Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Penasaraan


__ADS_3

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, monster kelelawar kembali datang, sekarang mereka datang lebih banyak dan melayang ramai-ramai dilangit kota Majestic, setelah mereka datang dan memenuhi langit, para raksasa yang awalnya menjadi patung berubah menjadi wujud aslinya, berhasil keluar dan menghancurkan batu dari tubuh mereka, mereka lalu melanjutkan perjalananya untuk menyerang kerajaan Majestic.


Mahagaskar, Leon, Arvand, dan Jangsal tidak bisa berkutik lagi, bukan lagi saatnya mereka menyerang para monster ini, tapi mereka juga harus melindungi orang-orang kerajaan.


"Bagaimana ini! lihat mereka datang lagi! sialan kenapa makin banyak!" ucap Arvand.


Mahagaskar masih terdiam, lalu Agil mendekat, "Saya akan membantu teman-teman saya diselatan..."


Namun Leon menahannya, ia memeggang tangan Agil, "Jangan, kau disini saja, lihat monster kelelawar itu semakin banyak, kau disini saja!"


Tea mendekat, "Gil, benar..."


Agil menatap langit, memang benar monster kelelawar ini terbang-terbang sangat banyak, mereka lalu melihat jika para raksasa sudah bebas dari wujud yang diubah menjadi patung.


Leon menundukan kepalanya seraya, meremas rambutnya.


"Bagaimana bisa itu? kenapa mereka bisa menghancurkan tubuhnya yang dibalut patung itu, bukankah tadi awalnya? raksasa normal itu berusaha untuk menghancurkannya agar mereka bisa kembali seperti semula?"


"Sepertinya, kedatangan para kelelawar ini ada hubungannya dengan para raksasa yang mulai berubah wujud aslinya..." ucap Mahagaskar.


"Lalu sekarang bagaimana? menyerang dia?" ucap Jangsal.


Agil yang mendengarkan, mendekat ke arah Jangsal, dan menarik baju Jangsal. Arvand segera menarik tubuh Agil dari Jangsal.


"Jangan egois!" ucap Arvand.


Randi masih bertarung dengan raksasa tersebut, mulutnya mengeluarkan api dan menyembur kearah raksasa normal itu, namun raksasa tersebut berlindung dengan lengannya yang dilapisi oleh es beku yang keluar dari tangannya.


Namun tiba-tiba, Randi dengan wujud drakulanya menabrakan diri diwajah raksasa tersebut, membuat ia terlempar jauh dan menabrak tembok hingga temboknya hancur.


***


(Rencana awal dari Argus)


"Lupakan tentang Randi saat ini ya?" sahut Argus kepada Lidra.


"Kau bukan Lidra yang aku kenal jika lemah karena orang lain..." ucap Malucia.


"Kau? masih merasa bersalah atau tidak?" bisik Lidra.


"Diam! kau tidak tahu apa yang aku rasakan"

__ADS_1


Benar, selama ini, pada akhirnya ia bersyukur karena melihat pertemu Gilang, dan Agil. Namun rasa bersalah masih tinggal didalam hatinya, terkadang ia harus menyembunyikan dirinya dihadapan mereka, apalagi saat ia bertemu dengan Agil dan Gilang, mereka bahkan seperti tidak welcome kepadanya, Agil hanya menatapnya, Malucia berharap Agil akan sangat bahagia karena bertemu dengannya.


Sedangkan Lidra awalnya memang sangat berat, tapi perlahan ia harus fokus kepada apa yang menjadi tujuannya saat ini, Lidra memang tidak pernah seperti ini, ia adalah anak yang patuh dan pekerja keras, ia tak pernah sampai memikirkan orang lain sebegitunya.


"Dengarkan, selama aku menentralisir ucapan tuan Aleris, musuh sebenarnya kita adalah sang raja, dan anak buahnya, saat ini yang aku lihat para monster hanya ingin menyerang kerajaan, namun mereka akan tetap menyerang warga di Majestic karena menurutnya kita adalah salah satunya, jadi kita juga harus menyerang para monster terlebih dahulu, hingga pada akhirnya kita akan menyerang para orang dalam kerajaan!"


"Randi? kita serang juga" tanya Silas.


Malucia menyahut, "Sepertinya ini lebih bagus jika dibahas dengan Agil.."


Ned dan Ace hanya menundukan kepalanya saat Malucia mengatakan itu, mereka berdua memang tahu hubungannya dengan Malucia, karena curhatan dari Malucia.


Lidra menghembuskan nafasnya, "Randi adalah salah satu teman dekatku, selama berada diistana, kalau bisa, keluarkan iblis dari tubuh Randi, bukan membunuhnya."


