
Ratu Carlota tidak berhenti mondar-mandir dikamarnya, ia kembali duduk lalu mengintip dijendela kamarnya hampir beberapa kali, ia sangat khawatir jika serangan monster sampai mengenai kerajaannya, dan juga ia sangat khawatir dengan bayinya, dimana jiwa iblis yang masih menempel di anak keduanya.
"Aku berharap, tidak akan terjadi apa-apa denganmu..." bisik ratu, seraya mengelus kepala bayinya.
Ia mengambil air minum, untuk meredakan rasa paniknya.
"Apakah Arvand ikut menyerang para monster?" gumannya.
Tak lama, sang raja, Varegar, Rine dan Randi datang. Raja Gevar mengetuk pintu dan masuk begitu saja. Ia menyentuh kedua pundak istrinya.
"Aku tahu cara yang tepat, untuk mengambil alih iblis ini dari anak kita.."
Ratu Carlota terbelalak, "Sungguh? bagaimana caranya?"
Mata ratu melihat dua orang asing yang datang, ia tidak pernah mdlihat dua orang ini sebelumnya, hingga Varegar memperkenalkannya.
"Ini Rine ratu, dan ini Randi mereka teman saya, Randi ini akan dikorbankan untuk mengganti sang buah hati ratu...." ucap Varegar, tanpa ada rasa salah.
"Sungguh kalian akan mengorbankan anak muda ini? kalian mendapatkan anak ini dari mana?" ucapratu Carlota.
Sang raja lalu menyentuh kedua pundak ratu, "Sayang, tenang aku sudah berdiskusi lama dengannya, dan dia juga sudah menyetujuinya, dengar, apakah kau mau? sampai besar nanti anak kita tumbuh dengan iblis dijiwanya?"
Ratu menundukan kepalanya, lalu ia mendekat kearah Randi yang tak sadarkan diri, Randi hanya terdiam menundukan kepalanya, ia benar-benar kosong dan seperti tidak hidup.
"Apa yang membuatnya seperti ini?" ucap sang ratu.
Rine lalu menyahut, "Sepertinya harus kubuat begini, agar ritual segera cepat terselesaikan..."
Ratu menyentuh kedua tangan Randi hingga, Randi tiba-tiba sadar, hingga ia bangun dengan tersentak, namun sentuhan ratu ini membuatnya masuk kedalam mimpi, entah ia seperti masuk kedalam memori yang berantakan dan dimensi yang tak ada ruang.
Ia melihat Agil dan Gilang yang terbang melayang diruangan itu, Randi yang melayang mencoba mendekat.
"Agil! Gilang!" aneh suara Randi tidak bisa keluar.
Ini seperti mimpi, bahkan pergerakan Randi sangat lambat dan suaranya tak kunjung keluar, Randi menangis.
*Apakah aku sudah mati? aku ingin menemui kalian, tapi kenapa sangat susah?
Jujur, aku sangat bimbang, tapi katanya keluargaku akan dikorbankan, maka aku tidak mempunyai pilihan lain, jika kalian menjadi aku pasti kalian akan memilih ini.
Katanya, aku harus melindungi pria bernama Rine, dan Matrix yang menjadi salah satu senjata paling kuat dimuka bumi, kalian tahu? Rine adalah orang dari dunia kita Rine dan Gevarnest berkerja sama, dimana mereka membuat perjanjian Rine akan mengambil kekayaan yang melimpah dari negeri ini, dan Gevarnest mengambil senjata kuat dari Rine yang sudah lama Rine bentuk dari teknologi negara kita.
Jawabannya itu Gil, Lang. Efek dari kerja sama itu, membuat banyak portal yang mengharuskan kita datang kesini.
__ADS_1
Aku juga sedang berusaha, agar keluargaku tidak dibunuh, dan juga kalian bisa selamat, aku juga tidak ingin mati, aku sedang berusaha agar yang diminta Varegar tidak terpenuhi, mereka hanya memanfaatkan ku. Mereka melakukan pemilihan yang sudah tahu aku akan susah untuk memilihnya, aku yakin kalian juga akan susah untuk memilihnya!
Aku akan menyelamatkan semuanya, tanpa ada yang mati satu sama lain*
Saat Randi melayang diruangan yang tidak ada sama sekali bentuknya, ia memejamkan matanya namun yang ia lihat adalah anggota keluarganya, membuat Randi membuka matanya cepat.
Tiba-tiba Lidra datang dan menghampiri Randi.
"Ran? kenapa kau menghilang? semua orang mencarimu, kenapa kau sangat keras kepala? aku sudah mengatakannya kan? kau bisa kembali dan bergabung dengan Gilang lagi, soal mencari jaawaban, kita cari sama-sama, katanya kau juga sedang mencari Agil?"
Randi hanya bisa menangis, karena Lidra hanya bayangan, bayangan yang melayang didepan matanya. Hingga Lidra menepuk pundak Randi dengan hebat.
Dan tepukan Lidra itu menyadarkan Randi, ia kembali ketempat semua, ini adalah mimpi saja, ia bahkan sangat benci harus tersadar dan kembali ketempat yang menjijikan, melihat dua orang yang sangat dia benci, sang raja dan Varegar.
Rine mendekat, ia menyentuh tangan ratu.
"Ada apa" tanya sang raja.
