengar.


"Sudah waktunya.." bisik Ace.


Silas lalu mengeluarkan kekuatan anginnya juga dari kedua tangannya, terjadi adu kekuatan angin dari sang raja dan Silas.


"Siapa dia? berani-beraninya!" sahut raja Gevarnest.


Karena adu kekuatan angin yang sangat kuat, membuat beberapa pondasi kerajaan runtuh, sang raja melepaskan kekuatannya, hingga Silas dan yang lain terlempar dan jatuh.


Kai tak sengaja melihat pintu samping kerajaan yang terbuka, ia berbisik dengan Tea seraya berusaha berdiri dan membantu Gilang berdiri, begitupun dengan Tea.


"Kemana arahnya?"


Kai menggeleng.


Fay menghampiri sang raja, "Tolong kali ini saja, berpikiran secara terbuka jika mereka tidak membantu pasti kalian juga akan terbunuh oleh monster-monster itu..."


Bahkan Randi masih menundukan kepalanya, sepertinya ia tak sadarkan diri, karena dari tadi Randi hanya terdiam tak berkutik.


"Ran!" pekik Lidra.


Rine tiba-tiba datang, seraya tersenyun ia mengatakan.


"Ada rasa iri yang tersimpan dari sang raja sepertinya, makanya ia menyandera kalian, terlebih Aleris sangat hebat darinya!" gumam Rine.


Sang raja muak, ia menatap Rine dengan tajam.


"Kau bisa diam?" ucap sang raja.


"Benar yang wanita ini katakan, mereka semua hebat-hebat, bukankah seharunya mereka pergi keluar? kau ingin terbunuh dengan sadis oleh para monster itu?" sahut Rine.


"Dan...lepaskan dia..." ucap Fay.


Namun Varegar tiba-tiba menampar wajah Fay dengan keras.


"Kau siapa?" ucap Varegar.


Fay menundukan kepalanya, Lidra lalu berlari menuju Randi namun ditahan oleh Malucia. Sang raja lalu memerintahkan Varegar dan Rine mambawa Randi pergi dari tempat ini.


Lidra masih berteriak, ia ingin mrmbawa Randi pergi dari sini, tapi ia tidak memiliki tenaga yang kuat membawa Randi apa lagi yang ia lawan adalah seorang raja.


Malucia menatap Lidra, ia mendekat dan memeluk tubuh Lidra, yang menangis. Gilang yang masih tak sadarkan diri merangkul Kai dan Tea untuk membantunya bisa berdiri.


"Putri...." sahut Kai.


Fay masih terdiam menunduk, lalu ia menoleh.


"Jangan pergi lewat gerbang utama, lewat pintu samping...." sahut Fay.

__ADS_1


__ADS_2