
Agil membuka komputernya, dan seperti biasa melakukam aktivitas yang tidak berguna, bermain game contohnya, agil fokus bermain game itu, tanpa ia sadari ada pesan masuk dari handphonenya, ia menyipitkan mata mencoba membaca pesan itu, dan itu pesan dari noze, segera ia menutup game itu dan mengambil handphonenya, lalu ia berbaring di kasur.
"Kau masih sibuk ngegame ya, malam-malam seperti ini" tulis pesan itu.
Lalu agil menjawab, "Ya ini lah yang ku lakukan setiap harinya"
Perasaan agil canggung, dia sudah lama tidak merasakan hal semacam ini.
"Maaf tadi hanya berbincang-bincang sebentar, aku ada urusan jadi pamit pergi dulu, oh ya kalau ada waktu luang ketemu yuk!"
Ada perasaan aneh, memang ini bukanlah pertama kalinya agil merasakan ini, sebenarnya tidak masalah, tapi ada sesuatu, seperti terpesona? tapi bukan menyukainya.
Noze mengirimkan pesan bahwa mereka akan bertemu nanti siang disebuah cafe terkenal dijakarta, katanya ia juga tidak jauh dari rumah agil, penasaraan agil mulai muncul juga terhadap wanita itu.
Tanpa merasa canggung, noze mempersilahkan agil duduk, agil begitu menganggumi wanita ini, pakaian noze ini terlihat sederhana ia selalu berpakaian yang simpel, hoddie dan celana jeans, ya walaupun agil juga menggunakan pakaian seperti itu, apakah hari ini dia couple dengan wanita?
"Apakah tidak ada gaya lain selain gaya rambut curtain hair?"
Agil terlihat bingung dan mengocak-acik rambutnya.
"Ah jangan seperti itu, rambutmu coklat dan untuk gaya rambut seperti itu sangat cocok" kata noze.
Pelayan cafe itu mendekat dan menyodorkan menu makanan.
"Ah aku pasta dan bir" ucap agil.
Noze mengangkat kepalanya kaget menatap tajam agil, "Wahh" lalu ia tertawa.
"Kenapa?"
"Tidak, tidak, ah mas aku pesan roti coffle dan americano"
Tidak begitu banyak yang mereka ceritakan, ada banyak orang disana tapi mereka merasa sangat canggung.
"Kau tinggal tidak jauh dari sini?" akhirnya agil membuka suara.
"Iya, kalau rumah mu kearah kiri aku yang kearah kanan, ya lumayan jauh dari rumahmu tapi dekat dengan cafe ini"
"Aku gak nyangka kamu bisa tahu aku" agil tersenyum.
"Ya kalau anak game pasti bisa masalah seperti itu"
Noze melanjutkan, "Aku kira kau anak yang polos dan biasa saja, ternyata kau keren dan juga tampan"
Agil terdiam mematung, lalu ia tertawa walaupun itu sangatlah terpaksa.
Entah karena ombrolan yang panjang atau karena saling canggung sama lain, mereka tidak sadar bahwa hari semakin sore, mereka lalu berjalan dipinggiran jalan kota, entahlah obrolan jadi semakin hangat dan nyambung walaupun ada saja perkara dari mulut mereka.
"Aku kerja disebuah restaurant, dan itu sebenarnya bukan aku yang mau" suaranya terdengar lirih, entah karena bertabrakan dengan suara lalu lintas atau ia sengaja berbicara pelan, namun agil mendengarnya.
"Orang tuaku adalah orang yang perhitungan gil, ditambah ekonomi keluargaku yang tidak memungkinkan"
"Apakah kau sebenarnya ingin melanjutkan kuliah mu?" sebenarnya agil tidak tahu apakah pertanyaan seperti nyambung ketika sedang berbincang tentang hal semacam itu.
Noze tersenyum menunduk, "Ya menurutmu saja..."