"Tangan ratu bisa membuat seseorang masuk kedalam perangkap, nama perangkap ini ilusi iblis, sekali ratu menyentuh tangan, korbannya akan masuk kedalam perangkap..."
Varegar terbelalak, "Mungkin ini adalah salah satu kekuatan ratu..."
"Bisa jadi..." ucap Rine.
Randi masih terdiam, ia ingin pergi dari tempat ini, ia mencoba melarikan diri, namun Varegar dengan cepat mencegah, ia menarik baju Randi dengan cepat, membuat Randi tertarik, ia tidak bisa kemana-mana lagi.
"Jangan pergi..." bisik Varegar.
Tak bisa lama-lama lagi, Randi duduk disebuah kursi, kedua tangannya diikat, Rine menggendong bayi itu. Varegar yang menenangkan ratu Carlota dan sedikit menjauh dari ritual itu.
"Iya benar, pada akhirnya kalian hanya memanfaatkan aku saja..." ucap Randi.
"Ini untuk kebaikanmu, toh kau tidak mati hanya karena hal ini..." ucap sang raja.
Rine lalu mengeluarkan Matrix, ia menyodorkan kepada sang raja, sang raja menerimanya. Raja Gevarnest mengeluarkan cahaya ungu dari tangan kirinya, ia arahnya ke Matrix itu, hingga cahaya Matrix menyala dan memantulkan hingga kemenara kerajaan, dan menara kerajaan memantulkan cahaya hingga keruangan bawah tanah yang memiliki Matrix berisi kristal itu.
Semua orang yang bekerja diruangan bawah tanah, terkejut karena Matrix yang sedang mereka buat, bergerak memutar dengan cepat. Cahaya dari Matrix kristal itu lalu memantul hingga ke dahi Randi.
Membuat tubuh Randi menerima gejolak kaku dan sakit yang luar biasa, Randi berteriak histeris. Rine mengeluarkan simbol salip dari sakunya dan menempelkan kedahi bayi tersebut, hingga bayi itu menangis kesakitan.
Tiba-tiba Matrix yang dibawa raja Gevarnest memantulkan cahaya yang kedua yang mengarah kedahi sang bayi, bayi itu berteriak kesakitan.
Sang ratu tidak kuat melihatnya, ia memejamkan matanya. Varegar tersenyum saat ritual itu berjalan mulus. Rine menempelkan salip itu didahi Randi bersama dengan Matrix yang dibawa sang raja.
__ADS_1
Rine mengisyaratkan agar Varegar mengambil bayi dari gendonganya.
"Sudah?" ucap Varegar seraya menggendong bayi.
Rine hanya menjawab, "Hampir..."
Varegar lalu beranjak pergi, dan menuju ketempat ratu Carlota.
Karena energi yang sangat kuat, Rine dan raja Gevarnest harus kuat menahan salip dan Matrix yang menempel didahi Randi. Hingga cahaya yang memantul diberbagai tempat masuk kedalam tubuh Randi.
Membuat suara dentuman keras dari dalam kerajaan, karena efek dari cahaya yang masuk kedalam tubuh Randi dari berbagai tempat, yang menabrak masuk kedalam dahi Randi, ritual itu selesai, Matrix yang menempel didahi Randi dan juga salip yang masuk kedalam dada Randi, Randi tak sadarkan diri, tubuhnya jatuh, hingga mulut dan hidungnya mengeluarkan darah.
"Berhasil...." gumam sang raja.
***
Agil yang masih berlari berhenti mendengar suara dentuman keras dari kerajaan, ia menoleh dan melihat ada banyak asap dari dalam kerajaan, Vin dan Argus pun demikian ia menoleh saat dentuman itu berbunyi.
Agil melangkah maju melihat asap itu dari menara kerajaan, "Apa itu?" ucapnya.
Vin mendekat, "Mungkin raksasa ini mulai menyerang kerajaan.."
"Ayo Gil..." sahut Argus, mengajak Agil untuk terus berlari menyerang para raksasa.
Namun perasaan Agil sangat tidak enak, rasa tidak nyaman yang tiba-tiba datang, seperti ada sesuatu yang terjadi dikerajaan, yang dimana membuat Agil berpikir jika ini bukan serangan dari raksasa.
Leon dan Jangsal, kaget saat ada suara dentuman besar yang terjadi tiba-tiba.
Fay, dan yang lainnya berhasil keluar dari kerajaan mereka sedang melewati jalan tikus salah satu jalan tembusan dari kerajaan hingga keluar kerajaan.
Namun mereka dikagetnya dengan suara dentuman keras dari dalam kerajaan, mereka spontan berhenti, dan menoleh kearah kerajaan.
"Apa itu?" tanya Lidra.
Fay mendekati Lidra dibelakang, padahal Fay sudah berada digaris depan. Ia menatap keatas yaitu asap yang keluar dari menara.
"Randi!!" tiba-tiba Lidra berteriak, namun Malucia berhasil menahanya.
Semua orang yang berada di, jalan tikus itu seperti tahu apa yang terjadi, mereka menundukan kepalanya.
"Tidak!!! tidak!!!!!!" teriak Lidra.
Dengan lemas, dibantu berdiri dengan Kai dan Tea, Gilang tersadar walau ia masih lemas.
__ADS_1
"Randi?" bisiknya, membuat Tea dan Kai kaget karena Gilang yang sudah sadar.