Argus berdiri, "Karena saat ini Agil tidak ada, kita fokus menyerang para monster, karena jika juga melindungi para warga juga, seadainya saja para monster ini hanya fokus kepada kerajaan, kita tentunya lebih mudah menyerang, namun sayangnya mereka juga menghancurkan semuanya yang ada disini.."


Tiba-tiba saja, para kawanan monster kelelawar kembali datang, dengan sangat ramai mulai berkerumunan datang dilangit kota Majestic. Semua orang yang melihat terkejut dan kaget.


"Sialan...sialan apa-apaan ini!!!" sahut Silas.


Argus menatap gang kecil didepannya, berharap Agil segera datang.


Vin menatap kerumunan yang mulai datang.


Vin menatap Randi dilangit, lalu kembali memejamkan matanya.


Sungguh sangat tidak menyangka kau menjadi seperti itu, Ran ku mohon jangan seperti itu.


Malucia berdiri dan berlari kearah gang, ia menanti kedatangan Agil, karena situasi yang semakin tidak memungkinkan.


"Gil, datang Gil aku mohon..." ucap Malucia.


Lidra memejamkan matanya, dan menyentuh tanah dengan kedua tangannya. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda jejak seseorang yang misterius, ia hanya melihat jejak Randi dari kerajaan, hingga bisa terbang dilangit seperti sekarang ini, ia menatap Randi diatas.


"Jangan bengong, tetap fokus pada serangan.." ucap Argus seraya menyerang beberapa kawanan monster kelelawar dilangit.


"Bukankah kita harus menyerang dia?" ucap Ned mendekat kearah Argus.


Argus membagi tempat untuk mereka, dimana Argus sudah merancang rencana. Mereka berdiri diatap, karena area yang mudah untuk menyerang saat ini adalah diatap, dilihat dengan para musuh yang berada diatas mereka. Dimana Argus, Ace, dan Ned berada didepan. Malucia, Lidra, dan Vin disamping belakang Argus. Sedangkan Silas dan Kai yang dipikih Argus untuk menjaga diarea belakang.


"Sudah aku jelaskan bukan?"

__ADS_1


"Tapi?" ucap Ned.


"Kau tidak merasakan bagaimana perasaan Agil?" sahut Ace.


"Siapa dia? apa hubugannya denganku?" ucap Ned.


Karena kesal Ace memukul wajah Ned, "Silahkan, bergabung dengan para pengkhianat didalam kerajaan!" ucap Ace.


Ned hanya terdiam menundukan kepalanya, seraya mengelus-elus pipinya.


Argus mengambil busur panahnya, dan menebakan kepada para kawanan monster kelelawar tersebut. Malucia dengan kekuagan anginnya berusaha menyerang para monster itu, yang mulai menyerang mereka, berusaha mengusir dengan angin miliknya.


Lidra menatap Vin yang terdiam, "Kau teman Randi waktu itu kan? kau bisa menyerang?"


Vin terbelalak, "Aku..." ucapan Vin terpotong, karena Lidra yang menyahut, ia memeggang tangan Vin.


"Jangan, jangan khawatir, jika kau bisa berubah-berubah, sejak awal aku tahu kau seorang monster..."


"Sejak awal?"


Lidr mengangguk, "Sejak awal aku bertemu kau, dengan Randi itu, aku sudah merasakan kau adalah seorang monster..."


Vin mengigit bibirnya, rasanya ia sangat takut.


"Tidak apa, aku tahu kau tidak ingin ini terjadi bukan?"


Vin menundukan kepalanya, "Aku tidak akan mengatakan kepada mereka.."


"Tapi...mereka pasti akan tahu..."


"Aku akan mengatakan kepadanya, jangan menyerang dirimu, aku akan mengatak jika kau bukan kawanan dari mereka, tenang saja..." ucap Lidra.


Kemudian tanpa menjawab ucapan Lidra, Vin beranjak pergi dan turun dari atap. Ternyata Silas memperhatikan gerak-gerik Vin, ia berajak untuk turun kebawah namun Kai memeggang tangan Silas dan menahannya. Silas menatap Kai yang menahannya.


"Jangan, kita fokus kepada musuh saja.." sahut Kai.


Silas kembali menoleh untuk melihat Vin, namun jejak Vin sudah hilang.


"Kau tahu siapa dia?" tanya Silas.


Seraya menyerang dengan busur panahnya, Kai menjawab.

__ADS_1


"Tidak, aku yakin dia turun untuk menyerang dibagian utara..."


Silas menyengir.


__ADS_2