Agil memutar bola mata, "Sebenarnya entah ini akan terlihat bodoh dimata mu atau tidak, saat ini aku juga menghadapi banyak masalah, bukan... lebih jelasnya lagi masalah hati dan pikiranku, yang kulakukan disaat seperti itu adalah pasrah, kau mungkin bukan tipe orang seperti ku tapi aku mengerti, sifat pekerja kerasmu itu membawa mu menjadi lebih kuat lagi"
Noze lalu menghentikan langkahnya, ia menunduk, agil yang tidak melihat noze berhenti ia masih melanjutlan jalannya, hingga ia tersadar bahwa noze tertinggal dibelakangnya, agil menoleh dan menatap kepala wanita itu yang masih menunduk.
"Hei? kau baik-baik saja?"
Noze mengangkat kepalanya, entah karena suasana saat itu mengharukan atau bagaimana, tapi tatapan noze sangatlah lembut, agil menatap mata noze dengan sangat dekat, ia tidak sadar bahwa ia sudah sedekat itu diwajah noze, mata agil yang coklat menatap mata hitam noze, matanya berkaca-kaca.
Dengan cepat agil mundur dan salah tingkah, tapi ia bisa menutupinya karena saat ini suasananya sangat haru.
"Kau tahu sudah lama aku tidak mendengarkan kata-kata seperti itu, yang kudengar hanyalah suara perdebatan dan suara kasar orang-orang terdekatku" tangan noze menyela air yang sudah menetes dipipinya.
Noze tersenyum, "Tidak salah aku bisa bertemu dengan akun lordgil hahahaha" ia tertawa.
Agil terharu mendengarkan perkataan yang noze lontarkan itu, apakah setiap harinya ia mendengarkan perkataan yang buruk, apakah semuanya memperlakukan hal itu kepadanya? agil sempat kaget dengan perkataan noze ia sudah lama tidak mendengarkan perkataan yang memotivasi dirinya, lalu apakah selama itu tidak pernah mendengarkan orang-orang mendukungnya? apa kabar dengan diriku sendiri?
Agil menepuk pundak noze.
"Ya karena takdir kan"
__ADS_1
"Maaf ya gil jadi gini suasananya"
Agil mengangguk, membatin, "its okay"
"Karena orang-orang terdekatku tidak seperti mu, aku tidak mendengarkan perkataan kasar darimu, tapi setelah ini aku pulang aku akan mendengarkan perkataan kasar lagi" noze terseyum.
Bahkan disuasana yang seperti ini ia masih bisa tersenyum?
"Kalau aku main game, tidak ada yang memperdulikanya, mereka lebih ke skip aja lah, tapi pas main bareng kau gil, kenapa kau gak skip?"
Sebenarnya sedikit tidak masuk akal jika agil menjelaskannya, karena agil sering menjumpai akunnya, tapi skil mainnya lemah, dari semua yang ikut main bareng, yang sering muncul hanya si noze.
"Sebetulnya kau sering online dan muncul di game online, jadi aku tidak skip dan membantumu memainkan game itu"
"Karena itu salah satu caraku tidak mendengarkan perdebatan dalam rumah gil, maafkan aku ya"
"Kenapa kau minta maaf?"
Agil melanjutkan, "Sudah jam delapan malam, aku antarkan kau pulang"
Noze menolaknya karena ia bisa sendiri, karena sering pulang larut malam ketika bekerja, namun agil bersih keras.
"Malam-malam seperti ini, dan posisimu masih sedih apakah aku tega?"
Jalan kota yang gelap, samar-samar lampu jalan yang menemani mereka, suasana dingin yang menyelimuti, ia berjalan di jalan tikus, menuju tempat tinggal noze, sebuah kompleks yang lumayan rapi dan tidak begitu banyak sampah, berbeda dengan kompleks perumahan agil begitu banyak sampah dan mulut sampah tetangga, kompleks itu sepi, entahlah kalau sudah siang.
"Kau bisa sampai sini saja"
"Dimana rumah mu?"
Noze menunjukan rumah minimalis yang sudah ada didepannya, hanya beberapa langkah saja.
"Maafkan aku, mungkin lain kali saja kau bisa mampir dirumahku"
"Ah tidak masalah" lalu agil mempersilahkan noze pergi.
Agil masih berdiri dan memastikan noze masuk kerumahnya dengan selamat, dalam perjalanan pulang agil masih terbayang-bayang dengan perkataan noze itu, apakah tidak ada sama sekali yang mendukungnya atau bisa memperlakukan dia dengan baik.
"Dia wanita!!! apakah tidak bisa memperlakukannya dengan baik, ya walaupun aku hanya bisa mendengarkan perkataan itu tidak detail, tapi aku bisa menyimpulkan" agil mengoceh sendiri dijalanan.
"Sama randi gilang, kenapa?"
Wajah refa mendekat, dan mencium tubuh agil tiba-tiba.
"Kenapa wangi sekali? tadi setelah kau pergi ruangan masih bau wangi parfummu, kau menyemprot berapa parfum?"
Agil melotot, "Kenapa?"
"Ya tidak apa-apa sih karena kau tumben-tumben seperti ini"
Karena agil merasa sangat canggung, ia beranjak melewati refa begitu saja.
Ia menjatuhkan tubuhnya kekasur dan memejamkan mata sebentar, ia membayangkan wanita itu lagi, lalu ia membuka matanya.
"Kenapa gak hilang-hilang ya dari pikiran" gerutunya.
Ia masih terbayang-bayang wajah wanita itu, sial batinnya, sudah lama agil tidak merasakan yang seperti ini, kenapa jatungnya berdebar dan wajahnya panas, tiba-tiba ia teringat perkataan randi ketika sma.
"Gil kau itu cuek, wanita-wanita disekolah kita sampai menyerah, tapi asal mereka tahu ya, kalau wanita itu bisa menghangatkan hatimu, beuhhh aslinya kau bucin sekaliiiii"
Agil mendesah, dan memukul bantal dengan keras, ya benar saat ini agil sedang salah tingkah dan sedang dimabuk wajah wanita bernama noze itu.
"Tapi, aku tidak bisa" tiba-tiba agil teringat.
Karena agil tahu agil merasa bahwa perasaan ini hanya sementara dan agil percaya bahwa ia selalu labil untuk memilih.
Pagi tiba, seperti biasa alarm handphone agil yang membangunkannya, padahal ia baru saja terlelap, agil adalah tipe orang yang tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi ketika ia mendengarkan sesuatu, ia bangkit dan mematikan alarm itu, ia membuka gorden, ternyata matahari sudah bersinar dengan terang, ia menyipitkan mata, mengusap kotoran dimatanya, ia masih berdiri didepan jendela dengan posisi yang berantakan dan wajah yang kusam, ia beberapa kali menguap.
"Sialan, hari-hari yang tidak ada perubahan"
Ia membuka pintunya dan turun kebawah, membuka kulkas dan mengambil sekotak susu, lalu ia meminumnya.
"Apakah sudah berangkat mereka berdua?" suara serak itu memenuhi ruangan.
"Ah iya dek agil, sudah jam enam pagi berangkatnya" ucap pembantu dirumah itu.
__ADS_1
"Sekarang jam berapa mbak?"
"Jam tujuh dek"
"Gak ada makanan ya mbak?"
"Maaf dek, ini saya sedang mau belanja kalau dek agil sudah lapar biar saya berangkat sekarang kepasar"
"Ah gak usah mbak, nanti bisa pesen goodfood kok"
Agil berjalan keluar membuka pintu, ia kaget mendapati sebuah kotak tergeletak dilantai, ia mengambilnya, masih sempat penasaran dengan siapa yang mengirim ini, agil berjalan kedepan dan melihat apakah ada seseorang yang baru saja pergi dari sini, namun yang didapati agil hanyalah cibiran tetangga, beberapa gerombolan ibu-ibu yang menatap risih ke arah agil, posisi agil yang hanya menggunakan celana boxer dan baju polos putih menerawang perut kotaknya.
"Mulai.... mulai gibahhhh, wajah setampan ini masih digibah"
Agil masuk kekamar dan membuka isi kotak itu, kotak kardus itu berisi bungkus kertas, agil membukanya ternyata itu sebuah hamburger dan beberapa ayam potong disana, agil mencari sesuatu dari kerdus itu, dan benar ada sepucuk surat.
"Dimakan ya gil, aku baru saja ngantar makanan diseberang rumahmu, dan kebetulan aku membawa lebih jadi aku kasih ke kamu, oh ya maaf ya kemarin aku gak nyuruh kamu masuk dulu kerumah, anggap aja ini rasa terima kasihku karena sudah mengantar aku sampai depan rumah"
Seperti dihempas oleh ratu cinta, jatungnya berdebar tidak aturan, agil tidak menyangka bahwa ini dari noze, agil merasa sangat salah tingkah, karena hal ini entah ia malah tidak merasakan lapar, ia tersenyum beberapa kali, ia tidak bisa menyembunyikan jatungnya yang berdebar.
"Apapun itu makasih ya noz, sudah mengirimkan ini, kebetulan aku sedang ingin pesan good food eh pas buka pintu ada kotak disitu aku pikir ayahku yang pesan sesuatu tapi ternyata darimu"
Agil menulis pesan dengan gemetar, ia lalu memakannya tidak lupa senyuman disetiap gigitannya tidak pernah ia hilangkan.
Selang beberapa menit, pesan masuk segera agil membuka pesan itu.
"Haha sama-sama deh, dimakan ya!! oh ya tadi pas aku ngirim makanan itu, ada banyak ibu-ibu yang membicarakanku sepertinya karena menatap sinis kepadaku hehe"
Agil mengerutu, "Ibu-ibu kurang ajar, gak aku gak orang lain, digibah sampai mampus!!"
"Ah maaf ya noz, jadi tidak nyaman, memang tetangga kompleks itu selalu suka membicarakan hal yang tidak penting, tenang saja nanti aku siram air panas mulutnya"
Tidak sadar, sudah ada banyak pesan yang agil kirimkan kepada noze, mereka saling mengirimkan pesan, noze lalu mengakhiri chat itu, karena ada pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Benar juga, tidak ada waktu juga untuk hal yang tidak penting seperti ini, batin agil, ia bekerja dan sedangkan agil hanya pengangguran, sebenarnya agil tidak begitu menyukai hal ini, seperti saling mengirimkan pesan yang tidak penting, tapi entahlah tadi pesan itu mengalir begitu saja.
Karena hari ini tidak ada sesuatu yang harus dilakukan agil, agil memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya, tidur siang adalah hal yang sangat menyenangkan ketika malam yang sunyi membuat matamu terbuka lebar dan tidak bisa tidur.
Beberapa menit agil terlelap dalam tidurnya, suara langkah kaki mendekat dan membuka pintu dengan kasar, seseorang masuk begitu saja dan membangunkan agil, benar, mereka adalah si dua biang kerok, randi dan gilang.
"Sialan aku ingin tidur bodoh kenapa kalian datang!!"
"Lhoh kenapa marah-marah" ucap randi.
"Gimana gak marah sial, aku baru bisa tidur bodoh"
"Karena hari ini tidak ada mata kuliah, jadi aku ngajak randi main kerumahmu, dan pas datang kesini juga, mbak-mbak bilang katanya agil lagi jingkrak-jingkrak dikasur" ucap gilang.
Agil memutar bola mata.
"Kenapa kau jingkrak-jingkrak gak kayak biasanya"
"Biasa menang game"
Randi dan gilang saling menatap.
"Menang game sampai jingkrak-jingkrak? bahkan mbak-mbak katanya dengar sampai bawah"
"Haissss apakah itu penting????"
Mereka tertawa.
"Kenapa datang kesini?" tanya agil.
"Sudah kubilang aku sedang libur, dan randi juga libur, ya karena seperti itu lah kita akhirnya bisa sampai disini"
"Haha benar giliran aku ingin tidur kalian datang kemari ya, pas aku gak bisa tidur kemana saja kalian"
"Lah gilak malam-malam kita suruh datang kerumahmu" gerutu randi.
"Masih dua jam aku tidur itu saja masih setengah sadar, luar biasa ya kalian sobat"
Memang sudah terbiasa agil tidak tidur, tapi kali ini ia ingin tidur setelah mendapatkan sekotak makanan yang special, makanan itu membuatnya ingin beristirahat setelah lama ia tidak merasakan tidur yang tenang, namun tuhan berkata lain, dua manusia gila ini datang dengan santainya, membangunkan tidur yang baru saja agil ciptakan dengan susah payah.
"Selamat datang dicirle pertemanan kami, ada yang ingin ikut gabung?"
__ADS_1